Pemancingan Agung (Pacet); Udara Segar, Ikan Segar, Jiwa Raga Bugar

Tempat ini sepertinya ‘menyendiri’ diantara kelokan jalan di Pacet dan bukitnya yang hijau. Aku pribadi rasanya ga bakalan bisa nyampe sana sendiri, tanpa diantar.. hahahaha. Tapi jangan salah, tempat ini tenar dimana-mana dan rame! Namanya tempat pemancingannya apa, sih?

Hehe, namanya adalah: Pemancingan Agung. Lokasinya di Kambengan, Pacet, Mojokerto. Seperti yang tertulis dipapan namanya:

Pada akhir minggu, tempat ini sudah ramai sejak dibuka! Aku yang melintas sekitar jam 9 aja melihat bahwa parkirannya sudah cukup padat terisi kendaraan yang mengantar tuannya refreshing.

Refreshing? Ya! Namanya saja pemancingan, tentunya mereka-mereka yang datang kesana untuk memancing. Dan untuk itu, ada 3 kolam besar yang disediakan. Tiap kolam berisi ikan yang berbeda-beda dan bebas dipancing:

See? Rame banget, kan?Padahal pemancingan kan dimana-mana ada, trus.. kenapa tempat ini laris?

Karena setiap 15an menit, ada pekik bahagia dimana-mana! Ikan-ikan tertangkap dengan begitu mudahnya karena tidak diberi pakan dengan cukup. Sehingga apapun yang dipakai sebagai umpan pancing, pasti akan disambar. Agak menyakiti hatiku sih, membayangkan diri seperti ikan-ikan itu: kelaparan dan ada makanan yang melambai-lambai, tapi mematikan. OMG. Bersyukurlah, kita ini terlahir sebagai manusia berkecukupan..

Ukuran ikannya yang cukup besar, juga menjadi daya tarik tersendiri, tampaknya..

Semuanya dalam kondisi sehat dan tentunya segar. Ikan-ikan yang sudah terpancing tidak boleh dilepas lagi ke kolam karena kondisinya sudah terluka (yang kalo dibiarkan akan membuatnya mati dan membahayakan kawan-kawannya di kolam). Nantinya, ikan-ikan yang sudah terpancing itu akan ditempatkan di jala dan tetap direndam di air, hingga pemancingnya merasa puas dan menyudahi kegiatannnya.

Setelah itu, petugas akan menghampiri untuk mencatat jumlah dan berat ikan hasil pancingan. Ikan itu boleh dibawa dalam keadaan segar dan mentah, atau dimasak ditempat.

Nah, yang bikin sebel adalah bagaimana mereka-mereka, para petugas di pemancingan ini, menghabisi hidup para ikan. Ikan ini, misalnya:

Sudah terpancing dan dimasukkan jala, kemudian jala dinaikkan ke darat. Saat masih menggelepar, dia dipukulkan ke pinggiran kolam. Eh, masih hidup. Kemudian dimasukkan lagi ke air. Eh, diangkat lagi dan dibiarkan menggelepar lagi di darat. Seorang petugas melintas sambil membawa catatan, melihat ikan ini masih hidup. Maka diinjaknya ikan ini, keras-keras. Dan si ikan masih hidup, maka dimasukkan lagi ke kolam (foto diatas). Ikannya nampak sudah menderita, matanya kesakitan dan sedih. Hadeeeh! Kenapa sih engga langsung dibiarin aja mati, pake dicelup-ankat dari air, diinjak, dibanting-banting, haizh!

OK, forget about that. Untuk yang selesai memancing dan ingin ikannya diolah ditempat/ para pendatang yang ga memancing tapi sekedar ingin melihat-lihat dan menikmati angin kencang pegunungan yang sejuk dan segar, jangan khawatir. Tempat ini menyediakan dapur dan tenaga masak untuk mengelola ikan-ikan hasil pancingan/ pesanan.

Lha, terus? Ikannya bisa diapain aja? Makannya dengan sambal ato kecap saja? Tenang, ada buku menunya kok:

Untuk itu, beberapa meja dan tempat lesehan disediakan. Aku punya tempat favorit sendiri dengan hutan bambu dan sungai alami yang mengalir deras, seiring dengan kencangnya hembusan angin disana (kalo sering masuk angin/ membawa anak dan lansia, disarankan bawa pakaian hangat deh):

Karena begitu banyak manusia kelaparan disana sedangkan untuk mengelola ikan dibutuhkan waktu, maka ada snack yang dijual untuk ganjal perut berupa aneka gorengan: pisang goreng, ote-ote, tahu goreng, dsb. Dijual perpaket, bukan bijian. Dan kita sih pesan ote-ote goreng yang sebelum difoto sudah pada dicomot kanan kiri hingga tinggal satu ini saja yang bisa terfoto, sesaat sebelum dimakan, haha:

Kemudian, barulah setelah hampir 1 jam, makanan kita datang. Hohoho, meja langsung dipenuhi dengan aneka ikan, sayur dan sambal:

Ikan pilihan kita ada gurame bakar kecap, lele dan nila yang digoreng, juga sayur urap-urap, sambal terasi, juga sambal pencit. Sebakul nasi putih hangat dan beberapa gelas teh manis hangat pesanan kita juga ikut diantarkan.

Guramenya ga berasa apa2 dan kering, karena ikannya digoreng duluan (aiiih, padahal aku prefer ikan yang langsung dibakar, engga pake digoreng duluan). Lelenya? Aku tidak makan. Tapi gedenya ituloh, wew..

Hoho, hampir segede tangan anak-anak, booo!

Dan nila gorengnya manis, karena memang segar (jadi, sepertinya kalo disana pesannya ikan goreng saja/ ikan bakarnya request khusus untuk tidak digoreng sebelum dibakar). Sambalnya biasa saja. Tapi dengan cuaca dingin berangin seperti itu, makan apa aja enak deh! Wekekekek..

Share

Post to Twitter