Joko Dolog (Surabaya); Sang Maha Aksobya yang Tidak Mau Pergi ke Belanda

Aku sudah beberapa kali ke Joko Dolog di Jalan Taman Apsari, Surabaya, lha wong lokasinya dekat dengan mall, bahkan cukup mudah terjangkau dari rumah dan disebelahnya ada warung rujak cingur yang lumayan terkenal (well, inilah aslinya alasanku jadi sering ke Joko Dolog, anter Mami makan rujak.. haha!):

Masalahnya.. pada kunjungan pertama aku tidak bawa kamera *jedok-jedokin kepala ke tembok* dan pada kunjungan kedua, aku sudah bawa kamera dan memfoto semuanya dengan brutal.

Tapiiiii………….. saat aku check dirumah, semua foto dikamera itu lenyap hilang musnah tanpa bekas dan sisa, hoahhhh *nangis bombai meraung-raung*. Karena itulah akhirnya, ada kunjungan ketiga, ihik.

Dan kali ini, foto-fotonya aman (maksudnya: engga hilang!) dan maha komplet wekekekekek (sigh, aku merasa makin lama makin ngawur kalo foto, semua difoto, hiks.. *ama elus2 kamera bututku*). Dimulai dari pintu pagarnya yang cakep. Kala, euy!

Sepertinya, pagar dengan hiasan Kala ini mewakili kala 3 dimensi yang biasanya ada di bangunan-bangunan suci/ candi.

Kemudian, aku memfoto arca yang paling dekat pintu masuk:

Arca ini sedikit mengingatkanku dengan arca yang aku temui di Museum Trowulan. Engga mirip-mirip amat sih, tapi posisinya dan si kelamin dalam posisi ‘berjaya’ itu serupa. Ya, kan? Hihi *please say yes!*:

Arca ini ada 2, masing-masing posisinya ada di kiri dan kanan pintu masuk.

Sejajar dengan kedua arca itu (berderet di jalan masuk utama), ada beberapa arca lain yang berdiri rapi:

Beberapa diantaranya tampak sudah lama disana sehingga dibalut akar gantung pohon beringin:

Bicara soal pohon beringin, pohon beringin yang ada di Joko Dolog ini bener-bener sudah tua. Saking tuanya, akarnya bahkan tumbuh menjadi pohon baru *yeaaah!*:

Dan tahukah kalian bahwa akar pohon beringin yang sudah menyentuh tanah konon mujarab sebagai obat? Well, informasi itu aku dapat dari seorang kawan yang kakeknya adalah seorang sinshe. Hal ini dulu susah didapat dan di Joko Dolog, wow.. hampir semua akar gantungnya menyentuh tanah, loh!

Akarnya demikian lebat hingga menurutku mulai menyerupai tirai. Tirai alam yang indah:

Kembali ke soal arca-arca yang ada disana. Ada sekitar 5-6 arca yang aku suka karena kecantikannya, juga uniknya! Yang ini, misalnya..

Aku ga pernah nemu bentukan seperti ini. Di Joko Dolog, ada 2 bentukan ini yang masing-masing diletakkan dikanan dan kiri:

Yang sebelah kanan, agak miring karena terkena akar beringin. Dan ternyata, dibelakang patung Joko Dolog, ada lagi 1 bentukan yang serupa namun tidak sama (ukirannya berbeda, lebih molek):

Kata bapak penjaganya, ini adalah penggambaran dari mahkota. Wow!

Kemudian, ukiran ini:

Demikian indahnya dan entah, dahulunya diposisikan dimana. Apakan berdiri sendiri/ menyatu dengan bangunan (/candi)? Ada juga, bentukan serupa dengan ukiran pohon beringin dengan keadaan fisik yang sudah lagi sempurna:

Dan yang ini, wow banget kan ya? Ukirannya cakep deh! Dan ada 2, juga diletakkan dikanan kiri, didekat tangga yang menuju ke sang Joko Dolog:

Btw, dari tadi bicara soal Joko Dolog mulu tapi wujudnya ga muncul-muncul, haha! Sabarrrr.. Iniloh, si Joko Dolog itu:

Siapakah Joko Dolog ini? Beberapa versi menyebutkan bahwa Joko Dolog ini adalah perwujudan dari Sri Maharaja Kertanagara, raja terakhir Singhasari:

Sri Maharaja Kertanagara (meninggal tahun 1292), adalah raja terakhir yang memerintah kerajaan Singhasari. Masa pemerintahan Kertanagara dikenal sebagai masa kejayaan Singhasari, dan ia dipandang sebagai penguasa Jawa pertama yang berambisi ingin menyatukan wilayah Nusantara. Menantunya Raden Wijaya, kemudian mendirikan kerajaan Majapahit sekitar tahun 1293 sebagai penerus dinasti Singhasari. Kertanagara adalah putera Wisnuwardhana raja Singhasari tahun 1248-1268. Ibunya bernama Waning Hyun yang bergelar Jayawardhani. Waning Hyun adalah putri dari Mahisa Wunga Teleng (putra Ken Arok pendiri Singhasari).

Istri Kertanagara bernama Sri Bajradewi. Dari perkawinan mereka lahir beberapa orang putri, yang dinikahkan antara lain dengan Raden Wijaya putra Lembu Tal, dan Ardharaja putra Jayakatwang. Nama empat orang putri Kertanagara yang dinikahi Raden Wijaya menurut Nagarakretagama adalah Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri.

Berdasarkan prasasti Mula Malurung, sebelum menjadi raja Singhasari, Kertanagara lebih dulu diangkat sebagai yuwaraja di Kadiri tahun 1254. Nama gelar abhiseka yang ia pakai ialah Sri Maharaja Sri Lokawijaya Purusottama Wira Asta Basudewadhipa Aniwariwiryanindita Parakrama Murddhaja Namottunggadewa.

Berdasarkan Prasasti Padang Roco yang bertarikh 1286, Kertanagara bergelar ?r? mah?r?j?dhir?ja k?tanagara wikrama dharmmottunggadewa[1].

Kertanagara naik takhta Singhasari tahun 1268 menggantikan ayahnya, Wisnuwardhana. Menurut Pararaton ia adalah satu-satunya raja Singhasari yang naik takhta secara damai. Kertanagara merupakan sosok raja Jawa pertama yang ingin memperluas kekuasaannya mencakup wilayah Nusantara. Namun diakhir hayatnya, Kertanagara terbunuh dalam pemberontakan Jayakatwang.

Untuk mewujudkan ambisinya, dilaksanakanlah ekspedisi Pamalayu (Pamalayu bermakna perang Malayu) yang bertujuan untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan di Sumatra sehingga dapat memperkuat pengaruhnya di selat Malaka yang merupakan jalur ekonomi dan politik penting. Ekspedisi ini juga bertujuan untuk menghadang pengaruh kekuasaan Mongol yang telah menguasai hampir seluruh daratan Asia.

Beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa Ekspedisi Pamalayu ini bertujuan untuk menjalin kekuatan untuk menghadapi orang Mongol dari Dinasti Yuan yang berkedudukan di Khanbalik (Beijing sekarang). saat itu Dinasti Yuan atau dikenal sebagai Dinasti Mongol sedang melakukan ekspansi wilayah bahkan memiliki bentangan yang cukup luas, dari Korea hingga Rusia (Kievan Rus), Timur-Tengah (menghancurkan dinasti Abbasiyah di Baghdad) dan Eropa Timur. Dan pada tahun tahun itu, Dinasti Mongol berusaha mengadakan perluasan diantaranya ke Jepang dan Jawa. Jadi maksud ekspedisi ini adalah untuk menghadang langsung armada Mongol agar tidak masuk ke perairan Jawa.

Pengiriman pasukan ke Sumatera dilakukan pada tahun 1275 di bawah pimpinan Kebo Anabrang. Pada tahun 1286 Bhumi Malayu dapat ditundukkan. Kemudian Kertanagara mengirim kembali utusan yang dipimpin oleh rakry?n mah?-mantri dyah adwayabrahma membawa arca Amoghapasa sebagai tanda persahabatan dan hubungan diplomatik dengan Kerajaan Dharmasraya yang saat itu rajanya bernama ?r? mah?r?ja ?r?mat tribhuwanar?ja mauliwarmmadewa[1].

Pada tahun 1284 Kertanagara juga berhasil menaklukkan Bali, dan membawa rajanya sebagai tawanan menghadap ke Singhasari.

Pada tahun 1289 datang utusan Kubilai Khan yang bernama Meng Khi, meminta agar Kertanagara tunduk kepada kekuasaan Mongol dan menyerahkan upeti setiap tahunnya. Kertanagara menolak permintaan itu, bahkan melukai wajah Meng Khi. Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Kertanegara bahkan sampai memotong salah-satu telinga Meng Khi.

