Arca Ganesha Karangkates/ Pateh/ Patih Jonoto (Karangkates/ Malang); Ganesha Berdiri, Tinggi dan Utuh!

Sebuah acara perkawinan kawan membuatku melakukan perjalanan jauh dari Surabaya ke Blitar. Dan sebelum sampai Blitar, tepatnya ketika berada disekitar bendungan Karangkates, aku mulai menghubungi seorang kawan untuk memohon petunjuk. Bukan petunjuk jodoh atau rejeki *haha, ya iyalah!*. Melainkan petunjuk lokasi keberadaan sebuah arca Ganesha! Tak lama kemudian, petunjuk pun didapat: “Oh itu di Malang, perbatasan antara Malang dan Blitar. Di Waduk Karangkates, lurus saja. Ikuti jalannya truk dan bus, ada Masjid di sebelah kanan, belok kanan. Notok, belok kiri”.

Kalo versiku: dari arah Malang, jangan memilih masuk ke jalan ‘tol’ yang melintas diatas bendungan itu. Tapi lurus saja. Nah, setelahnya, carilah Masjid disisi kanan kemudi. Kemudian, dekati deh tuh Masjid, tapi belok ke kanan (jadi, tidak menuju ke Masjid ya). Lalu, belok ke kiri. Nah, udah deh.. tinggal terus saja. Jangan belok2.

Ntar, bakal nampak sebatang pohon beringin tua yang lokasinya wow banget (baru ngelihat dari jauh saja sudah bikin imajinasi mistis bermunculan). Nah, begitu ngelihat pohon itu, pelan-pelanlah karena lokasi sudah dekat! Tepatnya, dibawah/ belakang pohon tersebut..

p1000862-copy p1000861-copy

Lokasi Ganesha pun langsung nampak seketika, karena posisinya tinggi. Ganesha yang rupawan ini disebut sebagai Pateh Jonoto/ Patih Jonoto oleh beberapa orang. Namun juga dikenal sebagai Ganesha Karangkates.

Ooh, tampak kasihan sekali.. Sang Ganesha sendirian, didalam sebuah area yang berpagar besi! Ada dua pintu masuk menuju sang Ganesha. Yang satu, berada tepat didepan Ganesha:

p1000829-copy

Satunya lagi, berada sejajar dengan lengan kanan Ganesha:

p1000860-copy

Aku memilih masuk dari pintu samping, karena dekat dengan lokasi mobilku diparkir. Pagarnya memang ditutup dan sebuah gembok menghiasi pagar tersebut, namun gemboknya tidak terkunci. Jadi, aku bisa dengan mudah masuk dan berhadap-hadapan dengan sang Ganesha.

Keadaan sang Ganesha? ISTIMEWA!!! Sungguh istimewa!

p1000856-copy p1000857-copyp1000807-copy

Ganesha ini utuh dari ujung kepala hingga kakinya. Tidak ada tanda pengrusakan/ rusak, pada tubuh Ganesha. Bahkan batu penyangga Ganesha utuh pula! Kondisi batunya juga sehat segar bugar tanpa terkena (penyakit kulit) jamur. Pokoknya ganteng banget deh, Ganesha yang satu ini!

Dari foto yang aku temukan dari hasil ber-Googling ria, tampaknya beberapa tahun lalu keadaan Ganesha ini agak berjamur. Tapi kini, jamurnya sudah tidak ada. Ah, tampaknya ada yang merawat Ganesha ini dengan baik. Terima kasih, kepada mereka-mereka yang menjaga sang Ganesha. Semoga hidup sehat dan lancer rejeki, amen :).

Btw, Ganesha ini sungguh layak dirawat karena posisi Ganesha-nya tidak seperti kebanyakan Ganesha yang ada di museum/ foto-foto. Jika biasanya Ganesha sering digambarkan dalam posisi duduk dengan telapak kaki yang saling bertemu (seperti posisi duduk bayi), Ganesha yang satu ini digambarkan dalam posisi berdiri! Ini adalah posisi yang langka lho (bukan hanya untuk Indonesia, namun juga dunia!). Dan tingginya pun ga tanggung-tanggung. Bukan 40-50cm saja, melainkan lebih dari 3m (jika dihitung dari batu landasannya)! Duh, makin jatuh cinta deh <3.

p1000804-copyp1000851-copy p1000859-copy p1000858-copy

Sayang, tidak ada informasi apapun mengenai Ganesha ini, selain nama Pateh Patih Jonoto sebagai nama aliasnya. Siapa pembuatnya, pada era kerajaan apa, kenapa dia berada disana (dan sendirian, pula!), tidak diketahui. Sungguh, merupakan misteri. Namun setelah berusaha mencari data kesana kemari, akhirnya aku menemukan sebuah artikel:

KOMPAS, SABTU, 24 AGUSTUS 2013 – Arca besar Ganesha yang berada di Desa Karangkates, Kecamatan Sumber Pucung, Kabupaten Malang, terbilang langka. Jika biasanya arca Ganesha dalam posisi duduk, arca di desa itu dalam posisi berdiri. Ini adalah arca Ganesha aliran Tantrayana. Arca ini merupakan simbol perlindungan sekaligus ilmu pengetahuan,” kata Surjadi (53), Koordinator Wilayah Percandian di Malang, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur.

