Petirtaan/ Candi Jolotundo (Trawas/ Mojokerto); Satu Lagi Petirtaan dari Prabu Airlangga

Petirtaan/ Candi Jolotundo ini bisa dibilang adalah lokasi yang paling kita-kita inginkan (setelah Petirtaan/ Candi Belahan/ Sumber Tetek.

Lokasinya di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto (sebelah timur kaki Gunung Penanggungan) adalah lokasi yang paling mudah didatangi diantara situs-situs candi lain di Gunung Pananggungan yang konon jumlahnya sekitar 80 (atau bahkan lebih!). Kalo dari wikimapia (click here) tampaknya seperti ditegah hutan rimba, gitu. Padahal engga kok, haha!

Jalanannya mulus beraspal dan tidak terlalu heboh belokan dan tanjakannya (walaupun tetap kudu waspada). Bahkan, kita sempat dimanja dan dibuat begitu terpukau dengan keindahan alam Gunung Pananggungan:

Sayang, aku sendiri (lagi-lagi) engga hafal dengan belokan dan ancer-ancernya, tapi kalo ga salah lokasi Petirtaan/ Candi Jolotundo dekat dengan Villa Ubaya yang di Trawas. Ntar didekat villa tersebut, kalian akan menemukan gapura merah dan papan nama bertuliskan “Pertirtaan Zaman Airlangga” seperti ini:

Nah, masuk saja dan ikuti jalan beraspalnya yang mulus, hingga nanti bertemu lagi dengan loket masuk. Ntar kita kudu bayar perkepala dan mobil, kemudian memarkirkan mobil disebuah lapangan disisi kiri jalan. Diseberang lapangan itu, ada beberapa warung menjual makanan dan minuman. Sayang, engga aku foto.

Dan kalo ada yang mau membawa pulang air dari Petirtaan/ Candi Jolotundo, ada baiknya mampir di warung-warung tersebut untuk beli jerigen plastik deh. Aku sendiri beli jerigen juga, soalnya Mami udah nitip minta dibawain airnya (entah untuk apa, karena air yang dari Petirtaan/ Candi Belahan/ Sumber Tetek masih utuh sampai sekarang, haha!).

Yang lucu, ditempat ini susah banget deh dapat signal. Pas mengeluh mengenai signal, pas ada satpam yang mendengar. Kemudian dia tanya, “Mbak’e cari signal kan? Ayo kesini”, ajaknya. Wah, aku kok diajak ke belakang warung! Kalo diapa-apain, gimana *halah, lebay!*? Haha!

Aku meyakinkan, “Signal loh ya, bukan pulsa”. Dan si satpam mengangguk-angguk sambil menjawab, “Iya, signal kok, bukan pulsa”. Yeah, karena aku kudu memberi kabar kepada Pak Cip yang rencananya menyusul kita dari Mojokerto, terpaksalah aku mengikuti satpam itu, ke belakang warung.

Si Satpam kemudian menunjuk sebuah tempat. Katanya, “Sampean telpon disitu, berdirinya hadap kesana (hutan), jangan ganti arah/ pindah tempat, nanti signalnya hilang”. Setengah percaya dan setengah tidak percaya, aku ikuti petunjuknya. Eeeh, gile.. signal di BB langsung 3G, booo!!! Padahal sebelumnya “SOS”, loh. Wah! Wakakakak, si Putri aja kegirangan karena dapet signal:

Setelah memberi kabar kesana kemari, kita meninggalkan tempat ajaib itu dan menuju kedalam. Duh, engga ribet deh. Cuma jalan santai banget, ga sampe 5 menit tahu-tahu Petirtaan/ Candi Jolotundo udah langsung nongol gitu aja, disisi kiri.

Sayangnya, imajinasiku mengenai Petirtaan/ Candi Jolotundo yang syahdu dan gemericik airnya merdu, rusak seketika. Lihat saja deh @__@:

Ada manusia sejuta umat pada ‘arisan’ disono, hoaaa!!! Kata Pak Cip, itu karena kita datangnya pas hari Minggu, jadi pengunjung lagi banyak-banyaknya T__T. Duh.

Tapi tenang saja. Bukan Dewi kalo engga bisa dapatin foto candi tanpa manusia, kan.. hehe (nanti ada kok, foto Jolotundo yang ga ada manusianya). Cuman terus terang saja, rencana untuk mau main air langsung lenyap, sirna, sampe titik minus. Selain karena terlalu bejubel, kolam air terbawah dari Petirtaan/ Candi ini dihuni ratusan ikan koi yang entah mengapa kok berbau, uhuk. Sungguh mengurangi selera.

