Prasasti Klagen (Sidoarjo); Prasasti Peninggalan Airlangga dengan Batu Anakan yang Membesar

Habis berpuas diri gila-gilaan di Candi Dermo, perjalanan dilanjutkan menuju sebuah prasasti. Namanya adalah Prasasti Klagen di Dusun Klagen, Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo:

Di Kabupaten Sidoarjo dijumpai cukup banyak situs kuno. Di antaranya, prasasti peninggalan Raja Airlangga bertahun 959 Masehi. Prasasti beraksara Sansekerta itu berada di Dusun Klagen, Desa Tropodo, Kecamatan Krian.

Sira ratu cakrawarta umanun pamanghanikan rat hita pratidina panlingananikan sabhuwanari tan sharta kewala cri maharaja, yawat kawanunann yaca donanya, an kapwa kinalimban juag denira, sahana san byan sarwwa dharma kabeh.

Begitu kutipan tulisan di prasasti yang terbuat dari batu cadas setinggi 2,19 meter, tebal 29 sentimeter, dan lebar 1,16 meter tersebut.  Artinya kira-kira:

“Seorang bisa memutar roda dunia ini, apabila ia membuat dan menemukan hal-hal yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Apabila di dunia ini ada tanda tidak makmur, hanyalah Cri Maharaja [yang bertanggung jawab]. Tujuannya ialah untuk membuat jasa oleh Cri Maharaja agar selalu diperhatikan semua tempat-tempat makam suci.”

Osin [51 tahun] merupakan penjaga alias juru kunci situs ini. Dia bilang, batu prasasti ini bertujuan untuk mengingatkan kepada rakyat [masa itu] bahwa di kawasan Dusun Klagen terdapat tambak luas pemberian Raja Airlangga dari Kerajaan Kediri.

“Dulu warga mendapatkan lahan dari sang raja untuk dibuat area pertanian dan tambak,” kata Osin.

Masih menurut Osin, prasasti tersebut juga menceritakan bahwa tempo doeloe di wilayah tersebut ada sungai bernama Kalagyan, pecahan dari Sungai Brantas. Sungai tersebut dianggap keramat oleh raja. Dan sang raja menyediakan tambak untuk diolah kawula alit.

“Setelah diberi tambak, raja juga memberi lahan pertanian kepada masyarakat untuk diolah,” tutur Osin.

Berkat tambak dan sawah itu, singkat cerita, rakyat hidup makmur. Hasil tambak dan sawah dapat dinikmati sepenuhnya karena raja tidak meminta pajak sedikit pun.

Osin menambahkan, raja pun tidak memungut pajak dari rakyat. Utang rakyat pun tidak dihitung. “Makanya, rakyat pada masa itu sangat damai dan sejahtera,” ujar Osin.

Namun, kemakmuran rakyat sirna setelah diserang air bah dari Sungai Brantas. Tambak dan sawah rakyat hancur. Puluhan tahun rakyat tidak beroleh hasil karena tidak mampu menutup lubang air bah. Berita ini akhirnya sampai ke Kediri. Sang raja akhirnya mendatangi Kalagyan dan berhasil menutup lubang luapan dari Sungai Brantas.

“Air bah itu dianggap oleh Kerajaan Kadiri sebagai musibah besar bagi rakyatnya. Dan ujian itu sampai kini tetap dirasakan oleh rakyat,” papar Osin, serius.

Ayah tiga anak ini meneruskan jejak Supinah dan Naib [bapak dan kakeknya] menjadi juru kunci situs. Sebab, menurut Osin, prasasti itu berdiri di atas lahan milik orang tuanya secara turun-temurun, 85 x 45 meter.

“Pernah pada 1997 tanah kami ditawar orang Australia dengan harga Rp 3 miliar, tapi saya tidak mau,” papar Osin.

Tepat di bawah prasasti terdapat batu kali ‘misterius’. Percaya atau tidak, menurut Osin, batu anakan itu hidup. Kenapa?

“Tiga tahun lalu tingginya hanya 75 sentimeter, sekarang 85 sentimeter,” ujarnya.

Osin bersama keluarganya yakin bahwa puluhan tahun mendatang akan muncul zaman yang mirip cerita di prasasti itu (taken from here).

Prasasti ini berdiri disebuah pekarangan rumah, dipagari dan diberi peneduh permanen. Sayang, aku ga bisa foto prasasti ini secara utuh karena peserta Blusukan Akbar Bol Brutu ini sibuk mengerumuni prasasti:

Jadi, setelah memfoto seadanya, aku pergi untuk mengunjungi sebuah situs dahaga *halah!!!* yang ditemukan tidak jauh dari Situs Klagen, hahahaha:

Dan setelahnya, perjalanan lanjuttttt… menuju Candi Watu Tulis!

Share

Post to Twitter