Petirtaan/ Candi Belahan/ Sumber Tetek (Gempol/ Pasuruan); Menyusu pada Ibu Dewi Lakhsmi

Tujuan kita setelah dari Candi Bangkal adalah Dusun Belahan, Desa Wonosonyo, Kecamatan Gempol, Pasuruan, Jawa Timur (lengkap booo, seperti di KTP, haha!). Koordinatnya menurut Wikimap adalah: 7°34’34″S 112°40’22″E.

Sudah lama (kalo ga salah sejak jaman kuliah), aku pengen ke candi ini tapi tidak ada satupun kawan yang tahu! Bahkan pegawe-pegawe rumah makan di daerah Pandaan-Gempol, juga pada tidak tau. Aih! Bagaimana bisa kesana? Padahal dari sebuah gambar yang aku temukan di rumah makan Sri sejak aku masih kuliah, Petirtaan/ Candi Belahan/ Sumber Tetek ini tampak menarik. Tapi apa daya, sigh.

Sampai suatu saat, aku melihat papan ini:

Lokasinya 1 gang sebelum rumah makan Mojorejo 1, Gempol (arah Malang ke Surabaya).

Tapi, ga semudah itu untuk segera ke candi setelah menemukan sekuprit petunjuk. Seringnya, kita dari Malang, sudah sore. Maklum, Malang adalah kota yang susah untuk ditinggalkan, hehe. Lha kalo sore-sore ke candi, mana serunya? Apalagi itu petirtaan, hmm, rasanya kok kurang nyaman ke petirtaan tua, sore2 menjelang magrib, wakakakak, kuatir kerasukan *jrengggg* @___@, haha!

Barulah sekitar awal April, kok kebetulan kita berangkat pagi dari Malang menuju Surabaya. Masih sekitar jam 11an ketika kita sudah mulai memasuki area Gempol. Jadi, langsung terpikir spontan untuk mencari candi itu. Kata Mami, “Ga apalah 5 kilo tuh deket, hayuk!”. Wah, semangat 45 deh, haha *nyengir*.

Jadi, kita belok ke gang itu, bertanya ke tukang ojek, bagaimana kondisi jalan dan ancer-ancernya. Ancer-ancernya ga didapat (karena dia pengen kita sewa ojeknya dan ninggal mobil dijalan), tapi diinformasikan bahwa kondisi jalannya ancur. Hmm! Karena sudah mupeng, kita nekad aja masuk sendiri, tanpa si ojek.

Jalanan bagus tuh, mostly adalah jalanan paving, bukan aspal. Relatif mulus, namun karena kontur tanahnya bergelombang, walau pavingnya ga pecah, rasanya rada geronjalan. Untung saja Gunung Pananggungan begitu indah, jadi lumayan terhibur deh:

Sayang, setelah membelah tanah perkebunan, menyapa petani, ketawa sejenak bersama mereka, juga mampir bertanya di 4-5 warung kecil, perjalanan yang kurang 1 km harus dihentikan karena tidak memungkinkan. Jalannya makin rusak dan sempit, sedangkan dari arah berlawanan ada banyak truk memuat sirtu (paSIR dan baTU) melintas. Tiap kali ada truk sirtu, kita kudu mundur sampe awal jalan. Lha kapan majunya? Hiks!

Ngeliat anaknya lemes, Maminya ngehibur. Ayo, kali lain kesana lagi! Dan saat ada Bol Brutu Jatim blusukan, aku berkali2 sampe dower bilang, “Ke Belahan yok, bisa ga? Bisa, kan?” (eh, ini bukan sekedar ‘bilang’ neh, tapi maksa, haha!!!).

Dan keinginan dikabulkannnn (Tuhan)!!! Hahahaha, karena ternyata banyak anggota Bol Brutu yang penasaran kesana, akhirnya rombongan berbalik arah. Tujuan ke Candi Jedong dan Jolotundo berbelok ke Petirtaan/ Candi Belahan/ Sumber Tetek, aiiihhh *berbinar*.

Candi Jedong dan Jolotundo tentu sama-sama menarik! Tapi ke Petirtaan/ Candi Belahan/ Sumber Tetek kudu rame-rame deh, karena jalannya susah. Dibayanganku, ntar kita kudu jalan kaki dipinggir hutan. Lha kalo ga ada temen-temen cowo, cuma aku dan mami kok berasa kurang aman. Maklum, kelamaan hidup dikota, takut hutan! Wakakakakkk.. *payah*.

