Tjong A Fie Mansion (Medan); Rumah Indah Sejuta Kisah

Sebelum November 2011, tidak sekalipun aku mendengar namanya. Aduh, pokoknya kenalpun tidak deh! Tapi sekarang, aku kagum semi-semi prihatin dengannya, seorang pria yang tidak pernah aku temui (weiiits.. jangan sampe ketemu, ding!), bernama Tjong A Fie, seorang dermawan maha kaya dari Medan:

Tjong A Fie (29)

Tjong A Fie (Guangdong, 1860-Medan, 1921) adalah seorang pengusaha, bankir dan kapitan yang berasal dari Tiongkok dan sukses membangun bisnis besar dalam bidang perkebunan di Sumatera, Indonesia. Tjong A Fie membangun bisnis besar yang memiliki lebih dari 10.000 orang karyawan. Karena kesuksesannya tersebut, Tjong A Fie dekat dengan para kaum terpandang di Medan, di antaranya Sultan Deli, Makmun Al Rasjid serta pejabat-pejabat kolonial Belanda. Pada tahun 1911, Tjong A Fie diangkat sebagai “Kapitan Tionghoa” (Majoor der Chineezen) untuk memimpin komunitas Tionghoa di Medan, menggantikan kakaknya, Tjong Yong Hian. Sebagai pemimpin masyarakat Tionghoa, Tjong A Fie sangat dihormati dan disegani, karena ia menguasai bidang ekonomi dan politik. Kerajaan bisnisnya meliputi perkebunan, pabrik minyak kelapa sawit, pabrik gula, bank dan perusahaan kereta api.

Tjong A Fie dilahirkan dengan nama Tjong Fung Nam dari keturunan orang Hakka di Sungkow, Meixian, Guangdong, (Tiongkok) pada tahun 1860.  Kemudian juga mendapat nama Tjong Yiauw Hian dan akhirnya lebih dikenal dengan nama Tjong A Fie.

Ia berasal dari keluarga yang sederhana. Bersama kakaknya Tjong Yong Hian (1850-1911), Tjong A Fie meninggalkan bangku sekolah dan membantu menjaga toko ayahnya. Walaupun hanya mendapatkan pendidikan seadanya, tetapi Tjong A Fie sangat cerdas dan menguasai cara-cara berdagang sehingga usaha keluarganya cukup sukses.

Tjong A Fie memutuskan untuk merantau ke Hindia Belanda (Indonesia) untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Pada tahun 1875 Tjong A Fie pergi ke Medan (Sumatera Utara) untuk mengadu nasib.  Saat itu ia baru berusia 18 tahun. Dengan berbekal sedikit uang, ia menyusul kakaknya, Tjong Yong Hian, yang sudah terlebih dahulu datang ke Medan dan tinggal selama 5 tahun. Pada saat itu kakaknya sudah menjadi kapitan (pemimpin) Tionghoa di Medan. Tjong A Fie bekerja di toko milik teman kakaknya yang bernama Tjong Sui Fo. Di toko tersebut, Tjong bekerja dari memegang buku, melayani pelanggan, menagih utang serta tugas-tugas lainnya. Ia dikenal pandal bergaul, tidak hanya dengan orang Tionghoa, namun juga dengan warga Melayu, Arab, India, dan orang Belanda. Ia mulai belajar berbicara dengan bahasa Melayu yang menjadi bahasa perantara masyarakat di tanah Deli.

Tjong A Fie tumbuh menjadi sosok yang tangguh, menjauhi candu, judi, mabuk-mabukan dan pelacuran. Ia menjadi teladan dan menampilkan watak kepemimpinan yang sangat menonjol. Ia sering menjadi penengah jika terjadi cekcok antara orang Tionghoa dengan etnis lain.[4] Di daerah perkebunan milik Belanda sering terjadi keributan di kalangan buruh yang menimbulkan kekacauan dan karena kemampuannya, Tjong A Fie sering diminta Belanda untuk membantu mengatasi masalah-masalah tersebut.[4] Ia lalu diangkat menjadi Letnan Tionghoa dan pindah ke kota Medan.[4] Karena prestasinya yang luar biasa, dalam waktu singkat Tjong A Fie naik pangkat menjadi Kapitan pada tahun 1911, untuk menggantikan kakaknya yang telah wafat. Dengan rekomendasi Sultan Deli, Tjong A Fie menjadi anggota gemeenteraad (dewan kota) dan cultuurraad (dewan kebudayaan) selain menjabat sebagai penasehat pemerintah Hindia Belanda untuk urusan Tiongkok.

Ketika masih berada di Tiongkok, Tjong A Fie telah menikahi seorang gadis yang bermarga Lie. Saat tiba di Deli ia menikah dengan Nona Chew dari Penang dan memilki tiga orang anak, yakni Tjong Kong Liong, Tjong Song-Jin dan Tjong Kwei-Jin. Namun istri keduanya meninggal dunia. Untuk ketiga kalinya ia menikah dengan Lim Koei Yap dari Timbang Langkat, Binjai, putri seorang mandor perkebunan tembakau di Sungai Mencirim Lim Sam-Hap. Bersama Lim Koei Yap, Tjong A Fie memiliki tujuh orang anak, yakni Tjong Foek-Yin (Queeny), Tjong Fa-Liong, Tjong Khian-Liong, Tjong Kaet Liong (Munchung), Tjong Lie Liong (Kocik), Tjong See Yin (Noni) dan Tjong Tsoeng-Liong (Adek).

Di tanah Deli, Tjong A Fie menjalin hubungan baik dengan Sultan Deli, Makmoen Al Rasjid Perkasa Alamsyah dan Tuanku Raja Muda sehingga membuka jalan baginya untuk menjalankan usaha. Sultan memberinya konsesi penyediaan atap daun nipah untuk keperluan perkebunan tembakau untuk pembuatan bangsal.

Tjong A Fie dikenal menjadi orang Tionghoa pertama yang memiliki perkebunan yang sangat luas. Ia mengembangkan usaha perkebunan tembakau di Deli, teh di daerah Bandar Baru, dan Si Bulan, serta perkebunan kelapa. Di Sumatera Barat, ia menanamkan modalnya di bidang pertambangan di Sawah Lunto, Bukit Tinggi. Perkebunan yang dimilikinya mempekerjakan lebih dari 10.000 orang tenaga kerja dan luas kebunnya mengalahkan luas perkebunan milik Deli Matschapaij yang dirintis oleh Jacobus Nienhuys. Bahkan, ketika itu pemerintah Belanda memberikan 17 kebun kepadanya untuk dikelola.

Bersama kakaknya Tjong Yong Hian, Tjong A Fie bekerjasama dengan Chang Pi Shih, paman sekaligus konsul Tiongkok di Singapura mendirikan perusahaan kereta api The Chow-Chow & Swatow Railyway Co.Ltd. di Tiongkok Selatan. Karena jasanya tersebut mereka berkesempatan bertemu muka dengan Ibu Suri Cixi di Beijing.

Dalam menjalankan bisnisnya, Tjong A Fie selalu mengamalkan 3 hal yakni, jujur, setia dan bersatu. Ia selau berprinsip “di mana langit dijunjung di situ bumi dipijak”. Ia pun membagikan lima persen keuntungannya kepada para pekerjanya.

Tjong A Fie tutup usia pada tanggal 4 Februari 1921 karena menderita apopleksia atau pendarahan otak. Seluruh masyarakat kota Medan turut berduka, ribuan orang pelayat datang dari kota Medan dan Sumatera Timur, Aceh, Padang, Penang, Malaya, Singapura dan Pulau Jawa.[4] Prosesi Pemakaman Tjong A Fie berlangsung dengan megah sesuai dengan tradisi dan jabatannya.

Empat bulan sebelum menghembuskan napas terakhir, Tjong A Fie mewasiatkan seluruh kekayaannya di Sumatera maupun di luar Sumatera kepada Yayasan Toen Moek Tong yang harus didirikan di Medan dan Sungkow pada saat ia meninggal dunia. Ia menuliskan permintaanya agar yayasan tersebut memberikan bantuan keuangan kepada pemuda berbakat dan berkelakuan baik dan ingin menyelesaikan pendidikannya, tanpa membedakan kebangsaan.[4] Tjong juga berpesan agar yayasan membantu mereka yang tidak mampu bekerja dengan baik karena cacat serta membantu para korban bencana alam tanpa memandang kebangsaan atau etnis.

Tjong A Fie dikenal sangat berjasa dalam membangun kota Medan yang pada saat itu dinamakan Deli Tua, terutama kawasan pemukiman etnis Tionghoa (Kampung Tionghoa). Beberapa jasanya dalam usaha mengembangkan kota Medan adalah menyumbangkan menara lonceng untuk Gedung Balai Kota Medan yang lama, pembangunan Istana Maimoon, Gereja Uskup Agung Sugiopranoto, Kuil Buddha di Brayan, kuil Hindu untuk warga India, Batavia Bank, Deli Bank, Jembatan Kebajikan di Jalan Zainul Arifin serta mendirikan rumah sakit Tionghoa pertama di Medan bernama Tjie On Jie Jan. Ia dikenal pula sebagai pelopor industri perkebunan dan transportasi kereta api pertama di Sumatera Utara, yakni Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), yang menghubungkan kota Medan dengan pelabuhan Belawan.

