Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya); Pertunjukan “Ken Dedes; Wanita dibalik Tahta” oleh Swargaloka Sungguh Memukau!

Cak Durasim adalah seniman Ludruk kelahiran Jombang, dia adalah seniman ludruk sejati di jaman Soerabaja Tempo Doeloe. Dia yang memprakasai perkumpulan Ludruk di Surabaya. Pada tahun 1937 mempopulerkan cerita-cerita legenda Soerabaja dalam bentuk Drama.

Cak Durasim adalah seniman Ludruk sekaligus adalah Pejuang, Pada tahun 1942 ketika tentara Jepang menguasai negeri ini melalui Ludruk sebagai media siar. Dia membangkitkan semangat juang arek-arek Surobojo dan mengkritik pemerintah penjajah,  di dalam pementasan drama Ludruknya. Selain menceritakan legenda Surabaya Cak Durasim juga mementaskan cerita perjuangan-perjuangan lokal masyarakat Jawa Timur. Selain itu gendhing Jula-Juli Surabaya isinya mengkritik pemerintah penjajah.

Pada puncaknya waktu pentas di Keputran Kejambon Surabaya Cak Durasim melantunkan Kidungan yang sangat populer yang berbunyi :“Bekupon omahe doro, melok Nippon tambah soro”  – Bekupon Sangkar burung dara, Ikut NIPPON (Jepang) bertambah sengsara”.

Yang artinya : kehidupan pada jaman Jepang lebih sengsara dibanding dengan kehidupan di jaman penjajah Belanda. Kidungan ini yang menyebabkan Cak Durasim dipenjarakan dan disiksa oleh tentara Jepang. Pada tahun 1944 Cak Durasim menghembuskan nafas terakhir di dalam penjara dan dimakamkan di Makam Islam Tembok (taken from here).

Beberapa kali namanya aku dengar dan baca, terutama setiap kali aku mendatangi House of Sampoerna untuk ikut Heritage Track, karena namanya digunakan untuk menamai sebuah gedung kesenian di Jalan Genteng Kali 85, Surabaya. Namun tidak sekalipun aku pernah menginjakkan kaki disana, soalnya kalo sekilas lihat (aku kan sering melintas didepannya), kok sepertinya engga ada yang menarik  :p.

Sampai akhirnya, sebuah BBM dari seorang kawan masuk ke BBku pada suatu Sabtu siang, mengajak serta menonton pertunjukan seni berjudul Ken Dedes; Wanita Dibalik Tahta. Hm, sekilas.. OK lah, judulnya menarik. Mengingat aku memang menyukai sejarah kerajaan-kerajaan Jawa. Tapi dari contoh ‘kartu undangannya’, aku menilai bahwa Ken Dedes; Wanita Dibalik Tahta adalah sejenis pertunjukan wayang orang! Eng ing enggg..

Ragu! Membayangkan aku kudu duduk manis selama 2-3 jam menonton pertunjukan wayang orang yang menurutku agak membosankan itu, haha (kaget, karena aku bilang wayang orang agak membosankan? Yeah, secinta-cintanya dengan budaya Jawa, tapi aku agak kurang cocok dengan lagu dan gerakan berirama lambat). Namun kemudian, aku piker.. OK lah. Buat sekalian kumpul2 sama teman, kan sudah lama aku ga ketemuan dengan mereka.

Aku tanya, apakah tiketnya ready? Daripada jauh-jauh ke Cak Durasim dan kehabisan tiket? Kawanku menjawab, bahwa dia berusaha mendapatkan tiketnya. Well, OK lah. Sambil menunggu, aku pergi facial.

Lha kok pas di salon facial, ownernya tiba-tiba menghampiriku yang sedang dipencet-paksa komedo-komedonya. Sambil meringis, aku dengerin ocehannya. Well, ternyata.. dia datang ke tempatku dengan membawa undangan pertunjukan seni bahwa Ken Dedes; Wanita Dibalik Tahta! Jreng!!! Ga salah, neh?

Tuh owner salon bukannya sejenis pecinta budaya Jawa, lho. Lha kok dia beli? Padahal tiketnya juga engga murah-murah amat deh (dibandingkan pertunjukan lain di Cak Durasim yang mayoritas free/ hanya sekedar bayar belasan ribu saja), Rp. 100.000,- untuk VIP.

