Candi Sanggrahan (Tulungagung); Dikelilingi Relief Macan Aneka Rupa..

Candi Sanggrahan di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung adalah candi yang berikutnya aku datangi setelah dari Candi Gayatri. Saat menuju ke Candi Sanggrahan, aku sempatkan diriku untuk browsing dan inilah yang aku dapat:

Candi Sanggrahan atau Candi Cungkup adalah candi pemujaan Buddha, letak di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Candi berbentuk bujursangkar dan terdiri dari bangunan kaki, tubuh dan atap. Candi ini peninggalan Kerajaan Majapahit, dibangun sekitar tahun 1350, dulunya merupakan candi tempat penyimpanan abu kerabat raja Majapahit. Bagian kaki candi sangat luas, tinggi dua meter, terdapat dinding relief harimau. Di bagian tangga ada reruntuhan batu bekas gapura. Pengunjung tahun 2005 total 2.548 orang. Dulu ada enam buah patung budha namun karena ditakutkan ada penjarahan maka patung disimpan dirumah juru kunci sebelah selatan candi. Disekitar candi kita dapat menemui banyak peninggalan sejarah yang berserakan di sekitarnya ada sebuah tugu pemujaan sebelah utara candi juga sebuah umpak di utara tugu dan jika anda menggali tanah disekitar candi maka akan banyak ditemukan gerabah kuno peninggalan masa lalu (taken from here).

Tapi, dari petugas di Museum Daerah, inilah kisah yang aku dapat:

Bangunan kecil yang berada di sebelah timur bangunan induk hanya tersisa bagian bawahnya saja. Dulu di tempat ini terdapat lima buah arca Buddha yang masing-masing memiliki posisi mudra yang berbeda (demi keamanan arca tersebut sekarang tersimpan di rumah Juru Pelihara). Candi ini terletak di Dusun Sanggrahan, Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu. Pada umumnya kompleks Candi Sanggrahan terdiri dari sebuah bangunan induk dan dua buah sisa bangunan kecil lainnya. Bangunan induk tersusun dari batuan andesit dengan isian bata. Bangunan induk berukuran panjang 12,60 m,lebar 9,05 m,dan tinggi 5,86 m. Bangunan ini tersusun dari empat tingkat yang masing-masing berdenah bujursangkar dengan arah hadap ke barat. Bangunan Candi ini berada pada teras/undakan berukuran 5,10 m x 42,50 m. Pagar penahan undakan itu adalah bata setinggi tidak kurang dari dua meter.

Latar Belakang Sejarah

Para ahli sejarah menduga bahwa Candi Sanggrahan dibangun untuk tempat istirahat dari rombongan pembawa jenazah pendeta wanita Buddha dari Majapahit bernama Gayatri yang bergelar Rajapadni. Jenazah itu dibawa dari Keraton Majapahit untuk menjalani upacara pembakaran di sebuah tempat di sekitar Boyolangu. Belakangan, dipercaya abu jenazahnya disimpan di Candi Boyolangu. Dimungkinkan Candi Sanggrahan dibangun pada jaman Mahapahit di masa pemerintah Raja Hayam Wuruk (1359-1389 M) (taken from here).

Soal jumlah patung Buddha, beberapa orang/ situs internet menyebutkan jumlahnya 6, bukan 5. Tapi sayang, saat aku kesana, rumah si juru kunci tidak berhasil ditemukan. Semuanya pada ngejawab “ga tahu”. Olala!

Btw, jalan menuju candi ini mulus banget loh. Engga ada tanjakan/ geronjalan. Pemandangannya sih biasa saja, beda dengan perjalanan kita ke Jolotundo/ Belahan, karena sudah dikepung rumah. Sesampainya di lokasi, kita masih kudu jalan dulu sebentar:

P1340140 copyP1340141 copy

Saat itu aku ngga liat dimana candinya, tapi aku lihat ada pos penjaga. Jadi, tujuanku adalah ke pos penjaga tersebut. Namun, ditengah perjalanan ada tumpukan bata yang familiar (karena sizenya beda dengan bata saat ini yang pendek):

P1340150 copyP1340147 copy P1340143 copy

Aku merasa sudah dekat dengan si candi dan bener. Lihat deh, Candi Sanggrahannya sudah nampak!

P1340142 copy

Tapi kita bisa aja seenaknya naik bata-bata itu untuk mendekat ke candi, tapi aku sebagai pengunjung yang sopan *halah*, tetap berusaha mendatangi pos-nya dahulu untuk mendaftarkan diri.