Tjong A Fie dikenal dermawan dan sangat dekat dengan masyarakat pribumi dan Tionghoa kota Medan sehingga ia disenangi orang-orang. Sebagai dermawan, ia banyak menyumbang untuk warga yang kurang mampu. Ia sangat menghormati warga muslim, bahkan berperan serta dalam mendirikan tempat ibadah yakni Masjid Raya Al-Mashum dan Masjid Gang Bengkok serta ikut merayakan hari-hari besar keagamaan bersama mereka. Nama Tjong A Fie pernah akan dijadikan sebagai nama sebuah jalan di kota Medan, tapi dibatalkan dan jalan itu menjadi Jalan K.H. Ahmad Dahlan. Karena sifatnya yang dermawan dan toleran tanpa membeda-bedakan bangsa, ras, agama dan asal-usul, Tjong A Fie senantiasa dikenang oleh warga Medan dan sekitarnya.

Bangunan kediaman Tjong A Fie berada di Jalan Ahmad Yani, Kesawan, Medan, yang didirikan pada tahun 1900, saat ini dijadikan sebagai Tjong A Fie Memorial Institute dan dikenal juga dengan nama Tjong A Fie Mansion.  Rumah ini dibuka untuk umum pada 18 Juni 2009 untuk memperingati ulang tahun Tjong A Fie yang ke-150.

Rumah ini merupakan bangunan yang didesain dengan gaya arstitektur Tionghoa, Eropa, Melayu dan art-deco dan menjadi objek wisata bersejarah di Medan. Di rumah ini, pengunjung bisa mengetahui sejarah kehidupan Tjong A Fie lewat foto-foto, lukisan serta perabotan rumah yang digunakan oleh keluarganya serta mempelajari budaya Melayu-Tionghoa (taken from here).

Namanya pertama kali aku kenal dari hasil Googling mengenai tempat-tempat wisata di Medan. Nama Tjong A Fie terus saja muncul diantara lokasi-lokasi wisata lainnya yang juga menarik (antara lain: Istana Maimun, Gereja Katolik Annai Velangkani, Shri Marimman, dsb). Tapi karena malas *haizh!*, setelah menemukan nama2 lokasi wisata dan penjelasan yang cuma 1-2 baris, aku ga browsing lagi. Jadi, walau akhirnya berangkat ke Medan, Tjong A Fie bukan tujuan utama. Hingga ketika akhirnya ada banyak orang yang tahu aku lagi di Medan dan mereka pada kirim message “Ke Tjong A Fie, Wi!” atau tanya, “Tar ke Tjong A Fie ga?”.

Lah? Kok sepertinya tuh tempat keren bener yah *ama garuk2 kepala*. Jadi, Tjong A Fie naik ranking. Dari 10, ke 2 (soalnya Annai Velangkani ada di rank 1), hehe. Dan inilah, Tjong A Fie Mansion, Jalan A. Yani (Kesawan) 97-99, Medan:

Tjong A Fie (4)

Cantik ya? Itu baru gerbangnya! Jadi, bagian dalamnya tentu saja (jauh) lebih memukau! Beneran deh, melewati gerbang itu, langsung nampak sebuah gedung rumah yang besar sekali! Tapi sebelumnya, aku berhenti dahulu disebuah ‘prasasti’ modern yang menceritakan sejarah singkat Tjong A Fie. Dan untuk kali pertama pula, aku melihat wajahnya:

Tjong A Fie (10) Tjong A Fie (9)

Lihat deh motto hidupnya! Membaca sekilas aja, membuatku kagum2 sendiri: “success and glory consist not in what i have gotten but what i have given“. Wow!

Barulah setelah bengong2 liatin motto dia, aku berjalan pelan sambil menikmati baik-baik setiap jengkal dari halaman rumah Tjong A Fie ini:

Tjong A Fie (7)

Kediaman Tjong A Fie atau Tjong A Fie Mansion di Jalan Ahmad Yani, Medan menjadi satu tempat wisata sejarah yang mengundang penasaran bagi wisatawan. Bagaimana tidak, masyarakat kota Medan yang terkenal dengan identitas budaya lokalnya memiliki sosok yang paling berpengaruh dalam pembangunan kota Medan dari kalangan Tionghoa.

Hal itu bukan tanpa alasan. Menurut guide sekaligus pengurus Kediaman Tjong A Fie bernama Desi, Tjong A Fie merupakan bankir yang kaya raya di masanya. Ia sangat dermawan dan memegang peranan besar dalam membentuk kota Medan. Ia menjaga harmonisasi hubungan kepada pemerintah Hindia Belanda, Kesultanan Deli dan masyarakat Medan hingga kekaisaran China.

Oleh sebab itu, kediamannya dibuka untuk umum pada tahun 2009, karena banyak rasa ingin tahu tentang kepribadian Tjong A Fie dalam membina keluarga, merangkul masyarakat kota Medan, dan hal-hal apa saja yang terjadi pada beliau hingga akhir masa hidupnya. Wisata ke kediaman tersebut harus merogoh koceh Rp 35 ribu per orang untuk umum, dan Rp 20 ribu untuk pelajar. Menurut Desi cukup mahal karena tempat tersebut dikelola oleh keluarga, biaya tersebut tentu untuk penjaga dan pengurus yang membersihkan kediaman tersebut.

Pelancong bisa melihat keindahan rumahnya, sambil membayangkan apa yang terjadi di situ sekitar 1 abad yang salu. Di rumah ini, pengunjung bisa mengetahui sejarah kehidupan Tjong A Fie lewat foto-foto. Tjong A Fie merupakan tokoh yang rajin mendokumentasikan setiap kegiatan. Mulai dari moment berkumpul keluarga di moment ulang tahunnya hingga pernikahan dan pertemuan penting juga ia dokumentasikan. “Ada juga lukisan serta perabotan rumah yang digunakan oleh keluarganya. Pengunjung juga dapat mempelajari budaya Melayu-Tionghoa dari arsitektur dan koleksi perabotan di rumahnya,” kata Desi.

Rumah tersebut didesain dengan gaya arstitektur Tionghoa, Eropa, Melayu dan art-deco. Lama tinggal di Medan, Tjong A Fie banyak belajar dan memiliki orang dekat dari kalangan Melayu, oleh sebab itu ia juga mengadaptasi budaya Melayu ke perilaku serta memilih ornamen Melayu untuk arsitektur rumahnya. Desi mengatakan pengunjung dapat melihat ruangan demi ruangan dan menilai sendiri kepribadian tokoh Tionghoa berpengaruh tersebut. Ya, ia merupakan sosok sederhana walaupun memiliki kekayaan berlimpah dari usahanya yang sukses.

Kediaman tersebut memperlihatkan ruangan di mana Tjong Afie membaca di ruangan khusus bacanya. Tumpukan buku koleksi beliau masih ada dan di simpan dalam lemari yang tidak boleh dibuka. Ruang tidurnya yang memiliki tempat tidur berbahan kayu dan bergaya klasik, memiliki tirai atau kelambu. Ada meja hias serta kursi santai, tempat ia bersama istri bercengkrama. Kemudian ruang makan berbahan kayu, dilengkapi dengan koleksi piring dan gelas lawas yang terpajang di atas meja makan. Ada ruang ibadah yang cukup luas, dilengkap pernak-pernik Tionghoa dan lukisan serta pajangan Bahasa China.

Kediaman Tjong A Fie juga memiliki ruang kumpul keluarga yang dipenuhi banyak kursi yang juga berbahan kayu. dan ruang tamu yang bergaya Melayu dengan dominasi warna kuning. Menurut Desi hampir seluruh perabotan dan bangunan berbahan kayu. Atap berbahan kayu yang dilukis ornamen Tionghoa, anak tangga berbahan kayu, beberapa ruang juga dinding atau pembatasnya juga berbahan kayo. Tidak ketinggalan, semua perabotan seperti lemari, rak, kursi, meja, hingga tempat tidur dan beberapa pajangan juga dari bahan kayu, khususnya kayu jati.

Jika di lihat dari gaya rumahnya yang memiliki desain campuran, traveller tentu dapat menyimpulkan karakteristik seorang Tjong A Fie yang mengadaptasi banyak kebudayaan di rumahnya.

Di samping itu, Tjong A Fie juga mewasiatkan seluruh kekayaannya di Sumatera maupun di luar Sumatera kepada Yayasan Toen Moek Tong yang harus didirikan di Medan dan Sungkow pada saat ia meninggal duin. Bahkan menurut Desi, Ia menuliskan permintaanya agar yayasan tersebut memberikan bantuan keuangan kepada pemuda berbakat dan berkelakuan baik dan ingin menyelesaikan pendidikannya, tanpa membedakan kebangsaan. Tjong juga berpesan agar yayasan membantu mereka yang tidak mampu bekerja dengan baik karena cacat serta membantu para korban bencana alam tanpa memandang kebangsaan atau etnis.

Tjong A Fie adalahseorang pengusaha, bankir dan kapitan yang lahir di Provinsi Guangdong (Kanton), Tiongkok dan sukses membangun bisnis besar dalam bidang perkebunan di Sumatra. Tjong A Fie dekat dengan golongan kaum terpandang di Medan, di antaranya Sultan Deli, Makmun Al Rasyid serta pejabat-pejabat kolonial Hindia Belanda (taken from here).

Tjong A Fie (8)

Dan aku belum terpikat (kan kalo di Surabaya banyak bangunan besar yang tua, hehe), kecuali akan jendela-jendelanya yang terbuka dan banyak. Tapi begitu menginjak teras dan mengamati detailnya, hm.. hatiku meleleh *halah*, wekekekk:

Tjong A Fie (15) Tjong A Fie (14) Tjong A Fie (16)

Wah, plafonnya tinggi! Pintu masuknya aja tinggi. Trus, lah.. plafonnya dihias yah! Lampu dibelakang tuh kok unik, trus lampionnya cocok deh dirumah itu, wah.. Pokoknya bikin bernafsu, deh! Apalagi liat lantainya:

Tjong A Fie (12)

Byuh, itu lantai aseli kuno dan uuutuh, bikin pengen congkelin satu2 trus dipindahin kerumah *mimpi siang bolong*, hahaha! Belom lagi papan nama yang seperti difilm-film Shaolin (kebanyakan nonton film nih), masih gagah dan sangar, gede pula (sampe butuh 2 singa emas buat menyangga):

Tjong A Fie (17)

Berwibawa banget, hawanya! Apalagi pintunya dari kayu utuh yang tebal dan palangnya kokoh, wuih.. keren!

