Kelenteng Hong Tiek Hian / Kelenteng Dukuh (Surabaya); Klenteng Tua yang Cantik dan Unik!

Inilah kelenteng tertua di Surabaya *namun status tua-nya ini masih menjadi perdebatan*!

Dari beberapa informasi yang aku baca,  konon klenteng yang terletak dipecinan kota Surabaya, tepatnya dijalan terletak di Jalan Dukuh Gg. II/2 dan Jalan Dukuh N0.23/i, Surabaya ini, dibangun oleh tentara Tartar pada jaman Kaisar Khu Bi Lai Khan pada awal pendirian kerajaan Majapahit. Dengan Kong Tek Cun Ong sebagai kong co:

Mari berbicara sedikit misteri (pengalaman pribadi) tentang Kelenteng Hong Tiek Hian ini.

1-2 tahun lalu, aku bermimpi berjalan kaki disekitar daerah pecinan. Tidak tahu, pecinan kota apa. Tapi aku berjalan terus sebelum akhirnya berhenti dibawah menara tua berwarna merah yang mengeluarkan asap. Kemudian, aku masuk ke bangunan disebelahnya melalui sebuah gang. Bangunan disebelah kiri, ada jendela bulat. Dikanannya, ada gapura untuk menuju bangunan lain.

Aku belok dan masuk ke bangunan sebelah kiri dahulu. Disana, aku menemukan bangku-bangku panjang yang dipakai oleh beberapa orang untuk melipat uang kertas. Ada seseorang menunjuk keujung ruangan, tapi aku keluar dan pergi ke gapura disebelah kanan gang tadi dan menaiki anak tangga.

Lantainya, pegangan tangganya, semua nampak jelas. Sesampainya diatas, ada beberapa meja besar lagi. Namun entah mengaapa ku takut, hingga kemudian turun dan terbangun.

1-2 bulan setelah mimpi itu, secara tidak sengaja aku pergi ke daerah Ampel untuk foto-foto dengan Donny dan melewati kelenteng ini. Nah, entah mengapa.. secara mendadak aku ingin berhenti di kelenteng ini. Sesaat setelah turun, aku masih OK saja.. Tapi sesaat setelah didepan gang, aha! Aku mulai mengenali semua tempat ini!

Aku tidak berani masuk dan ‘mengutus’ Donny mencocokkan, apakah disebelah kiri ada jendela bulat dan ruang didalamnya adalah ruang lipat uang kertas?

Donny berjalan lurus dan masuk keruangan sebelah kiri. Dia keluar lagi tanpa berkata apa-apa, hanya memanggilku untuk mendekatinya. Dan.. benarlah! Ruangan itu persis sama seperti mimpi :

Dan diruangan ini memang tersedia berbagai perlengkapan sembahyang yang dijual untuk para pengunjung. Termasuk uang-uangan kertas tentunya!

Dan ujung ruangan yang ditunjuk oleh seseorang dimimpiku adalah altar mak co :

Dan jika aku keluar dari bagian bangunan ini, maka nampak gapura yang tadi letaknya disisi kanan gang :

Nah, jika kalian masuki gapura itu, kalian akan menemukan anak tangga seperti ini :

Diujungnya, adalah sebuah menara yang terus-terusan mengepulkan asap :

Kok warnanya coklat kehitaman? Sedangkan dimimpiku warnanya merah? Dan seseorang disana menggosokkan lengan bajunya dan nampaklah bahwa sebenarnya menara ini berwarna merah :

Oops, OK deh..

Btw, ini memang kelenteng 2 tingkat. Ditingkat bawah, ada altar makco dan kong co. Sedangkan diatas, ada altar untuk Buddha, Dewi Kwan Im dan beberapa dewa-dewi lainnya :

Juga ada gapura indah dengan 4 kaki yang disangga teratai :

 

Dibelakangnya ada ‘jembatan’ ke bangunan seberang. Oya, kelenteng ini sebenarnya terdiri dari 2 bangunan berseberangan. Jadi, altar makco dan kong co terdapat di 2 bangunan berbeda. Untuk lantai 2-nya, 2 bangunan berbeda ini dijembatani oleh jembatan yang dijaga 2 ekor naga :

Dari ‘jembatan’ itu, kita bisa melihat kebawah, sebuah perkampungan cina yang mulai sepi karena ‘ditinggalkan’ :

Dan gerbang tempat kita pertama kali masuk :

Dan tanggal 22 Agustus lalu, bertepatan dengan persiapan untuk sembahyang rebutan: sembahyang untuk arwah leluhur. Untuk itu, biasanya anak cucu dan keturunan seseorang yang sudah meninggal membeli sepeti penuh barang berupa baju, sepatu, dll yang semuanya terbuat dari kertas. Barang-barang itu diberi nama dan foto yang nantinya akan didoakan dan dibakar agar ‘sampai’ kepada leluhur yang dimaksud:

Menyenangkan, melihat budaya dan peninggalan leluhur dijalankan dan dirawat dengan baik.

Share

Post to Twitter