Selain itu, Candi Jedong dan Jolotundo konon jalannya mudah banget dan maha mulus. Turun dari mobil, jalan santai 2-3 menit, udah langsung ketemu candinya deh. Kalo gitu, bisa kali lain kan? Ga rame-ramepun ga apa, karena ga ketemu hutan (wakakakkk!!).

Tapi karena kita dari Candi Bangkal, maka rutenya berbeda dengan rute pertama yang aku jalani dengan Mamiku. Jalan awalnya mulus tapi kemudian langsung berubah jadi jalan tanpa aspal dan bukan makadam. Bahkan kita melewati tempat2-tempat ‘penambangan’ sirtu yang dimuat oleh truk-truk yang aku jumpai saat pergi berdua dengan Mami. Bahkan ada beberapa bagian jalan yang sepertinya adalah ‘gunung yang dipotong’ oleh penambang sirtu:

Medan jalannya sama sekali ga mudah loh. Kita bersyukur, cuaca bagus. Kalo hujan, waduh.. dijamin semuanya akan langsung berubah jadi kolam lumpur dan mungkin ada tanah/ bebatuan yang bisa saja lengser sewaktu-waktu:

0,75 – 0,5km terakhir, medannya makin parah! Dikiri kita adalah tebing terjal, sedangkan dikanan kita adalah lembah yang lebih mirip jurang. Sedangkan tanjakan yang kudu dilalui mobil lumayan tinggi, pake ada belokan tajam pula.

Karena ada yang dirombongan kita pakai mobil sedan (dan masih plat putih @__@), maka mobil itu sempat mengalami kesulitan. Sopirku, si Gatotkaca akhirnya turuni tanjakan (bukan turun ke bumi yah, soalnya Gatotkaca yang ini tinggalnya bukan di awan sana, haha!) bertujuan untuk membantu mobil itu naik. Sedangkan penumpangnya, ‘dipaksa’ jalan kaki:

Eh, masih ada tanjakan lain rupanya (_ _!!). Si Mobil putih itu harus menyerah disana. Tapi mobil lain ketika sudah sampai di atas, sopirnya turun lagi ke bawah untuk menjemput penumpang mobil putih itu. Nah, kita bayar seorang pria penduduk lokal untuk menjaga mobil yang diparkirkan ditepi hutan yang kebetulan tanahnya landai:

Dan setelah tanjakan  (tiada akhir) itu, tiba2 mobilku berhenti dibelakang mobil sebelumnya yang sudah lama parkir disana. Kok berhenti? OMG!!! Dikiriku ada papan nama semi lapuk ini:

Mana candinya, manaaa??? Huahhh *udah gupuh!*. Lalu nampaklah ini:

Eh, pendek ya candinya! Eh, kecil, ya! Eh, tapi kok seru yak!!!! Huahhhh *lari kedalam area candi*, huahuahuhauaha, OMG, OMG *kegirangan bukan kepalang*:

OMG, lihat dong, lihaaaattt!! Itu air beningnya luar biasa! Kalo airnya ga ada yang mancur, mungkin banyak yang gak ngeh kalo ada kolam air difotoku, kan? Huahuahuahaa.. *masih kegirangan*.

Ada 2 patung disana. Yang sebelah kiri adalah patung Dewi Sri dan yang dikanan adalah patung Dewi Lakshmi. Hanya patung Dewi Lakshmi sajalah yang mengeluarkan air, dari 4 lubang yang ada. Yaitu dari 2 telapak tangannya dan dari 2 puting buah dadanya (karena itulah candi ini juga tenar sebagai Candi Sumber Tetek):

Wikipedia menjelaskan:

Airlangga dimakamkan di tirtha atau pemandian. Kolam pemandian yang paling sesuai dengan berita prasasti Sumengka adalah Candi Belahan di lereng Gunung Pananggungan. Pada kolam tersebut ditemukan arca Wisnu, disertai dua dewi. Berdasarkan prasasti Pucangan (1041) diketahui Airlangga adalah penganut Hindu Wisnu yang taat. Maka, ketiga patung tersebut dapat diperkirakan sebagai lambang Airlangga dengan dua istrinya, yaitu ibu Sri Samarawijaya dan ibu Mapanja Garasakan (taken from here).

Satu persatu pada masuk kolam deh:

Begitu kena air adem, jadi lupa daratannnn!!! Kesambet dewa narsis!!! Hahahaha, aduhhhh.. gile, lihat aja dah:

Trus, bukan Dewi kalo engga punya ide kacau, hahahaha!!! Lihat saja, adegan ini semuanya karena Dewi, Dewi dan Dewi, hauhauhauahuaha:

Nah, karena perginya dengan anggota Bol Brutu, maka gaya andalan group ga boleh ketinggalan:

Btw, apa sih spesialnya tempat ini?

