Arca/ Petilasan Tribhuwana Wijayatunggadewi (Mojokerto); Andai Utuh, Inikah Arca Terbesar di Indonesia?

Sama sekali tidak terpikirkan bahwa aku akan menjumpai arca Tribuanatunggadewi, ratu perempuan pertama Kerajaan Majapahit yang memerintah tahun 1328-1351.

Nama asli Tribhuwana Wijayatunggadewi (atau disingkat Tribhuwana) adalah Dyah Gitarja. Ia merupakan putri dari Raden Wijaya dan Gayatri. Memiliki adik kandung bernama Dyah Wiyat dan kakak tiri bernama Jayanagara. Pada masa pemerintahan Jayanagara (1309-1328) ia diangkat sebagai penguasa bawahan di Jiwana bergelar Bhre Kahuripan (taken from here).

Bahkan, jangankan merencanakan mencari arca ini, mengetahuinya pun, tidak! Lalu, bagaimana aku bisa menemukannya?Aku menemukannya sebagai ‘bonus’ dari pencarianku terhadap Yoni Klinterejo/ Yoni Bhre Kahuripan/ Yoni Tribhuwana Tunggadewi alias Tribhuwana Wijayatunggadewi, di Mojokerto.

Yoni itu disebut-sebut sebagai yoni terbesar, lebih besar dari Yoni Sedah yang menawan itu. Karena rasa penasaran akan besarnya lah, akhirnya aku melakukan perjalanan menuju Mojokerto untuk mencarinya:

Lokasinya? Pergilah ke arah Candi Brahu dan kemudian sering-seringlah bertanya karena tidak ada ancer-ancer/ nama jalan yang bisa aku berikan. Dalam perjalanan ketempat itu kemarin, aku bertanya tidak kurang dari 5x dan akhirnya bisa menemukan. Sebutkanlah nama “Tribuana/ Klinterejo/ Bhre Kahuripan” sebagai password.

Ketika akhirnya sampai, tidak ada juru kunci yang datang menyambut:

Yang ada hanyalah beberapa pemuda bergaya ‘modern’ dengan telinga ditindik lubang besar, celana jeans maha ketat dan gelang kulit dengan hiasan logam. Wah, mendadak jadi mengurungkan niat karena was-was, lha wong kita itu ditengah hamparan sawah nan luas. Teriak kesetanan pun, engga akan ada manusia yang mendengar. Ihik!

Nah, ada untungnya aku engga segera masuk, haha, karena aku jadi membaca papan biru ini:

Tuh, ada tulisan menggunakan spidol yang sepertinya adalah nama bapak penjaganya, Pak Nur. Ada nomor teleponnya pula: 085732355710 Jadi, aku segera merogoh tas, mencari smart phone-ku yang engga smart (karena ditempat itu signalnya buruk) untuk mulai menelepon Pak Nur. Tapi belum selesai menyalin nomor ke HP, eh.. ada seorang pria datang dengan sepeda motor.

Orang itu langsung bilang, “Mari”, ke kita dan berjalan mendahului. Wah, inikah Pak Nur? Hehe, sepertinya iya.

Kita melewati sebuah bangunan yang pendek dengan sebuah jendela kecil disisi belakangnya. Aku sempat melihat ke arah jendela itu dan ketakutan setengah mati karena nampak ada sesuatu yang besar dan hitam didalam sono! Lha kok ya si Pak Nur kemudian berhenti disisi balik bangunan itu dan membuka pintunya *jrengggg*:

Tertulis dengan jelas namanya, “Petilasan Tri Buana Tungga Dewi” (penulisannya dipenggal-penggal begitu). Lah? Apa pula ini?

Si Pak Nur tidak mau menjelaskan (dulu), dia mempersilakan kita untuk melihat sendiri, hiiii.. *merinding*. Maka dengan agak ketakutan, aku melongokkan kepala kedalam bangunan sambil membungkuk (pintunya pendek euy, lihat saja difoto atas, tingginya cuma seleher Pak Nur sehingga jika ingin melihat/ masuk, kita harus membungkuk).

