Tjong A Fie Mansion (Medan); Rumah Indah Sejuta Kisah

Sebelum November 2011, tidak sekalipun aku mendengar namanya. Aduh, pokoknya kenalpun tidak deh! Tapi sekarang, aku kagum semi-semi prihatin dengannya, seorang pria yang tidak pernah aku temui (weiiits.. jangan sampe ketemu, ding!), bernama Tjong A Fie. Seorang dermawan maha kaya dari Medan:

Aku mengenal namanya dari hasil Googling (Mr. Google bener-bener sakti!) mengenai tempat-tempat wisata di Medan. Yeah, 19-22 November 2011 kemarin aku ke Sumatera untuk pertama kalinya, tepatnya ke kota Medan (hingga Pulau Samosir).

Kemudian, nama Tjong A Fie bermunculan diantara lokasi-lokasi wisata lainnya yang juga menarik (antara lain: Istana Maimun, Gereja Katolik Annai Velangkani, Shri Marimman, dsb). Tapi karena malas *haizh!*, setelah menemukan nama2 lokasi wisata dan penjelasan yang cuma 1-2 barus, aku ga browsing lagi. Jadi, walau akhirnya berangkat ke Medan, Tjong A Fie bukan tujuan utama.

Hingga ketika akhirnya ada banyak orang yang tahu aku di Medan (saat itu) dan mereka pada nulis di FB dan BBM “Ke Tjong A Fie, Wi!” atau tanya “Tar ke Tjong A Fie ga?”, lah? Kok sepertinya tuh tempat keren bener yah *ama garuk2 kepala*. Jadi, Tjong A Fie naik ranking. Dari 10, ke 2 (soalnya Annai Velangkani ada di rank 1), hehe.

Dan inilah, Tjong A Fie Mansion, Jl. A. Yani (Kesawan) No. 97-99, Medan:

Cantik ya? Itu baru gerbangnya! Jadi, bagian dalamnya tentu saja (jauh) lebih memukau! Beneran deh, melewati gerbang itu, langsung nampak sebuah gedung rumah yang besar sekali! Tapi sebelumnya, aku berhenti dahulu disebuah ‘prasasti’ modern yang menceritakan sejarah singkat Tjong A Fie. Dan untuk kali pertama pula, aku melihat wajahnya:

Lihat deh motto hidupnya! Membaca sekilas aja, membuatku kagum2 sendiri: “success and glory consist not in what i have gotten but what i have given”. Jempolan deh!

Barulah setelah bengong2 liatin motto dia, aku berjalan pelan sambil menikmati baik-baik setiap jengkal dari halaman rumah Tjong A Fie ini:

Dan aku belum terpikat (kan kalo di Surabaya banyak bangunan besar yang tua, hehe), kecuali akan jendela-jendelanya yang terbuka dan banyak. Tapi begitu menginjak teras dan mengamati detailnya, hm.. hatiku meleleh *halah*, wekekekk:

Wah, plafonnya tinggi! Pintu masuknya aja tinggi. Trus, lah.. plafonnya dihias yah! Lampu dibelakang tuh kok unik, trus lampionnya cocok deh dirumah itu, wah.. Pokoknya bikin bernafsu, deh! Apalagi liat lantainya:

Byuh, itu lantai aseli kuno dan uuutuh, bikin pengen congkelin satu2 trus dipindahin kerumah *mimpi siang bolong*, hahaha! Belom lagi papan nama yang seperti difilm-film Shaolin (kebanyakan nonton film nih), masih gagah dan sangar, gede pula (sampe butuh 2 singa emas buat menyangga):

Berwibawa banget, hawanya! Apalagi pintunya dari kayu utuh yang tebal dan palangnya kokoh, wuih.. keren!

Setelah menyelesaikan urusan bayar-membayar (eeeh iya, kita kudu bayar Rp. 35.000/kepala, sudah termasuk: segelas minuman, jasa tour guide dan kebebasan untuk berkeliaran diarea tertentu, baik didalam dan luar rumah, pada jam 09.00 – 12.00, dilanjutkan jam 14.00 – 17.00 WIB) mulailah kita masuk kedalam rumah melalui pintu disebelah kanan, menuju bagian rumah yang disebut “sayap kiri”:

Pada bagian inilah dahulu seluruh pembantu dan pelayan Tjong A Fie tinggal dan beristirahat. Bagian ini, kini dialih-fungsikan menjadi semacam tempat istirahat bagi pengunjung. Disini pula, minuman (yang sudah termasuk harga tiket masuk) dan makanan (yang ini kudu bayar) dapat dinikmati sambil duduk santai dan melihat foto-foto rumah Tjong A Fie di daratan Cina.

