Pasanggrahan Djojodigdan (Blitar); Rumah Bupati Blitar, Mertua RA. Kartini

Ga kenal dengan Djojodigdan? Oh, tidak apa.. kawan. Normal kok, itu. Aku sendiri juga engga kenal, bahkan engga pernah dengar namanya sampe akhirnya ada siaran di TV yang menyiarkan tentang Djojodigdo (pemilik Pasanggrahan Djojodigdan):

Maka untuk lebih mengenalnya, mari.. silakan dibaca dulu yang ini:

Menurut cerita yang beredar dan dari beberapa sumber informasi, beliau merupakan sahabat dekat Pangeran Diponegoro dan dia juga merupakan keturunan darah biru Mataram. Sepak terjang Eyang Djojodigdo berkaitan erat dengan Perang Diponegoro (melawan Belanda) selama masa peperangan lima tahun (1825-1830), beliau merupakan salah satu pengikut setia Pangeran Diponegoro.

Beliau lahir pada tanggal 29 Juli 1827, banyak orang percaya bahwa beliau mempunyai Ajian Pancasona. Aji Pancasona merupakan ilmu yang bila pemiliknya mati, dia akan hidup kembali dengan catatan tubuhnya menyentuh tanah. Dalam epos Ramayana, hanya ada satu orang yang dikenal memiliki Aji Pancasona. Dia adalah Subali, saudara kembar Sugriwa. Mereka berdua berasal dari bangsa kera. Namun, karena rayuan Rahwana, ajian ini jatuh ke tangan raja Alengka. Dengan kesaktiannya itu, konon Joyodigdo tak hanya sekali tertangkap dan dieksekusi mati oleh Belanda. Namun, karena mempunyai Aji Pancasona, begitu jasadnya dibuang (dan menyentuh tanah), dia hidup kembali tanpa sepengetahuan kompeni. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda, Joyodigdo (yang usianya masih sekitar 30 tahun kala itu) masih meneruskan gerilya. Karena Yogyakarta dijaga terlalu banyak pasukan Belanda, Joyodigdo memilih bergerilya ke arah timur. Sepanjang perjalanan, dia menyerang tiap pos Belanda yang lengah.

Sesampainya di Blitar, Joyodigdo berhasil mengusir Belanda dari wilayah ini. Keberadaan Joyodigo pada akhirnya diketahui oleh Adipati Blitar. namun Joyodigo menolak saat Adipati memintanya datang dengan alasan sibuk melatih laskar untuk melawan Belanda. Dua tahun kemudian, utusan Adipati kembali datang dengan maksud meminta Joyodigdo untuk menggantikan patih Kadipaten Blitar yang mangkat. Joyodigdo pun menerima permintaan ini. Dia kemudian diberi tanah perdikan yang sekarang berada di Jln. Melati, Blitar. Di tanah ini Joyodigo mendirikan rumah besar untuk keluarganya yang diberi nama Pesanggrahan Joyodigdo yang hingga sekarang pun masih berdiri kokoh. Eyang Joyodigdo pun wafat pada 1905 di usia 100 tahun lebih. Bagi yang tertarik untuk menguasai Ajian ini, konon syarat utamamnya adalah melakukan puasa ngalong, yaitu bergelantungan di pohon dengan posisi kepala di bawah (seperti kalong) selama 40 hari 40 malam tanpa makan dan minum. Ada yang bermininat?

Karena khawatir akan hidup lagi begitu menyentuh bumi, kemudian oleh para kerabat, makamnya diusahakan agar tidak menyentuh tanah. Jasad Joyodigo dimasukkan ke dalam peti besi, dan peti itu kemudian disangga dengan empat tiang yang juga terbuat dari besi seperti yang tampak sekarang ini.

“Di usia yang sudah lebih seratus tahun, kan kasihan kalau Eyang terus menerus hidup lagi setelah meninggal. Karena itu, makamnya dibuat menggantung agar tidak menyentuh tanah. Kalau asal-usulnya ya, seperti yang saya katakan tadi. Eyang Joyodigo merupakan keturunan darah biru dari Mataram dan pernah menjadi patih di Kadipaten Blitar sini. Kalau saudara beliau, mantan bupati Rembang yang juga suami dari RA. Kartini,” terang juru kunci yang telah menjaga makam Eyang Joyodigo lebih dari 20 tahun.

Sebagai makam seorang tokoh sakti pada zamannya, kini makam Eyang Joyodigo pada hari-hari tertentu banyak didatangi oleh para peziarah. Terutama yang datang dari kalangan spiritualis. Beda dengan para peziarah biasa, kaum spiritualis ini datang ke makam Eyang Joyodigo dengan maksud tertentu, yakni ingin berguru kepada Eyang Joyodigo dengan cara gaib. Tujuannya, agar mendapat titisan ilmu Aji Pancasona.

Menurut juru kunci, hingga kini, tak seorangpun spiritualis yang berhasil mendapatkan titisan ilmu Aji Pancasona dari Eyang Joyodigo. Jangankan diberi titisan ilmu Aji Pancasona, diberi ilmu yang kesaktiannya dibawah Aji Pancasona saja tidak. Bahkan tak jarang, para spiritualis yang sedang menjalani laku di makam Eyang Joyodigo, justru diusir dengan suara tanpa rupa.
“Apa dikira mudah belajar ilmu Pancasona. Karena salah satu syaratnya yaitu harus bertapa Ngalong, menggantung di pohon dengan kepala di bawah selama empat puluh hari empat puluh malam tanpa makan dan minum. Yang datang ke sini itu kan cuma spiritualis masa kini. Mereka bukannya mendapat ilmu, tapi justru diusir,” papar juru kunci sembari tertawa.