Gelap! Jadi keluarkan kamera, setting paksa blitsnya dan inilah yang didalam ruangan:

Sungguh diluar dugaan, karena awalnya aku kira bentuknya hanyalah batu dudukan biasa (kan biasanya petilasan-petilasan cuma berupa ‘onggokan’ batu saja), lha kok yang ini dihias kain, bendera, payung, wah.. colorfull banget deh pokoknya. Apakah ini?

Pak Nur memasuki ruangan, membuatku akhirnya berani masuk kedalam. Sambil bersila, Pak Nur (akhirnya mau) jelaskan bahwa awalnya ini adalah sebuah arca nan elok dan diyakini bahwa sosok Tribhuwana Wijayatunggadewi lah yang terpahat indah.

Namun sayang, pada masa peralihan (dari Hindu Buddha ke Islam), arca ini dihancurkan. Jika biasanya, hanya bagian kepala sajalah yang dirusak, tidak demikian dengan arca ini. Seluruh sosok wanita yang terukir indah itu dihancurkan hingga tidak meninggalkan bentuk. Tidak itu saja, arca itu kemudian ditidurkan dalam keadaan terbalik dan ditinggalkan begitu saja.

Aih! ‘Dosa’ apa yang dibuat arca ini sehingga dia demikian bernasib malang, sigh..

Tidak ada sisa kecantikan dari arca ini, terutama pada bagian depan. Namun dibagian samping, nampaklah kalau sebenarnya arca ini memang dibuat dengan indah dan rapi:

Lihat, bagian belakangnya halus mulus dan simetris. Depannya? Aih, hancur hancur hancur..

Banyak temuan benda bersejarah oleh warga setempat tergeletak begitu saja. Seperti pernah terjadi di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko. Benda-benda tersebut terkumpul di petilasan Tribuana Tungga Dewi, yang berada di tengah areal persawahan. Beberapa benda bersejarah itu belum tersentuh upaya penyelamatan yang dilakukan oleh pemerintah melalui Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur di Trowulan.

Sedikitnya ada 15 buah umpak raksasa dan sekira 2.500 buah batu bata kuno bertengger di tempat itu. Sudah lama benda-benda itu ditemukan warga setempat. Itikad baik warga menyelamatkan benda peninggalan nenek moyang itu ternyata tidak disokong pemerintah. “Bahkan warga sendiri yang mengangkut dari lokasi temuan ke sini. Semua sudah dilaporkan ke BP3,” ungkap Zainal Abidin, Sekretaris Desa Klinterejo.

Desa Klinterejo memang sarat dengan benda peninggalan Majapahit. Di sekitar petilasan Tribuana Tungga Dewi, ditemukan puluhan sumur dan tembok-tembok kuno. Warga sendiri telah menawarkan itikad baik dengan merelakan tanah seluas 2,5 hektare sawah mereka untuk digali guna menemukan benda bersejarah lainnya. Namun tawaran warga itu juga tak mendapat respon dari BP3 setempat. “Atas saran BP3 juga, kami diminta mengajukan itu dengan kompensasi Rp 10 juta. Tapi sampai detik ini belum ada tembusan,” tukasnya (taken from here).

Untung, bagian belakangnya masih sedap dipandang:

Ada pahatan berbentuk pohon beringin dibagian punggung:

Pohon itu disebut juga oleh Pak Nur sebagai pohon Kalpataru, pohon kehidupan.

Bagian depan dan belakang arca ini, dipuja:

Dibagian depan dan belakangnya pun, ada tempat untuk pengunjung ‘bertapa’. Dan konon, memang banyak yang datang ke tempat ini.

Kalau selempang putih dan kuning, itu selempang pemberian pengunjung untuk memberikan penghormatan kepada sang Ratu. Ya, seperti ratu-ratu jaman sekarang lah, yang pakai selempang:

Dan arca ini tinggi loh! Duh Gusti, andaikan saja dia tetap utuh, mungkinkah ini arca (wanita) terbesar di Indonesia?

Share

Post to Twitter