Untuk menjelajah, kita diwajibkan membayar p. 35.000/kepala, sudah termasuk: segelas minuman, jasa tour guide dan kebebasan untuk berkeliaran diarea tertentu, baik didalam dan luar rumah, pada jam 09.00 – 12.00, dilanjutkan jam 14.00 – 17.00 WIB).

Tjong A Fie (25) Tjong A Fie (20)

Dana ini dipakai oleh pihak keluarga untuk membiayai perawatan Tjong A Fie Mansion. Selain itu, ada pula dana hibah yang didapatkan dari Pemerintah Amerika Serikat, Kedutaan A.S. di Jakarta dan Konsulat A.S. di Medan yang diserah-terimakan sekitar 3 Agustus 2014:

Tjong A Fie Mansion is an historical jewel in Medan, North Sumatra. Located in downtown Medan, it’s a prominent tourist landmark and one of the most opulent examples of building representing Peranakan culture in Indonesia. It is managed by a decedent of Tjong A Fie, Mr. Fon Prawira and is an exemplar of the diversity of cultures that make up Medan. Last Friday, U.S. Consul Robert Ewing visited the Mansion. He learned of the fascinating history directly from Mr. Prawira,. The United States Government, The U.S Embassy in Jakarta, and the U.S. Consulate in Medan are proud to assist in the preservation of Medan’s Iconic Cultural Heritage site, the Tjong A Fie Mansion, via a grant awarded to the Mansion by The Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP).”

Tjong A Fie (TAF) Mansion adalah ikon bersejarah di Medan, Sumatera Utara. Terletak di pusat kota Medan, mansion ini merupakan tujuan wisata yang terkemuka dan merupakan peninggalan bangunan Peranakan termegah yang ada di Indonesia. Saat ini ditangani oleh keturunan Tjong A Fie yaitu Bapak Fon Prawira dan merupakan contoh atas keberagaman budaya yang merangkai kota Medan. Jumat lalu, Konsul A.S. Robert Ewing mengunjungi TAF Mansion dan mendengarkan langsung sejarah yang mengesankan serta kisah hidup Tjong A Fie dari Bapak Fon. Pemerintah Amerika Serikat, Kedutaan A.S. di Jakarta dan Konsulat A.S. di Medan bangga untuk dapat mendukung preservasi situs budaya bersejarah kota Medan, Tjong A Fie Mansion, melalui dana hibah yang diberikan melalui The Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP) (taken from here).

Setelah urusan administrasi selesai, mulailah kita masuk kedalam rumah melalui pintu disebelah kanan, menuju bagian rumah yang disebut “sayap kiri”:

Tjong A Fie (179)

Pada bagian inilah dahulu seluruh pembantu dan pelayan Tjong A Fie tinggal dan beristirahat. Bagian ini, kini dialih-fungsikan menjadi semacam tempat istirahat bagi pengunjung. Disini pula, minuman (yang sudah termasuk harga tiket masuk) dan makanan (yang ini kudu bayar) dapat dinikmati sambil duduk santai dan melihat foto-foto rumah Tjong A Fie di daratan Cina:

Tjong A Fie (1)

Plafonnya nampak sederhana (nanti kalian bisa bandingkan dengan plafon bagian dalam rumah):

Tjong A Fie (36)Tjong A Fie (182) Tjong A Fie (28)

Demikian pula untuk perabotannya. Tapi eits, bukan perabotan kuno! Tapi semi kuno (dari style-nya sih seperti perabot tahun 80an). Aku sih engga kaget, karena temanku sudah berkali-kali memberitahu aku bahwa perabotan di rumah Tjong A Fie ini, 90%-nya sudah diganti, atau bahkan tidak ada *jreng jreng*.

Dan ketika akhirnya aku masuk ke hampir semua ruangan diruangan utama, beneran deh. Agak kecewa, karena perabotnya ga cocok banget dengan rumahnya. Aneh jadinya, rumah megah mewah dan besar perkasa gitu tapi perabotnya kelas teri yang berusia kira-kira 20-30 tahunan:

Tjong A Fie (34) Tjong A Fie (26)

Hiburan dari tempat yang perabotannya ‘ga cocok’ ini adalah adanya copy surat wasiat Tjong A Fie, dalam bahasa Belanda dan Indonesia:

Tjong A Fie (39) Tjong A Fie (38)

Wew, keren bener itu wasiat! Nampak langsung kepribadian seorang Tjong A Fie!

Dari sayap kiri, nampak hiasan dan detail bangunan luar rumah utama ini. Begitu memukau dan aseli semuanya, seperti yang aku lihat dilorong depan sayap kiri yang menghubungkan sayap kiri ke rumah utama:

Tjong A Fie (19) Tjong A Fie (24) Tjong A Fie (37) Tjong A Fie (33)

Penuh lukisan kuno! Bikin bengong… Lama… Hahaha!!! Dan kemudian, aku masuk ke bangunan utamanya:

Tjong A Fie (57) Tjong A Fie (58) Tjong A Fie (77) Tjong A Fie (73)

Uhuiii, ganteng!!! Masih kokoh bener bangunannya dan cantik (lah.. tadi dibilang ganteng, sekarang cantik, haha!). Detail seat ruangan selebar 10 meter itu terbuat dari kayu utuh yang diukir (jaman sekarang mau cari segitu gede dimana, coba?), kemudian dicat merah dan emas:

Tjong A Fie (59) Tjong A Fie (109) Tjong A Fie (110) Tjong A Fie (99) Tjong A Fie (100) Tjong A Fie (101) Tjong A Fie (102)Tjong A Fie (113)Tjong A Fie (103) Tjong A Fie (108)Tjong A Fie (112)

Tepat dibelakang sekat ini adalah ruang tamu utama dari Tjong A Fie Mansion:

Tjong A Fie (96)

Ruangan ini lantainya masih aseli & bergaya Cina. Namun tepat disamping kiri ruangan ini, ada ruang tamu lain yang bergaya Melayu dengan dominasi warna kuning (yang memang khas Melayu), tempat Tjong A Fie menerima tamu dari Sultan Deli Serdang:

Tjong A Fie (86)

Sedangkan sebelah kanan dari ruang tamu utama, ada ruang tamu lain yang bergaya Eropa, sayang.. ruangannya tidak terbuka untuk umum. Jadi, hanya ruangan didepannya yang bisa aku foto:

Tjong A Fie (95)

Tepat diatas ruang tamu ini, ada sebuah hall. Tentu, kita kesana, melalui tangga kayu yang cantik:

Tjong A Fie (45) Tjong A Fie (79)

Tangga ini pasti dulunya juga sangat mewah karena aku menemukan bekas penahan karpet:

Tjong A Fie (114)

Dan inilah hall yang aku bicarain:

Tjong A Fie (120) Tjong A Fie (119)

Keindahan mencolok dari ruangan ini hanyalah plafon dengan lampu-lampu kristal yang bergantungan ini:

Tjong A Fie (130) Tjong A Fie (121) Tjong A Fie (122) Tjong A Fie (123)

Juga sepasang cermin raksasa yang anggun:

 Tjong A Fie (132)

Plus teralis cantik:

Tjong A Fie (145)Tjong A Fie (129) Tjong A Fie (125) Tjong A Fie (128) Tjong A Fie (126)Tjong A Fie (131)Tjong A Fie (133)

Selain itu, perabot-perabotannya sudah ‘hilang’ semua, padahal seperti inilah penampilan hall ini saat Tjong A Fie masih hidup:

Tjong A Fie (146) Tjong A Fie (141)

See? Keren buaaanget, kan? Mewah juga, pastinya! Dan dahulu, hall itu difungsikan sebagai ruang dansa tamu-tamu Eropa Tjong A Fie, tapi kini hall itu hanya difungsikan sebagai ruang pamer foto dengan papan ala kadarnya. Walau begitu, ada beberapa foto yang cukup menarik, seperti foto Tjong A Fie Mansion saat baru selesai dibangun, juga foto pernikahan salah satu anak Tjong A Fie ini:

Tjong A Fie (140) Tjong A Fie (144)

Diseberang hall dansa ini, ada ruang sembahyang:

Tjong A Fie (118)

Ini, ruangannya:

Tjong A Fie (148) Tjong A Fie (152) Tjong A Fie (172) Tjong A Fie (159) Tjong A Fie (160)

Dahulu, Tjong A Fie bersembahyang menyembah Kwan Kong, dewa perang yang dikenal berkepribadian setia dan pemberani. Sikap inilah yang konon diadaptasi oleh pribadi Tjong A Fie. Dan tokoh Kwan Kong inilah yang juga disembah di klenteng Kwan Te Kong, yang Tjong A Fie bangun di kota Medan (sebagai klenteng tertua di kota Medan).

Yang aku suka dari ruangan ini adalah plafonnya:

Tjong A Fie (157) Tjong A Fie (155) Tjong A Fie (154) Tjong A Fie (153) Tjong A Fie (147) Tjong A Fie (156)

Yeah, hampir semua plafon rumah Tjong A Fie, dilukis manual oleh pengrajin dari Cina, menggunakan warna dari bahan-bahan organik (asli tumbuhan, tanpa kimia) sehingga tahan hingga sekarang, tanpa memudar! Sumpah, aseli keren! Aku sering sakit leher di rumah Tjong A Fie ini, karena sibuk mengagumi plafon2nya, hahaha!

