Klenteng Gudo (Jombang); Ssst, Katanya.. Kita Akan Digoda!

Klenteng Hong San Kiong alias Klenteng Gudo, yang terletak di Desa Gudo, Kecamatan Gudo, Jombang ini adalah klenteng yang dahulu sering didatangi Opaku. Mamiku  sering cerita tentang Klenteng ini tapi dia sendiri sudah berpuluh-puluh tahun tidak pernah mendatagi klenteng itu. Bahkan aku, seumurku yang tua ini, juga belum pernah kesana. Jadi, saat lagi santai dalam perjalanan ke Tulungagung, kita mampir sejenak di klenteng tua ini.

Jalannya asik saja, mulus tanpa tanjakan dan perlu bertanya beberapa kali untuk memastikan bahwa kita sudah pada jalan yang tepat. Lokasinya didekat pasar dan cakep banget (harmonisasi antara pasar dan klentengnya aduhai banget deh, kebayang saat klenteng ini jaya dan ternama, pasti banyak pegadang pasar yang sembahyang disana):

Begitu harmonisnya, sehingga klenteng ini banyak dikunjungi bukan saja oleh orang Tionghoa, namun juga non Tionghoa. Entah untuk sekedar melihat-lihat, menonton Potehi (will tell you more!), atau meminta obat.

Yah, wayang potehi digelar (hampir) tiap hari di Klenteng ini (pertunjukannya 2x: jam 15.30 dan 19.00). Aku cukup beruntung karena datang tepat saat pihak Klenteng mengadakan pertunjukan Potehi.

 

Pemainnya sudah aku kenal semua, haha! Kenalannya di Hotel Majapahit, Surabaya saat  mereka dating mengadakan pertunjukan menjelang Imlek 2012 kemarin. Bahkan aku menemukan rumah wayang yang mereka pakai mengadakan pertunjukan di Surabaya:

 

Bahkan disebelahnya, nampak beberapa mesin jahit yang dipakai membetulkan properti wayang yang rusak/ perlu ditambahi. Propertinya wow banget loh, ada peti mati (mini) segala, loh! Isinya rambut pula, haha.. cukup serem:

 

Tapi, untuk di Klenteng Gudo ini, pertunjukannya engga pake rumah-rumahan kecil seperti yang dipake di Surabaya, melainkan rumah Potehi yang besar banget.

Kalo di Surabaya, hanya tangan-tangan pemainnya yang masuk, di Klenteng Gudo, badan pemainnya ikut masuk loh! Bahkan pemain-pemain yang semuanya adalah orang Jawa tulen (tapi fasih cerita dari negeri bamboo itu) yang ramah-ramah itu mempersilakan aku ikutan naik!!!

Aihhh, sebuah kesempatan yang tidak aku sia-siakan, padahal langsit sudah mulai gelap dan perjalanan kita masih jauh.

Pemainnya pada ga pake baju bukan mau pamer tattoo dan otot, haha, tapi karena ruangan itu panas, pengap. Alat musiknya special, engga seperti alat musik modern. Dan agar pemain-pemainnya ga usah bersusah payah teriak/ menabuh music instrument-nya, kini diberi pengeras suara (dan cukup bising *but fun* untukku, haha!):

Sampai sekarang, klenteng ini masih dijaga dan dirawat dengan baik, Nampak dari catnya yang terhitung masih baru dan terang benderang:

Didalam bangunan utama, ada Kong Co Kong Tik Tjoen Oeng, di altar utama: 

Disebelah kirinya, ada Kong Co Hong Tik Tjoen Sing/ Dewa Bumi. Kanannya, Kong Co Hyang Thian Sing Tee/ Dewa Langit.

Dan ada bangunan indah dibelakang, untuk Dewi Kwan Im:

 

Trus, konon nih, kadang kita akan ‘digoda’ di klenteng ini. Opaku dulu sering kehilangan kunci, ntar kalo abis sembahyang, kuncinya tau-tau aja tergeletak ditempat yang tadi sudah dibongkar. Aku sih sewaktu kesana, aman-aman saja, tapi.. nyasar jaya sentosa setelah pulang! Haha, ban mobil juga gembos. Wah, ga tau kenapa tuh, tapi aku prefer mikir secara logis sajah *tumben*, hihihi!

Share

Post to Twitter