Bebek Sinjay (Bangkalan); Ampun, Deh!
Berhubung lagi libur lebaran, menyeberanglah kita ke tanah seberang. Bukan Amerika. Kejauhan, haha :p. Tapi Madura!
Madura, pulau yang sebelumnya ’gitu2 aja’, sejak adanya Suramadu, kini perlahan mulai ‘hidup’ (kalo ada yang ga setuju soal ini, “gue ga peduli!”). Dan salah satu daerah yang sepertinya paling merasakan dampak positif keberadaan Suramadu adalah Bangkalan. Jika beberapa tahun lalu ketika kita susah sekali menemukan toko yang buka, apalagi depot dan SPBU, kini sepanjang jalan dari Suramadu menuju Bangkalan dipenuhi aneka toko (terutama toko batik khas Madura) dan rumah makan.
Nah, yang paling bejubel dari rumah makan-rumah makan lainnya adalah Bebek Sinjay! Lokasinya di Jalan Raya Ketengan no. 45, Tunjung Bumeh, Bangkalan, Madura. 
Tempat ini, cuma menjual 1 menu: nasi dengan bebek goreng Madura. Titik. Engga ada menu-menu lain.
Tempatnya los, semi aula yang bisa menampung untuk sekitar 200-an lebih orang makan bersama. Tidak ada AC (boro-boro AC, kipas anginpun engga ada), meja kursi seadanya (dan kalian kudu bersedia berbagi meja/ kursi dengan orang lain), lantainya disemen biasa, bangunannya semi permanen dengan atap seng sehingga panasnya menjadi-jadi deh.
Tapi itu engga ada apa-apanya dengan perjuangan pembeli untuk mendapatkan nasi bebek goreng Sinjay *sigh*..
m
Setiap orang yang pernah makan ditempat ini pasti tahu susahnya order Bebek Sinjay. Karena dikelola dengan sistem yang masih baheula bin acakadut, pengunjung harus antri bejubel didepan kasir untuk memesan makanan dan langsung membayarnya (pake duit cash ya, tidak ada debet/ credit card). Bukan antri yang ‘baik-baik’, tapi cenderung antri berdesak-desakan yang saling dorong *haizh!*, sementara yang didapur menyiapkan pesanan kita:

Setelah itu, penderitaan belum berakhir. Kita masih disuruh duduk dengan memegang nota yang sudah diberi nomor antrian (serasa seperti di apotek deh). Ntar, kita akan diteriakin sesuai nomor, kemudian digiring untuk antri *again!* diantrian yang berbeda. Aih, sungguh terlalu!
Trus, kalo mau bungkus bebek.. kita kudu antri berdesak-desakan lagi, di loket lain! Istttimewa (_ _”). Dan tentu, pake acara kena dorong dan senggol sana sini lagi. Haiyaaa.. *elus dada*.
Untuk minumnya gimana? Oh, kita kudu pesan dari awal, barengan dengan waktu pesan bebek (di kasir). Nah, ntar.. tuh minuman ga akan diantar satu persatu ke meja kita. Kita2 ini kudu antriii lagi, didepan lemari pendingin untuk ambil minuman kita sendiri. Kalo kehabisan minum trus mau nambah? Ya antriii lagi deh ke kasir, lalu antri lagi ambil minuman. Hidup antriii!
Dan setelah semua proses itu dilalui dengan ketabahan tingkat tinggi dan kesabaran seluas samudra, muncullah piring-piring bebek pesanan kita:

Ealah, ternyata ‘cuma’ nasi, bebek goreng, kremesan, lalapan seadanya dan sambal pencit, booo! Olala..

Kita tidak diperbolehkan meminta ekstra sambal, tidak juga diperbolehkan meminta bagian tertentu dari badan bebek (misalnya: order potongan dada / paha). Pokoknya kudu pasrah. Dapetnya dada, paha, ceker, ekor, jerohan, bahkan leber pun kudu diterima lapang dada dan tulus ikhlas. Dapetnya apa, ya udah.. dimakan aja. Lha wong sudah antri dan menunggu berjam-jam (pake bayar tol 60ribu untuk PP Surabaya – Madura).