Tinggi arca besar itu hampir 3 meter. Postur tubuhnya lebih tambun dari arca Ganesha pada umumnya. Ia berdiri menginjak tengkorak, sedangkan kedua tangannya memegang mangkuk dan kapak. Ujung belalainya masuk ke dalam mangkuk tersebut. Hiasan kepala, motif kain yang dikenakan, dan perhiasan tubuhnya penuh dengan tengkorak manusia. Menurut Surjadi, Ganesha berdiri itu ditemukan ketika Bendungan Karangkates dibangun. Arca itu kemudian dipindahkan ke bukit kecil, tidak jauh dari permukiman penduduk.

Kata Surjadi, hanya ada dua arca Ganesha berdiri yang pernah ditemukan di Indonesia. Selain di Karangkates, satu arca pernah ditemukan Belanda di Gunung Semeru yang kini dibawa ke Leiden, Belanda.

Dalam buku Worshiping Siva and Buddha, The Temple Art of East Java, Ann R Kinney sang penulis memuat gambar arca Ganesha berdiri yang ada di Leiden. Kondisinya lebih utuh dibandingkan dengan Ganesha Karangkates. Adapun arca di Karangkates sudah rusak di beberapa bagian, seperti mata kiri yang tidak utuh dan gading yang putus.

Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia Edi Sedyawati mengatakan, arca Ganesha pada formasi percandian Siwa selalu berada di belakang arca Siwa. Ganesha ini menghadap ke arah yang berlawanan dari Siwa. Dalam kitab Smaradhahana, kata Edi, Ganesha merupakan makhluk yang menjaga kahyangan dari serangan raksasa. Oleh karena itu, ia disimbolkan selalu dekat dengan Dewa Siwa. Edi pernah menulis disertasi tentang arca-arca Ganesha masa Kerajaan Kediri dan Singasari.

Arca Ganesha yang berdiri sendiri di luar panteon Siwa merupakan simbol perlindungan terhadap kawasan tersebut. ”Ganesha adalah dewa penjaga ketenteraman sehingga penguasa Singasari meletakkan arca itu di daerah-daerah yang dikuasainya,” ujar Edi.


Pertumpahan darah

Singasari adalah kerajaan yang didirikan Ken Arok, mantan perampok yang bertobat kemudian menjadi akuwu (kepala desa) di Tumapel, daerah di bawah kekuasaan Kerajaan Kediri. Setelah mengalahkan Kertajaya, raja Kediri yang berkuasa (1191-1222), Ken Arok yang telah memperistri Ken Dedes lalu mendirikan Kerajaan Singasari.

Kekuasaan Singasari hanya bertahan 70 tahun, yaitu 1222-1292. Selama lima tahun pada awal pendiriannya, di Singasari telah terjadi empat kali alih kekuasaan dari Ken Arok, Anusapati, Tohjaya, kemudian Ranggawuni yang diwarnai pertumpahan darah.

Baru setelah Ranggawuni yang bergelar Jayawisnuwardhana ini berkuasa, Singasari tidak lagi bergejolak. Ia berkuasa selama 41 tahun(1227-1268) dan kemudian digantikan anaknya, Kertanegara, yang berkuasa 24 tahun (1268-1292) sebelum dijatuhkan Jayakatwang dari Kediri. Jayakatwang dibunuh Raden Wijaya, masih keturunan Ken Arok, yang kemudian memindahkan pusat kerajaan ke Tarik, Trowulan, dan mendirikan Majapahit.

Semasa Kertanegara, Singasari mengalami puncak kejayaan. Raja ini melakukan ekspedisi ke kerajaan Melayu di Dharmasraya, sekarang di Provinsi Sumatera Selatan, untuk menggempur pasukan dari Mongolia.

”Saat ekspedisi itu, Singasari membawa arca Amoghapasa,” kata Bambang Budi Utomo, arkeolog masa klasik Hindu-Buddha dari Pusat Arkeologi Nasional. Arca Amoghapasa berbentuk dewa bertangan delapan ini juga bisa ditemukan di Candi Jajaghu atau Candi Jago di Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, sekitar 30 menit perjalanan dari kota Malang.