Untuk membalas hal itu, beberapa tahun kemudian Kubilai Khan mengirim pasukan yang dipimpin Ike Mese untuk menaklukkan Singhasari. Pasukan tersebut mendarat di Jawa tahun 1293 di mana saat itu Kertanagara telah lebih dulu meninggal akibat pemberontakan Jayakatwang.

Dalam bidang agama, Kertanagara memperkenalkan penyatuan agama Hindu aliran Syiwa dengan agama Buddha aliran Tantrayana. Oleh karena itu dalam Pararaton. Kertanagara sering juga disebut Bhatara Siwa Buda.

Menurut Nagarakretagama, Kertanagara telah menguasai semua ajaran agama Hindu dan Buddha, Itu sebabnya Kertanagara dikisahkan pula dalam naskah-naskah kidung sebagai seorang yang bebas dari segala dosa. Bahkan, salah satu ritual agamanya adalah berpesta minuman keras.

Gelar keagamaan Kertanagara dalam Nagarakretagama adalah Sri Jnanabajreswara, sedangkan dalam prasasti Tumpang ia bergelar Sri Jnaneswarabajra. Kertanagara diwujudkan dalam sebuah patung Jina Mahakshobhya (Buddha) yang kini terdapat di Taman Apsari, Surabaya. Patung yang merupakan simbol penyatuan Syiwa-Buddha itu sebelumnya berasal dari situs Kandang Gajak, Trowulan, yang pada tahun 1817 dipindahkan ke Surabaya oleh Residen Baron A.M. Th. de Salis. Oleh masyarakat patung tersebut dikenal dengan nama Joko Dolog.

Dalam Pararaton dikisahkan, Kertanagara memecat para pejabat yang berani menentang cita-citanya. Antara lain Mpu Raganata diturunkan dari jabatan rakryan patih menjadi ramadhyaksa. Penggantinya bernama Kebo Anengah dan Panji Angragani. Sedangkan Arya Wiraraja dimutasi dari jabatan rakryan demung menjadi bupati Sumenep.

Menurut Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama perombakan susunan kabinet tersebut mengundang ketidakpuasan antara lain dari Kalana Bhayangkara yang memberontak pada tahun 1270 (dalam Nagarakretagama ia disebut dengan nama Cayaraja). Selain itu Nagarakretagama juga menyebutkan adanya pemberontakan Mahisa Rangkah tahun 1280. Disebutkan kalau Mahisa Rangkah adalah tokoh yang dibenci penduduk Singhasari.

Kedua pemberontakan tersebut dapat dipadamkan. Namun pemberontak yang paling berbahaya adalah Jayakatwang bupati Gelang-Gelang yang menewaskan Kertanagara pada tahun 1292.

Kertanagara tewas akibat pemberontakan Jayakatwang bupati Gelang-Gelang, yang merupakan sepupu, sekaligus ipar, sekaligus besannya sendiri. Dikisahkan dalam Pararaton, Kidung Harsawijaya, dan Kidung Panji Wijayakrama, Jayakatwang dipengaruhi Arya Wiraraja supaya memberontak. Jayakatwang merupakan keturunan Kertajaya raja terakhir Kadiri yang dikalahkan Ken Arok leluhur Kertanagara tahun 1222. Sedangkan Arya Wiraraja adalah mantan pejabat Singhasari yang sakit hati karena telah dimutasi ke Sumenep.

Pasukan Jayakatwang dipimpin Jaran Guyang bergerak menyerang Singhasari dari utara. Kertanagara mengirim kedua menantunya, yaitu Raden Wijaya putra Lembu Tal dan Ardharaja putra Jayakatwang untuk melawan. Tetapi Ardharaja kemudian bergabung ke dalam pasukan ayahnya.

Pasukan Jaran Guyang hanyalah pancingan supaya pertahanan ibu kota kosong. Pasukan kedua Jayakatwang menyerang dari selatan dipimpin Patih Kebo Mundarang. Saat itu Kertanagara sedang mengadakan pesta minuman keras sebagai salah satu ritual agamanya. Ia lalu keluar menghadapi serangan musuh. Kertanagara akhirnya tewas dibunuh tentara pemberontak bersama Mpu Raganata, Patih Kebo Anengah, Panji Angragani, dan Wirakreti.