Sial! Karena tuh orang beli tiketnya, aku jadi penasaran dan jadi ga tenang selama proses facial, haha! Akhirnya, sesaat sebelum wajah diberi masker, aku minta ijin ke ruang locker dan mengambil BBku. Aku telepon contact person yang nomor dan namanya tercantum di kartu undangan, berusaha mendapatkan 2 lembar undangan VIP untukku dan Mami. Berhasil! 2 tiket VIP terakhir, dalam genggaman *hooray!*. Padahal awalnya, mereka sudah ga mau jual tiketnya lagi (karena penjualan tutup mulai jam 13).

Dari kejadian itu, kemudian aku berpikir bahwa jangan-jangan Tuhan memang sengaja mengaturku dan Mami pergi nonton acara ini, deh. Lha wong tiketnya kok ya pas, hanya sisa 2 lembar saja.

Makanya, walau benernya males (kan kalo abis di facial tuh enakan tidur, bukannya keluar dari rumah malam-malam dalam keadaan hujan gerimis pula), aku berangkat deh. Naik taxi, biar ga ribet!

Sesampainya di Cak Durasim, tampaklah udah ada banyak orang yang sudah datang lebih dahulu dari kita. Jadi, suasananya sudah ramai. Dan mereka pada berbondong-bondong pergi ke gedung paling kanan yang berhias lampu berwarna merah.

Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya)

Disebelah kiri, ada semacam pendopo yang dihias lampu berwarna hijau:

Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya)

Dan pendopo itu aku lalui begitu saja, hingga akhirnya aku sampai pada teras bangunan paling kanan itu. Mencari sesosok wanita bernama Asti, yang membantuku mendapatkan tiket VIP. Aku berhasil menemukannya dan mendapatkan tiket masuk VIP!

Nah, keadaan langsung berubah sejak tiket VIP ada dalam genggaman. Beberapa orang yang tampaknya adalah petugas-petugas acara yang melihatku membawa tiket VIP itu, menyapa ramah dan mempersilakan masuk ke sebuah gedung disamping bangunan “Cak Durasim”.

Mereka juga membuka aksesnya untuk kita memasuki gedung pertunjukan, namun terlebih dahulu mereka menanyakan apakah aku sudah ke gedung sebelah.

Lha, karena aku ditanyain terus mengenai “Sudah ke sebelah, Bu?”, akhirnya aku ‘mengalah’ dengan mendatangi gedung itu.

Ternyata, itu semacam aula kecil yang diisi dengan sedikit perabot berukir indah dengan warna dan bentuk ukiran khas Madura. Aku harus mendaftarkan namaku pada sebuah buku tamu dan setelahnya, diberi semacam buku jadwal acara dan sejarah Cak Durasim:

Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya)

Dibagian dalam ruangan, ada semacam meja panjang yang seluruh permukaannya ditutupi oleh mangkok-mangkok soto:

Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya)

Olala! Rupanya, kita-kita para pemegang tiket VIP ini dipersilakan untuk makan duluuuu.. (read here). Beberapa pejabat dan konjen negara sabahat yang diundang, juga makan digedung yang sama. Hanya saja, mereka ditempatkan diruangan yang lebih tertutup.

Setelah selesai makan, barulah kemudian aku masuk ke bangunan “Cak Durasim”. Kita hanya perlu menunjukkan tiket dan kemudian dibantu diarahkan oleh petugas-petugas yang ada disana. Jika memegang tiket bagian tribun, maka penonton kudu menaiki tangga. Sedangkan aku, masuk langsung ke bagian dibalik sebuah pintu kayu dan dipersilakan memilih tempat duduk sendiri.

Aku hanya dilarang memilih tempat duduk yang sudah diberi nama. Terpikir untukku duduk dibagian agak belakang, karena semua yang dibagian depan sudah terisi nama. Ada satu bagian tempat duduk lagi, yang agak dekat dengan panggung sih, namun siapa yang berani kesono.

Eh, ternyata seorang petugas memanggilku dan mempersilakanku duduk di deretn bangku yang paling dekat dengan panggung. Yeah, aku duduk di deretan bangku ke 4 dari depan! Hoho, tepat dibelakangku adalah deretan kursi yang ternyata diperuntukkan bagi para pejabat kota ini:

Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya)

Panggung didepan, termasuk agak sempit namun cukup nyaman untuk ukuran ruangannya yang memang tidak terlalu besar. Seluruh ruangan cukup sejuk, karena beberapa AC 5PK bekerja dari beberapa sudut strategis ruangan. Lampu cukup terang benderang dan penonton begitu tertip, tidak ada bau rokok dan ocehan berisik. Semuanya duduk tenang, hanya saling menyapa dengan tetangga duduk denan volume suara yang normal. So far, so good.