Puncak kejayaan seni

Jejak Kerajaan Singasari memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan lain di Pulau Jawa. Periode Singasari ditandai dengan arca-arca berukuran sangat besar. Sekitar 300 meter dari Candi Singasari, di Desa Candirenggo, Kecamatan Singasari, Malang, ditemukan dua arca Dwarapala atau raksasa penjaga gerbang. Tinggi satu arca 3,7 meter dengan berat 40 ton. Lingkar tubuh raksasa gendut itu mencapai 3,8 meter. Salah satu arca Dwarapala ini digambarkan tersenyum sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf ”V”.

Selain arca berukuran besar, pahatan karya seni masa Singasari lebih halus. Ornamen arca biasanya banyak, tetapi mendekati kenyataan atau natural. Anatomi tubuh arca juga lebih proporsional dibandingkan dengan arca masa kerajaan lain.

Dari gaya seni arcanya, para ahli arkeologi menyimpulkan bahwa pada masa Singasari terjadi puncak kejayaan seni Indonesia kuno. ”Belum ada temuan arca yang dibuat lebih bagus dari Singasari,” kata Bambang. Sayang, tidak banyak peninggalan Singasari yang bisa ditemukan saat ini.

Lokasi Kerajaan Singasari pernah diteliti menggunakan citra Landsad-7 ETM oleh arkeolog Blasius Suprapto dan Sonny Wedhanto. Mereka menyimpulkan, pusat Kerajaan Singasari berada di kaki Gunung Arjuna, tepatnya di Desa Candirenggo dan Pagentan sekarang. Daerah yang punya keterkaitan sejarah dengan Singasari ini kini telah berubah menjadi kawasan padat permukiman dan bisnis, seperti toko, kios, warung, dan rumah toko.

Amelia Tri Wantoro, peneliti Singasari dari Pusat Arkeologi Nasional, mengatakan, saat ini penelitian tentang Singasari masih difokuskan mencari sisa permukiman kuno. Namun, laju pembangunan yang mengimpit kawasan Singasari membuat para ahli kesulitan menguak misteri kerajaan Ken Arok ini. Arca-arca tunggal seperti Ganesha Karangkates yang bisa menjadi saksi Singasari pun terancam rusak karena tidak ada pengamanan yang ketat (taken from here).

Aku memfotoinya secara brutal, mengagumi ketampanannya! Sst, lihat nih detail tubuh dan hiasannya:

p1000822-copy p1000819-copy p1000816-copy p1000818-copyp1000827-copyp1000839-copy p1000852-copy p1000841-copy

Bahkan busananya pun luar biasa! Aku suka sekali dengan detail perut dan lipatan kain ini:

p1000849-copy

Lihat draperinya:

p1000844-copy p1000848-copy

Bahkan jika kalian perhatikan dengan sangat detail, kain si Ganesha ini sepertinya berhias motif tengkorak dan motif wajik berhias(?). Batik? Entah, tapi yang pasti sangat luar biasa! Sangat detail! Sangat tampan, utuh pula! Bayangkan, betapa langkanya Patin Janoto ini..

Ganesha ini berdiri diatas beberapa tengkorak:

p1000804-copy p1000846-copy p1000820-copy p1000809-copy

Pada dekat lengan & mahkota, ada lagi hiasan tengkorak:

p1000839-copy p1000840-copy

Yang menarik, ada ukiran matahari dan bulan dibagian dekat kepala:

p1000828-copy p1000842-copy p1000852-copy

Bagian belakang Ganesha ternyata kosong dan polos, tanpa hiasan/ prasasti/ wajah Kala seperti yang aku jumpai pada Ganesha Boro:

P1010126 copy

Aku pun kemudian mempersembahkan bunga-bunga segar yang tumbuh disekitar lokasi kepada sang Ganesha:

p1000805-copy p1000823-copyp1000838-copy p1000819-copy

Tampak ada beberapa batas hio bekas bakar yang ditancapkan disebuah tempat yang terbuat dari semen, didepan sang Ganesha. Ah, andaikan aku pun membawa hio, pastilah akan aku bakar beberapa batang untuk ‘menghantarkan’ puja pujiku kepada Tuhan dan alam semesta.

Andai saja aku tidak ingat bahwa aku harus segera menghadiri pernikahan kawan, dengan senang hati aku akan berlama-lama ditempat ini. Sang Ganesha ini memang sepi, sendiri. Namun dia dimanja dengan pemandangan indah:

p1000813-copy p1000814-copy

Hamparan pohon yang hijau segar berjajar dilembah bawah, hingga cakrawala. Anginpun berhembus cukup segar, bahkan di siang hari yang terik. Akar-akar beringin pun tampak seperti menari, menghibur kesendirian Ganesha.

Semoga Ganesha ini tetap aman dari pencurian dan pengrusakan. Semoga dia tetap berdiri hingga seribu, dua atau tiga ribu tahun lagi, bahkan selamanya :).

Share

Post to Twitter