Warung Nasi Bebek Sinjay (Bangkalan/ Madura); Ampun, Deh!

Berhubung lagi libur lebaran, menyeberanglah kita ke tanah seberang. Bukan Amerika. Kejauhan, haha :p. Tapi Madura!

Madura, pulau yang sebelumnya ’gitu2 aja’, sejak adanya Suramadu, kini perlahan mulai ‘hidup’ (kalo ada yang ga setuju soal ini, “gue ga peduli!”). Dan salah satu daerah yang sepertinya paling merasakan dampak positif keberadaan Suramadu adalah Bangkalan. Jika beberapa tahun lalu ketika kita susah sekali menemukan toko yang buka, apalagi depot dan SPBU, kini sepanjang jalan dari Suramadu menuju Bangkalan dipenuhi aneka toko (terutama toko batik khas Madura) dan rumah makan.

Nah, yang paling bejubel dari rumah makan-rumah makan lainnya adalah Warung Nasi Bebek Sinjay yang terkenal disenatero jagad (sekalian lebai deh)! Lokasinya di Jalan Raya Ketengan no. 45, Tunjung Bumeh, Bangkalan, Madura.

Warung Nasi Bebek Sinjay (Bangkalan)

Tempat ini, cuma menjual 1 menu: nasi dengan bebek goreng Madura. Titik. Engga ada menu-menu lain.

Warung Nasi Bebek Sinjay (Bangkalan)

Tempatnya los, semi aula yang bisa menampung untuk sekitar 200-an lebih orang makan bersama. Tidak ada AC (boro-boro AC, kipas anginpun engga ada), meja kursi seadanya (dan kalian kudu bersedia berbagi meja/ kursi dengan orang lain), lantainya disemen biasa, bangunannya semi permanen dengan atap seng sehingga panasnya menjadi-jadi deh:

sinjay (20) sinjay (21)

Tapi itu engga ada apa-apanya dengan perjuangan pembeli untuk mendapatkan nasi bebek goreng Sinjay *sigh*..

sinjay (1) sinjay (16)

Hitung & pikirkan baik-baik jumlah porsi yang ingin kalian pesan (saranku sih: lebihin jumlahnya!). Karena setiap orang yang pernah makan ditempat ini pasti tahu susahnya order di Warung Nasi Bebek Sinjay. Nih warung, dikelola dengan sistem yang masih baheula bin acakadut, pengunjung harus antri bejubel didepan kasir untuk memesan makanan dan langsung membayarnya (pake duit cash ya, tidak ada debet/ credit card). Bukan antri yang ‘baik-baik’, tapi cenderung antri berdesak-desakan yang saling dorong *haizh!*, sementara yang didapur menyiapkan pesanan kita:

Warung Nasi Bebek Sinjay (Bangkalan) Warung Nasi Bebek Sinjay (Bangkalan) Warung Nasi Bebek Sinjay (Bangkalan)

Warung Nasi Bebek Sinjay (Bangkalan) Warung Nasi Bebek Sinjay (Bangkalan)

Setelah itu, penderitaan belum berakhir. Kita masih disuruh duduk dengan memegang nota yang sudah diberi nomor antrian (serasa seperti di apotek deh). Ntar, kita akan diteriakin sesuai nomor, kemudian digiring untuk antri *again!* diantrian yang berbeda. Aih, sungguh terlalu!

Trus, kalo mau bungkus bebek.. kita kudu antri berdesak-desakan lagi, di loket lain! Istttimewa (_ _”). Dan tentu, pake acara kena dorong dan senggol sana sini lagi. Haiyaaa.. *elus dada*.

Warung Nasi Bebek Sinjay (Bangkalan)

Untuk minumnya gimana? Hanya ada teh botol saja, sodara-sodara. Dan itupun kita kudu pesan dari awal, barengan dengan waktu pesan bebek (di kasir). Nah, ntar.. tuh minuman ga akan diantar satu persatu ke meja kita. Kita2 ini kudu antriii lagi, didepan lemari pendingin untuk ambil minuman kita sendiri. Kalo kehabisan minum trus mau nambah? Ya antriii lagi deh ke kasir, lalu antri lagi ambil minuman.

