Paradise Dynasty (Surabaya); Oh, I Love It!

Beberapa waktu lalu saat makan rame-rame bersama kawan di Jade Imperial, seorang diantara kawanku bilang bahwa ada tempat makan lamien yang enak (bahkan lebih enak dari Jade Imperial!), di Ciputra World Surabaya, bernama Paradise Dynasty. Wah, jadi penasaran.

Maka, minggu kemarin aku kesana:

Memang, datang beberapa saat sebelum jam makan. Jadi, kita sempat masuk waiting list. Sementara menunggu meja kosong, aku mengamati sekeliling *halah*, hehe. Wah, tempat ini bener-bener ramai loh! Duduk ditempat pojooook pun, ada pelanggan yang mau..

Dalam benakku ya hanya la mien, la mien, la mien saja.. (lha wong kata temanku la miennya enak) tapi yang ini langsung menarik perhatian:

Itu adalah si colorful xiao lung bao, menu andalan Paradise Dynasty (dengan pilihan daging babi/ non babi). Oh, kita langsung tancap gas memesannya! Ada yang dijual per warna, namun karena pengen icip-icip, maka kita pesan yang isi 8, ada 8 warna dengan 8 rasa yang hadir dimeja kita lengkap dengan kepulan asap hangat:

Tiap warna beda rasa, loh. Yang putih adalah versi original dengan rasa kaldu babi yang terasa manis. Hijau: ginseng, coklat: foie gras (hati angsa), hitam: black truffle, kuning: keju yang lumer, orange: telur kepiting, abu-abu: rasa bawang putih/ garlic yang agak tajam. Dan yang pink adalah rasa Szechuan yang sedikit terasa pedas:

Foie gras and black truffle menurut website Paradise Dynasty adalah “king of the king”:

Certainly, a feast of the senses of such magnitude would not be complete without a feast for the palate. Paradise Dynasty is set to delight with both northern and southern Chinese cuisine, with an innovative touch. Delve into the legend of Paradise’s Xiao Long Bao as we pay tribute to this time-honoured delicacy with eight types of fusion xiao long bao . Touted as a world-first, our xiao long bao comes in never-tried-before flavours like crab roe, cheese, garlic, herbal, ma la and the kings among kings – foie gras and black truffle (taken from here).

Tapi kita lebih suka dengan si original, garlic dan Szechuan. Bahkan menurutku pribadi, yang original adalah yang paling yumm walau secara warna, si original ini paling ga menarik: putih.

Xiao long bao ini paling asik dimakan saat panas (sesaat sebelum disajikan), dan ada caranya loh. Si xiao long bao kudu dikoyak sedikit dengan sumpit diatas sendok bebek, biarkan kaldunya mengalir keluar. Boleh dihirup kaldunya/ dibiarkan, kemudian tambahkan cuka dan irisan jahe dan dimakan.

Puas icip xiao long bao, muncullah ‘snack’ pesananku yang lagi batuk ini: lumpia goreng! Hahaha (batuk kan bikin tenggorokan kering, jadi butuh makanan berminyak untuk ‘melicinkan’ tenggorokan):

Kulitnya crunchy bahkan sampai saat kita hampir pulang, si lumpia tetap saja renyah, juga tidak terlalu berminyak *love it*.

Nah, sebagai menu utama, tidak lain tidak bukan adalah si la mien! La mien dengan irisan daging babi ini adalah salah satu best sellernya:

Pertamanya kaget ngelihat, wuikk.. kuahnya putih, seperti susu, gitu.. Dan mangkoknya luar biasa besar, wakakakak:

Dan didalam mangkok besar itu, si kuah kaldu yang putih merendam rumput laut segar, potongan daging babi, setengah telur rebus setengah matang, la mien, sayur dan potongan daun bawang. Bedanya dengan menu la mien best seller lainnya hanya pada jenis dan rasa dagingnya saja:

Jadi, kalo yang pertama tadi berisi irisan daging babi, la mien yang satu ini dilengkapi dengan potongan perut babi/ pork belly. Selain itu, jenis mienya, kuahnya, sayurnya, semua sama.

Si pork belly, dagingnya terasa manis dan empuk. Kalau si irisan daging babi, rasanya terlalu hambar untukku.