Tepat pada jam yang telah ditentukan, para sinden mulai menyanyi dan lampu ruanganpun menjadi lebih redup. Aih! Lha kok keren, gitu? Soal lampu yang meredup ini saja, sudah diluar ekspektasi.. haha *jitak diri sendiri*.

Lalu, ada seorang pembawa acara membacakan kata2 sambutan dan tata tertib:

Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya)

Dilanjutkan dengan kata sambutan dari seorang pejabat kota Surabaya:

Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) P1030753

Kemudian, para sinden mulai menyanyi dan keindahan suara mereka serta kejernihan sound systemnya mulai membuatku meminta maaf pada Cak Durasim dan para pemain Ken Dedes; Wanita Dibalik Tahta! Yeah, sejak pertama kali mendengar nyanyian mereka, entah kenapa aku optimis akan menikmati acara (padahal aslinya sudah terpikir akan ‘melarikan diri’ sewaktu-waktu jika acara terlalu membosankan!).

Dan benar saja. Bukannya dibuat bosan, aku malah diam dan super konsentrasi mengamati para sinden, juga pemain music bekerja:

Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya)

Aih, indah! Sungguh seni yang indah, terlebih lagi ketika satu persatu pemain keluar, menari dengan anggun, juga berdialog, bahkan menyanyi:Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) P1030850 Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya)

Tuh, lihat sendiri deh. Gila, kerennya! Aku sungguh2 jatuh cinta dengan pertujukanya dan demikian pula lah sebagian besar penonton, yang di akhir acara memberi standing avotion untuk para pemain yang ternyata memang bukan sembarang pemain (beberapa diantaranya adalah pemain terbaik dikelasnya lho!):

Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) P1040096 Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya) Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya)

Para pejabat2 kita pun tampaknya juga sangat menikmati acara:

Gedung Kesenian Cak Durasim (Surabaya)

Btw, ini kisah sejarah Gedung Kesenian Cak Durasim:

Dibangunlah sebuah tempat yang diberi nama teater terbuka, tempat ini digunakan untuk kegiatan berkesenian. Melalui anggaran 1975-1976, pembangunan berikutnya gedung tester tertutup atau gedung Cak Durasim, dengan menggunakan nama seorang tokoh seniman terkenal dibidang ludruk.

Taman Budaya semakin dikenal orang karena Surabaya identik dengan ludruknya, mengenai sejarah tokoh ini.

Pada tahun 1930 Cak Gondo Durasim telah memprakarsai pembentukan kelompok ludruk Surabaya. Beliau adalah seorang seniman ludruk sejati di Jaman Soerabaja tempo Doeloe, tahun 1937 is memperkenalkan cerita-cerita legenda Rakyat Soerabaya dalam bentuk Drama. Dengan Kepiawaiannya melantunkan kidungan yang legendaries “Pegupon omahe doro, urip melu Nippon tambah sengsoro” lantaran kidungannya Cak Durasim ditangkap dan disiksa oleh Polisi rahasia Jepang.

Pada Tahun 1944 Cak Durasim menghembuskan nafasnya dalam tahanan. Beliau dimakamkan di pemakaman Tembok Surabaya. Dan pada bulan Oktober 1989 dimulai kelanjutan rehabilitasi gedung hingga sekarang Gedung ini mengalami perombakan 3 (tiga) kali.

Tidak jelas kapan tepatnya gedung Cak Durasim mulai dibangun. Tapi, berdasarkan arsip yang ada, sejak 20 Mei 1978 kompleks tersebut diresmikan sebagai Taman Budaya Jawa Timur oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef.Saat itu, gedung tersebut merupakan bagian dari 25 taman budaya yang ada di Indonesia.

Kata “Cak Durasim” sendiri diambil dari nama Cak Gondo Durasim, seorang tokoh kesenian Surabaya yang terkenal karena kesenian ludruknya. Konon, pada 1943, Cak Durasim meninggal di ujung senapan tentara Jepang seusai pementasan ludruk di Peterongan, Jombang. Pasalnya, salah satu kidungan ciptaannya “Pegupon omahe doro, Melok Nipon tambah sengsara” (Pegupon rumah burung dara/ikut Nipon tambah menderita), tetap dinyanyikan saat pentas di Jombang itu. Padahal, kidungan itu dilarang karena berisi penghinaan terhadap Jepang. Apalagi, saat itu ludruk dikenal sebagai wadah pemberontakan kaum petani, khususnya di Surabaya.

