Makam Gantung Djojodigdo (Blitar); Makam Cantik di Pekarangan Pasanggragan Djojodigdan

Setelah puas mengubek-ubek rumahnya (read here), kta pun mulai menyusuri pekarangan Djojodigdan yang aseeeli luas banget (saking luasnya nih, tanahnya bisa untuk berkebun, main bola, senam ibu-ibu 1 kelurahan, juga camping dan petak umpet):

Tuh kan, nampak banget kalo untuk ke makamnya saja, jalannya seperti menembus hutan *lebai*, hehe. Dan akhirnya, setelah sekitar 5-10 menit jalan kaki super santai, tibalah kita didepan sebuah pagar:

Itulah kompleks makam yang masih menjadi satu dengan tanah di Pasanggrahan Djojodigdan. Nah, konon.. didepan pagar itu ada macan yang mondar mandir loh. Macan jadi-jadian, pastinya :D (kalo macan beneran, akunya udah lari dari tadi-tadi :D), hehe!

Setelahnya, aku segera masuk ke kompleks pemakaman. Penasaran dengan yang namanya makam gantung itu! Apakah makamya digantung? Atau gimana, sih?

Dan ternyata makam Djojodigdo, adalah makam yang paling mudah dikenali. Bentuknya paling mencolok dari semua makam yang ada disana:

Makamnya dilidungi dengan atap yang cantiiik banget! Suka deh dengan desain atapnya. Di atap itu pula, konon tersimpan baju dan beberapa benda pribadi Djojodigdo. Dari atap itu pula aku dapat informasi sederhana mengenai tanggal lahir dan tanggal kematian Djojodigdo:

Sedangkan makamnya sendiri, terbuat dari marmer berukir yang anggun:

Lha? Kok makam biasa? Apanya yang digantung-gantung?

Well, yang dimaksud dengan makam gantung adalah: jenazahnya tidak menyentuh tanah. Jasad Joyodigo dimasukkan ke dalam peti besi dan peti itu kemudian disangga dengan empat tiang, sebelum akhirnya diuruk dengan tanah.

Kenapa jenazahnya diperlakukan demikian ‘istimewa’? Tidak lain tidak bukan karena konon, Djojodigdo ini memiliki sebuah ilmu yang luar biasa sakti. Ilmu Pancasona:

Menurut cerita yang beredar dan dari beberapa sumber informasi, beliau merupakan sahabat dekat Pangeran Diponegoro dan dia juga merupakan keturunan darah biru Mataram. Sepak terjang Eyang Djojodigdo berkaitan erat dengan Perang Diponegoro (melawan Belanda) selama masa peperangan lima tahun (1825-1830), beliau merupakan salah satu pengikut setia Pangeran Diponegoro.

Beliau lahir pada tanggal 29 Juli 1827, banyak orang percaya bahwa beliau mempunyai Ajian Pancasona. Aji Pancasona merupakan ilmu yang bila pemiliknya mati, dia akan hidup kembali dengan catatan tubuhnya menyentuh tanah. Dalam epos Ramayana, hanya ada satu orang yang dikenal memiliki Aji Pancasona. Dia adalah Subali, saudara kembar Sugriwa. Mereka berdua berasal dari bangsa kera. Namun, karena rayuan Rahwana, ajian ini jatuh ke tangan raja Alengka. Dengan kesaktiannya itu, konon Joyodigdo tak hanya sekali tertangkap dan dieksekusi mati oleh Belanda. Namun, karena mempunyai Aji Pancasona, begitu jasadnya dibuang (dan menyentuh tanah), dia hidup kembali tanpa sepengetahuan kompeni. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda, Joyodigdo (yang usianya masih sekitar 30 tahun kala itu) masih meneruskan gerilya. Karena Yogyakarta dijaga terlalu banyak pasukan Belanda, Joyodigdo memilih bergerilya ke arah timur. Sepanjang perjalanan, dia menyerang tiap pos Belanda yang lengah.

Sesampainya di Blitar, Joyodigdo berhasil mengusir Belanda dari wilayah ini. Keberadaan Joyodigo pada akhirnya diketahui oleh Adipati Blitar. namun Joyodigo menolak saat Adipati memintanya datang dengan alasan sibuk melatih laskar untuk melawan Belanda. Dua tahun kemudian, utusan Adipati kembali datang dengan maksud meminta Joyodigdo untuk menggantikan patih Kadipaten Blitar yang mangkat. Joyodigdo pun menerima permintaan ini. Dia kemudian diberi tanah perdikan yang sekarang berada di Jalan Melati, Blitar. Di tanah ini Joyodigo mendirikan rumah besar untuk keluarganya yang diberi nama Pesanggrahan Joyodigdo/ Joyodigdan yang hingga sekarang pun masih berdiri kokoh. Eyang Joyodigdo pun wafat pada 1905 di usia 100 tahun lebih.

