Wayang Potehi Hidup Kembali! Show di Hotel Mojopahit Surabaya..

Awal abad ke-19 merupakan sebuah periode budaya dunia blasteran yang begitu marak di Tanah Air. Ada Tionghoa totok atau yang akrab disebut Hoakiao. Ada pula Tionghoa peranakan alias Kiauseng. Di Indonesia, mereka berbaur tanpa dipisahkan hasta.

Wayang potehi memasuki babak lain pada 1959. Kala itu, muncul pelarangan terhadap kaum Tionghoa untuk berniaga di pedesaan. Perasaan takut dan awan gelap pun menyelimuti hari-hari mereka. Tak pelak, situasi itu membuat sebagian dari mereka memutuskan untuk kembali ke Cina daratan. Saat itu pula, lahirlah sebutan pribumi dan nonpribumi.

Kondisi itu diperparah dengan munculnya instruksi presiden yang membatasi gerak budaya Tionghoa paada 1967. Saat rezim Soeharto. Bahkan, warga Tionghoa harus sembunyi-sembunyi untuk sekadar beribadah.

Lebih dari 30 tahun lamanya akar tradisi kebudayaan Tionghoa di Indonesia mati suri (taken from here) atau dilakukan secara tersembunyi, diam-diam dan malu-malu.

Nah, kalau dahulu ‘malu-malu’, kini kebudayaan Tionghoa muncul tidak tanggung-tanggung (dan setiap kali mendapati hal ini, didalam hati selalu terucap kata terima kasih kepada Gus Dur dan Ibu Megawati!). Termasuk pertunjukan Wayang Potehi.

Di kota Surabaya saja, pemainnya manggung di 2 tempat mulai dari tanggal 13 Januari 2012 lalu (hingga 21 Januari 2012) di lobby Hotel Mojopahit dan Grand City Mall.

Aku, sebagai pecinta (dan penikmat) budaya tentu ikut ambil bagian menjadi penonton di Hotel Mojopahit. Walau ini bukan pertunjukan pertama yang aku tonton, tapi jujur saja, ada keharuan tersendiri ketika akhirnya pertunjukan yang ‘Cina banget’ ini bisa dipertunjukkan secara terang-terangan, dihotel favoritku pula, bahkan pembukaannya disaksikan oleh begitu banyak perwakilan konsul negara asing. Aaah..

Well, ‘panggung wayangnya’ memang mini tapi sudah lebih dari cukup membuat kita melepas kangen. Anak-anak dan orang tua membaur menjadi satu, menonton tanpa jeda, konsentrasi melihat kelincahan tangan dalang memainkan wayang-wayang yang mereka tokohkan.

Entah ada berapa banyak kamera dan handcam yang mengarah ke panggung, mengabadikan pertunjukan ‘langka’ ini:

Pertunjukan wayang potehi ini konon berasal dari distrik Quanzhou, Provinsi Fujian, Cina (read here). Potehi berarti wayang yang terbuat dari kain. Menurut Wikipedia, nama itu berasal dari kata pou ? (kain), te ? (kantong) dan hi ? (wayang).

Ada dua kisah yang mengurai sejarah wayang potehi lahir ke dunia: pertama, dari seorang pelajar bernama Liang Ping Lin. Ia frustasi lantaran terus gagal mengikuti tes kepegawaian pada zaman Dinasti Ming, awal abad ke-17. Kemudian, ia mencoba memainkan kain-kain perca menjadi boneka. Itu semua dilakukannya sesuai petunjuk seorang kakek yang dijumpainya dalam mimpi. Sejak itulah, ia mulai menyelami dunia wayang potehi.

Kisah lainnya datang dari lima terhukum mati yang hidup pada zaman Dinasti Chang. Empat di antara mereka stres berat. Namun, seorang terpidana lainnya tetap tenang dan justru menghibur diri sambil bermain boneka. Pihak kerajaan yang tahu pun, akhirnya membebaskannya. Dari sinilah muncul pula cikal bakal wayang potehi.

Pada dasarnya, wayang potehi adalah wayang persembahan untuk para dewa. Dan lazimnya dimainkan di halaman klenteng. Lakon ceritanya diambil dari legenda kuno. Satu judul cerita dapat menghabiskan waktu hingga tiga bulan.

Awal abad ke-19 merupakan sebuah periode budaya dunia belasteran yang begitu marak di Tanah Air. Ada Tionghoa Totok atau yang akrab disebut Hoakiao. Ada pula Tionghoa peranakan alias Kiauseng. Di Indonesia, mereka berbaur tanpa dipisahkan hasta.