Theather Cak Durasim

Tempat yang sering di pakai pameran seni dan pentas seni rakyat (Ludruk, Wayang Kulit), Dalang (pemain wayang kulit) terkenal asal Indonesia sering main di tempat ini. Bagi kita yang menyukai kesenian Indonesia bisa langsung datang ke tempat ini.

Terdengar lengkingan suara sinden melantunkan tembang-tembang jawa diiringi dengan tabuhan gendang dan ketukan gamelan, membuat nuansa budaya jawa terasa semakin kental di kompleks cagar budaya itu.

Ramainya kendaraan yang berlalu lalang di kawasan Surabaya Pusat siang itu, semakin menambah kesan Surabaya sebagai kota yang sibuk dengan segudang aktifitas penduduknya. Tetapi, seketika atmosfer pun berbeda ketika melintasi tepat di jln. Gentengkali no. 85.

Taman Budaya, siapa sangka bangunan yang berdiri sejak tahun 1915 itu, salah satu dari bangunan cagar budaya. Maklum, gedung yang dipusatkan untuk pengembangan dan pelestarian kesenian di Surabaya itu memang mengalami beberapa renovasi. Sehingga, tak nampak tua seperti usianya yang mencapai 94 tahun.

Kompleks yang luasnya mencapai satu hektar ini, semula merupakan komplek perkantoran dan rumah dinas Bupati Kepala Daerah Tingkat II Surabaya. Kemudian diserahkan kepada Kepala Perwakilan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur.

Di dalam taman bersejarah ini, berdiri berbagai fasilitas bangunan, diantaranya Pendopo Jayengrono, Gedung Cak Durasim, Sawunggaling Hall, Ruang gamelan “Sawungsari”, Wisma Seniman “Sawungrono”, dan Musholla Al-Jamal.

Tetapi dari sekian bangunan yang didirikan, Gedung Cak Durasim dan Pendopo Jayengrono lah yang sering difungsikan sebagai tempat pementasan dan pagelaran karya seni, ketimbang gedung-gedung lainnya. Tak heran jika Taman Budaya lebih dikenal dengan sebutan Cak Durasim.

Berjalan dari gerbang menuju pendopo, terlihat bangunan yang berarsitektur joglo dengan empat pilar yang menyanga, disertai patung sosok pria mengenakan udeng (ikat kepala khas Surabaya) di depan, samping kiri bangunan bertuliskan Cak Durasim.

Patung dan bangunan tersebut sengaja dibangun untuk mengingat jasa-jasa Gondo Durasim, seniman ludruk kelahiran Jombang ini sering melantunkan kidungan yang isinya mengkritik pemerintahan Jepang dalam setiap pementasan ludruknya.

Salah satu kidungan populernya, ’Bequpon omahe doro, melu Nippon tambah soro’ yang bermakna, kehidupan pada jaman penjajahan Jepang lebih sengsara daripada hidup di jaman penjajahan Belanda, membuat pria yang akrab dikenal dengan Cak Durasim ini meringkuk di penjara.

Sekilas, kita tidak akan menyangka kalau gedung yang dilihat dari luar seperti ‘rumah tak berpenghuni’ ini, ternyata sering digunakan untuk berbagai pertunjukkan karya seni. Khususnya pertunjukkan yang menggunakan setting indoor, seperti seni teater, seni tari hingga seni musik. Di dalamnya juga dilengkapi dengan fasilitas AC, sehingga menambah kenyamanan penonton saat menikmati suguhan pertunjukan seni yang berlangsung.

Gedung yang dulunya bekas gedhongan (kandang kuda) ini, mampu menampung 500 sampai 700 penonton. Selain panggung, adapun beberapa ruangan di dalamnya, antara lain: ruang rias, ruang transit tamu, dan ruang utama untuk penonton.

Gedung ini tidak pernah tidur karena hampir setiap hari ada saja kesenian yang ditampilkan. Jadi kalau ke Surabaya, cobalah mampir ke gedung Cak Durasim selain mengetahui bangunan bersejarah kita juga bisa menikmati suguhan pentas kesenian sekaligus melestarikan budaya daerah bahkan budaya nasional (taken from here).

Share

Post to Twitter