Untukku, ini adalah dream come true! Bayangin, dari tahun 2004an mencari tempat ini dan baru awal bulan ini bisa nyampe. Demikian juga untuk beberapa orang Bol Brutu.

Untuk perjalanan kemaren, tempat ini juga spesial. Karena jalanan panjang dan berdebu parah, air sejuknya luar biasa melegakan jiwa dan raga!!! Airnya begitu bening dan mengalir tanpa hambatan tanpa henti sejak pertama kali berdiri. Sekali lagi, TANPA HENTI, walau musim kemarau sekalipun! Padahal, bangunan candi ini sudah ada sejak awal abad ke 11, alias sudah 1000an tahun usianya @__@, ASTAGANAGA.. *super speechless*.

Candi Belahan ini merupakan peninggalan sejarah yang dulu pernah dijadikan tempat pertapaan Prabu Airlangga setelah memisahkan diri dari Pemerintahan Kahuripan.

Tidak hanya itu, Sumber ini dulu juga pernah difungsikan sebagai pemandian selir – selir Prabu Airlangga. Oleh karnanya, sebagai bentuk pengabadian, pada sumber tersebut dibangun 2 patung permaisuri Prabu Airlangga, yaitu Dewi Lakhsmi dan Dewi Sri.

Candi ini merupakan salah satu candi yang belum pernah dipugar mulai awal berdirinya sekitar tahun 1009 masehi. Perhatian pemerintah untuk perawatan peninggalan sejarah tersebut dilakukan pada tanggal 11 November 2009 berupa pembangunan sebagian pagar pembatas dengan pagar beton. Pembangunan ini merupakan tindak lanjut pemerintah atas pengajuan pada tahun 2006 oleh Caliyono yang bekerja sebagai juru kunci di tempat itu. Sayangnya, pembangunan tersebut hanya pada sebagian pagar pembatasnya saja, sedangkan bagian yang lain masih dipagari kawat berduri, itupun dibuat oleh juru kunci Candi sendiri.

Untuk pembangunan lain seperti kamar pemandian umum, papan nama, dan papan penunjuk arah dari jalan raya menuju candi merupakan bentuk sumbangan dari Perguruan Tinggi Walisongo, Gempol. Sedangkan tanaman lain disekitar sumber dan tempat berteduh (pendopo) adalah hasil dari pembangunan juru kunci yang biayanya diambil dari Caliyono sendiri dan beberapa tamu yang menyumbang.

Tamu atau pengunjung yang sebagian besar memberi sumbangan untuk dipakai  perawatan adalah pengunjung malam hari yang menggunakan tempat ini sebagai sarana ritual, walaupun ada juga beberapa oleh pengunjung siang hari. Maka Caliyono harus bertugas pada malam hari juga demi keamanan sekaligus menerima sumbangan jika pengunjung berkenan untuk menyumbang perawatan tempat tersebut.

Dari jam kerja yang ditentukan Dinas Kebudayaan yaitu pukul 7 pagi hingga 3 sore, Caliyono kembali menjaga dari pukul 8 malam hingga pukul 3 pagi, yang bukan termasuk jam jaga juru kunci (taken from here).

Eh, tapi ada sumber lain yang menyebutkan bahwa ini adalah candi untuk abu Prabu Airlangga (aslinya disebut “makam”, tapi sebagai penganut Hindu, -harusnya- jenazah Prabu Airlangga dikremasi, kan?). Minimal (menurutku pribadi), tempat ini adalah peringatan akan makamnya sang prabu:

Merupakan tempat pemakaman Raja Airlangga berasal dari masa abad XI Masehi hal ini dibuktikan dengan candra sengkala yang terpahat pada sebongkah batu besar, berangka tahun 1049 masehi:

Bahan batu bata dan batu andesit, Petirtaan Belahan merupakan sebuah pemandian berbentuk kolam persegi empat yang mendapat pasokan air dari sebuah sungai kecil. Dinding sebelah barat belakang mengepras lereng Gunung Penanggungan dengan bentuk relung-relung yang dahulunya berisi arca perwujudan Airlangga sebagai Dewa Wishnu (taken from here) *note: patung ini disimpan di Museum Trowulan dan kondisinya mengenaskan*:

Versi lain mengenai tempat ini ditulis di Wikipedia:

Tidak diketahui dengan pasti kapan Airlangga meninggal. Prasasti Sumengka (1059) peninggalan Kerajaan Janggala hanya menyebutkan, Resi Aji Paduka Mpungku dimakamkan di tirtha atau pemandian. Kolam pemandian yang paling sesuai dengan berita prasasti Sumengka adalah Candi Belahan di lereng Gunung Penanggungan. Pada kolam tersebut ditemukan arca Wisnu disertai dua dewi. Berdasarkan prasasti Pucangan (1041) diketahui Airlangga adalah penganut Hindu Wisnu yang taat. Maka, ketiga patung tersebut dapat diperkirakan sebagai lambang Airlangga dengan dua istrinya, yaitu ibu Sri Samarawijaya dan ibu Mapanji Garasakan.

