Gudeg Yu Djum (Yogyakarta); Enak!!!

Tentu, kalau sudah sampai ke Yogyakarta, alangkah tidak sah-nya kunjungan tersebut kalau tidak pakai acara makan gudeg. Dan waktu yang tepat untuk menyantap Gudeg ya siang-siang, setelah kita ngos-ngosan dan basah kemringet karena petakilan ga karu-karuan di kompleks Taman Sari, hehe (ga cocok jadi putri keraton, deh!).

Sebelumnya, kita sudah banyak tanya kepada orang-orang & browsing mengenai tempat makan gudeg di Yogyakarta, namun akhirnya kita ‘ga peduli’ lagi dengan segala informasi yang sudah dalam genggaman. Kita maunya gudeg yang terdekat dengan lokasi Taman Sari (karena sudah sangat amat kelaparan), titik. Haha!

Akhirnya, kita memutuskan untuk makan Gudeg Yu Djum, di Jalan Wijilan 31, Yogyakarta (buka dari jam 6 pagi hingga 10 malam). Hal ini sesuai dengan petunjuk dan nasehat dari tour guide kita di Taman Sari itu. Karena orangnya santun dan baik, wah.. kita percaya deh dengan rekomendasinya. Rekomendasi yang ternyata tidak salah!

Tempat jualannya tuh kecil saja tapi astaganaga.. pantat orang yang antri, meluber sampai ke jalan. Trotoarnya saja, tidak muat menampung orang-orang itu. Belum lagi yang didalam dan sedang makan, aih.. @__@. Tampaknya, Gudeg ini sungguh terkenal!

Gudeg Yu Djum dimulai pada tahun 1950-an, diawali dengan usaha Yu Djum berjualan rumput yang hasilnya ditabung dan kemudian dibelikan peralatan untuk berjualan gudeg. Gudeg kering menjadi pilihan karena bisa tahan sampai 24 jam. Berbagai wadah disediakan untuk tempat gudeg ini: kardus, besek, maupun kendil, yang selalu dialasi daun pisang, bukan kertas minyak atau alumunium foil tahan panas.

Proses pembuatannya diawali dengan mengolah nangka muda (gori), diberi bumbu-bumbu “standar” seperti pembuat gudeg lainnya. Hanya saja, proses memasaknya menggunakan kayu bakar. Gula yang digunakan adalah gula merah murni dari Wates atau Purworejo dan garamnya adalah garam kristal. Menurut Haryani, gudeg memang baru enak setelah melalui proses pembakaran selama 18 jam.

Penyajian gudeg dilengkapi dengan sambel krecek, tahu-tempe bacem, dan cabe rawit rebus. Uniknya, meskipun bumbu tahu-tempe bacem ini sama dengan tahu-tempe bacem umumnya; tetapi rasanya berbeda ketika tahu tempe itu dihidangkan bersama gudeg.Gudeg Yu Djum mampu menghabiskan antara 50 sampai 150 ekor ayam dan 2.000 sampai 4.000 butir telur seharinya. Sedangkan pada hari libur, konsumsi bisa mencapai dua kali lipat.

Gudeg dengan bungkus daun, dengan menu telur separo plus tahu dan daging ayam sesuwir biasa dijual dengan kisaran harga dari 1.500—4.000 rupiah; paket kardus –umumnya memakai nasi beserta lauknya– dengan harga 4.000—17.500 rupiah; paket lauk dengan bungkus besek dijual dari harga 10.000—90.000 rupiah; gudeg kendil dari 30.000—90.000 rupiah. “Kami menyediakan gudeg kering yang manis legit” jelas Haryani.

Selain berjualan di Wijilan, Yu Djum juga melayani pembeli di Karangasem. Dibukanya rumah Yu Djum di Karangasem sebagai tempat usaha penjualan gudeg ini karena pada awalnya gudeg Yu Djum Wijilan (ketika itu masih menyewa) hanya buka dari pukul 06.00—12.00. Untuk tidak mengecewakan pelanggan, maka setelah di atas pukul 12.00, pelanggan tetap bisa mendapatkan gudeg Yu Djum di rumah Karangasem. Cara ini lama-kelamaan menjadikan gudeg Yu Djum Karangasem pun mulai dikenal orang (taken from here).

Wah, OK deh! Kalo gitu, perut saya harus ekstra sabar karena tentunya kita2 kudu berjuang dulu, antri panjang, untuk mendapatkan sepiring gudeg Yu Djum. Sebuah proses yang menguji kesabaran, soalnya kita2 sudah memanggil pelayannya berkali-kali, eh.. boro-boro didatangi, mereka bahkan tidak melirik sedikitpun ke kita *sabar Wi, sabarrrr!*.

Tapi akhirnya, nyanyian perut kosong orang tertindas *halah!* ini didengar pelayannya. Piring-piring bambu dengan alas daun pisang (hidup daun pisang!!!) kemudian datang menghampiri. Selera makan yang sudah hampir punah karena sebel menunggu, mulai bangkit kembali. Bagaimana tidak? Penampakannya saja sudah begitu menggoda! Apalagi aromanya, duh..

Tentu, langsung disantap! Lha wong sudah kelaparan dari tadi, hahaha..

Nasinya hangat, menjadi alas empuk bagi lauk ayam, telur kecap (sebutir utuh!), tahu – tempe bacem, krecek dan sayur nangka. Ayamnya duh, engga pake berontak, saat dilepaskan dari tulang. Dan tentu, untuk itu semua, 4 jempol terangkat diudara untuk Yu Djum!!

Hilang deh sebelnya, karena dicuekin. Kawan yang alergi makanan manis (lha di Yogyakarta, kuah kare ayam saja manisnya seperti kolak!), jadi senyum-senyum karena gudegnya Yu Djum ini normal! Engga maniiiis, gitu. Aduh, pokoknya jempolan deh!

Ga heran, sampai kita2nya sudah selesai makan dan bayar, eh.. didepan sono, antrian pembeli masih bejubel:

Nah, yang di Wijilan, ternyata adalah pusatnya. Tapi kalau kebetulan jauh untuk menuju Wijilan, monggo datang ke alamat cabangnya di:

  • Jalan Kaliurang Km 4,5 CT III/22, Karang Asem, Yogyakarta. Telp (0274) 515968.
  • Jalan Seturan Raya 99B, Yogyakarta
  • Ring Road Maguwoharjo Kav. 27, Yogyakarta
Share

Post to Twitter