Putu Sutawijaya; Lah? Pelukis Terkenal, To? Haha!
Kenapa judulnya begitu? Karena ada ceritanya!
Gini.. hehe. Pas akhirnya nyampe di Sangkring Art Space dengan susah payah *lebay*, dihalaman depan, aku bertemu dengan Pak Cuk Riomanda, sesepuh Bol Brutu, tersenyum dengan kostum kebesarannya! Merah booo, dari kepala sampe kaki. Byuh! Tapi yang pasti, aku ga pernah merasa selega itu, bertemu Pak Cuk, hahahaha!!! Oleh-oleh se-kresek gede pun segera dioper. Lalu aku jalan, mengikuti Pak Cuk yang ‘menuntun’ kita masuk.
Tapi Pak Cuk ini kayanya punya ilmu ringan tubuh, deh? Lha bodinya seperti ga injak tanah! Jalannya enteng banget, trus cepet. Jadi aku yang masih sempet lirik2 bentar ke tembok sepanjang jalan masuk Sangkring Art Space (yang penuh foto!), jelas ketinggal jauh, jauh dan makin jauh. Sampai akhirnya tinggallah aku dan rombongan, tolah toleh seperti anak ayam kehilangan bapak, haha (padahal Bapaknya ituloh gede dan mencolok!).
Pas lagi bego2nya, tolah toleh ga jelas diantara kerumunan orang yang wajahnya antara aku kenal dan tidak (lha wong foto di FB dan kenyataan, bedanya langit dan bumi semua, haha!), tiba-tiba ada orang, laki-laki, kulitnya agak gelap, berkaos hitam pake logo Bol Brutu, keluar dari kegelapan (pula) dan teriak, “Loorensiaaaa!!!!”.
Uhuk uhuk???
Otak langsung dipaksa mikir, mengenali sosoknya. Gagal. Mata refleks menyipit, berharap retina fokus di wajah dan ada bagian dari wajah itu, yang dikenali otak. Tapi telat. Orang itu udah sangat dekat jaraknya dan langsung ngajak salaman, padahal otak belum berhasil mengenali. Tangannya gede tapi salamannya ga mrekes *laik dhis, yo!* dan yang pasti, HANGAT! Yeah, ikke kan baru kena ujan dan AC mobil, haha!
Abis tanganku ‘shake’ beberapa kali dan aku masih blo’on, sosok ini bilang, “Saya Putu! Terima kasih ya sudah datang, bla bla, yang lainnya diatas semua tuh, ayo sini, kamu ikut saya, bla bla bla”.
Wah, aku kacantol deh. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, aku ikutin dia naik ke lantai 2 sambil didalam hati ngomel ke Pak Cuk, “Pak’e ini dimana to? Kok ditinggal bla bla”. Dan eh, si merah ternyata sudah duduk selonjoran diatas, hahaha (jangan-jangan dugaanku bener, Pak Cuk punya ilmu ringan tubuh!). Dan Pak Putu, kembali bersuara “Kamu tiba kapan? Tempatnya sudah siap kok tidak dipakai, bla bla”.
Setelah Pak Putu sibuk dengan yang lain dan saya ngobrol dengan Pak Hairus Salim, saya senggol-senggol Pak Hairus, cari bocoran *nyengir*. Saya bilang, “Pak, Pak Putu itu siapa? Namanya kok familiar, saya tahu dia pelukis, yang punya Sangkring Art Space, tapi.. wow, Sangkring keren gini, Pak Putu ini pelukis apa yang bagaimana???”, haha. Sorry Pak Putu, Pak Hairus, (tinggi badan) saya kan masih anak-anak, jadi ya agak polos gitu *halah* (bahasa lainnya: ceplas ceplos ga mikir).
Lalu Pak Hairus, memberi pencerahan sedikit, yang harus aku puaskan melalui Mas Google. Dan setelah ngublek Google agak lama (yeah, Pak Putu ini terlalu low profile! Pelukis hebat kok profile-nya ga banyak diumbar, wekekek..), akhirnya ada 1 artikel mengenai Pak Putu:
Putu Sutawijaya
February 25, 2010 by Rustika Herlambang
Membaca Teks yang Tersamar
Untuk mengenal ia secara dekat, lihatlah karya-karyanya, lalu terjemahkan kode-kode yang disiratkan.
Putu Sutawijaya benar-benar sedang mencari “sayap” ketika karya Looking for Wings (2002) tercipta. Namun “sayap” baru ditemukan lima tahun kemudian, tatkala sebuah ketukan palu menandai terjualnya karya tersebut di balai lelang Sotheby’s dengan harga fantastis. Para pengamat seni rupa mengatakan bahwa peristiwa yang sering disebut sebagai Insiden Mei 2007 ini telah menjadi pemicu ledakan seni rupa kontemporer Indonesia di Asia Tenggara. Indonesia pada akhirnya diperhitungkan sebagai surga baru perburuan seni kontemporer, bersaing dengan Cina dan India.