Dan inilah hiasan dinding ruang sembahyang ini, yang juga dilukis manual:

Tjong A Fie (150) Tjong A Fie (151)

Dan di lantai dasar, tepat dibawah ruang doa ini, juga ada ruang doa lainnya:

Tjong A Fie (175) Tjong A Fie (173) Tjong A Fie (176) Tjong A Fie (174)

Bedanya, yang ini adalah sembahyangan untuk leluhur Tjong A Fie. ada sekitar 14 cangkir teh yang disajikan, artinya ada 14 nama leluhur yang disembahyangi disini. Sesajinya sederhana sekali. Tapi yeah, better than nothing kan? Hehe.

Lagi-lagi, plafon ruang sembahyang ini cantik banget:

Tjong A Fie (76) Tjong A Fie (75)Tjong A Fie (46) Tjong A Fie (49)

Bahkan, hiasan plafon yang diruangan ini bukan sembarang hiasan deh. Karena ada gambar kepala naga:

Tjong A Fie (74)

Dan naga itulah yang dipercaya menjaga rumah Tjong A Fie hingga saat ini, sehingga manusia-manusia yang masuk dengan niat kurang baik, dipercaya akan mendapat celaka. Dan kerjaan naga ini, dibantu dengan seekor macan (jadi-jadian) yang dipercaya berkeliaran tepat dibawah gambar naga ini. Tepatnya, di plataran tengah rumah:

Tjong A Fie (115) Tjong A Fie (78)

Disamping kiri ruangan sembahyang yang dilantai dasar, adalah kamar Tjong A Fie! Dan errr, hmm.. benernya ruangan ini engga boleh difoto, sih, hehe. Tapi peraturan kan ada buat dilanggar (maafin yaaa!):

Tjong A Fie (168)Tjong A Fie (60) Tjong A Fie (61)Tjong A Fie (62)Tjong A Fie (63)Tjong A Fie (67) Tjong A Fie (66) Tjong A Fie (64) Tjong A Fie (65) Tjong A Fie (69) Tjong A Fie (70) Tjong A Fie (68)Tjong A Fie (71)

Perabot disini lumayan original dan lengkap. Ada ranjang dengan detail ornamen pria dan wanita, meja rias dengan lampu hias diatasnya. Beberapa meja marmer tampaknya dahulu dipakai Tjong A Fie untuk bekerja dan membaca. Lemari pakaian yang juga kokoh, berdiri disamping ranjang.

Ada beberapa contoh busana dan koper yang digunakan Tjong A Fie, bahkan ada contoh perhiasan yang dipakai oleh istri Tjong A Fie, terbuat dari kuningan dan berbentuk gelang dengan naga detail hiasan:

Tjong A Fie (72)

Dan sisi lain kamar, ada pintu lain yang menuju kerumah makan:

Tjong A Fie (42) Tjong A Fie (41)Tjong A Fie (169) Tjong A Fie (40) Tjong A Fie (43)

Lagi-lagi, ruangan ini perabotnya udah perabot baru (yang juga ga cocok dengan kemewahan ruangannya).

Ruangan ini memiliki akses ke 3 ruangan sekaligus, yaitu kamar Tjong A Fie, ruang sembahyang yang di lantai dasar, juga ruangan kamar lain yang kini difungsikan sebagai ruang pamer foto (dan tidak boleh difoto). Ruangan ini mendapat cahaya dari beberapa jendela besar yang berjeruji besi kokoh. Dari situ kita dapat melihat sumur, yang dipercaya dipakai keluarga Tjong A Fie menyimpan emas, sebelum pasukan Jepang menyerbu masuk rumah itu:

Tjong A Fie (170)

Dan berikut ini adalah foto-foto menarik dari perjalanan hidup Tjong A Fie yang sempat aku foto:

Tjong A Fie (92) Tjong A Fie (93)

Tjong A Fie meninggal setahun sejak foto yang lagi dijelasin oleh tour guide itu diambil. Jadi, saat itu beberapa anak Tjong A Fie masih balita. Dan pemakaman Tjong A Fie begitu megah:

Tjong A Fie (56) Tjong A Fie (55)

Lihat saja peti matinya yang begitu indah (seumur-umur aku engga pernah deh liat peti mati seperti itu!) dan jenazahnya diarak oleh hampir seluruh warga kota. Tidak mengherankan, mengingat Tjong A Fie ini bener-bener kaya raya namun dermawan dan membangun kota Medan (menara air, gereja, Masjid Agung, klenteng, jalan, perkebunan, bank, dsb adalah hasil pembangunan Tjong A Fie, termasuk amalnya dengan menggratiskan biaya pengobatan dan pendidikan saat itu), sehingga Tjong A Fie begitu dicintai, juga dihormati. Kematiannya menjadi duka seluruh kota Medan.

Dan ini, bangunan makamnya:

Tjong A Fie (53) Tjong A Fie (54)

Sebenernya kalo buat orang lain, mungkin.. berkunjung kerumah Tjong A Fie engga bakalan bikin kecapean. Tapi karena aku tuh naik turun berkali-kali, muter ga karuan, tanya ini itu sampe lidah cape dan tenggorokan kering, aku sempat duduk agak lama di sayap kiri. Mengistirahatkan kaki dan menyiram tenggorokan dengan minuman gratis yang bisa didapat dengan menyerahkan karcis masuk (untuk dipotong bagian pantatnya: lihat foto kanan).

Tjong A Fie (181)Tjong A Fie (180) Tjong A Fie (179) Tjong A Fie (183)

Kalau segelas aja engga cukup (seperti kita2 waktu itu, haha!), boleh nambah kok dengan membeli. Harga minumannya engga mahal, harga makanannya juga reasonable. Tapi terus terang aja, minumannya lebih menggoda karena banyak tanya ke tour guide bener2 bikin haus, huhuhu (kasian tuh tour guide sepertinya dia ‘apes’ dapet tamu kita, haha!).

Yang pasti, puassss!!! Dan bener-bener berhasil bikin banyak kawan di Jawa iri setengah mati *ehm*, karena aku bisa ketempat seindah ini, hahahaha *evil*. Tapi aku doakan kamu, kamu dan kamu (nuding teman2ku, para pecinta arsitektur dan bangunan tua) bisa ke Tjong A Fie Mansion, suatu saat nanti. Amen!

Btw, ini aku kutip dari website Tjong A Fie Mansion:

Tjong A Fie was born in 1860 as Tjong Fung Nam in Meixian district, Guangdong, China. He was also known as Tjong Yiauw Hian.

He came from a humble and poor origins in China. He didn’t even finish his schooling so he and his brother, Tjong Yong Hian, could help out in their family’s shop.

At 18 years old, Tjong A Fie followed his brother’s footsteps and came to Labuan Deli in Sumatra of the Dutch East Indies. Tjong Yong Hian was already fairly established in Medan at the time. The two brothers grew very successful in their businesses. They also grew very influential as they developed close relationships with the Dutch rulers at the time and the Sultanate of Deli, as well as Chinese businessmen in Sumatra and beyond. By the end of his life, Tjong A Fie businesses covered real estate, mining, banks, railroads, coconut, tobacco, tea, rubber, palm oil and sugar plantations.

In 1906, Tjong A Fie and his brother, Tjong Yong Hian, partnered with Cheong Fatt Tze (of Penang) to build the ChaoChow and Sukow Railway, the first railroad in China that was financed and built by overseas Chinese. Due to the many donations to philanthropic activities in Guangdong, the Tjong brothers received many distinctions from the Chinese Imperial Government. The Tjong brothers were raised to the rank of Mandarin by Empress Dowager CiXi. In 1907, Tjong A Fie received an honorary doctorate from Hong Kong University.

in 1911, Tjong A Fie was appointed as Majoor der Chineezen, replacing his brother who passed away, to lead the growing Chinese community in Medan. Due to his keen ability to work with and bring much peace to the community, Tjong A Fie received several royal distinctions from the Dutch Royal government, including the Orde van de Oranje-Nassau honor. He also was a founder of Koninklijk Instituut voor de Tropen.

In his role as Majoor der Chineezen, Tjong A Fie was not only a wise leader, he was a generous one. He was committed to give back a percentage of his wealth to the community of Medan as a whole, without prejudice against race or religions. He built schools, hospitals, temples, churches, mosques and other public facilities in Sumatera, Malaysia and China. He was very well thought-of and respected by the people of Medan for his generous nature in leadership.

Tjong A Fie was married three times. His first wife, Madame Lie, was in China. HIs second marriage was with Madame Chew, from Penang and they had three children: Tjong Kong Liong, Tjong Song-Yin dan Tjong Kwei-Yin. However he was widowed by his second wife. His last wife, Madame Liem Koei Yap, was from Binjai, North Sumatra. She was 16 years old when she married the much older Tjong A Fie. Together they had seven children: Tjong Foek-Yin (Queeny), Tjong Fa-Liong, Tjong Khian-Liong, Tjong Kwet Liong (Munchung), Tjong Lie Liong (Kocik), Tjong See Yin (Noni) and Tjong Tsoeng-Liong (Adek). Together with his third wide, and their seven children, Tjong A Fie lived at the mansion until his death in 1921.

Tjong A Fie died on February 4th, 1921 from apoplexy. On his funeral day, thousands of people lined the street or walk behind his casket to pay their last respect to this great philanthropist and leader.

Today, Tjong A Fie’s descendants live all over the world. Befitting his inclusive philosophy, the descendants married inter-racial, inter-culture and inter-religion. Striking a parallel with the mansion itself, the family is also an amalgam of three cultures: Chinese, Malay and Western (taken from here).

Artikel lain mengenai Tjong A Fie Mansion:

museum-tjong-a-fie

Dari Istana Maimun, perjalanan #TourAcehMedan yang diselenggarakan Green Design Community dilanjutkan ke Museum Tjong A Fie atau biasa disebut juga Tjong A Fie Mansion.