Karena khawatir akan hidup lagi begitu menyentuh bumi, kemudian oleh para kerabat, makamnya diusahakan agar tidak menyentuh tanah. Jasad Joyodigo dimasukkan ke dalam peti besi, dan peti itu kemudian disangga dengan empat tiang yang juga terbuat dari besi seperti yang tampak sekarang ini.

“Di usia yang sudah lebih seratus tahun, kan kasihan kalau Eyang terus menerus hidup lagi setelah meninggal. Karena itu, makamnya dibuat menggantung agar tidak menyentuh tanah. Kalau asal-usulnya ya, seperti yang saya katakan tadi. Eyang Joyodigo merupakan keturunan darah biru dari Mataram dan pernah menjadi patih di Kadipaten Blitar sini. Kalau saudara beliau, mantan bupati Rembang yang juga suami dari RA. Kartini,” terang juru kunci yang telah menjaga makam Eyang Joyodigo lebih dari 20 tahun.

Sebagai makam seorang tokoh sakti pada zamannya, kini makam Eyang Joyodigo pada hari-hari tertentu banyak didatangi oleh para peziarah. Terutama yang datang dari kalangan spiritualis. Beda dengan para peziarah biasa, kaum spiritualis ini datang ke makam Eyang Joyodigo dengan maksud tertentu, yakni ingin berguru kepada Eyang Joyodigo dengan cara gaib. Tujuannya, agar mendapat titisan ilmu Aji Pancasona.

Menurut juru kunci, hingga kini, tak seorangpun spiritualis yang berhasil mendapatkan titisan ilmu Aji Pancasona dari Eyang Joyodigo. Jangankan diberi titisan ilmu Aji Pancasona, diberi ilmu yang kesaktiannya dibawah Aji Pancasona saja tidak. Bahkan tak jarang, para spiritualis yang sedang menjalani laku di makam Eyang Joyodigo, justru diusir dengan suara tanpa rupa.

“Apa dikira mudah belajar ilmu Pancasona. Karena salah satu syaratnya yaitu harus bertapa Ngalong, menggantung di pohon dengan kepala di bawah selama empat puluh hari empat puluh malam tanpa makan dan minum. Yang datang ke sini itu kan cuma spiritualis masa kini. Mereka bukannya mendapat ilmu, tapi justru diusir,” papar juru kunci sembari tertawa.

Bagi masyarakat Blitar, selain makam sang Proklamator, makam Eyang Joyodigo juga dikeramatkan. Sebagai makam yang dikeramatkan, menurut Boiran, makam Eyang Joyodigo dijaga dua sosok gaib berwujud dua binatang besar, yakni seekor ular sebesar batang pohon kelapa, serta seekor harimau loreng sebesar anak sapi.Menurut juru kunci lagi, tak hanya dirinya saja yang pernah melihat kemunculan dua sosok gaib berwujud binatang itu. Konon, tak sedikit para peziarah, khususnya kaum spiritualis, yang melihat kemunculan dua sosok gaib berwujud ular dan harimau itu.

Menurut Mbah Man, sebenarnya dua sosok gaib penjaga makam ini, dulunya merupakan pengawal pribadi Eyang Joyodigo semasa hidup yang berasal dari bangsa lelembut berwujud binatang. Karena kesetiaannya kepada majikan, hingga Eyang Joyodigo wafat, kedua sosok gaib itu masih setia menunggui makam majikannya (taken from here).

Hohoho, keren yah!

Nah, balik lagi ke makamnya.. Selain atapnya yang indah, tadi aku sudah sebut bahwa nisannya terbuat dari marmer ukir yang anggun. Lihat saja, ukirannya:

Cakep, yah! Pada batu nisan bagian kakinya, terukir data Djojodigdo dalam aksara Jawa:

Dan selalu saja ada kembang segar yang ditaruh diatas makam.  Kata si penjaganya, bunga-bunga itu ada para peziarah:

Wah, sudah mulai ada yang menziarahi tempat ini, rupanya..

Makam Djojodigdo ternyata bukanlah makam pertama di area ini. Dari nomor yang ditempelkan pada badan nisan, diketahui bahwa ibunyalah yang pertama kali dimakamkan ditempat itu. Dan Djojodigdan adalah orang kedua yang dimakamkan:

Share

Post to Twitter