Menurut Nagarakretagama, Kertanagara dicandikan bersama istrinya di Sagala sebagai Wairocana dan Locana, dengan lambang arca tunggal Ardhanareswari (taken from here).

Patungnya, terbuat dari batu andesit kehitaman dan kini diberi jubah orange, persembahan berupa bunga sedap malam dan mangkok tempat hio. Semuanya, terletak diatas ‘sejenis altar’ yang dinaungi dengan atap permanen hasil sumbangan orang-orang yang merasa doa dan permohonannya terkabul setelah berdoa ditempat ini.

Yang tidak aku ketahui dari 2 kunjungan sebelumnya adalah bahwa ada prasati pada badan Joko Dolog, tepatnya pada dudukan sang arca:

Dan prasasti ini bernama Prasasti Wurare:

Prasasti Wurare adalah sebuah prasasti yang isinya memperingati penobatan arca Mahaksobhya di sebuah tempat bernama Wurare (sehingga prasastinya disebut Prasasti Wurare). Prasasti ditulis dalam bahasa Sansekerta, dan bertarikh 1211 Saka atau 21 November 1289.[1] Arca tersebut sebagai penghormatan dan perlambang bagi Raja Kertanegara dari kerajaan Singhasari, yang dianggap oleh keturunannya telah mencapai derajat Jina (Buddha Agung). Sedangkan tulisan prasastinya terletak di alas lapik arca Buddha tersebut, yang ditulis melingkar pada bagian bawahnya.

Prasasti berbentuk sajak 19 bait, yang di antaranya menceritakan tentang seorang pendeta sakti bernama Arrya Bharad, yang membelah tanah Jawa menjadi dua kerajaan dengan air ajaib dari kendinya, sehingga masing-masing belahan menjadi Janggala dan Pangjalu. Pembelahan dilakukan untuk menghindari perang saudara antara dua pangeran yang ingin berperang memperebutkan kekuasaan.[2][3]

Arca mulanya ditemukan di daerah Kandang Gajak. Kandang Gajak termasuk dalam wilayah desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Di tahun 1817, arca dipindahkan ke Surabaya oleh Residen Baron A.M. Th. de Salis, dan saat ini terdapat di Taman Apsari, dekat pusat Kota Surabaya, Jawa Timur.[4] (taken from here).

Dan karena mengamati prasasti itu, aku jadi mengamati detail sang Joko Dolog yang aslinya adalah sosok Buddha Aksobya. Badannya diikuti lengkungan lembut dan ada ukiran tipis pada bagian punggungnya:

Sedangkan dibagian depan, kurang bisa aku perhatikan karena tertutup jubah.

Namun telapak tangan dan kakinya lumayan memiliki detail:

Ada kisah mistik mengikuti kehadiran sosok yang tampak tenang ini..

Arca Budha Mahasobya (Patung Joko Dolog) adalah perwujudan raja Kertanegara. Menurut legenda patung ini dibuat pada tahun 1211 Caka atau tahun 1289 Masehi di pemakaman Wurarare (Lemahtulis) kediaman Mpu Bharadah atau desa Kedungwulan dekat Nganjuk Jawa Timur. Patung tersebut dibuat untuk menghormati Kertanegara Putra Wisnu Wardhana sebagai raja Singosari pada masa itu. Beliau terkenal karena kebijaksanaannya, pengetahuannya yang luas dalam bidang hukum dan ketaatannya pada agama Budha serta cita-citanya yang ingin mempersatukan wilayah Nusantara.

Legenda lain menyebutkan bahwa Kertanegara membangun patung untuk menghilangkan kutukan Mpu Bharadah yang dapat menggagalkan usahanya mempersatukan kerajaan – kerajaan yang terpisah – pisah pada saat itu. Menurut keterangan Bupati Surabaya (Regent), patung Joko Dolog berasal dari kandang gajah.

Pada tahun 1827 pemerintah Hindia Belanda yang waktu itu dibawah Residen De Salls memindahkan patung tersebut ke Surabaya dan ditempatkan di Taman Apsari, seringkali dikunjungi orang untuk memberi penghormatan dan mengekspresikan harapan mereka. Berlokasi di jalan Taman Apsari – Surabaya Pusat, bebas dikunjungi dan memiliki areal parkir yang memadai untuk segala kendaraan (taken from here).