FYI, di Sinjay hanya ada 2 wastafel, itupun airnya kecil dan seringnya ga disediakan sabun. Jadi, lebih baik bawa sabun cuci tangan sendiri deh, atau betah-betahin deh tangannya berminyak :p. Cara praktis lainnya: bawa tissue basah!
Kalo mau lebih aman, bawa juga sendok garpu sendiri, karena pada 2x kunjunganku kesana (kunjungan kedua: terpaksa, demi antar seorang kawan yang datang jauh-jauh dari Medan dan penasaran dengan si Sinjay fenomenal ini), susah banget deh minta sendok garpu! Pake antri, antri dan antri lagi. Parahnya, sendok/ garpu yang diberikan sering dalam keadaan kurang layak pakai. Biasanya, masih ada nasi di sela garpu/ sendoknya yang masih berminyak (jangan2 cuma di lap doang lalu dikasihkan ke kita, ya?). Yiaw!
WC-pun hanya ada 2 lho, sehingga kalo ada yang sakit perut setelah makan.. whuahauha, bakal kena kiamat kecil deh *ketawa bulus*. Kebayang kan, dengan pengunjung sebanyak itu, sedangkan hanya disediai 2 WC, maka antriannya juga horror. Oh ya, airnya juga mengalir dengan debit air minimal. Mantab!
Kembali soal bebek:
Setelah dicoba, ealah.. lha kok cuma gitu doang (-_-!!). Bebeknya biasa saja. Hadir dengan warna kecoklatan dengan kremesan yang ditaburkan diatas daging.
Sambalnya nanggung: pedas engga, kecut pun juga engga. Tapi buat orang Surabaya, sepertinya baru di Sinjay inilah mereka menemukan bebek goreng yang disajikan dengan sambal pencit *correct me if I’m wrong*sehingga berasa unik (dan setelahnya, kini ada banyak penjual bebek di Surabaya yang juga menyediakan sambal pencit).
Dan aku GAK bilang bebek Sinjay ini rasanya engga enak, ya *catet!!!*. Hanya saja aku ngga ngerti kenapa orang mau berdesak-desakan, antri berjam-jam, bahkan sampai pake aksi saling dorong, ‘cuma’ untuk bebek seperti ini. Ampun.. Sinjay!
Mas Abigael,yg kurang jelas maksudnya.emang kalau saya cina masalah buat anda? saya juga sering ketempat2 yg jual kaum anda dan ternyata su*ks!
sekali lagi tolong jangan bawa2 suku/ras its pure judgement.enak ya dibilang enak!
kalau anda merasa diskusi ini murahan diem aja,
kalau ikut komen anda murahan juga dong berarti…
hidup indonesia!
Wah . . . saya ikuti comment dari awal sampai akhir, kok mengerucut pada sesuatu yang menurut saya “kurang/tidak” konstruktif. Selera setiap orang bisa berbeda itu pasti. Kalau saya hanya ingin menyarankan pada setiap pengusaha warung makan di desa di kota di kota besar untuk mendengar, memperhatikan semua pendapat tentang “warung” makannya kemudian menjadikannya sebagai sarana koreksi diri untuk membuat perbaikan dan penyempurnaan. Bisnis penuh persaingan itu pasti, tapi alangkah indahnya kalau kita bisa berusaha seperti orang-orang bijak berusaha dan sukses. Nampaknya kita juga perlu belajar menyampaikan pendapat dengan cara yang lebih santun (termasuk saya tentunya). Mari kita bangun bisnis kita masing-masing. Semoga Sukses. Mohon maaf bila ada kata/kalimat yang tidak berkenan. Kita masih NKRI itu pasti kan?.
hehe
. lha ya, soal makanan aja ke RAS dan agama..