P1340273 copy

Ternyata pos-nya kosong! Juru kuncinya pun ga ada. Wah, OK deh.. Abis tolah toleh, nampaklah ada anak tangga dan akupun segera menuju kesana:

P1340148 copyP1340152 copy P1340153 copy

Anak tangganya unik, batanya disusun vertical pada bagian tengah sehingga tampak cantik:

P1340155 copyP1340276 copyP1340154 copy P1340156 copyP1340157 copy

Awalnya agak ragu naikin anak tangga itu, haha! Maklum, aku kan segede kuda nil dan anak tangga itu sudah berusia 700an tahun @__@, tapi dengan hati-hati dan komat kamit doa manggil perewangan agar punya ilmu ringan tubuh, akhirnya aku bisa sampai diatas!

Diatas, tampaknya ada bekas gapura masuk yang sudah runtuh, sedangkan si candi nampak berada ditengah sebuah ‘lapangan’ yang malu-malu ditutupi dedaunan:

P1340272 copy P1340271 copy

Ada semacam garbang tanpa atap sejajar dengan anak tangga paling atas:

P1340158 copyP1340258 copy

Dan inilah, Candi Sanggrahan itu:

P1340225 copyP1340252 copy P1340161 copy P1340251 copyP1340263 copy

Ini foto si candi dengan ‘gerbangnya’, untuk mempermudah kalian membayangkan keadaan:

P1340260 copy

Sebenernya, bisa sih kalo mau naikin candi ini, tapi melihat susunan batunya yang acak adut di tangga naik, aku memilih engga menaikinya dan mengelilingi candi. Ada batu berbentuk bulatan didekat tangga naik:

P1340250 copy P1340163 copy

Candi ini ada reliefnya sih, tapi engga membentuk cerita, melainkan hanyalah macan dengan aneka gaya dan rupa (aku fotoin lengkap nih):

P1340164 copy P1340165 copy P1340166 copy P1340167 copy P1340168 copyP1340169 copy P1340170 copy P1340171 copy P1340172 copy P1340173 copy P1340174 copy P1340175 copy P1340176 copy P1340177 copyP1340178 copy P1340179 copy P1340182 copy P1340183 copy P1340184 copy P1340185 copy P1340186 copy P1340187 copy P1340188 copy P1340189 copy P1340190 copy P1340191 copyP1340205 copy P1340206 copy P1340207 copy P1340208 copy P1340209 copy P1340211 copy P1340212 copy P1340213 copy P1340214 copy P1340215 copy P1340216 copy P1340218 copy P1340219 copy P1340220 copy P1340221 copy P1340227 copy P1340228 copy P1340229 copy P1340230 copy P1340231 copy P1340232 copy P1340233 copy P1340234 copy P1340235 copy

Cakep yah, macannya! Dan cenderung utuh, cuma 1-2 relief saja yang sudah mulai memudar. Tapi, ada 1 batu yang polosan, entah karena belum dipahat/ merupakan batu baru hasil renovasi:

P1340236 copy

Disisi belakang candi, ada tumpukan batu bata lagi nih:

P1340263 copy

Mungkinkah itu bangunan lain (yang sudah runtuh?).

Selain bannunan itu, berdekatan dengan badan candi, ada batu berpahat dengan bentuk seperti ini:

P1340195 copy

Enteh apa fungsinya. Tingginya lumayan tuh:

P1340200 copy

Yang perlu dihargai dari tempat ini (selain keberadaan candinya) adalah kebersihannya! Ini adalah candi yang terbersih, hingga dapat penghargaan loh! Wekekekek, tapi bener, ga ada sebiji sampahpun yang aku temukan. Wah, hebat deh Bapak penjaganya! Lihat saja jalan setapak ini, super bersih:

P1340261 copy

Kehadiran ‘pagar’ batanya yang masih bertahan selama ini juga jempolan. Walau sudah hampir roboh (atau bahkan tinggal puing pada beberapa titik), namun tembok tua ini masih bertahan dari air, hujan, pijakan pengunjung, juga akar-akar rumput/ tanaman yang ada, padahal kan jaman dulu antar bata ini kan engga direkatkan dengan apapun:

P1340274 copy P1340275 copyP1340282 copy P1340284 copy

Batanya pun spesial, ukurannya (menurutku) lebih besar daripada yang di museum-museum Trowulan. Aku coba ukur dengan telapak kakiku dan wew, batanya jauh lebih besar.. haha! Beberapa pecahan bata yang ditata sebagai lantai juga nampak ada beberapa yang berhiaskan bentuk-bentuk lingkaran (yang serupa namun tidak sama dengan yang aku juga lihat di Candi Gayatri):

P1340267 copy P1340266 copy

Share

Post to Twitter