Sumber lain menyebutkan:

Patung Joko Dolog merupakan gambaran masa lalu dimana kehidupan masa itu orang Jawa masih banyak yang sakti karena ucapan-nya dapat menjadi kenyataan walau tidak disengaja. Orang Jawa pada masa dulu yaitu disebut jaman Budhha banyak yang menjaga dirinya baik dari segi ucapan maupun rejeki yang dia makan, juga secara bathiniah dijaga supaya terhindar dari rasa iri dan dengki, karena iri dan dengki sumber dari segalah masalah dan malapetaka. Dari sini ucapan orang dulu seketika bisa menjadi kenyataan.

Patung Joko dolog dalam legenda berasal dari manusia pemalas yaitu berasal dari jejaka yang kerjanya setiap hari hanya duduk termangu (melamun) tidak mau membantu bekerja orang tua-nya bekerja di sawah dan ladang atau bertani, karena dikutuk oleh Ibunya dengan cara tidak sengaja.

Setiap hari baik siang atau malam, pagi atau sore Joko Dolog ini hanya duduk melamun tidak mau membantu orang tuanya bertani. Dalam bahasa Jawa, istilahnya adalah “deleg-deleg” yaitu duduk melamun tidak menghiraukan sekitarnya. Biarpun begitu kedua orang tuanya tetap menyayangi, walau sering kali diminta supaya ikut membantu orang tuanya masih tetap saja kerjanya duduk melamun tidak menghiraukan orang Tua-nya.

Pada suatu saat tejadilah perubahan besar dimana waktu itu Ibu si jejaka pemalas ini merasa jengkel, yaitu pada saat pulang dari sawah melihat anak jejakanya duduk termangu tidak menghiraukan sekitarnya. Berkatalah Ibunya “Koen kaet maeng isuk sampek awan kok mek lungguh gak gelem ngrewangi wong Tuwo kerjo. Lungguh deleg-deleg gak obah blas koyok Patung!”. Maka seketika itu si Jejaka Berubah menjadi Patung karena kutukan Ibunya.

Dari perubahan ini Ibu jejaka itu menyesali dan menangis-lah sang Ibu karena tidak tahu kalau ucapan-nya menjadi nyata. Kini anak satu-satunya yang dia sayangi menjadi patung batu. Kemudian Ibu itu memberinya nama yaitu Joko Dolog yang berasal dari kutukan yang dilakukan. Joko dari kata “jejaka” dan Dolog dari kata “deleg-deleg” (taken from here).
Namun, kisah yang paling banyak aku dengar adalah yang versi ini:

Nama Joko Dolog, diambil dari kata Joko (Jogo) dan Dolog (Kayu), pemberian nama ini tentu tidak lepas dari sejarah saat pertama kali patung ini ditemukan di tumpukan kayu  yang terpendam tanah.

Sejarah penemuan Arca Joko  Dolog, tidak terlepas dari legenda yang tersebar dimasyarakat, ada beberapa versi yang mengatakan, Arca Joko Dolog ditemukan di didaerah Malang pada Tahun 1812 oleh Belanda, akan dikapalkan ke Amsterdam, lewat pelabuhan Ujung Galuh sekarang Tanjung Perak.

“Saat mau di pindahkan ke kapal, Arca tidak dapat diangkut, meskipun dengan berbagai macam cara telah dilakukan namun hasilnya tetap nihil, akhirnya diputuskan untuk tidak dibawa ke Belanda” Ujar Sugianto.

Arca Joko Dolog, imbuh Sugianto, sudah mengalami beberapa kali renovasi kurang lebih dua kali. Pada tahun 1957 Arca Joko Dolog diberi “alas duduk” berupa batu. Sebelumnya, Arca Joko Dolog bersila di tanah tanpa alas. Pemugaran areal pertapaan Jogo Dolog dimulai sejak tahun 1998, dengan pembangunan joglo atau atap untuk melindungi keberadaan Joko Dolog.

Literatur sejarah yang ditulis dalam versi lain menyebutkan Arca ini  ditemukan didaerah Kediri perbatasan Kabupaten Nganjuk, ada pula yang menyatakan Arca Joko Dolog ditemukan di Trowulan Mojokerto di desa Kandang Gajah, yang pada zamannya Arca ini untuk persembahan rakyat Majapahit (taken from here).

Share

Post to Twitter