Sejak itulah namanya bertengger di jajaran seniman kelas atas Indonesia. Karya-karyanya terus diburu, membuat hari-harinya semakin padat belakangan ini. Ditemui pada sebuah pagi di sebuah lounge hotel di Semarang pertengahan Januari lalu, ia berkisah tentang perjalanan hidupnya. Segelas kopi hitam, rokok, topi Pandora, dan suasana lengang, sepertinya membuat ia nyaman. Ia memulai cerita dengan kesimpulan yang dibuatnya sendiri: “Kupikir keberhasilan ini bukan karena faktor untung-untungan (luck). Tapi efek dari kerja keras baik secara fisik dan emosional. Ada usaha dan energi yang dibangun lama.Tidak seketika ada di sini.”
Perjalanan itu dimulai sejak lebih dari 30 tahun lalu di Tabanan, Bali. “Terus terang, aku jatuh cinta pada seni pada awalnya karena cemburu. Cemburu pada teman-teman sekolah yang selalu dikirim ke mana-mana untuk ikut lomba gambar. Mereka seperti selalu menjadi pusat perhatian,” katanya – seolah membaca dirinya sendiri dari teropong masa depannya kini. Kala itu ia beranggapan bahwa bila dirinya memiliki kemampuan menggambar yang merupakan bagian dari tradisi Bali pasti akan sangat membanggakan. Sayangnya, ia tidak dilahirkan dalam keluarga seniman. Ayahnya pegawai dan juga seorang petani. Ibunya pedagang, pemilik toko kelontong. Ia anak sulung dari empat bersaudara.
Perasaan cemburu itulah yang memicunya belajar menggambar habis-habisan. Untungnya, ia datang dari keluarga berkecukupan sehingga kebutuhan kertas dan cat air dengan mudah didapatkan. “Apa yang dilakukan teman-temanku itu kuikuti terus,” ujarnya. Mungkin karena berbakat, dalam waktu singkat ia sudah bisa menyamai kepandaian teman-temannya tersebut. “Aku seperti disadarkan bahwa kebisaan menggambar itu terjadi karena dibiasakan,” katanya. Lalu dengan jujur berkata, “Sebenarnya, aku sangat lemah di mata pelajaran lain. Terutama Matematika. Pelajaran seni-lah satu-satunya yang menyelamatkanku. Ini menyangkut masalah harga diri.”
Keputusan ini memang tidak mudah. Di tengah eforia jurusan-jurusan yang dianggap bermasa depan cerah seperti teknologi atau akutansi, pilihan menjadi seniman seperti menyudutkannya bak manusia asing (alien) di komunitas keluarga besarnya. Di satu sisi ia merasa beruntung memiliki sosok nyata seniman (full time artist) sukses, seperti Nyoman Gunarsa, Made Budhiana, serta Made Djirna yang bisa menjadi panutan profesinya. “Untunglah ayahku mendukung, kendati dia curiga, apakah kelak anaknya ini mampu menghidupi dirinya sendiri,” katanya tergelak.
Keyakinan ini memang sudah dibuktikan sebelumnya. Ketika masih duduk di bangku sekolah menengah, ia sudah menjual karya-karya ilustrasi wajah-wajah Indo dan oriental sebagai sampul novel ke penerbit local. Lalu ketika sudah mendapat pendidikan seni di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), ia menjual karya lukis khas Bali tradisional ke Pasar Seni Sukawati. Ia bahkan sanggup meningkatkan daya jualnya dari harga Rp.3500 hingga Rp.10 ribu rupiah di akhir tahun 80-an. “Pengalaman ini sangat penting karena semakin meyakinkan aku bahwa profesi seniman bisa menghidupi aku.” Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Langkah ini merupakan pijakan yang harus ditempuh demi meninggalkan citra sebagai tukang gambar menuju eksistensi seorang seniman. Pengalaman estetiknya dimulai ketika ia membawa-bawa gulungan karya untuk diperlihatkan pada galeri-galeri kecil sebagai langkah awal memperkenalkan karya. “Berat sekali perasaan kita ketika menunggu satu gulungan lukisan dibuka oleh calon pembeli,”ia menghayati setiap pengalamannya. Pengalaman inilah yang pada akhirnya mewarnai perkembangan estetiknya kemudian: antara ide kreativitas dan kemauan pasar.