Tapi si Putri (foto kanan) asik-asik aja tuh rendam kakinya di kolam ikan *grin*. Padahal aku, Davina (foto kiri) dan Pak Eddy (foto tengah) berdiri mematung, bengong ngelihatin orang segitu banyak , haha:

Sementara mereka sibuk bengong dan rendam kaki, aku melanjutkan perjalanan *halah*. Aku daki tanah disisi kiri candi, hingga ke atas. Tapi sebelum cerita lebih lanjut, aku kasih tahu dulu deh sedikit cerita mengenai Jolotundo ini:

Situs Candi Jolotundo, atau yang kerap disebut Petirtan Jolotundo, adalah salah satu peninggalan sejarah kerajaan sebelum Majapahit. Situs berupa candi dengan air yang mengalir dari berbagai sudut candi itu dibuat pada tahun 997 Masehi. Zaman Airlangga pada masa kejayaan Kerajaan Kahuripan.

Konon waktu itu, bangunan berukuran panjang 16,85 meter dengan lebar 13,52 meter dan tinggi 5,2 meter itu menjadi tempat pemandian para petinggi kerajaan. Dalam sejarah disebut, bangunan ini sengaja dibuat Raja Udayana untuk menyambut kelahiran putranya, Prabu Airlangga (taken from here).

Versi lain menyebutkan:

Dalam sejarah diketahui bahwa Raja Udayana yang berasal dari Bali telah menikah dengan Putri Guna Priya Dharma dari Jawa. Dari perkawinan lahirlah Airlangga Tahun 991 M. Jadi tahun 997 M yang terdapat pada dinding merupakan pembuatan Petirtaan Jolotundo yang dipersiapkan Udayana (taken from here).

Yak, jadi.. Jolotundo itu punya bentuk seperti ini:

Dibagian kanan, ada aksara kuno dengan bentuk seperti ini:

Artinya adalah: “899 Saka”, alias tahun 977 Masehi.

Sedangkan disebelah kiri, ada aksara kuno dengan bentuk seperti ini:

Dan artinya adalah: “Gempeng” yang dalam bahasa Indonesia saat ini artinya adalah hancur, luluh lantak, remuk.

Disisi kanan, ada sebuah bilik yang diperuntukkan untuk pengunjung pria berendam/ mandi yang konon, dahulunya adalah bilik mandi raja:

Tapi aku engga berani datangi dan banyak fotoin bilik itu karena sungkan, booo. Itu kan isinya laki semua, ntar dikira mau cariin FPI mainan (dengan bikin foto bugil), haha. Bilik milik pria itu cenderung lebih utuh dan indah dibandingkan bilik disebelah kiri, tempat para wanita berendam/ mandi (tempat yang aku beri tanda bintang) yang dahulunya, konon adalah bilik mandi ratu:

Candi ini merupakan monumen cinta kasih Raja Udayana untuk menyambut kelahiran anaknya, Prabu Airlangga, yang dibangun 997 M. Sumber lain menyebutkan bahwa candi ini adalah tempat pertapaan Airlangga setelah mengundurkan diri dari singgasana dan diganti anaknya

Satu dari dua kolam mandi itu memang tempat mandi sekaligus berendam sang ratu. Sebuah kolam lainnya untuk sang raja. Dan hingga sekarang pembagian tempat berdasarkan gender tersebut masih berlaku bagi pengunjung (taken from here).

Sama seperti bilik pria, kita-kita perlu berjuang untuk mencapai tempat tersebut. Pertama-tama, kita kudu meniti bebatuan yang disediakan, kemudian menaiki tangga kayu dan menuruni tangga kayu yang menuju kedalam bilik:

Btw, tadi kan aku cerita bahwa aku mendaki sisi candi, kan? Yup, aku mendaki hingga atas bilik wanita dan inilah pemandangannya:

Huah, mumet ngeliatnya! Jadi, akhirnya aku teruskan ‘pendakian’ hingga akhirnya tiba di bagian belakang candi. Pertama-tama, yang aku lihat adalah ini:

Hoho, ada yang sedang berdoa! Dan sesajinya lengkap sekali. Saking lengkapnya, aku sampe ga berani mendekat *penakut.com* dan mengambil foto dari jarak jauh saja. Diseberang tempat itu, ada batu puncak candi:

Batu dipuncak itu, disembahyangi. Banyak dupa dan bunga yang disajikan. Well, ini memang tempat yang disucikan, kawan. Terutama oleh penganut agama Hindu. Aku pernah dengar, bahwa banyak orang Hindu dari Bali yang pergi ke petirtaan ini untuk sembahyang.