Hidup antriii!

Dan setelah semua proses itu dilalui dengan ketabahan tingkat tinggi dan kesabaran seluas samudra, muncullah piring-piring bebek pesanan kita:

Warung Nasi Bebek Sinjay (Bangkalan)

sinjay (22)

Ealah, ternyata ‘cuma’ nasi, bebek goreng, kremesan, lalapan seadanya dan sambal pencit, booo! Olala..

Warung Nasi Bebek Sinjay (Bangkalan) Warung Nasi Bebek Sinjay (Bangkalan) Warung Nasi Bebek Sinjay (Bangkalan) Warung Nasi Bebek Sinjay (Bangkalan)

Kita tidak diperbolehkan meminta ekstra sambal, tidak juga diperbolehkan meminta bagian tertentu dari badan bebek (misalnya: order potongan dada / paha). Pokoknya kudu pasrah. Dapetnya dada, paha, ceker, ekor, jerohan, bahkan leber pun kudu diterima lapang dada dan tulus ikhlas. Dapetnya apa, ya udah.. dimakan aja. Lha wong sudah antri dan menunggu berjam-jam (pake bayar tol 60ribu untuk PP Surabaya – Madura), jrenggg…

FYI, di Sinjay hanya ada 2 wastafel, itupun airnya kecil dan seringnya ga disediakan sabun. Jadi, lebih baik bawa sabun cuci tangan sendiri deh, atau betah-betahin deh tangannya berminyak :p. Cara praktis lainnya: bawa tissue basah!

Kalo mau lebih aman, bawa juga sendok garpu sendiri, karena pada 2x kunjunganku kesana (kunjungan kedua: terpaksa, demi antar seorang kawan yang datang jauh-jauh dari Medan dan penasaran dengan si Sinjay fenomenal ini), susah banget deh minta sendok garpu! Pake antri, antri dan antri lagi. Parahnya, sendok/ garpu yang diberikan sering dalam keadaan kurang layak pakai. Biasanya, masih ada nasi di sela garpu/ sendoknya yang masih berminyak (jangan2 cuma di lap doang lalu dikasihkan ke kita, ya?). Yiaw!

WC-pun hanya ada 2 lho, sehingga kalo ada yang sakit perut setelah makan.. whuahauha, bakal kena kiamat kecil deh *ketawa bulus*. Kebayang kan, dengan pengunjung sebanyak itu, sedangkan hanya disediai 2 WC, maka antriannya juga horror. Oh ya, airnya juga mengalir dengan debit air minimal. Mantab!

Kembali soal bebek:

Warung Nasi Bebek Sinjay (Bangkalan)

sinjay (26)

Setelah dicoba, ealah.. lha kok cuma gitu doang (-_-!!). Bebeknya biasa saja. Hadir dengan warna kecoklatan dengan kremesan yang ditaburkan diatas daging.

sinjay (25)

Sambalnya nanggung: pedas engga, kecut pun juga engga:

sinjay (17)

Tapi buat orang Surabaya, sepertinya baru di Sinjay inilah mereka menemukan bebek goreng yang disajikan dengan sambal pencit *correct me if I’m wrong*sehingga berasa unik (dan setelahnya, kini ada banyak penjual bebek di Surabaya yang juga menyediakan sambal pencit).

Dan aku GAK bilang bebek Sinjay ini rasanya engga enak, ya *catet!!!*. Hanya saja aku ngga ngerti kenapa orang mau berdesak-desakan, antri berjam-jam, bahkan sampai pake aksi saling dorong, ‘cuma’ untuk bebek seperti ini.

Ampun.. Sinjay!

Share

Post to Twitter