Tjong A Fie (1860-1921) adalah seorang pengusaha asal Tiongkok yang pernah sukses membangun bisnis perkebunan di Sumatera. Kerajaan bisnisnya meliputi perkebunan, pabrik minyak kelapa sawit, pabrik gula, bank dan perusahaan kereta api yang mempekerjakan lebih dari 10.000 karyawan.

Bukan hanya dikenal sebagai pebisnis sukses, Tjong A Fie juga dikenal dermawan dan sangat berjasa dalam membangun kota Medan. Pada masa hidupnya Tjong A Fie menyumbangkan menara lonceng untuk Gedung Balai Kota Medan, menyumbang pembangunan Istana Maimoon, Gereja Uskup Agung Sugiopranoto, Kuil Buddha di Brayan, kuil Hindu untuk warga India, Batavia Bank, Deli Bank, Jembatan Kebajikan di Jalan Zainul Arifin serta mendirikan rumah sakit Tionghoa pertama di Medan bernama Tjie On Jie Jan.

ruang-piano-museum-tjong-a-fie

Salah satu jejak Tjong A Fie adalah kediamannya yang sekarang menjadi bangunan cagar budaya nasional. Tjong A Fie Mansion yang berlokasi di tengah-tengah Kesawan atau kota tua Medan, menjadi salah satu ikon dan simbol sejarah multi etnis di kota Medan. Tjong A Fie Mansion yang memiliki luas 6000 m2 dan berumur lebih dari satu abad ini terpelihara dengan baik hingga kini. Di sini pengunjung bisa menikmati keindahan arsitektur Cina kuno yang digabungkan dengan nuansa arsitektur gaya Eropa dan Melayu. Menarik melihat bagaimana bangunan berusia lebih dari 100 tahun ini masih terlihat kokoh & terawat. Bahkan piring-piring di meja makan di dalam rumah pun masih tertata rapi seperti layaknya hendak waktu makan. Waktu seakan berhenti di rumah ini.

ruang-dansa-museum-tjong-a-fie

Setelah mendengar sejarah tentang rumah ini dari pemandu wisata kami, rasanya seru membayangkan riuh rendahnya tempat ini pada zaman dulu dengan isteri-isteri dan anak-anak serta pelayan rumah tangga yang mondar-mandir. Belum lagi tamu yang berdatangan dan menari di lantai dua rumah ini. Pasti menyenangkan jika punya mesin waktu dan bisa mengintip sedikit suasana dansa saat itu (taken from here).

Dan sumber yang satu ini sangat bisa dipercaya pastinya, karena says kutip dari skripsi mahasiswa Universitas Sumatra Utara:

PERANAN DAN KEBERADAAN TJONG A FIE

Deskripsi bab ini merupakan suatu penjelasan mengenai peran dan keberadaan Tjong A Fie sebagai seorang tokoh di Kota Medan memiliki tindakan dan pengaruh yang besar pada perkembangan Kota Medan sebagai lokasi penelitian, sehingga penjelasan ini berdasarkan atas peran dan keberadaan Tjong A Fie pada waktu yang lalu dan pengaruhnya pada saat sekarang ini.

III.1. Faktor Pendukung Tjong A Fie

Tjong A Fie merupakan seorang tokoh yang berperan dalam perkembangan Kota Medan, hasil dari peran tersebut dapat dilihat secara fisik melalui pembangunan beberapa bangunan yang dimanfaatkan oleh masyarakat Kota Medan pada masa lalu dan saat sekarang ini, hal ini dapat dilihat pada tempat tinggal Tjong A Fie di jalan Ahmad Yani atau Kesawan atau biasa dikenal dengan sebutan Tjong A Fie Mansion, selain itu dapat juga dilihat Mesjid Lama atau dikenal dengan Mesjid Gang Bengkok, Jam pada gedung balaikota Medan yang terletak di persimpangan jalan Raden Saleh dan Kesawan serta lain sebagainya.

Bangunan-bangunan secara fisik yang merupakan hasil campur tangan Tjong A Fie merupakan salah satu faktor pendukung Tjong A Fie sebagai seorang tokoh yang dikenal di Kota Medan. Selain itu faktor pendukung Tjong A Fie lainnya terdapat pada peran Tjong A Fie semasa hidupnya yang mengemban tugas sebagai perwakilan etnis Tionghoa di Kota Medan, dimana tugas ini merupakan kelanjutan dari tugas yang dahulunya diemban oleh kakak Tjong A Fie yaitu Tjong Yong Hian.

Pada tahun 1911, Tjong A Fie diangkat sebagai Kapitan Cina (Majoor der Chinezen: Major merupakan suatu istilah yang diberikan oleh pihak Belanda sebagai penjajah di Kota Medan kepada seorang pemimpin masyarakat atau etnis tertentu, adapun tingkatan ini dimulai dari lieutenant (letnan) atau asisten dari Major (mayor) kemudian dilanjutkan pada posisi Major sebagai posisi tertinggi dan prestisius pada masa tersebut) untuk memimpin komunitas Tionghoa di Medan, menggantikan kakaknya, Tjong Yong Hian sebagai pemimpin masyarakat Tionghoa, Tjong A Fie sangat dihormati dan disegani, karena ia menguasai bidang ekonomi dan politik. Kerajaan bisnisnya meliputi perkebunan, pabrik minyak kelapa sawit, pabrik gula, bank dan perusahaan kereta api.

Semasa mengemban tugas sebagai seorang Major1, Tjong A Fie telah berhasil mengembangkan usaha secara pribadi dan Kota Medan, salahsatu perkembangan yang dihasilkan oleh Tjong A Fie terhadap Kota Medan adalah dengan mendirikan Bank Kesawan sebagai cikal-bakal penyimpanan uang di Kota Medan selain itu pembangunan sarana pendidikan, rumah sakit, rumah ibadah dan fasilitas umum lainnya telah menjadikan Tjong A Fie sebagai tokoh yang cukup berperan di Kota Medan, hal ini didukung dengan adanya hubungan yang erat antara Tjong A Fie dengan Kesultanan Deli yang menjadi penguasa Tanah Deli (Kota Medan) saat itu.

Melalui beragam usaha yang telah dilakukan oleh Tjong A Fie baik secara pribadi maupun sebagai Major Medan telah menjadikan Tjong A Fie menjadi seorang dengan posisi berpengaruh di Kota Medan pada masa itu, melalui modal ini pengaruh pada masa tersebut maka menjadi faktor pendukung dari ketokohan seorang Tjong A Fie di Kota Medan.

Berbicara mengenai faktor pendukung tidak lepas dari aspek sejarah yang melingkupi perjalanan Tjong A Fie, secara deskriptif, sejarah perjalanan hidup Tjong A Fie dapat menggambarkan aspek-aspek pendukung Tjong A Fie sebagai seorang tokoh yang cukup berperan penting di Kota Medan.

Tjong Fung Nam yang lebih populer dengan nama gelarnya dengan Tjong A Fie dilahirkan tahun 1860 di desa Sungkow daerah Moyan atau Meixien dan berasal dari suku Khe atau Hakka. Ia berasal dari keluarga sederhana, ayahnya yang sudah tua memiliki sebuah toko kelontong. Bersama kakaknya Tjong Yong Hian, Tjong A Fie harus meninggalkan bangku sekolah dan membantu mejaga toko ayahnya. Walaupun hanya mendapatkan pendidikan seadanya, tetapi Tjong A Fie ternyata cukup cerdas dan dalam waktu singkat dapat menguasai kiat-kiat dagang dan usaha keluarga yang dikelolanya mendapat kemajuan.

Tapi, Tjong A Fie rupanya mempunyai suatu cita-cita lain, ia ingain mengadu nasib di perantauan untuk mencari kekayaan dan menjadi manusia terpandang. Tekad inilah yang mendorongnya meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke Hindia Belanda atau sekarang Indonesia, tepatnya Kota Medan.

Dalam usia 18 tahun dengan berbekal 10 dolar perak uang Manchu yang diikatkan ke ikat pinggangnya, Tjong A Fie meninggalkan kampung halamannya, menyusul kakaknya Tjong Yong Hian, yang sudah lima tahun menetap di Sumatera. Pada tahun 1880, setelah berbulan-bulan berlayar ia tiba di Labuhan Deli.

Tjong A Fie adalah seorang yang berwatak mandiri dan tidak mau menggantungkan diri pada orang lain terutama kepada kakaknya, Tjong Yong Hian yang telah menjadi Letnan dan telah berhasil memupuk kekayaan dan menjadi pimpinan orang Tionghoa yang dihormati.

Ia kemudian bekerja serabutan di toko kelontong Tjong Sui Fo seorang Tioghoa yang dikenalnya melalui perkumpulan Tionghoa di Kota Medan saat itu, dari memegang buku, melayani langganan di toko, menagih utang dan tugas-tugas lainnya. Ia juga pandai bergaul, bukan saja dengan sesama orang Tionghoa, tetapi dengan orang Melayu, Arab, India, maupun orang Belanda. Ia juga belajar bercakap-cakap dengan bahasa Melayu yang menjadi bahasa pergaulan yang dipakai oleh berbagai macam bangsa di tanah Deli.

