Bakmi Jawa Pak Rakiman (Yogyakarta); Ayamnya Seksi!
Di Yogyakarta, kita memang sengaja cari makanan-makanan yang khas. Dan kita menyadari, bahwa beberapa makanan khas Yogyakarta, dijual diemperan. Karenanya, sejak sebelum berangkat, mental kita sudah dipersiapkan untuk itu *lebay*, haha! Jadi, kita akhirnya beneran makan emperan di Bakmi Jawa Pak Rakiman, Jalan Kyai Haji Achmad Dahlan, Yogyakarta, kita fine-fine saja.
Kalau menurut penerawangan Mbah Google, Pak Rakiman ini sepertinya kurang banyak direkomendasikan. Namun apa daya, kita memang mencari penjual bakmi Jawa terdekat dari guest house kita, karena setelah ikut kudu buru-buru menuju Sangkring Art Space untuk menghadiri pembukaan pameran Bol Brutu (will talk more about this, di blog berikutnya!). Dan lokasi jualan Pak Rakiman ini, hanya 10 menitan dari guest house.
Agak susah mencari tempat jualan Pak Rakiman. Kita sampai 2x melewati Jalan KH. Achmad Dahlan, sebelum akhirnya menemukan sebuah warung PKL yang berdiri didekat traffic light. Saat itu, hujan deras pula! Dengan payung dan celana yang digulung, kita turun dari mobil, kemudian menyelinap kedalam warung dan langsung melihat 3 ayam montok lagi telanjang, hahahaha:

Menu jualannya sih tidak banyak pilihan. Hanya ada bakmi goreng Jawa, mie telur Magelangan (khas Magelang, maksudnya), nasi goreng dan cap cay. Kita pesan semuanya, kecuali cap cay (yang ini kan engga khas Yogyakarta, yah.. haha!). Semuanya, dihargai 10ribu rupiah, per piring.
Segera setelah kita memesan, kesibukan terjadi. Ada 2 ibu, yang masak. Yang satunya berhadapan dengan wajan masak yang diletakkan diatas tungku arang. Ibu satunya lagi, sibuk memotong ayam, sayur dan mie:

Dan 15an menit kemudian, pesanan kitapun mulai bermunculan:



Rasanya? Hambar! @__@, whoaaa..
Kita terpaksa meracik ulang dengan harapan bisa ‘memperbaiki’ rasanya dengan menambahkan kecap manis, kecap asin dan sebagainya (namun gagal T__T). Wah, gimana ini. Udah ga ada waktu untuk cari tempat makan lain, apalagi didepan warung sempat terjadi tabrakan dan hujan makin deras. Jadi, terpaksa dinikmati sebisanya dan berjanji didalamĀ hati, segera setelah bubar pameran, akan keliling cari makanan lain. Hmm..