Candi Jawi – 3 (Prigen/ Pasuruan); Kali Ini Mengelilingi Candi dan Mengagumi Relief

Yeah, nyandi itu nyandu (Pak Cuk, pinjem istilahnya yah!). Walau ketakutan setengah mati pada kunjungan pertama ke Candi Jawi (read here), bukan berarti aku kapok. Buktinya, aku malah sudah datang lagi ke Candi Jawi (read here) dan lagi, hehe!

Sebenernya, aku mau naik sampai ke bilik utama. Tapi seorang kawan yang sudah masuk duluan menginformasikan bahwa didalam bilik, ada pasangan yang lagi pacaran! Di “ehem”, diapain aja, kagak mempan. Waduh, malesss.. deh (lagian haduh anak-anak jaman sekarang yah, pacaran kok didalam bilik candi!!!). Jadi, akhirnya aku memilih untuk muter disekeliling candi saja. Toh aku dulu-dulu engga sampe ke gapura di belakang.

Pertama-tama, aku mengelilingi kolamnya dan mengambil beberapa foto cakep (ah, candinya udah cakep, jadi difoto pake model dan dari angle manapun ya tetap cakep):

Nah, gapura dibagian belakang itu, aduh.. cakep bener deh batanya. Bentuk batanya lebar dan dibagian tangga paling atas, ada batu andesitnya: 

Dari gapura itu, Nampak candi Jawi berjejeran dengan rumah penduduk yang nyebelin banget untuk dilihat mata, haha (pengennya ga ada rumah-rumah itu!):

Jadi, aku usahain rumah-rumah itu ga nampak, untuk bisa ‘membayangkan’ masa lalu saat candi cantik ini dikepung pohon lebat, bukannya rumah padat penduduk gini *ihik*.

Puas di gapura, aku mendatangi reruntuhan candi yang ditumpuk begitu saja, tidak jauh dari gapura:

Puas disana, aku mulai ke depan untuk menunggu kawan-kawan lain yang belom selesai muter-muter (maklum, ada yang baru pertama kali datang ke candi ini). Eh, lha kok didepan aku ketemu dengan Pak Solikin, penjaga Candi Jawi yang inget banget kalo aku pernah terbirit-birit ketakutan (baca disini), haha!!!

Kemudian dia mengajakku mendekat ke candi, sambil menunggu (daripada nunggu didekat pagar, ntar dikira satpam :p). Nah, aku ‘manfaatkan’ saja untuk minta ditunjukin relief yang diduga adalah gambaran Singhasari pada masa itu.

Bapak yang baik ini malah menunjukkan semuanya! Sambil bercerita per bagian *kamsia pol, Pak!!!*:

Lengkap tuh, aku foto semua. Kenapa begitu? Karena relief di candi ini dibuat dengan begitu tipis, udah gitu.. kena jamur pula. Dan jamur itu tidak bisa dimusnahkan T__T. Jadi, dengan kemampuan dan peralatan yang serba minim, aku berusaha dokumentasikan semua. Mumpung reliefnya masih ada (dan semoga akan terus ada!).

Tidak itu saja, Pak Solikin berbaik  hati mengajakku masuk ke ‘ruang private’ di belakang, untuk memamerkan puing-puing candi yang dia simpan:

Hohoho, kita seperti anak kecil yang diperbolehkan masuk kedalam pabrik permen! Karena walaupun hanya kepingan arca, namun tetap cantik, bahkan ada beberapa yang masih relatif utuh. Dan dari sekian banyak itu, yang ini adalah yang menurut Pak Solikin paling spesial:

Pak Solikin menyebutnya sebagai Prasasti Candi Jawi, yang berwujud sebuah batu berukir angka tahun.

Btw, dari tadi nyebut Pak Solikin melulu tapi wujudnya belom nongol yah, haha. Inilah bapak koordinator penjaga candi-candi yang baik hati dan sabar itu:

Untuk kalian-kalian yang membaca ini dan akan menuju Candi Jawi, jika tidak keberatan, tolong sampaikan salamku kepada Pak Solikin yah, hihi.

Share

Post to Twitter