Plafonnya nampak sederhana, demikian pula untuk perabotannya. Tapi eits, bukan perabotan kuno! Tapi semi kuno (dari style-nya sih seperti perabot tahun 80an). Aku sih engga kaget, karena temanku sudah berkali-kali memberitahu aku bahwa perabotan di rumah Tjong A Fie ini, 90%-nya sudah diganti, atau bahkan tidak ada *jreng jreng*.

Dan ketika akhirnya aku masuk ke hampir semua ruangan diruangan utama, beneran deh. Agak kecewa, karena perabotnya ga cocok banget dengan rumahnya. Aneh jadinya, rumah megah mewah dan besar perkasa gitu tapi perabotnya kelas teri yang berusia kira-kira 10-20 tahunan:

Hiburan dari tempat yang perabotannya ‘ga cocok’ ini adalah adanya copy surat wasiat Tjong A Fie, dalam bahasa Belanda dan Indonesia:

Wew, keren bener itu wasiat!

Untung, hiasan dan detail rumah ini begitu memukau dan aseli semuanya, seperti yang saya lihat dilorong depan sayap kiri yang menghubungkan sayap kiri ke rumah utama:

Penuh lukisan kuno! Bikin bengong… Lama… Hahaha!!! Dan kemudian, aku masuk ke bangunan utamanya:

Uhuiii, ganteng!!! Masih kokoh bener bangunannya dan cantik (lah.. tadi dibilang ganteng, sekarang cantik, haha!). Detail sekat ruangan itu terbuat dari kayu utuh yang diukir (jaman sekarang mau cari segitu gede dimana, coba?), kemudian dicat merah dan emas:

Tepat dibelakang sekat ini adalah ruang tamu utama dari Tjong A Fie Mansion:

Ruangan ini lantainya masih aseli & bergaya Cina. Namun tepat disamping kiri ruangan ini, ada ruang tamu lain yang bergaya Melayu dengan dominasi warna kuning (yang memang khas Melayu), tempat Tjong A Fie menerima tamu dari Sultan Deli Serdang:

Sedangkan sebelah kanan dari ruang tamu utama, ada ruang tamu lain yang bergaya Eropa, sayang.. ruangannya tidak terbuka untuk umum. Jadi, hanya ruangan didepannya yang bisa aku foto:

Tepat diatas ruang tamu ini, ada sebuah hall. Tentu, kita kesana, melalui tangga kayu yang cantik:

Dan inilah hall yang aku bicarain:

Keindahan mencolok dari ruangan ini hanyalah plafon dengan lampu-lampu kristal yang bergantungan ini:

Juga sepasang cermin raksasa yang anggun, plus jendela dengan teralis besinya yang anggun:

 

Selain itu, perabot-perabotannya sudah ‘hilang’ semua, padahal seperti inilah penampilan hall ini saat Tjong A Fie masih hidup:

See? Keren buaaanget, kan? Mewah juga, pastinya! Dan dahulu, hall itu difungsikan sebagai ruang dansa tamu-tamu Eropa Tjong A Fie, tapi kini hall itu hanya difungsikan sebagai ruang pamer foto dengan papan ala kadarnya. Walau begitu, ada beberapa foto yang cukup menarik, seperti foto Tjong A Fie Mansion saat baru selesai dibangun, juga foto pernikahan salah satu anak Tjong A Fie ini:

Diseberang hall dansa ini, ada ruang sembahyang:

Dahulu, Tjong A Fie bersembahyang menyembah Kwan Kong, dewa perang yang dikenal berkepribadian setia dan pemberani. Sikap inilah yang konon diadaptasi oleh pribadi Tjong A Fie. Dan tokoh Kwan Kong inilah yang juga disembah di klenteng Kwan Te Kong, yang Tjong A Fie bangun di kota Medan (sebagai klenteng tertua di kota Medan).

Yang aku suka dari ruangan ini adalah plafonnya:

Yeah, hampir semua plafon rumah Tjong A Fie, dilukis manual oleh pengrajin dari Cina, menggunakan warna dari bahan-bahan organik (asli tumbuhan, tanpa kimia) sehingga tahan hingga sekarang, tanpa memudar! Sumpah, aseli keren! Aku sering sakit leher di rumah Tjong A Fie ini, karena sibuk mengagumi plafon2nya, hahaha!

Dan inilah hiasan dinding ruang sembahyang ini, yang juga dilukis manual:

Dan di lantai dasar, tepat dibawah ruang doa ini, juga ada ruang doa lainnya:

Bedanya, yang ini adalah sembahyangan untuk leluhur Tjong A Fie. ada sekitar 14 cangkir teh yang disajikan, artinya ada 14 nama leluhur yang disembahyangi disini. Sesajinya sederhana sekali. Tapi yeah, better than nothing kan? Hehe.