Perjuangan untuk mendapat apresiasi juga menjadi romantika tersendiri. Ia selalu punya banyak siasat untuk “menjual” hasil karyanya. Salah satunya adalah dengan modus provokasi. “Kubilang pada pemilik galeri bahwa karya yang dipajang kurang bagus. Andai mereka mau memasang karyaku, pasti luar biasa,” katanya ketika itu dengan gaya penuh percaya diri – padahal ia sebenarnya sangat tidak percaya diri! Dia memang aktor yang hebat untuk urusan yang satu ini. Tak jarang ia rela menunggu berjam-jam di galeri menunggu pemilik menemuinya. “Sudah tebal muka ini. Syukur-syukur bisa mereka bisa membeli karya.”
Pernah suatu kali, ia “memaksa” pemilik galeri karena ia sudah terjepit. “Pinjami aku Rp.300 ribu, karya kutinggal. Bila karyaku tak laku, aku kembalikan uangnya,” ia menirukan gayanya ketika itu. Sukses, dan ia bisa mendapatkan uang untuk melukis dan sedikit bersenang-senang. Seminggu kemudian, pemilik galeri datang. “Aku sudah mau kabur sudah ketahuan. Terpaksa pura-pura melukis,” ia tertawa lagi. “Ternyata dia bilang bahwa lukisan sudah laku, dan dia mau meminta karya-karyaku yang lain. Sebenarnya aku ingin berteriak, tapi aku pura-pura santai. ‘nah, apa kubilang’. Ha ha ha,” ia menceritakan bagaimana akhirnya ia berhasil mendapatkan rumah baru untuk karya-karya selanjutnya di sebuah galeri di Ubud.
Hidup hanya berkutat pada seni, mau tidak mau ia harus membuat karyanya diapresiasi oleh masyarakat luas. Ia pun terus membuat karya-karya baru yang berbeda dengan sudut pandang mainstream masa itu. Lagi-lagi alasannya karena rasa tidak percaya diri. ”Semua orang mampu melukis bagus dengan standar teknis. Kadang aku merasa lukisan mereka jauh lebih bagus dan aku tak mampu untuk membuatnya. Ini yang membuat aku harus bisa membuat orang melihat bahwa dengan kemampuanku yang dianggap lemah, namun orang tetap mengakui karyaku bagus,” ujarnya sambil menunjukkan eksplorasi ide yang dilakukannya. Salah satunya adalah penggunaan figur lelaki dalam karyanya – yang membuat banyak orang mempertanyakan orientasi seksualnya. “Kubilang pada mereka, aku normal dan sehat,” ia tertawa lagi. Kekhasan-nya yang lain: ia mengenakan tinta cina, yang menurutnya sudah terbukti kekuatannya sejak ribuan tahun lalu. “Tinta cina itu yang memberikan roh di dalam kanvasku.”
Tentu alasan itu tak ada hubungannya dengan perempuan yang dinikahinya: Vi Mee Yei, gadis Cina Malaysia teman sekampus yang dikenalnya di sebuah bis menuju ke Bali. Soal ini, ia mengaku karena gelap mata. “Waktu itu Jenni menantangku,” ia menyebut nama panggilan kekasihnya itu,” katanya, ‘Liong, apakah kamu mau mengawiniku sekarang? Kalau tidak, saya akan sekolah ke Amerika’’. Putu- yang juga dipanggil akrab dengan nama Liong- agak gelagapan. Selama ini mereka masih menyembunyikan hubungan mereka. Sementara Jenni adalah sosok istimewa untuknya: lulusan Sastra Jepang dari Nara University, Jepang dan meneruskan pendidikannya di jurusan tekstil ISI Yogyakarta ini berwajah eksotik dengan gaya yang tegas dan berani yang membuat Putu mati kutu. Meski ia tak percaya cinta- akunya- tapi ia benar jauh cinta.
“Mencari perempuan untuk dinikahi seorang seniman tidak mudah. Jaminan pekerjaan sebagai seniman masih belum diyakini masyarakat umum, termasuk keluarga Jenni,” ungkap Putu yang merasa menjawab tak punya pekerjaan ketika ditanya pihak keluarga perempuan. “Tapi Jenni mengatakan dengan tegas, ‘yang penting pulang tak menangis’. Itu yang membuat aku sangat respek pada Jenni,” ujar Putu yang ketika itu harus hidup dalam bingkai waktu yang tidak jelas sebagai seorang seniman. “Hal itu membuat aku belajar bertanggung jawab sebagai laki-laki.” Bersama Jenni, mereka membuat sebuah pemahaman baru seniman sebagai sebuah profesi. Salah satunya mengingatkan akan komitmen. “Sebelum jam 12 malam, aku nggak boleh masuk kamar. Harus kerja dulu.Tegas memang, tapi ini komitmen kami,” kata bapak dua anak dari Putu Lontar Zhengkang Vijaya dan Luh Made Zhenxin Vijaya
Masuknya Jenni dalam kehidupan Putu ternyata memberikan banyak pengaruh dalam kariernya. Salah satunya adalah karya Looking for Wings. Proses kreatif tersebut terjadi pada suatu malam ketika Jenni menegur kebiasaannya, “Kamu sudah punya anak. Jangan main bilyar saja. Jangan keluar malam-malam. Tunjukkan kalau kamu bertanggung jawab.” Pikiran Putu yang waktu itu baru saja menyelesaikan novel Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata langsung berkelebat silih berganti. “Aku seperti diteror judul buku itu. Angin, anak bajang, ini seperti berbicara tentang sayap. Pada saat melukis, aku tak percaya diri. Sebenernya kita punya kekuatan, tapi maaf, kadang harus dibantu dengan alcohol. Maka metaforku kutampilkan wajah orang bersayap memegang botol wine,”ia mengutarakan proses kreatifnya di tahun 2002.