Tjong A Fie tumbuh menjadi sosok yang tangguh, Peranan Tjong A Fie dalam Pembangunan di Sumatera menjadi teladan dan menampilkan watak kepemimpinan yang sangat menonjol. Ia sering menjadi penengah jika terjadi perselisihan di antara orang Tionghoa atau dengan pihak lainnya. Di daerah perkebunan yang juga sering terjadi kerusuhan di kalangan buruh perusahan Belanda yang kadang-kadang menimbulkan kekacauan, karena kemampuannya, Tjong A Fie kemudian diminta Belanda untuk membantu mengatasi berbagai permasalahan. Ia kemudian diangkat menjadi Letnan (Liutenant) Tionghoa dan karena pekerjaannya tersebut ia pindah ke kota Medan. Karena prestasinya yang luar biasa, dalam waktu singkat pangkatnya dinaikan menjadi Kapten (Kapiten) atau Major (Mayor).

Di tanah Deli, Tjong A Fie mempunya pergaulan yang luas dan terkenal sebagai pedagang yang luwes dan dermawan, Ia kemudian membina hubungan yang baik dengan Sultan Deli, Makmoen Al Rasjid Perkasa Alamsjah dan Tuanku Raja Moeda. Atas kesetiakawanan yang tinggi, maka Tjong A Fie berhasil menjadi orang kepercayaan Sultan Deli dan mulai menangani beberapa urusan bisnis. Dengan demikian ia memperoleh reputasi yang baik dan terkenal di seluruh Deli.

Ia terkenal baik di kalangan pedagang maupun orang Eropa, serta pejabat pemerintah setempat. Hubungan yang baik dengan Sultan Deli ini menjadi awal sukses Tjong A Fie dalam dunia bisnis. Sultan memberinya konsesi penyediaan atap daun nipah untuk keperluan perkebunan tembakau antara lain untuk pembuatan bangsal.

Tjong A Fie menjadi orang Tionghoa pertama yang memiliki perkebunan tembakau. Ia juga mengembangkan usahanya di bidang perkebunan teh di Bandar Baroe, di samping perkebunan teh si Boelan.

III.1.1. Aspek Sosial Tjong A Fie

Aspek sosial merupakan aspek yang berpengaruh dalam suatu pembentukan “ketokohan” seseorang, melalui aspek sosial tersebut maka akan terbangun kesadaran dan pandangan di masyarakat mengenai seorang tokoh yang telah berbuat bagi lingkungan sosial mereka, pada penelitian ini terfokus pada aspek sosial yang dilakukan oleh Tjong A Fie dan memiliki kaitan dengan peran serta keberadaan Tjong A Fie di Kota Medan.

Beragam aspek sosial yang ada disekitar kehidupan Tjong A Fie menjadi titik tolak dan mendapatkan gambaran mengenai peranan dan keberadaanya di Kota Medan, adapun aspek sosial tersebut adalah :

  1. Pada awal abad ke-20 Kesultanan Deli memberi kepercayaan menjadi anggota gemeenteraad (dewan kota) dan cultuurraad (dewan kebudayaan) di Medan.
  2. Pengangkatan Tjong A Fie sebagai seorang Major atau pemimpin masyarakat Tionghoa (Cina) di Kota Medan.
  3. Pembangunan jembatan “kebajikan” yang terdapat di Kampung Madras (jalan Zainul Arifin – Medan), proses pembangunan jembatan ini merupakan inisiatif dari Tjong bersaudara (Tjong A Fie dan Tjong Yong Hian) untuk memperlancar dan mempermudah transportasi antar wilayah di Kota Medan pada masa itu.
  4. Mesjid Lama atau Mesjid Gang Bengkok (jalan Mesjid – Medan), pembangunan mesjid Lama atau dikenal juga dengan mesjid Gang Bengkok merupakan permintaan dari masyarakat setempat yang membutuhkan sarana ibadah, permintaan ini kemudian disetujui dan dibiayai sepenuhnya oleh Tjong A Fie, secara sosial pembangunan mesjid tersebut berdampak pada kehidupan plural di Kota Medan.
  5. Istana Maimun, merupakan istana Kesultanan Deli yang dibangun atas bantuan Tjong A Fie.
  6. Transportasi kereta api yang menghubungkan antara Medan dan Belawan merupakan hasil pemikiran Tjong A Fie untuk mendekatkan jarak dan mempermudah akses masyarakat (Medan dan Belawan) antar wilayah. Beragamnya peranan Tjong A Fie dalam pembangunan bidang sosial di

Kota Medan menunjukkan bahwa Tjong A Fie memegang peranan penting dalam pembangunan Kota Medan dan juga memiliki nilai yang tinggi pada sosio- kemasyarakatan Kota Medan.

III.1.2. Tjong A Fie Mansion

Bangunan yang menjadi tempat tinggal Tjong A Fie terletak di Jalan Kesawan, Medan. Bangunan dengan ornamen Eropa, Melayu dan Cina Peranakan memiliki 40 ruangan yang masing-masing dilapisi dengan lantai tegel dari Italia yang dilukis tangan pada tiap lantainya, begitu juga dengan dinding-dindingnya yang menggambarkan kehidupan di Cina dan digambarkan dengan sangat teliti dan menggunakan batu-batuan yang berasal dari Cina

 

Pembangunan Tjong A Fie Mansion atau bangunan tempat tinggal Tjong A Fie diselesaikan pada tahun 1900. Pada tahun 2000 bangunan Tjong A Fie Mansion masuk dalam benda cagar budaya yang dilindungi berdasarkan Perda Kota Medan No.6 Tahun 1988 yang diperkuat dengan SK Walikota Medan No.188.342/382/SK/1989 dan No. 188.342/383/SK/2000.

Kawasan Tjong A Fie Mansion merupakan suatu keseluruhan dengan bangunan-bangunan lain yang terdapat di kawasan Jalan Kesawan, selain itu terdapat juga Pajak Ikan Lama yang pada dahulunya merupakan pusat ekonomi dan bisnis Kota Medan, keberadaan bangunan-bangunan tersebut dipelopori oleh Tjong A Fie yang pada awalnya memindahkan kegiatan bisnisnya ke Kota Medan dari daerah Labuhan.

Bangunan Tjong A Fie Mansion terdiri dari dua lantai dengan masing- masing lantai memiliki peruntukkannya tersendiri, bangunan dasar atau lantai dasar bangunan Tjong A Fie Mansion terdiri dari beberapa bagian penting, seperti bagian sebelah kanan atau ruang Cina yang dikhususkan untuk menerima tamu dari Cina atau etnis Cina sedangkan ruang bagian kiri merupakan ruang Sultan Deli yang diperuntukkan bagi Sultan Deli dan keluarga atau tamu-tamu yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Sultan Deli.

 

Ruang tengah lantai dasar merupakan ruang penyambutan bagi para tamu yang akan memasuki Tjong A Fie Mansion, ruang penyambutan ini memiliki pintu dengan ukuran 10 meter yang memiliki pegangan kunci bergaya Cina yang terbuat dari kayu, pada bagian belakang lantai ini terdapat ruang persembahan leluhur atau sembahyang datuk, kamar pribadi Tjong A Fie serta ruang keluarga yang memanjang.

Lantai atas bangunan Tjong A Fie merupakan ruangan yang digunakan sebagai ball room atau ruangan pertemuan, pada dahulunya ruangan ini dipergunakan sebagai ruangan dansa oleh tamu-tamu yang mengunjungi Tjong A Fie Mansion, berhadapan dengan ruangan pertemuan terdapat altar penyembahan yang dipergunakan sarana ibadah Tjong A Fie dan keluarga.

Seluruh langit-langit bangunan dihiasi dengan ornamen bernuansa Cina yang didatangkan langsung dari Cina dan memiliki jendela bernuansa Melayu yang dilengkapi warna kuning dan hijau yang menjadi warna dominan dalam budaya Melayu, keseluruhan lantai didalam dan diluar Tjong A Fie Mansion dilukis dengan menggunakan tangan dan pada tembok-tembok digambarkan diorama kehidupan di Cina yang dilukis dengan tangan dan menggunakan bahan- bahan yang berasal dari alam serta dilengkapi dengan bebatuan khas Cina, seperti Giok.

Tjong A Fie Mansion memiliki dua pintu, yaitu pintu masuk yang terdapat berhadapan dengan Jalan Ahmad Yani atau Kesawan dan pintu keluar yang terdapat di Jalan Palang Merah. Tjong A Fie Mansion juga memiliki ciri khas berupa pembagian ruang bagi laki-laki dan perempuan dimana Tjong A Fie Mansion dibagi atas dua bagian besar yaitu kiri dan kanan dimana bagian kanan merupakan bangunan yang diperuntukkan bagi laki-laki dan pada bagian kiri untuk perempuan, pembagian ini tidak terbatas pada Tjong A Fie dan keluarga akan tetapi juga kepada tamu maupun pekerja yang tinggal menetap di Tjong A Fie Mansion, pembagian ruangan ini masih berlaku sampai saat sekarang ini.

Pada bagian belakang lantai dasar Tjong A Fie Mansion atau tepatnya berhadapan dengan pintu keluar terdapat ruangan dapur yang dilengkapi dengan meja dapur yang terbuat dari beton dan gilingan cabai serta pembuatan tahu yang terbuat dari batu.

Hal lainnya adalah tungku yang hingga kini masih digunakan jika ada jamuan makan keluarga besar pada waktu-waktu tertentu, seperti saat hari Raya Imlek, dapur ini juga dilengkapi lemari yang tertanam di dinding untuk menyimpan alat – alat dapur, dibalik ruangan dapur terdapat ruang kecil dengan tangga menuju atas yang biasa dipergunakan oleh Tjong A Fie untuk melihat dan mengatur usaha di kawasan Pajak Ikan Lama yang terletak tepat dibelakang Tjong A Fie Mansion.

III.2. Silsilah Keluarga Tjong A Fie

Tjong A Fie merupakan seorang Tioghoa kelahiran 1860 yang bermigrasi ke Hindia Belanda atau dikenal sekarang dengan Indonesia, tepatnya di Kota Medan. Tjong A Fie juga dikenal dengan Tjong Fung Nam.