Dan dari belakang batu puncak itu, aku mengambil beberapa foto ke arah bawah:

Oh, luar biasa sekali! Manusia-manusia lainnya entah kemana. Aku bisa mendapatkan foto Jolotundo tanpa manusia. Akhirnya gemericik airnya pun bisa aku dengarkan, begitu merdu walau sayup-sayup masih terdengar pekikan dari mulut anak kecil diiringi teriakan dari orang tuanya *hadeeeh*.

Aku ga ambil pusing, lah. Aku fotoin saja petirtaan cantik ini terus menerus selagi masih dapat sinar matahari sore:

Jolotundo ini sebenarnya memiliki 3 kolam yang hanya bisa nampak jelas jika diambil fotonya dari atas:

Tiap kolam sepertinya memiliki filosofinya masing-masing.

Jika dilihat lebih detail, bangunan yang terbuat dari batu andesit ini memang menampakkan keistimewaan. Pahatan relief yang halus, menandakan jika proses pembuatannya membutuhkan tenaga terampil. Juga bentuk bangunan yang terkesan tidak biasa dengan 52 pancuran airnya. Ke 52 pancuran itu memuntahkan air jernih yang tanpa henti meski musim kemarau tiba.

Ratusan ikan berbagai jenis, tumbuh liar di kolam bagian bawah. Meski demikian, tak satupun pengunjung yang berani mengambil ikan-ikan itu. Mereka percaya, mengambil ikan di lokasi ini akan berbuntut petaka. Lantaran itu, pengunjung lebih memilih memberi makan ikan dari pada mengambilnya.

Di teras bagian tengah dahulu terdapat batu kemuncak yang berfungsi sebagai pancuran air, batu tersebut disangga oleh 16 panel ber-relief. Sudah sejak lama batu-batu ber-relief ini tinggal sebagian, sebagian lagi di museum (taken from here).

Bicara soal pancuran airnya, di Petirtaan/ Candi Jolotundo ini airnya mengalir dari 52 pancuran yang tidak pernah berhenti sejak tahun 997 masehi (weh.. sudah 1000 tahun lebih!!) dan air yang dialirkan bukanlah sembarang air:

Berada di lereng gunung Penanggungan, tepatnya di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, lokasi wisata ini terbilang istimewa. Selain bentuk bangunan candi yang memang tak biasa, juga kualitas air yang dimiliki. Dari dua kali penelitian oleh tim arkeolog dari Belanda, kualitas air petirtan Jolotundo ini telah dibuktikan.

“Penelitian tahun 1985, kualitas air di petirtan Jolotundo menduduki rangking 5 dunia,” terang Sunaji, juru pelihara yang juga petugas Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan.

Penelitian kedua juga dilakukan arkeolog Belanda pada tahun 1991. Hasilnya, kualitas air petirtan Jolotundo menduduki peringkat 3 dunia. Tentu saja hasil itu bukan main-main. Karena ternyata, kandungan mineral air petirtan ini sangat tinggi. Itupun bisa dibuktikan jika kita menyimpan air ini dalam jangka waktu yang lama.

“Pernah kita uji coba dengan menyimpan air ini selama 2 tahun. Bau, warna dan rasanya tak berubah,” tambahnya.

Oleh beberapa kalangan, air petirtan Jolotundo tak hanya diyakini memiliki kandungan mineral yang tinggi. Lebih dari itu, sebagian mereka percaya jika ada obat awet muda di dalamnya. Lagi-lagi, karena kayanya kandungan bahan alami dari air yang bersumber dari pegunungan itu. Sunajipun meyakini, karena dari sumber mata air yang berada di dataran tinggi itu terdapat banyak tumbuhan rempah-rempah.

“Air ini telah melalui penyaringan-penyaringan. Tapi memang, banyak tumbuhan rempah-rempah di atas. Sehingga air ini diyakini bisa menjadi obat awet muda,” katanya.

Whuhauahua, mantabbb!!! Aku langsung ingat dengan air titipan Mami. Jadi, aku langsung colek-colek Pak Eddy, sopir kita hari itu, untuk bantu aku mendapatkan air.

Aku maunya air dari kolam pertama (yeah, namanya juga buat Mami, kudu yang the best.. ya to???). Padahal untuk menuju tempat tersebut, ga mudah (benernya sih aku bisa, tapi pijakan yang menurutku relatif aman diberi tulisan “jangan diinjak”). Kudu melangkah antara 2 batu pintu bilik (yang kalo misalnya amit2 sampe jatuh/ kepleset, fatal akibatnya deh):

See? Bahaya kan, itu? Hahaha (aslinya aku takut melangkah dibagian itu :p), thank you Pak Eddy!