klo menurut pendapatku..dulu sebenernya bebek sinjay ini salah satunya yang buat terkenal dengan banyaknya siswa yang bolos sekolah pada jam sekolah yang seharusnya lagi pelajaran (termasuk saya..hahaha)..itu kurang lebih 3 setengah tahun yang lalu..dan siswa2 tersebut update status di sosial networking..sampailah ditelinga orang tua siswa tersebut..dan terus dari mulut ke mulut sampai ke teman-teman orang tua siswa tersebut..anehnya..yang buat bebek ini rame ya karena antrinya..loh kok karena antrinya? yup,mungkin salah satunya yang buat orang yg blm pernah coba jadi penasaran mau coba karena antrinya..dan yg pernah coba jadi kepingin balik lagi karena serunya hunting makanan jauh-jauh dari surabaya terlepas dari argumen bebek tersebut enak atau tidak enak..
dan 1 lg,klo ada saudara atau teman yg pergi ke madura pasti dimintatolongi bawa pulang sinjay..(tidak tahu karena pengin bebeknya atau pengin nyiksa temannya buat antri ya..hahaha..)..ya itu anehnya bebek sinjay terlepas dari rasanya enak atau tidak..aku rasa bakalan tetap rame karena alasan2 tersebut..baik karena jauhnya dari surabaya, nostalgia SMA, titip teman belikan,rasa penasaran kenapa bebek sinjay kok rame dll..y mgkn bisa menjawab tanda tanya yg buat blog “kenapa sinjay kok rame padahal bebeknya gitu2 aja?”
ya jangan hitung dari biaya tol 60rb PP lah..sama kyk yg buat blog jauh2 nyobain masakan sampai ke mana-mana toh juga belum tentu enak..cuma ya balik itu lg..berbagai alasan yang buat tempat2 tersebut rame terlepas enak atau tidaknya masakan tersebut..back to according to you..hehehe..
Waduhhhh……..ini review yg fenomenal itu sepertinya “comment2nya” ya dan saya jd takut d, jgn galak2 ya cuma gara2 bebek, hehehe…..lha selera org kan memang beda2, ga perlu d bawa2 etnis n lainnya, di jkt sini bnyk jg bebek enak, mau gaya padang ke Senen Jkt Pusat, mau yg pedes buangettt ada di Plumpang Jkt Utara, mau gaya Surabaya n Madura jg bnyk lho yg enakkkk, dan smua pemiliknya itu org Indonesia,tetep koq sy blg enak, btw mas yg bw2 etnis, org Tionghoa itu jg org Warga Negara Indonesia kan? (peace!!!!!!!), kl mas ga percaya kl ke Jkt cari d bebek2 enak tsb di atas. Dan sy termasuk fansnya bebek Kayu Tangan jg nih…..sedih d wkt cabangnya yg di jkt tutup. (Sepertinya tdk tertarik sm tempat yg antri ky gini n fans nya yg galak2 gt,takutttt hehehe……..ini kembali ke selera ya……)
haha, ini lho serunya.
bebek bisa nyampe ke masalah ras, dsb :p
aku agak loggar accept komen orang di tulisan ini, seru aja sih liat orang ribut sendiri sedangkan yang punya sijay ga ngerti apa2 wkwkwkwk..
Hahahahaha……….setuju bgt Ce Dewi…….dibaca dng senyum aja, aku aja smpe senyum2 sendiri kl liat comment2 di blogmu ini kl ada yg aneh2 n agak nyeleneh…….hmmmm…….terrnyata memang msh bnyk org yg blm bisa respect sm pendapat org lain, gmn bs damai tentrem ya…..ini br sebatas beda pendapat soal rasa makanan ya, hehehehehe…….. Btw, I had finished all pages of ‘urs blog, 166 pages. Tetep review ya……dtunggu lho.
astaga, 116 pages! seperti baca novel ya, haha :p
tengkiu banget bo, tulisan segitu banyak dibaca..
hehehe…………………..