Lagi-lagi, plafon ruang sembahyang ini cantik banget:

Bahkan, hiasan plafon yang diruangan ini bukan sembarang hiasan deh. Karena ada gambar kepala naga:

Dan naga itulah yang dipercaya menjaga rumah Tjong A Fie hingga saat ini, sehingga manusia-manusia yang masuk dengan niat kurang baik, dipercaya akan mendapat celaka. Dan kerjaan naga ini, dibantu dengan seekor macan (jadi-jadian) yang dipercaya berkeliaran tepat dibawah gambar naga ini. Tepatnya, di plataran tengah rumah:

Disamping kiri ruangan sembahyang yang dilantai dasar, adalah kamar Tjong A Fie! Dan errr, hmm.. benernya ruangan ini engga boleh difoto, sih, hehe. Tapi peraturan kan ada buat dilanggar (maafin yaaa!):

Perabot disini lumayan original dan lengkap. Ada ranjang dengan detail ornamen pria dan wanita, meja rias dengan lampu hias diatasnya. Beberapa meja marmer tampaknya dahulu dipakai Tjong A Fie untuk bekerja dan membaca. Lemari pakaian yang juga kokoh, berdiri disamping ranjang.

Ada beberapa contoh busana dan koper yang digunakan Tjong A Fie, bahkan ada contoh perhiasan yang dipakai oleh istri Tjong A Fie, terbuat dari kuningan dan berbentuk gelang dengan naga detail hiasan:

Dan sisi lain kamar, ada pintu lain yang menuju kerumah makan:

Lagi-lagi, ruangan ini perabotnya udah perabot baru (yang juga ga cocok dengan kemewahan ruangannya).

Ruangan ini memiliki akses ke 3 ruangan sekaligus, yaitu kamar Tjong A Fie, ruang sembahyang yang di lantai dasar, juga ruangan kamar lain yang kini difungsikan sebagai ruang pamer foto (dan tidak boleh difoto).

Ruangan ini mendapat cahaya dari beberapa jendela besar yang berjeruji besi kokoh. Dari situ kita dapat melihat sumur, yang dipercaya dipakai keluarga Tjong A Fie menyimpan emas, sebelum pasukan Jepang menyerbu masuk rumah itu.

Dan berikut ini adalah foto-foto menarik dari perjalanan hidup Tjong A Fie yang sempat aku foto:

Tjong A Fie meninggal setahun sejak foto yang lagi dijelasin oleh tour guide itu diambil. Jadi, saat itu beberapa anak Tjong A Fie masih balita. Dan pemakaman Tjong A Fie begitu megah.

Lihat saja peti matinya yang begitu indah (seumur-umur aku engga pernah deh liat peti mati seperti itu!) dan jenazahnya diarak oleh hampir seluruh warga kota. Tidak mengherankan, mengingat Tjong A Fie ini bener-bener kaya raya namun dermawan dan membangun kota Medan (menara air, gereja, Masjid Agung, klenteng, jalan, perkebunan, bank, dsb adalah hasil pembangunan Tjong A Fie, termasuk amalnya dengan menggratiskan biaya pengobatan dan pendidikan saat itu), sehingga Tjong A Fie begitu dicintai, juga dihormati. Kematiannya menjadi duka seluruh kota Medan.

Sebenernya kalo buat orang lain, mungkin.. berkunjung kerumah Tjong A Fie engga bakalan bikin kecapean. Tapi karena aku tuh naik turun berkali-kali, muter ga karuan, tanya ini itu sampe lidah cape dan tenggorokan kering, aku sempat duduk agak lama di sayap kiri. Mengistirahatkan kaki dan menyiram tenggorokan dengan minuman gratis yang bisa didapat dengan menyerahkan karcis masuk (untuk dipotong bagian pantatnya: lihat foto kanan).

Kalau segelas aja engga cukup (seperti kita2 waktu itu, haha!), boleh nambah kok dengan membeli. Harga minumannya engga mahal, harga makanannya juga reasonable. Tapi terus terang aja, minumannya lebih menggoda karena banyak tanya ke tour guide bener2 bikin haus, huhuhu (kasian tuh tour guide sepertinya dia ‘apes’ dapet tamu kita, haha!).

Yang pasti, puassss!!! Dan bener-bener berhasil bikin banyak kawan di Jawa iri setengah mati *ehm*, karena aku bisa ketempat seindah ini, hahahaha *evil*. Tapi aku doakan kamu, kamu dan kamu (nuding teman2ku, para pecinta arsitektur dan bangunan tua) bisa ke Tjong A Fie Mansion, suatu saat nanti. Amen!

FYI: menariknya nih, ada rumah yang sama persis bentuknya (beda detail doang) dengan Tjong A Fie Mansion ini, yaitu Cheong Fatt Tze Mansion, di Penang. Arsitektur bangunan seperti ini konon secara fengshui artinya “menangkap rejeki”. Sepertinya bener deh, karena Mr. Cheong inipun orang kayanya Penang.

Share

Post to Twitter