Bagi masyarakat Blitar, selain makam sang Proklamator, makam Eyang Joyodigo juga dikeramatkan. Sebagai makam yang dikeramatkan, menurut Boiran, makam Eyang Joyodigo dijaga dua sosok gaib berwujud dua binatang besar, yakni seekor ular sebesar batang pohon kelapa, serta seekor harimau loreng sebesar anak sapi.Menurut juru kunci lagi, tak hanya dirinya saja yang pernah melihat kemunculan dua sosok gaib berwujud binatang itu. Konon, tak sedikit para peziarah, khususnya kaum spiritualis, yang melihat kemunculan dua sosok gaib berwujud ular dan harimau itu.

Menurut Mbah Man, sebenarnya dua sosok gaib penjaga makam ini, dulunya merupakan pengawal pribadi Eyang Joyodigo semasa hidup yang berasal dari bangsa lelembut berwujud binatang. Karena kesetiaannya kepada majikan, hingga Eyang Joyodigo wafat, kedua sosok gaib itu masih setia menunggui makam majikannya (taken from here).

Nah, rumah Djojodigdan itulah yang kini dikenal dengan nama Pasanggrahan Djojodigdan:

Lokasinya di Jalan Melati 43, Blitar.

Pasanggrahan ini, selalu dalam keadaan tertutup. Aku sempat kebingungan, bagaimana bisa masuk ke dalam. Tidak ada bel-nya, juga engga ada gembok buat diketok-ketok. Eh? Ga ada gembok? Oho…. *akal bulus*, kalo ga ada gemboknya kan berarti ga dikunci, yah. Jadi, aku buka saja pagarnya dan nekad masuk:

Suasananya sepiii, engga ada siapapun *mencekam, euy!*. Barulah setelah berteriak beberapa kali sambil terus jalan menuju ke halaman belakang, tiba-tiba munculah seorang ibu dari sebuah rumah kecil dan sederhana:

Dan dengan bantuannyalah, kita akhirnya bisa masuk ke Pesanggrahan Djojodigdan, lewat teras belakang rumah:

Pasanggrahan ini, sudah tidak lagi ditempati oleh siapapun. Ibu penjaga tadi, tinggal dibangunan lain diluar pasanggrahan ini. Namun anehnya, keadaan rumah itu seolah-olah bukanlah rumah kosong tanpa penghuni. Hawanya beda, bukan hawa rumah kosong! Hehe.. (dan kata penjaganya, kadang kursi dan beberapa perabotnya berpindah tempat sendiri, seperti abis dipakai oleh ‘seseorang’).

Hampir seluruh dindingnya dipenuhi pigura berisi foto-foto:

Eeeits, familiar dengan beberapa foto? Hehe, yeaaa.. itu foto RA. Kartini Sosroningrat bersama suaminya, RMAA. Singgih Djojo Adhiningrat.

Heran, kenapa fotonya ada di pasanggragan ini? Hehe, jangan terlalu lama heran. Foto mereka ada di pasanggragan ini karena suami RA KArtini, si RMAA. Singgih Djojo Adhiningrat, adalah anak dari Djojodigdo:

Dengan kata lain, Djojodigdo adalah mertua laki-laki dari RA. Kartini, sodara-sodara! Wekekek..

Selain itu, anak turun Djojodigdo lainnya, ada yang menikahi artis-artis Indonesia masa kini, seperti Aldi Bragi, ex suami pedangdut Ike Nurjanah, atau Cyril Raoul Hakim, suaminya si Wanda Hamidah:

Rumah ini memiliki beberapa kamar, yang salah satunya adalah kamar tidur dari Djojodigdo:

Yeah, ada beberapa kasur didalam kamarnya. Demikian pula, di kamar tidur istri Djojodigdo ini:

Sedangkan kamar lainnya, yang mungkin dahulu difungsikan untuk anak-anak/ tamu, juga penuh ranjang dan kasur, hehe:

Dan ada 1 ciri, pada tiap kamar: jendelanya geddddde, tinggi banget! Yeah, secara bangunannya pun tinggi :).

Kalo perabotan, secara keseluruhan nampak biasa saja. Walau si Djojodigdo ini Bupati ningrat yang juga mertua RA. Kartini, engga ada kemewahan yang mencolok dari perabotan yang tersisa sehingga sempat terpikirkan olehku, apa mungkin perabot aslinya udah pada menyebar di anak keturunannya yah? Hehe, soalnya perabotan yang ada, selain terlalu sederhana, juga terlalu ‘modern’ untuk seorang Bupati yang hidup di tahun 1800an:

Yang pasti, rumah ini dikelilingi dengan tanah yang luaaaas banget! Bahkan, Djojodigdo sendiri (beserta kerabat dekatnya) dimakamkan di areal perkarangan rumahnya sendiri, loh. Istimewa? Oh, belum seberapa. Yang lebih super lagi, makam Djojodigdo ini disebut-sebut sebagai makam gantung loh.

Nah! Penasaran? Haha! Monggo, click disini!

Share

Post to Twitter