Tjong A Fie memiliki 3 orang istri, yaitu istri pertama Nona Lee yang berada di dataran Tiongkok, tidak memiliki anak dan ditinggal oleh Tjong A Fie merantau ke Medan, selanjutnya Tjong A Fie memiliki istri kedua, yaitu Nona Chew yang berasal dari Labuhan Deli, dari perkawinan ini Tjong A Fie memiliki 3 orang anak, yaitu Tjong Kong Liong, Tjong Song-Jin dan Tjong Kwei-Jin. Ketiga anaknya tersebut tidak memiliki catatan sejarah dikarenakan semenjak kematian Nona Chew keberadaan 3 orang keturunan Tjong A Fie tidak pernah dijelaskan dan dicatat.

Tabel 6 Silsilah Keluarga Tjong A Fie

Istri =>

Nona Lee

Nona Chew

Lim Koei Yap

Anak =>

Tjong Kong Liong

Tjong Foek Yin

Tjong Song Jin

Tjong Fa Liong

Tjong Kwei Jin

Tjong Khian Liong

Tjong Kaet Liong

Tjong Lie Liong

Tjong See Yin

Tjong Tsoeng Liong

Sumber data: The Tjong A Fie Memorial Institute Tabel disusun: Rebecca Hannatri, 2010

Perkawinan ketiga atau terakhir Tjong A Fie dengan Lim Koei Yap, seorang anak mandor kebun yang berasal dari Timbang-Langkat, Binjai, memiliki 7 orang anak, yaitu :

1.  Tjong Foek Yin atau dikenal dengan Queeny Chang merupakan anak tertua dari perkawinan ketiga Tjong A Fie, tidak dikarunia anak dan semenjak kematian Tjong A Fie, Queeny Chang bermukim di Belgia sampai akhir hayatnya.

  1. Tjong Fa-Liong, anak kedua Tjong A Fie ini memiliki beberapa anak atau cucu Tjong A Fie namun sudah meninggal dunia dan keturunan Tjong A Fie sekarang ini tidak lagi mengenal anak Tjong Fa-Liong.
  2. Tjong Khian-Liong
  3. Tjong Kaet-Liong atau Munchung merupakan anak ke 4 Tjong A Fie yang memberi 4 cucu, salahsatunya adalah Fon Prawira
  4. Tjong Lie Liong
  5. Tjong See Yin, kini bermukim di Belgia dan memiliki seorang anak wanita bernama Saskia Bairens
  6. Tjong Tsoeng LiongDari ketujuh anak Tjong A Fie ini hanya tinggal Tjong See Yin yang masih hidup sampai saat ini, selain itu sudah meninggal dunia.

Berdasarkan keterangan dari beberapa cucu Tjong A Fie bahwa diantara cucu-cucu Tjong A Fie sudah tidak mengenal satu sama lain dikarenakan ketika Tjong A Fie meninggal dunia, anak-anak Tjong A Fie berpencar dan pindah keberbagai wilayah, seperti Malaysia, Singapura, Jakarta, Belanda dan Belgia dan diantara mereka putus komunikasi sehingga sampai saat ini keturunan Tjong A Fie (cucu dan cicit) memiliki masalah untuk mengidentifikasi keturunan- keturunan Tjong A Fie yang lain.

Tjong A Fie Memorial Institute sebagai lembaga nirlaba atau filantropi yang didirikan oleh cucu Tjong A Fie berusaha untuk mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan Tjong A Fie dan keturunannya yang tersebar diberbagai wilayah, sampai saat ini mereka hanya mampu mengidentifikasi keturunan Tjong A Fie (cucu dan cicit) yang berada di Indonesia, Belanda dan Belgia, selain daripada itu mereka tidak memiliki data maupun catatan mengenai hal tersebut.

Sampai saat ini hanya keturunan Tjong A Fie dari anaknya yang bernama Tjong Kaet Liong yang mendiami Tjong A Fie Mansion, hal ini dikarenakan Tjong Kaet Liong satu-satunya keturunan Tjong A Fie yang bertahan di Medan semenjak kematian Tjong A Fie, Fon Prawira sebagai salah satu pendiri Tjong A Fie Memorial Institute merupakan penerus Tjong A Fie yang tinggal menetap di Tjong A Fie Mansion bersama dengan saudara perempuannya Mimi.

III.3. Struktur The Tjong A Fie Memorial Institute

The Tjong A Fie Memorial Institute merupakan suatu lembaga nirlaba yang didirikan oleh para keturunan Tjong A Fie untuk melestarikan peninggalan Tjong A Fie dan memberikan pemahaman sejarah dan sosial mengenai peran Tjong A Fie di Kota Medan.

Sebagai suatu institut, The Tjong A Fie Memorial Institute memiliki struktur organisasi dalam menjalankan tugasnya dan memiliki fungi, diantaranya untuk memberikan bantuan keuangan kepada kaum muda yang berbakat dan berkelakuan baik serta ingin menyelesaikan pendidikannya, tanpa membedakan kebangsaan.

Yayasan ini juga harus membantu mereka yang tidak mempu bekerja dengan baik karena cacat tubuh, buta, atau menderita penyakit berat. Juga yayasan diharapkan membantu para korban bencana alam tanpa memandang kebangsaan atau etnisnya.

Struktur organisasi didasarkan pada faktor keturunan genetis sebagai pengelola utama The Tjong A Fie Memorial Institute, adapun anak-anak Tjong A Fie berjumlah 7 orang, masing-masing yaitu Tjong Foek-Yin (Queeny), Tjong Fa-Liong, Tjong Khian-Liong, Tjong Kaet Liong (Munchung), Tjong Lie Liong (Kocik), Tjong See Yin (Noni) dan Tjong Tsoeng-Liong (Adek). Selain itu susunan kepengelolaan The Tjong A Fie Memorial Institute juga turut dipegang oleh cucu Tjong A Fie yang berjumlah 30 orang, dalam hal ini seluruh kepengurusan diwakilkan kepada Fon Prawira selaku cucu dan bertempat tinggal di Tjong A Fie Mansion.

III.3.1. Fungsi The Tjong A Fie Memorial Institute

Tjong A Fie Memorial Institute resmi berdiri bertepatan dengan penyelenggaraan 150 tahun Tjong A Fie yaitu pada 18 Juni 2009, sebagaimana diungkapkan oleh informan Bapak Fon Prawira :

“Tjong A Fie Memorial Institute merupakan dedikasi Tjong A Fie kepada seluruh masyarakat, dimana didalamnya terdapat beragam informasi mengenai sejarah, sosial dan budaya … kesemuanya itu dipusatkan pada Tjong A Fie Memorial Institute yang terdapat di Tjong A Fie Mansion”

Berdasarkan wawancara tersebut diperoleh informasi bahwasanya Tjong A Fie Memorial Institute merupakan pusat informasi mengenai keberadaan Tjong A Fie khususnya di Kota Medan.

Secara garis besar, Tjong A Fie Memorial Institute memiliki 2 (dua) fungsi utama, yaitu :

  1. Pusat informasi dan data mengenai aspek sejarah, sosial, budaya serta arsitektural peninggalan Tjong A Fie. Sejarah kedatangan dan peninggalan Tjong A Fie menjadi basis utama dari fungsi Tjong A Fie Memorial Institute untuk menginformasikannya kepada masyarakat luas.
  2. Sebagai lembaga (institusi) yang mewadahi beberapa program kerja seperti yang diwasiatkan oleh Tjong A Fie, seperti membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan tanpa memandang suku, agama dan golongan dan memberikan pendidikan kepada orang tidak mampu serta membagi pengetahuan mengenai Tjong A Fie kepada pihak yang ingin mengetahui.

Keseluruhan fungsi Tjong A Fie Memorial Institute merupakan hasil dari proses musyawarah antar keturunan Tjong A Fie baik yang berada di Indonesia maupun di luar Indonesia, hal ini diungkapkan oleh Fon Prawira :

“Pengelolaan Tjong A Fie Memorial Institute sepenuhnya berada ditangan keturunan Tjong A Fie dengan peruntukkan bagi masyarakat luas, namun pada kenyataannya untuk memudahkan administrasi, pengelolaan dipegang oleh keturunan Tjong A Fie yang berada di Indonesia”.

III.3.2. Peranan Tjong A Fie Memorial Institute

Selain fungsi, Tjong A Fie Memorial Institute juga memiliki peran sebagai pengelola dan pelestari peninggalan Tjong A Fie dalam bentuk fisik dan non-fisik, adapun aspek fisik meliputi bangunan yang didirikan oleh Tjong A Fie serta aspek non-fisik meliputi peninggalan berupa petuah dan kebijakan Tjong A Fie semasa hidup yang masih relevan dengan kondisi sekarang ini.

Peran utama Tjong A Fie Memorial Institute adalah merevitalisasi bangunan Tjong A Fie Mansion sebagai salah satu objek wisata sejarah di Kota Medan, dimana proses ini masih berlangsung sampai saat ini, selain merevitalisasi bangunan, Tjong A Fie Memorial Institute juga berperan dalam pengembangan hasil dan kebijakan serta penggunaan informasi mengenai Tjong A Fie bagi masyarakat luas.

III.4. Peran Pemerintah

Pemerintah dalam konteks penelitian ini merupakan sebagai pihak yang memegang kendali kebijakan terhadap Tjong A Fie Mansion beserta peninggalan lainnya, dalam hal ini peran pemerintah diwakili oleh Dinas Pariwisata Kota Medan.

