Coffee Story (Malang); Dulu Pengen Punya Bisnis Ginian, Haha!

Pertama kali mengetahui tempat ini ketika malam-malam terpaksa makan di KFC Jalan Kawi, Malang. Tapi karena sudah kelewat malam, aku tidak terlalu perhatian dengan namanya. Hanya saja, bangunannya yang berbeda dari deretan bangunan lama di Jalan Kawi, cukup eye catching.

Barulah keesokan harinya aku baca namanya, Coffee Story. Dan baru minggu kemarin, saat janjian mesra dengan mantan guru SMA-ku yang cantik *uhui ..*, aku kesana. Lokasinya di Jalan Kawi 23, Malang.

Lantai bawahnya, seperti ini:

Nyaman dan temaram dengan bau aroma kopi yang sedikit menyeruak, aih.. nyaman! Ada seorang bule duduk dipojokan dengan laptopnya. Untunglah, karena dia jadi tidak memperhatikanku yang basah kuyup kehujanan dengan baju keren tapi sandal jepitan, hahahaha (jadi.. kalo filihat dengkul keatas mah asik, tapi dengkul kebawah komedi deh!).

Dingingnya dipenuhi dengan gambar mengenai sejarah kopi. Menarik, tapi aku engga sempat perhatikan detailnya karena kudu segera ke lantai dua, untuk bertemu guruku itu:

Di lantai 2, lebih ‘serius’ ruangannya. Dengan kursi kulit hitam dan dinding yang dipenuhi rumus kimia kopi, ruangan dilantai dasar jadi lebih menarik hati. Tapi ya sudahlah. Toh kita berhasil dapat tempat duduk yang nyaman dengan sofa besar (tidak seperti dibawah yang dudukannya sendiri-sendiri). Nah, kalo tidak mau didalam ruangan, ada teras yang bisa jadi pilihan:

Tapi dengan cuaca yang (saat itu) hujan deras dan berangin kencang, duduk di teras saat itu bukanlah pilihan tepat. Jadi, kita tetap milih duduk dipojokan bersofa itu. Dan mulai memesan. OMG, ada begitu banyak pilihan! Mulai dari kopi Aceh, Mandailing, Toraja, Luwak, juga aneka kopi import. Jrengggg.. Sedangkan makanannya mulai pasta, sandwiches, hingga aneka kue, haduh.. *kalap*. Maka bisa ditebak, meja kita langsung penuh:

Sayang, aku terlalu kenyang karena sebelumnya makan bersama-sama sepupuku di Depot Rupat, jadi apa daya, aku hanya bisa ngiler aja ngelihatin pasta yang super menggoda:

Hiks, looks yumm yah? Hoaaa T__T, terpaksa aku kudu berpuas diri dengan nachos aneh ini (nachos kok sambel botolan tok T__T):

Sambil meneguk kopi Aceh pesananku (yaaa, kopi Acehhhh *silakan kalo mau iri*, haha!). Ada 3 cara mengolah kopi ini: tubruk/ pour over/ siphon. Aku pilih cara yang konon mereka the best: siphon. Dan tersajilah kopi Acehku:

Sebenarnya aku pengen dapat kopi aceh yang dibikin dengan cara kopitiam seperti di Kok Tong/ Abadi (direbus, lalu disaring, disajikan dengan gula saja/ susu kental manis). Tapi engga ada opsi itu, hiks. Jadi kudu berpuas diri dengan minum kopi pahit dan susu (yang aku pesan terpisah), karena setelah minum.. aku baru sadar bahwa gula, dsb-tuh kudu diambil sendiri dari rak, kemudian kita racik *begoooo*, alamakkkk:

Kalo yang ini, pesanan ex guruku. Langsung enak, tanpa perlu diracik ini itu:

Dan kopi-kopinya, tersedia dalam kemasan untuk dibawa pulang:

Bahkan karena keasikan ngobrol, aku ga sempat icip kuenya, hiks:

Jadi, aku akan kembali lagi ke tempat ini, untuk makan pastanya! Dan minum kopinya dengan cara yang lebih ‘smart’, hiks!

PS: tanggal 8 April lalu ke Malang dan udah duduk bengong nungguin tempat ini buka, begitu jam bukanya lewat kok ga buka. Ternyata, dia tutup untuk Paskah’an, hoaaa!!!!! Ga jodo bener sih.. T___T.

Share

Post to Twitter