Candi Gunung Gangsir (Gempol/ Pasuruan); Candi Berhias Gerabah Cantik!

Tidak banyak informasi yang bisa aku cari mengenai Candi Gunung Gangsir di Dukuh Kebon Candi, Desa Gunung Gangsir, Beji, Pasuruan ini. Bahkan aku baru 1-2 bulan ini tahu, ada candi di kawasan Gunung Gangsir ini *telat tahu banget*:

Nama candi ini masih merupakan mitos penduduk sekitar, yaitu bahwa nama ‘gunung’ diambil dari keberadaan bangunan candi ini pada masa lampau yang dilingkupi oleh gunung. Sedangkan kata ‘gangsir’ (Jawa: nggangsir) berarti menggali lubang di bawah permukaan tanah. Menurut keterangan penduduk, nama ini muncul ketika pada suatu saat ada seseorang yang berusaha ‘menggangsir’ gunung ini untuk mencuri benda-benda berharga di dalam bangunan candi ini. Maka dikenallah bangunan candi ini dengan nama Candi Gunung Gangsir.

Bangunan candi yang terbentuk terbuat dari batu bata ini, memiliki 4 lantai, dengan dua lantai dasar yang merupakan tubuh dan atap candi yang sebenarnya. Denah lantai dasar merupakan segi empat dengan sebuah tonjolan pada sisi timur, berlawanan arah dengan keletakan tangga.

Denah tubuh dan atap candi juga segi empat, tetapi pada bagian ini keempat sisi dinding tubuh candi memiliki sebuah bidang tonjolan yang ramping. Sekarang kondisi candi berupa runtuhan, dan hampir semua sudut pada lantai-lantai dalam keadaan rusak, begitu juga pada bagian-bagian yang horisontal, tempat bertemunya lantai-lantai tersebut, sedangkan bagian puncak candi telah hilang.

Akibat kerusakan ini, bangunan candi Gunung Gangsir tampak seperti bentuk piramida yang telah terpotong bagian atapnya (taken from here).

Tapi itu dulu, karena kini Candi Gunung Gangsir sudah mulai menampakkan bentuk aslinya karena di renovasi dan sizenya sendiri membuatku tercegang!

Kita yang ribut (read: riuh renyah dalam canda tawa *halah*) karena ceritain pengalaman kita-kita mencari candi berdasarkan informasi penduduk lokal. Saat itu, aku baru saja tanya kepada seorang Bapak, dimanakah letak Candi Gunung Gangsir. Dan si Bapak menjawab, “Niku, sampun kelihatan kok”. Padahal didepanku cuma rumah-rumah penduduk gitu.

Nah, kita masih ketawa dan bahas jawaban Bapak itu, saat Candi Gunung Gangsir tiba-tiba nongol gitu saja disisi kanan jalan:

Lah, kok candinya gede? Kirain cuma bakal ketemu dengan candi yang runtuh, atau cuma kaki candi kecil, atau sekedar pecahan batu. Jadi, ‘dapet’ candi sebesar itu wow banget deh! Lihat saja si Candi Gunung Gangsir dibandingkan tinggi kawanku:

Nah, yang kalian lihat itu adalah sisi belakangnya. Jadi, kita muter deh untuk menuju tangga naiknya. Dan saat kita sampai ke ‘sisi depan’, kekaguman kita menjadi-jadi!!!

Tangganya utuh (entah karena aslinya demikian/ hasil renovasi) dan ada batu andesit didepan anak tangga pertama:

Anak tangganya kecil-kecil dan bagian pijakannya juga kecil, menyulitkanku untuk naik:

Tapi karena udah ngebet naik, walau agak susah (dan banyak bambu-bambu malang melintang), akhirnya aku berhasil naik ke atas *yippy!*, hehe. Pertama-tama, aku masuk dahulu ke bilik utama. Bilik? Ya! Ada kok bilik utamanya dan unik, karena pintu masuknya hanya setinggi pinggangku. Jadi, kita kudu jalan dalam posisi jongkok/ membungkuk untuk masuk:

Unik, kan? Tapi itu bukanlah bentuk pintu aslinya. Setelah diamati dari bagian dalam dan luar, tampak bahwa pada awalnya bilik utama ini memiliki pintu yang tinggi dan lapang. Lihat saja:

Kelihatan kan kalo pintu masuk aslinya ‘ditutup’ dengan bata (yang size dan warnanya saja berbeda dengan size bata yang dipakai untuk membangun candi)? Yeah, itulah ulah Belanda saat merenovasi candi ini.Lihat saja gaya naruh batanya yang kompeni banget:

Ga diketahui apa alasan nenek moyangku itu (halah, kecipratan darah sekuprit aja kok) menutup candi cantik ini karena diruangan dalamnya, engga ada apa-apanya kok (kalo misalnya ada arca yang wow atau ukiran yang cihui kan masuk akal):

Bagian dalamnya kosong dan entah kenapa, aku merasa dahulunya ada yoni didalam sana. Ah, ternyata bener. Sesampainya dibawah, aku bertanya dengan penjaga candi dan dia menunjukkan pecahan yoni yang tergeletak begitu saja disamping pos jaga:

Pada ruang utama itu, kondisinya gelap sekali dan ada 4 lubang kubus kecil pada dinding yang aku perkirakan dahulunya dipakai sebagai tempat menaruh lentera. Sedangkan bagian atapnya, kosongan. Kita engga menemukan adanya hiasan apapun pada bagian atap:

Untuk mengambil foto itu, aku teringat akan ideku di Candi Bangkal, bahwa kita kudu bekerjasama dengan kawan-kawan lainnya dengan bersama-sama mengarahkan kamera kebagian atas, berharap bahwa seluruh kekuatan blitz kita bisa menembus kegelapan yang pekat dan menghasilkan foto atap:

Setelah puas didalam (lebih tepatnya sih ‘terpaksa’ segera keluar karena gerah, haha!) kita mengelilingi candi dari lantai 2:

Dan pergi bersama 2 cewe cakep itu memberikan keuntungan! Mereka itu teliti banget (sedangkan aku maha clumsy). Dengan telaten mereka mencari ukiran yang cihui dan membahas, juga membandingkannya ke ukiran kiri dan kanan. Hal pertama yang langsung memukau adalah adanya bentukan wanita sexy nan ayu tanpa wajah di dinding batu bata:

Jarang yah, ada bentukan seperti ini, apalagi dari batu bata. Di Candi Gunung Gangsir, si molek ini cuma ada satu saja. Tapi bentukan lainnya, banyak yang ‘diulang’ dengan detail yang rumit dan bener-bener serupa:

Dan setelah diamat-amati, kok sepertinya hiasan candi ini berupa gerabah yah? Keren-keren loh, tapi banyak yang ‘mrotol’ dan disimpan disebuah bangunan kecil yang terbuka, dikanan pintu pos jaga:

Karena ada hiasan-hiasan yang ‘rontok’ ini, nampaklah ada beberapa relung-relung di candi yang kosong. Entah, apakah dahulunya ada hiasan/ arca/ relief disitu:

Tapi hiasan-hiasan yang masih nempel di candi, indah! Aku tidak menyangka bakal menghabiskan setengah lebih battery cameraku di candi ini karena kalap memfoto kesana kemari (sampe 200an foto loh!):

Selama keliling, selain kudu berhati-hati karena teras ini tinggi, kita juga kudu hati-hati dengan bambu-bambu penyangga yang malang melintang. Kadang, kita kudu melewati rintangan dari bambu horizontal setinggi pinggang kita tapi aku aja bisa (dan selamat!) apalagi kalian:

Ada juga ‘tugu kecil’ yang disisi kanan candi. ‘Tugu’ ini pun dihias dengan bentukan wanita, kuda, kala dan entah apalagi:

Sesaat sebelum pulang dan meninggalkan candi ini, eeeh.. lha kok nemu lagi satu yoni diujung halaman candi:

Ada juga tumpukan bata baru yang menanti digunakan untuk renovasi. Ada juga susunan bata yang ‘menyembul’ dilantai pelataran candi:

Setuju, kan? Bahwa candi ini cantik?

Share

Post to Twitter