Perkembangan Tjong A Fie Mansion tidak lepas dari peran serta pemerintah karena tanpa adanya hal tersebut perkembangan Tjong A Fie Mansion hanya berupa milik individual (keturunan Tjong A Fie), bandingkan dengan tujuan dan fungsi utama Tjong A Fie Memorial Institute yang menginginkan membuka akses informasi yang luas terhadap Tjong A Fie. Peran pemerintah sangat diharapkan karena Tjong A Fie merupakan aset dan objek wisata yang sangat berpengaruh dalam perkembangan sejarah Kota Medan.

Secara konseptual, kegiatan pariwisata terkait dengan beberapa elemen penting yang saling mempengaruhi, salah satunya adalah peran pemerintahan lokal, yang dalam hal ini direpresentasikan pada Dinas Pariwisata Kota Medan. Bahasan dalam bagian menjelaskan mengenai peran serta Dinas Pariwisata Kota Medan dalam melestarikan dan mengembangkan Tjong A Fie dan Tjong A Fie Mansion sebagai salahsatu objek wisata sejarah yang terdapat di Kota Medan.

III.5. Dinas Pariwisata Kota Medan

Pengembangan Tjong A Fie Mansion sebagai salah satu objek kunjungan wisata sejarah dimulai ketika dibukanya Tjong A Fie Mansion kepada masyarakat umum melalui acara pameran yang bertajuk ‘150th YEARS TJONG A FIE HERITAGE EXHIBITION’ dilaksanakan pada bulan Juli 2009, prakarsa palmerna merupakan inisitiatif dari keluarga Tjong A Fie memiliki lembaga Tjong A Fie Memorial Institute untuk membuka kesempatan kepada masyarakat luas melihat peninggalan Tjong A Fie, pada perkembangannya acara ini didukung oleh Dinas Pariwisata Kota Medan yang kemudian memasukkan Tjong A Fie Mansion kedalam kategori bangunan bersejarah dan objek wisata sejarah, adapun landasan Dinas Pariwisata memasukkan Tjong A Fie Mansion pada bangunan bersejarah adalah melalui Undang-Undang nomor 5 Tahun 1992 tentang cagar budaya, yang secara sederhana menyebutkan bahwa benda cagar budaya adalah benda buatan manusia, bergerak dan tidak bergerak yang merupakan suatu kesatuan atau kelompok ataupun bagian dari kelompok dan berumur sekurang-kurangnya atau mewakili masa gaya 50 tahun serta memiliki nilai sejarah, ilmu pengetahuan dan kebuda yaan.

Berdasarkan landasan undang-undang tersebut, Dinas Pariwisata memasukkan Tjong A Fie Mansion kedalam kategori bangunan bersejarah dan cagar budaya. Adapun kategori umur 50 tahun sudah dilewati oleh usia bangunan Tjong A Fie Mansion dan memiliki nilai historis, pengetahuan dan kebudayaan serta mewakili nilai kebudayaan Tionghoa di Kota Medan.

Salah satu upaya Dinas Pariwisata sebagai wakil pemerintah untuk memperkenalkan Tjong A Fie Mansion adalah memberikan promosi wisata kepada para wisatawan lokal maupun domestik sebagai objek wisata sejarah selain memasukkan Tjong A Fie Mansion kedalam bangunan bersejarah Kota Medan yang dilindungi. Program ‘city tour’ yang dikembangkan oleh Dinas Pariwisata Kota Medan juga memasukkan Tjong A Fie Mansion sebagai salah satu objek wisata yang layak untuk dikunjungi oleh para wisatawan.

Universitas Sumatera Utara

Dukungan bantuan finansial juga diberikan oleh Dinas Pariwisata Kota Medan dalam rangka memajukan iklim wisata di Kota Medan melalui program bantuan kepada Tjong A Fie Mansion dalam aspek pemeliharaan dan pengembangan objek wisata sejarah Tjong A Fie Mansion

III.5.1. Komentar Dinas Pariwisata

Pemerintahan dalam penulisan ini merujuk pada keberadaan dan peranan Dinas Pariwisata Kota Medan dalam melestarikan dan mengelola objek wisata sejarah Tjong A Fie dan Tjong A Fie Mansion, segala aspek yang terkait dengan proses pelestarian, pengelolaan dan pengembangan Tjong A Fie serta Tjong A Fie Mansion menjadi fokus utama dalam bagian ini.

Dinas Pariwisata Kota Medan sebagai institusi pemerintah yang berperan dalam mengelola dan mengembangkan pariwisata di Kota Medan, faktor wisata, wisatawan, objek wisata, produk wisata menjadi wilayah tanggung jawab Dinas Pariwisata Kota Medan.

Peran Dinas Pariwisata Kota Medan terhadap Tjong A Fie Mansion terlihat pada wawancara dengan informan (Syaiful, 45 Tahun, Staf Dinas Pariwisata Kota Medan) yang mengatakan bahwa :

“Dinpar (Dinas Pariwisata –pen) berwenang atas usaha pelestarian dan pengelolaan seluruh objek wisata dan wisatawan yang berada di wilayah Kota Medan”.

Selanjutnya informan juga mengatakan keterkaitan peranan Dinas Pariwisata terhadap Tjong A Fie Mansion :

“…dalam pengembangan rumah Tjong A Fie sebagai objek wisata, Dinas Pariwisata berperan aktif dalam membantu seperti saat pembukaan rumah Tjong A Fie dalam memperingati 150 tahun Tjong A Fie, Dinpar memberikan bantuan materi dan promosi untuk mendukung acara tersebut”.

Dinas Pariwisata sebagai pemegang kebijakan pemerintah dalam bidang pariwisata telah melakukan usaha-usaha untuk mendukung keberadaan Tjong A Fie Mansion, sebagaimana diungkapkan oleh informan tersebut, Dinas Pariwisata memberikan bantuan berupa finansial dan promosi terhadap keberadaan Tjong A Fie Mansion.

III.5.2. Pendapat Dinas Pariwisata Terhadap Keberadaan Tjong A Fie Mansion

Peranan Dinas Pariwisata Kota Medan sangat menentukan dalam pengembangan Tjong A Fie Mansion sebagai salah satu aset objek wisata sejarah di Kota Medan, dengan segala bentuk kebijakan, baik berupa bantuan finansial, promosi dan dukungan dapat mendorong keberadaan Tjong A Fie Mansion sebagai objek wisata yang memberikan informasi mengenai keberadaan Tjong A Fie dalam sejarah perkembangan Kota Medan, sejarah keberadaan etnis Tionghoa di Kota Medan beserta semangat pluralisme yang dikembangkan Tjong A Fie serta keberadaan Tjong A Fie Mansion yang memiliki nilai arsitektural tinggi.

Peran Dinas Pariwisata dalam pengembangan Tjong A Fie Mansion terlihat dalam beberapa wawancara antara penulis dan staf Dinas Pariwisata Kota Medan, seperti berikut :

Syaiful, 34 Tahun, Staf Dinas Pariwisata Kota Medan mengatakan bahwa :

“Dinpar sebagai bagian pemerintahan yang membawahi pariwisata di Kota Medan memberikan dukungan terhadap Tjong A Fie, seperti mendukung pembukaan Tjong A Fie Mansion kepada masyarakat luas, memberikan promosi wisata kepada pihak hotel, travel dan wisatawan mengenai Tjong A Fie sebagaimana terdapat dalam brosur-brosur wisata yang dikeluarkan Dinpar Kota Medan”.

Keterangan ini didukung oleh hasil wawancara antara penulis dan staf Dinas Pariwisata Kota Medan lainnya, Ratna, 28 Tahun mengatakan bahwa :

Universitas Sumatera Utara

“Dinas Pariwisata selalu mengontrol dan mengawasi Tjong A Fie, hal ini dilakukan untuk memberikan hasil yang baik terhadap perkembangan Tjong A Fie Mansion sebagai objek wisata sejarah dalam Kota Medan, … proses mengawasi dilakukan untuk memberikan masukan yang mendukung Tjong A Fie Mansion pada masa mendatang, seperti feedback dari wisatawan mengenai Tjong A Fie Mansion dan hal-hal lainnya yang perlu ditingkatkan dalam pelayanan”.

Pendapat Dinas Pariwisata Kota Medan terhadap keberadaan Tjong A Fie Mansion adalah mendukung penuh keberadaan Tjong A Fie Mansion dengan memberikan bantuan-bantuan terhadap usaha pelestarian, pengelolaan dan pengembangan, hal ini tampak pada keberadaan beberapa orang guide yang disediakan oleh Dinas Pariwisata untuk bertugas membantu guide yang memang telah disiapkan oleh pihak Tjong A Fie Memorial Institute sebagai pihak pengelola.

Pendapat Dinas Pariwisata yang mendukung keberadaan Tjong A Fie juga memupuskan isu-isu yang berkembang seputar peranan Dinas Pariwisata Kota Medan terhadap Tjong a Fie, dimana pihak Dinas Pariwisata Kota Medan dituduh tidak mendukung penuh Tjong A Fie Mansion, menanggapi hal ini, perwakilan Tjong A Fie, yang diwakili oleh Fon Prawira mengatakan bahwa :

“Tjong A Fie Memorial Institute memiliki hubungan baik dengan Dinas Pariwisata dalam hal promosi dan bantuan walaupun dalam hal bantuan, Pemerintah Sumatera Utara dan Kota Medan yang diwakili oleh Dinas Pariwisata membutuhkan proses panjang dalam memberikan bantuan finansial, namun hal ini dapat dipahami sebagai suatu hal yang lumrah” (taken from here).

FYI: menariknya nih, ada rumah yang sama persis bentuknya (beda detail doang) dengan Tjong A Fie Mansion ini, yaitu Cheong Fatt Tze Mansion, di Penang. Arsitektur bangunan seperti ini konon secara fengshui artinya “menangkap rejeki”. Sepertinya bener deh, karena Mr. Cheong inipun orang kayanya Penang.

Share

Post to Twitter