Pada Candi Belahan ditemukan angka tahun 1049. Tidak diketahui dengan pasti apakah tahun itu adalah tahun kematian Airlangga, ataukah tahun pembangunan candi pemandian tersebut.

Hebatnya lagi, ketika aku melihat bagian belakangnya, aku tidak menemukan hal yang aku imajinasikan:

Tidak ada lubang, tidak ada pipa *ya iyalah!*, tidak ada air. Lah??? Lalu dari manakah airnya datang?

Kata Pak Hadi Sucipto, air datang dari sini:

Ini adalah semacam pompa purba. Terkadang, berbunyi dengan “tek, tok, tek, tok”. Gemas rasanya karena tempat itu kini ditutup bangunan yang aku beri tanda bintang itu, karena aku jadi ga bisa lihat sistem kerjanya pompa! Tapi karena berpositive thinking bahwa itu dilakukan untuk melindungi pompa purba itu, ya OK lah *menghibur diri*. Ihik.

Nah, candi ini adalah candi asli alami tanpa pernah dipugar. Jadi, yang kita lihat ini, adalah aseli bentuk awalnya (walau mungkin beberapa bagian sudah rusak):

Airnya juga disebut-sebut berkhasiat membuat awet muda dan menyembuhkan sakit penyakit, makanya jangan lupa cuci muka. Mandi? Boleh sih kalo sekedar basahin badan dan berendam sambil main air:

Beberapa penduduk lokal tak lama kemudian datang dan bermain air disana, aih, iriii.. (pengen berendam disana sih aslinya tapi Bol Brutu lainnya ga ada yang berendam, jadi yah nelen liur deh *ihik*, haha).

Air dari tempat ini, memang digunakan untuk sehari-hari kecuali untuk MCK (mandi-cuci-kakus). Jadi jangan heran kalo ada orang lokal membawa jerigen dan menampung air. Air disini, konon juga air dengan kualitas baik yang bisa langsung diminum *wow*. Makanya, jangan mau rugi! Tiru mamiku tuh, sampe keluarin rantang untuk nampung air dan dibawa pulang, hahahaha:

Rantang? Yeah, ga aman lah, Mam! Untung, Pak Gototkaca pergi ke warung diatas candi dan menemukan ada jerigen mini yang dijual. Akhirnya, kita bawa pulang airnya pake jerigen itu deh, hehe. Untuk apa? Entahlah, pokoknya ga mau rugi *halah*.

Dan sudut candi ini sepertinya ga banyak diperhatikan padahal lihatlah, ada ukiran indah pada batanya (ukiran pada batu bata, booo!!):

Hanya sudut itu sajalah yang batu batanya diukir. Mungkin pada sisi kanan, dulunya ada namun kini bagian itu sudah runtuh? Entahlah!

Yang pasti aku ga habis-habisnya kagumi Petirtaan/ Candi Belahan/ Sumber Tetek ini! Lihat saja, air di kolam itu ga pernah meluber, entah kemana perginya. Sekilas nampak adanya  beberapa lubang kecil pada dinding kolam, tapi untuk ukuran 1000 tahun lalu, sistem airnya iniloh, wow. Super mengagumkan! Jaman sekarang ja, bikin pompa manual tuh ga kebayang gimana caranya bagi anak laki-laki muda. Lha dijaman itu, malah ada pompa manual yang bisa bertahan hingga 1000 tahunan, wew.

Bata jaman sekarang juga begitu mudahnya hancur, sedangkan yang ini malah bisa diukir dan berdiri tegak ditempat yang basah berair (bukannya kalo deket-deket air tuh seringnya mudah lapuk?), wah! Keren.. *speechless*.

Pada halamannya ada beberapa penggalan arca dan sebuah lingga tanpa yoni:

Gambar terakhir itu menurut Pak Arief Budi mirip dengan penjelasan dari Blog sumberku, bahwa itu adalah:

Relief Raksasa rahu memakan bulan dan resi melihatnya dari langit.

