Reco Lanang (Prigen/ Pasuruan); Arca Buddha Terbesar (di Indonesia?) Dari Batu Utuh

Rencananya, setelah dari Candi Jawi, tujuan kita adalah Petirtaan/ Candi Jolotundo. Namun bapak penjaga Candi Jawi mengingatkan, bahwa didekat Jolotundo ada Reco Lanang. Ya, kita sudah tahu tentang reco ini, bahkan aku sudah melihat fotonya, tapi karena bentuknya ‘jelek’, Reco Lanang ini rencananya engga kita datangi.

Tapi gara2 si bapak penjaga Candi Jawi bilang bahwa lokasinya dekat dengan Petirtaan/ Candi Jolotundo, kok aku tiba-tiba ingin kesana yah? Toh, sekalian jalan, ya kan? Jalannya pun ternyata mulus, engga pake tukikan tajam dan kelokan maut. Eh, ada sekali ding (menanjak sambil belok tajam ke kiri dan ada jurang disisi kanan yang menanti kehadiran sopir-sopir yang ugal-ugalan *amit2*), selebihnya perjalanan asik-asik saja. Jalannya kecil, jadi kudu waspada. Tapi beraspal mulus.

Ga pake lama, kita sudah tiba di Jalan Arca, Prigen. Nah, dari jalan itu, terus aja deh naik ke atas sampai tiba-tiba sudah engga bisa belok (karena jalannya habis, hehe). Parkir aja kendaraan kita disekitar situ, kemudian mendaftarkan diri ke petugas jaganya.

Betahlah aku berlama-lama ditempat itu, karena dikelilingi hijaunya dedaunan, angin berhebus semilir namun sejuuuk dan bersih sekali hawanya, sementara sayup-sayup terdengar gemericik air dari sungai yang airnya mengalir jernih:

Sementara teman mendaftar, aku menemukan ‘mainan’ berupa pikulan rumput. Pastinya untuk pakan ternak, tuh. Iseng-iseng aku angkat, weh..

Boro-boro keangkat semua, bergeserpun engga!!! Sempat terangkat sedikit sih, tapi itupun udah bikin keringetan. Parahnya lagi nih, keesokan harinya lenganku linu, haha *payah, lu!*. Tapi ada exercise lain yang menanti. Lihat deh:

Huhauhaua, anak tangga menanti, sodara-sodara!!! Tapi tenang, tenang.. Dewi yang gemuk ini aja hanya break 1x ditengah-tengah. Jadi, jangan mau kalah! Taklukkan anak tangga itu *kompor*, haha!

Akhirnya saat diatas emang aku ngos2an tapi itu kan ditepi hutan, udaranya suer kewer bersihya luar biasa! Sejuuuk, beda banget dengan udara yang aku biasa hirup dikota ini, jadi biarlah paru-paru kita kembang kempis dengan heboh, toh yang masuk bukan asap knalpot, wekekek..

Tapi ga akan lama kita ngos-ngosan, karena begitu aku melangkah ke pelataran, si Reco Lanang langsung nampang dan aku… speechlessss…

Reco Lanang-nya segede gaban!

Yang disebut Reco Lanang atau Reco Jaler artinya arca laki-laki adalah arca Dhyani Buddha Aksobya dari batu dalam sikap tangan bhumisparsa mudra. Dhyani Buddha adalah konspsi Buddha pada tingkatan awal yang bertempat tinggal di langit dan kedudukannya menurut arah mata angin. Untuk Dhyani Buddha Aksobya berada di mata angin utara. Adapun sikap tangan bhumisparsa mudra adalah sikap tangan kiri di atas pangkuan dan tangan kanan diletakkan di atas lutut dengan jari menunjuk ke bawah yang dihubungkan dengan pada saat Sidharta Gautama memanggil Dewi Bumi menjadi saksi sebelum Ia mencapai taraf  kebuddhaan.

Dibandingkan dengan arca buddha di Candi Mendut, Verbeek menyebutnya sebagai arca buddha terbesar di Jawa. Arca Lanang setinggi 5,7 m tersebut dahulu dalam keadaan terlentang tidak treurus. Kini telah berhasil didirikan dan ditempatkan dalam sebuah cungkup sebagai pelindung yang dikerjakan selama 3 bulan dari bulan Januari sampai dengan Maret 1990 tepatnya tanggal 5 Maret 1990 (taken from here).

Sosoknya belum selesai dipahat namun sudah berbentuk, begitu besarrr menjulang dan hebatnya nih, Reco Lanang ini terbuat dari sebongkah batu andesit utuh tanpa sambungan @__@.

Paru-paruku langsung menciut saat Bapak penjaganya yang demikian santun dan rapi membukakan pintu. Aku bahkan hampir ga bernafas. Aku pegang pelan ‘badannya’. Kemudian melongo terdiam semi bloon. Bahkan ga lama kemudian, aku ‘peluk’ reco itu dengan penuh kekaguman. Wow banget, pokoknya!