Karya ini pernah dipamerkan di Galeri Nasional setahun setelahnya. Karena tak ada tanggapan, karya itu dikirim kembali ke Yogya yang membuat Putu sangat kecewa. Tahun 2006, Jenni menemukan karya itu terserak di gudang yang baru dibuka setelah gempa melanda Yogyakarta. Karena dianggap Jenni sebagai salah satu karya terbaik Putu, ia membersihkannya, dan memasangnya. Kelak lukisan inilah yang dibeli oleh seorang kolektor dan menjadi bahan pembicaraan. “Itulah yang saya sebut sebagai misteri kehidupan. Setelah lima tahun, lukisan itu baru diapresiasi.”
“Aku akui depress adalah satu hal yang menginspirasi aku dalam berkarya. Depress, bukan depresi,”katanya menegaskan. “Depress itu melingkupi kebutuhan berekspresi, kebutuhan publik karena kita sudah dikenal publik,” dalam hal ini ia tak sekadar bicara hobi melainkan tanggung jawab yang diembannya sebagai seorang seniman. (Lalu dia menambahkan, “perempuan yang membuat aku tertarik pun adalah perempuan yang mampu mem-depress aku. Dia bisa tegas”). Meski demikian ia tidak mengemasnya secara klise. Karya Bukan Pohon Terakhir,misalnya. Ia menggambarkan orang-orang duduk menanti, berharap mendapat kerindangan, dari sebuah pohon yang sudah tak berdaun di tengah lansekap kosong. Di sini ia tidak berkoar mengenai pemanasan global secara klise. “Dengan begini orang akan membayangkan bahwa pohon tanpa daun akan terasa sangat panas.”
Dia memang bisa dibilang tidak pernah mengungkapkan makna dengan bentuk vulgar. Apa yang disampaikan seperti meneruskan semacam ekspresionisme simbolik Bali (satu hal yang sering dipertanyakan keBali-annya oleh banyak orang) melalui semangat spiritualitas yang bisa dibaca melalui kode-kode di dalam karyanya. Seperti adanya unsur-unsur tarian Bali, teks, dan energi manusia. “Menurutku, tarian memberikan gerakan kode tertentu yang bisa divisualkan. Tari bisa menyampaikan pesan melalui pengendapan yang lama. Tidak vulgar dan ada estetika,” kata Putu yang sejak kecil sudah belajar menari karena senang. “Sementara teks yang tertulis itu kan seperti gumaman, seperti dzikir bagi masyarakat Jawa, meskipun itu merupakan bagian dari aku meluapkan keluh kesahku secara tersamar, seperti juga terlihat pada wajah-wajah yang tak pernah menatap tegas,” tambah Putu yang selalu meletakkan tanda-tangannya pada sisi samping kanvas dan dibuat vertical ke atas sebagai harapan agar kreativitas terus naik.
Pengalaman hidupnya sebagai orang yang diremehkan –katanya- menjadikan ia bukanlah tipikal lelaki yang berani bersikap tegas. Namun kebutuhan untuk terus menegakkan eksistensi membuat ia selalu akan terus terbang Mencari Sayap, agar karya-karyanya Bukan menjadi Karya Terakhir. (Rustika Herlambang)
Fotografer: Wahyu Tantra. Lokasi Sangkring ArtSpace 2 Yogyakarta.
Orangnya ramah sekali. Hangat sekali. Dan low profile sekali.
Oalah, Pak Putu, kalo saya tau sejak shake hand, Pak Putu ternyata termasyur begini, mungkin saya kreseki tangan saya supaya ga kena air, beberapa hari. Siapa tahu, dengan demikian, ilmu orat-oretnya nular dikit. Supaya kalo saya gambar naga, jadinya bukan ulat bulu.. hahahaha!