W. F. Stutterheim menganggap relief ini adalah candrasengkala yang menunjukkan tarikh wafatnya Raja Airlangga. Tarikh relief itu: 971 Saka (1049 masehi) (taken from here).

Indah sekali, bagaimana cara manusia jaman itu mencatat kejadian, dengan ukiran indah penuh makna.
Oh ya, di Petirtaan/ Candi Belahan/ Sumber Tetek kita harus mengisi buku tamu, sama seperti pada candi2 lainnya, berikanlah sedikit uang sumbangan/ tips kepada penjaganya. Dan karena Bol Brutu itu membanggakan (semoga demikian seterusnya sehingga aku ga perlu mengedit tulisan itu *amen*, haha) maka dengan bangga pula aku menuliskannya pada buku tamu:

Hahahaha!!!

Dan biasanya ginian tuh diisi didepan, saat pertama kali masuk, tapi karena kita-kita saat datang sudah heboh ga karuan, langsung cemplang cemplung maen air, lupa deh dengan birokrasi dan administrasi, wekekekekekek!!!

Yang pasti, kenangan di Petirtaan/ Candi Belahan/ Sumber Tetek tidak akan terlupakan! Aku ketawa sejak pertama kali datang hingga pulang, Mamiku main air terus-terusan (dan anehnya kok engga masuk angin!), kawan-kawan yang baru kenal langsung bagaikan kawan lama, sedangkan ex guru SMAku bisa jadi bagaikan kawan, karena jadi serasa semua balik ke jaman kanan-kanak, main air, bergurau, bercanda, saling menggoda, berfoto, aih.. hangat, disela gemericik air dingin Petirtaan/ Candi Belahan/ Sumber Tetek:

Setelah itu, kita sudah kudu pulang karena matahari sudah turun. Kalau gelap, bahaya deh.. Kan jalanannya berliku denan tebing dan jurang. Jadi, berbereslah kita dan kemudian mengucapkan selamat tinggal pada candi menawan ini.

Nampaklah sawah terasering menguning, ketika pulang:

Jalanan yang tadinya menanjak, kini jadi jalanan turun yang lumayan menguras keringat dingin *lebay* dan sopir kudu sangat berhari-hati agar tidak tergelincir. Pak Gatotkaca beneran ‘hero of the day’ banget deh, kalo buat kita (aduh, tanpa dia sepertinya ga bakal nyampe ke atas deh, driving skillku jelek dan Mami kan sampun sepuh walau jagoan tingkat dewa). Udah gitu, si Pak Gatotkaca masih bisa ngatur mobil untuk berhenti sejenak agar aku bisa mengambil gambar-gambar ini:

Indah banget deh pemandangannya! Pake kelihatan Lapindo dari atas (yang ini ‘indah’ sekaligus penuh duka), sempat diam sebentar dan tertegun. Dari atas gunung gitu aja, gede lautan lumpurnya udah wow. Apalagi kalo jarak dekat. Ada berapa rumah, kuburan, kenangan, duka, disana. Yeah.

Tapi aku segera diklakson untuk masuk, soalnya matahari sudah bener-bener hampir masuk ke peraduan. Maka perjalanan diteruskan, sampe ke tempat mobil putih dititipkan (masih inget kan, ada mobil yang dititipkan?). Nah, disitulah semua bakal pisah. Kita turun, saling jabat tangan, mengucap salam dan terima kasih, berfoto bentar dan kudy ‘menguatkan’ diri untuk berpisah *halah* namun untuk bertemu kembali:

Sampai jumpa SEGERA, pada acara blusukan berikutnya! Terima kasih buat kebersamaan dan mohon maaf kalau ada salah kata dan perbuatan. Mohon maklum, aku ini kalo ngomong ceplas ceplos ga pake mikir tapi aseli ga ada maksud mau sakitin hati. Kamsia matur nuwun paling pol-pol’an ya buat Mami, haha, yang sudah bela-belain pergi demi bikin hepi anaknya *love you more and more, Mam!*.

Besoknya, badan remuk redam tapi ngekek2 didepan laptop terusan-terusan karena lihat foto-foto serunya. Kapok, Wi? ENGGA!!! Sama sekali engga kapok! Bahkan sudah ada rencana untuk melakukan trip serupa ke Candi ini lagi, hauhauahuahuaha *tawa bahagia*, yay!

PS: selain Petirtaan/ Candi Belahan/ Sumber Tetek, Prabu Airlangga meninggalkan satu lagi petirtaan, ya itu Petirtaan/ Candi Jolotundo, di Trawas, Mojokerto.

Share

Post to Twitter