Kawan-kawanku pun melakukan hal yang sama. Reco Lanang ini dipeluk, dielus-elus, dipuji, dicintai sekejab. Astaga.. *kembali speechless*.

Reco ini sama sekali bukan reco yang fotogenik. Ketampanannya engga bisa ketangkep kamera deh, pokoknya! Makanya, tempat ini hampir kita lewati begitu saja, padahal ketika akhirnya datang dan melihat sendiri, semuanya jatuh cinta sampe klepek-klepek @__@. Jadi, kalian yang mau ke/ dari Jolotundo, bener-bener aku sarankan ke tempat ini deh. Jangan percaya dengan jeleknya foto2 kameraku, karena aslinya reco ini luar biasa! Dia begitu aduhai!!! Sungguh!!!

Aku kelilingi Reco Lanang nan menawan ini, mengabadikan setiap sisinya:

Bahkan aku sempat membandingkan besarnya reco ini dengan badanku:

Secara fisik, selain sizenya, ada 1 hal lain yang menarik. Lihatlah dada si Reco Lanang ini:

Ada goresan di dadanya! Dan goresan itu jelas-jelas seperti goresan pedang/ sejenisnya, deh. Nah, ada 2 versi mengenai goresan tersebut. Versi dari para arkeolog menyebutkan bahwa itu adalah sebuah goresan dari pemahat untuk membentuk selempang Buddha.

Versi mistik, datang dari Ustad Sholeh Pati, anggota team “Tukul Jalan Jalan” yang bisa kalian akses dari sini dan sini.

Dikisahkan secara misteri, Reco Lanang ini adalah penjelmaan dari seorang anak buah Gajah Mada dan terluka karena sabetan pedang pada saat perang. Karena terluka, akhirnya si anak buah Gajah Mada ini memilih mundur dari medan perang dan bertapa hingga jadi reco/ arca. Dan luka pada bagian dadanya adalah luka bekas sabetan pedang si anak buah Gajah Mada (yang sosoknya digambarkan Udstad Sholeh Pati sebagai pria dengan pakaian Jawa dan terluka pada dada kirinya).

Kepadaku, Bapak penjaganya bercerita bahwa ada legenda masyarakat sekitar, bahwa batu disisi kanan Reco Lanang adalah pintu dari Goa Siluman. Beberapa orang pernah masuk dan baru kembali setelah 40 hari 40 malam. Si Bapak pernah lihat sendiri, ketika orang itu keluar, badannya diikuti oleh kunang-kunang, berjalan menuju pos penjagaan. Wah..

Reco Lanang ini, banyak disebut sebagai arca Buddha, sehingga banyak umat Buddha yang bersembahyang ditempat ini. Saat aku kesana, nampak hio, lilin dan bunga yang telah digunakan sembahyang:

Ingin rasanya berlama-lama ditempat ini dalam diam dan kesunyian tapi kita harus lanjut! Petirtaan/ Candi Jolotundo sudah menanti dan matahari sudah hampir terbenam *lebay*. Jadi, kita berpose terakhir kalinya bersama Reco Lanang yang ganteng, kemudian bersiap pulang..

Oh ya, aku juga kudu menceritakan tentang sosok Bapak penjaga Reco Lanang ini. Aku lupa namanya (oh please forgive me!) namun sosoknya yang bijak, sabar dan tabah (terhadap ulah kita) tuh wow banget deh:

Iseng aku tanyain dia, “Kok mau sih Minggu2 gini masuk? Kan engga ada absensi, bolos juga ga ada yang tahu”. Jawabnya, “Loh kalo ga saya jaga, sayang Mbak. Kasihan reconya kalo diapa-apain, gini ini juga ada rasa sayang, ada panggilan hati untuk menjaga”.

Wuiiik!!! Salut!!! Lha wong dia menjaga seorang diri tanpa TV/ radio, dipinggir hutan, didalam rumah jaga yang kecil. Kalo aku ya sudah pasti mati kebosanan tingkat dewa, tapi Bapak ini setiap hari mulai jam 8-14 menjaga reco ini, bahkan kalo malam-malam ada tamu akan semedi, si Bapak masih balik lagi ke Reco Lanang untuk membukakan pintu dan tak jarang ikut menemani si tamu hingga selesai ritual (kan pagarnya perlu dikunci balik). Wow!

Nah, yang satu ini malah lebih wow lagi:

Bapak ini, menjaga Candi Jawi. Mengetahui kita ingin ke Reco Lanang dan engga ngerti jalan, dia belain nganter kita pake sepeda motornya, ditengah gerimis (tanpa jas hujan) dannn.. engga mau dibayar!!! Katanya, “Saya seneng bisa anter anak-anak muda seperti kalian ke Reco dan candi2, sudah, matur nuwun..”.

Hah??? OMG, orang-orang ini.. Semoga kalian terberkati, hidup sehat dan berkecukupan, Pak. Amen, amen..

Share

Post to Twitter