Untuk yang di lobby Hotel Mojopahit (read here), Komunitas Lintas Agama dan Klenteng Hong San Kiong, Gudo, Jombang, menggelar pameran dan pementasan wayang potehi di lobby lounge Hotel Majapahit mulai Jumat (13/1/2012).

Ada empat lemari kaca, yang menampilkan wayang-wayang potehi koleksi dan buatan dari Klenteng yang dikoordinasi oleh Toni Harsono. Semuanya adalah wayang potehi yang dipamerkan sesuai dengan tokoh cerita dalam kisah legenda China. Jumlahnya mencapai lebih dari 250 tokoh. Diantaranya, ada satu lemari yang menampilkan 49 wayang potehi berusia lebih dari 100 tahun.

“Boneka-boneka ini adalah milik kakek (Tok Su Kwie) yang dibawanya dari Hokkian, China. Kemudian diteruskan dan ditambah oleh bapak (Tok Hong Kie) saya,” jelas Toni.

Kakek dan bapak Toni adalah seniman potehi. Kakeknya membawa poteni asli dari China saat mereka merantau ke Jawa. Tak hanya wayang, si kakek juga membawa panggungnya.

Kini wayang dan panggungnya masih disimpan dan dibawa pemeran oleh Toni. Toni sendiri, kini adalah pengrajin pembuat wayang potehi dan memiliki panggung potehi yang banyak. Bahkan kini dia memiliki lima tim pemain wayang potehi, yang masing-masing tim ada lima orang.

Dalam setiap penampilannya, mereka memainkan alat musik khas China, seperti Yan Gim, erl (orhu), selu, walu, dan dongko. Saat menjelang Imlek atau tahun baru China ini, Toni menyebutkan, seluruh tim-nya sedang banyak orderan untuk tampil di berbagai tempat.  “Khusus untuk di Hotel Majapahit ini, saya bawa satu tim,” lanjut Toni.

Satu tim ini, malam selama pameran, menampilkan pertunjukan wayang potehi dengan beberapa lakon. Diantaranya, Sun Go Kong (16/1),  Pertarungan Si Jin Kwi vs Ga Sho Gun (17/1),  Pendekar Kwe Tju Gi Membela Kaum Lemah (18/1),  Pertemuan Panglima Oe Ti Kiong dengan putra kandungnya O Tie Po Lim (18/1). Dilanjutkan Sam Pek Eng Tay (20/1) dan Si Kong Wan Tong (21/1).

Dan ada penggalan artikel menarik (taken from here):

“Orang Tionghoa bukan pendarat dari luar negeri. Mereka sudah ada sejak nenek moyang kita,” tutur sastrawan Pramoedya Ananta Toer semasa hidupnya. “Mereka itu sebenarnya orang-orang Indonesia yang hidup dan mati di Indonesia juga. Tetapi, karena suatu tabir politik, tiba-tiba menjadi orang asing yang tidak asing.”

Tionghoa bukan nenek moyang. Kala itu, sekitar abad ke-17, imigran dari dataran Cina masuk ke wilayah Hindia Belanda. Tiga abad yang silam. Bagaimana kebudayaan asli Cina tidak hidup dan berkembang di tanah perantauan ini? Termasuk keseniannya.

Barongsai dan liong memang begitu lama mengakar di Tanah Air ini. Bukan hanya itu. Ada pula wayang potehi –ada yang menyebutnya wayang thiti. Bisa dikatakan, kesenian itu menjadi benang merah yang kuat antara keturunan Tionghoa di Indonesia dan para leluhurnya di Tiongkok.

Aah, yang pasti, welcome back wayang potehi! Kami menyambutmu!

Untuk kalian-kalian pecinta dan penikmat budaya, tanpa memandang suku dan ras, warna kulit dan agama, mari nikmati pertunjukannya! Liatlah hal ini sebagai keaneka-ragaman budaya. Mamiku yang awalnya malas ikut menonton, akhirnya kecanduan (dan nonton lagi, lagi dan lagi!).

Diakhir acara, saat si dalang berpamitan padahal cerita belum selesai, beberapa orang meringsek ketepi panggung dan ‘mengejar’ dalang untuk bersedia menyelesaikan cerita! Hal itu tidak mungkin, karena dalang akan pindah ke Grand City.

Seorang berusia sekitar 30an bahkan berani membayar group wayang potehi ini untuk menampilkan satu pertunjukan komplet yang diinginkan orang tuanya. Nah, lo!

Uniknya, wealah.. dalang dan pemain musiknya orang Jawa, Moslem pula! Ah, keanekaragaman kalo bisa diterima, memang manis kok rasanya..

Share

Post to Twitter