Dan yang best of the best adalah yang satu ini:

Eits, kok polosan? Haha! Tunggu dulu.. si daging, muncul belakangan, tadaaa..

Hauhauaha, itu adalah la mien baikut goreng, pesananku! Dan bukan karena (kebetulan) itu adalah pesananku, maka aku bilang adalah la mien paling uwenak, tapi emang yumm! Daging baikutnya lembut dan hangat, terasa gurih dan manis dengan kulit yang rada cruncy, disajikan terpisah agar tetap renyah.

Agak repot saat makan, karena kudu potongi dulu baikutnya tapi dibandingkan dengan la mian irisan daging sapi dan pork belly, si baikut ini bener-bener worth it. Ga apalah repot dikit, wakakakkk! Oh ya, waktu pembuatannya pun lebih lama dibandingkan dengan la mien lain. Jadi, saat kedua kawanku sudah habiskan setengah isi mangkok mereka, pesananku baru datang, haha!

La miennya enak, dimakan gitu aja udah enak, tapi aku menambahkan sedikit sambal dan hasilnya jadi lebih uwenak lagi, wakakakak! Kawanku melalui page laurentiadewi.com memberi komentar: “mie ini enak bangetsss wie…. suka bangetsss”.

Oh ya, ada lagi yang ini nih:

Yang ini adalah irisan mentimun segar dan dingin plus crunchy, digulung oleh irisan tipis daging babi, diberi semacam sambal dan rasanya aduhai bener deh! Mentimun dinginnya yang crunchy tuh tabrakan dengan daging babi yang hangat dan dipadukan dengan sambal yang sedikit pedas, wah..  sluuurph *lap iler*.

Minumnya? Hihi, aku pesan chinese tea *alim*. Dan lihatlah, tekonya cakep yah:

Harganya cuma 5ribu saja tapiii.. engga seperti kebanyakan resto lain, yang memberikan pot/ teko teh di meja. Yang ini, sistemnya seperti Sushi Tei: pelayannya akan datang mengisi gelas2 kosong. Jauh lebih berkualitas ketimbang sistem teko (yang kalo tehnya sudah putih, ga boleh nambah teh, kecuali beli lagi), karena kepekatan teh-nya sama terus:

Dan inilah sejarah singkat Paradise Dynasty:

The Paradise Story began with a small spark that fired into a grand influence.

The little spark began with Seafood Paradise – a humble 25-seater coffee shop in Defu Lane in 2002. Its location was inconspicuously set in an industrial area. In many ways, it lacked glitz and glamour but the taste it offered more than made up for it. The foodies in Singapore came by in the droves, in support of the sumptuous yet reasonably priced dishes.

Spurred by this success, our founder Eldwin Chua was determined to make Seafood Paradise a prominent showcase and opened a second outlet at the iconic Singapore Flyer. This brought Seafood Paradise to the height of attention. The brand gathered not just a local fan base but an international crowd appreciative of Singapore seafood delights. Then, Paradise was poised to grow into a successful brand.

Being a culinary enthusiast and a visionary entrepreneur, Eldwin continues to grow the Paradise brand. Having honed his culinary and business talents, he kept firm to his belief in creating great food at good value for food lovers.

In a short span of a decade, the Paradise empire grew rapidly into six well-received restaurant concepts with more than fifteen restaurants and plans for more new concept and addition of six or more new outlets by end of 2011. Apart from our restaurants, Paradise Group also has a catering arm which brings the irresistible taste of paradise to homes, private and corporate functions. Our brand continues to be embraced by many and our flames are invigorated by your support. Let your discerning palates embrace the wonders of Paradise! (taken from here).

Recommended, Wi? Oh, banget! Makanya aku bela-belain untuk segera publish review ini. Dan satu hal yang bikin aku (makin) suka dengan tempat ini: pelayanannya bagus, padahal ini kan tempat makan baru (untuk Surabaya). Engga ada kebegoan pelayan, makanan yang tumpah/tidak rapi, makanan yang tidak/ lama/ salah keluar. Perfecto, mereka sangat ramah, bahkan aku sempat becanda dengan seorang diantara mereka yang menyodorkan baikut gorengku sambil bilang, “yummmm”, wekekekek..

Oh ya, ada menu non babinya juga kok :)

Share

Post to Twitter