Nah, beberapa orang yang malas/ takut berjalan ke bilik/ niru Pak Eddy, bisa meniru si adek kecil ini:

Sayangnya, beberapa anak lain sibuk memainkan bunga-bunga yang dipersembahkan disana. Kalau aku jadi dia/ orang tua mereka, hal itu jelas-jelas akan aku larang. Seperti yang aku tadi sudah tulis, Petirtaan/ Candi Jolotundo ini adalah sebuat tempat yang disucikan oleh mayoritas umat Hindu dan rasanya kok kurang sopan jika dupa dan terutama bunga-nya dijadikan mainan @__@ (sorry, ini pendapat pribadi yah).

Lokasi seluas 1 hektar ini bukan hanya menjadi tempat wisata sejarah saja. Sebagian orang justru memanfaatkan tempat tersebut sebagai tempat wisata religi. Tak heran pada setiam malam Jumat, akan ada puluhan orang yang memilih berdiam diri di tempat ini hingga pagi. Terlebih malam bulan purnama. Mereka meyakini tempat ini memiliki kelebihan untuk memunculkan berbagai permintaan.

“Paling ramai jika bulan purnama. Banyak yang semedi,” tukasnya (taken from here).

Dan ingat, jangan gunakan sabun/ shampoo saat mandi/ berendam ditempat ini!

Setelah puas memfotoi Petirtaan/ Candi Jolotundo, Pak Cip mengajak kita kesisi kanan untuk melihat ini:

Dulunya, bagian itu terletak didepan batu dengan guratan elips ini:

Susah membayangkan? Mungkin foto berikut bisa membantu:

Dan bagian berukir indah tadi, tidak sendiri. Mahkota ini konon berada diatas ukiran diatas:

Sayang, semuanya tidak dikembalikan ke tempatnya semula. Bahkan di mahkota ini berada di posisi paling belakang dari batu-batu reruntuhan candi yang dikumpulkan dalam halaman kecil disamping kanan Petirtaan/ Candi Jolotundo.

Ukiran batu cantik dan mahkota itu, keduanya disembahyangi. Nampak beberapa dupa dan bunga juga diletakkan didekat keduanya.

Petirtaan/ Candi Jolotundo memang bukan sembarang bangunan, aku mengamati bahwa bentuknya begitu unik, tidak ada petirtaan/ candi lain dengan bentuk seperti ini. Ukirannya pun dari andesit (bahan candi di Jawa Timur kan seringnya dari batu bata) dan diukir sedemikian halus:

Jika dilihat lebih detail, bangunan yang terbuat dari batu andesit ini memang menampakkan keistimewaan. Pahatan relief yang halus, menandakan jika proses pembuatannya membutuhkan tenaga terampil. Juga bentuk bangunan yang terkesan tidak biasa dengan 52 pancuran airnya. Ke 52 pancuran itu memuntahkan air jernih yang tanpa henti meski musim kemarau tiba (taken from here).

Oh ya, bicara soal ikan-ikan yang ada disana:

Ratusan ikan berbagai jenis, tumbuh liar di kolam bagian bawah. Meski demikian, tak satupun pengunjung yang berani mengambik ikan-ikan itu. Mereka percaya, mengambil ikan di lokasi ini akan berbuntut petaka. Lantaran itu, pengunjung lebih memilih memberi makan ikan dari pada mengambilnya (taken from here).

Inget, engga boleh diambil dan mendingan diberi makan, wekekekek. Andai aku tahu bahwa ada ikan sebanyak itu, pasti aku akan bawa pakan ikan dari rumah. Pasti menyenangkan kan, memberi makan ikan-ikan itu. Mereka akan mendekat ke kita, berebutan makan. Aih, bikin inget Warung Bambu di Batu haha!

Uniknya, saat Googling kesana kemari, aku mendapat foto ini:

Nampak kalo airnya tinggi bener, yak? Itu  sejajar dengan pembatas bilik mandi pria, loh! Jadi, kalo ada cowo berdiri didalam bilik, badannya bisa terendam setinggi dada/ lebih @__@. Padahal saat aku kesana, tampaknya tinggi air di bilik cuman semata kaki. Wah.. (kemana airnya yah, kok juga engga tinggi2?).

Well, Petirtaan/ Candi yang menyenangkan. Tapi kita lebih cinta Petirtaan/ Candi Belahan/ Sumber Tetek, hehe. Entah, kenapa. Mungkinkah karena lebih susah didatangi sehingga rasanya lebih wow, ketika tiba ditujuan? Atau karena disana tidak perlu bersusah-susah untuk mandi/ main air, karena engga ada bilik dan ikan? Entah, tapi aku bener-bener dibuat jatuh cinta dengan Petirtaan/ Candi Belahan/ Sumber Tetek itu.

Kitapun akhirnya pergi dari Petirtaan/ Candi Jolotundo untuk ketujuan berikutnya. Makan! Hehe..

Share

Post to Twitter