Tio Ciu (Surabaya); Boleh, Lah..

Sudah lama sekali dengar nama tempat makan Tio Ciu di Jalan Tidar, Surabaya, apalagi karena si Iyem-ku itu sering makan disana (eh, sering gak, sih?), haha. Tapi tidak sekalipun aku berminat untuk makan disana. Alasannya? Karena disebelah dia ada Ayam Goreng Asli Pemuda yang menurutku lebih menarik untuk didatangi, haha! Alasan kedua, karena tetanggaku buka sejenis depot yang juga bernama Tio Ciu dan cita rasa makanan aiiih.. (horrornya malam Jumat kalah, deh).

Namun karena seorang kawan datang dari Kediri dan tinggal disekitar Jalan Tidar, aku kemudian mengajaknya bertemu untuk makan malam. Dan kawanku ini memilih untuk makan Chinese Food. Katanya, “Yang ada babinya ya”.

Nah, di deket Jalan Tidar sono ya hanya ada Tio Ciu dan Hok Siong sajalah yang memenuhi criteria tersebut. Lha kalo di Hok Siong sih jelas babi banget, tapi disono engga ada makanan lain kecuali babi-babian itu (engga ada mie/ sayur, dll). Jadi, kali ini ‘terpaksalah’ aku ke Tio Ciu.

Sebelumnya, aku sudah kontak si Iyem. Maksud hati sih untuk tanya, makanan apa yang enak disana & bisa bayar pake debet/ card, gak (soalnya saat itu belum ambil duit cash euy). Eh, seperti biasa Iyem engga bisa dihubungi *ga heran!* dan kesanalah aku tanpa bawa banyak duit cash, juga ‘buta’ menu.

Jadi, setelah sampai, yang pertama kali aku tanyakan adalah “Ada menu babi gak?” dan kemudian dijawab “Ada”. Barulah kemudian aku masuk.

Btw, tempat makannya cukup unik. Dibagian luar, ada dapur terbuka dan sebuah meja panjang yang bisa digunakan untuk makan:

Tio Ciu (Surabaya)

Tapi siapa yah yang mau makan diluar ruang ber-AC, di Surabaya yang malam itu begitu gerah dan berdebu, ya?). Jadi, aku pun masuk keruang dalam yang ber-AC:

Tio Ciu (Surabaya) Tio Ciu (Surabaya) Tio Ciu (Surabaya)

Kesan pertamaku, wow? Seluruh dindingnya terbuat dari marmer, hmm.. Sudah jarang sekali aku menemukan tempat makan dengan bangunan sejenis ini. Ada beberapa meja yang seluruh kursinya terbuat dari alumunium. Dan meja-meja itu mostly penuh terisi (makanya rada sungkan fotoin). Hanya ada 1 meja kecil (yang akhirnya aku pakai) dan 1 meja panjang, yang kosong. Wah, sepertinya OK neh!

Lembar menu pun kemudian aku pelajari:

 Tio Ciu (Surabaya) Tio Ciu (Surabaya)

Nah, kok engga ada babinya? Pelayannya pun segera memberitahu, bahwa menu babi memang tidak tertera pada list, tapi ada. Silakan aja mau masukin daging babi di makanan apa. Maka aku memesan tamie cap cay dengan daging babi:

Tio Ciu (Surabaya)

Well, tamie cap cay-nya ya gitu2 aja lah ya. Aku pribadi lebih suka mie yang tipis (seperti yang di Depot 21, Malang) kalau untuk tamie cap cay. Tapi tenang saja, yang ini termasuk yang bisa dinikmati dengan baik. Sayur mayurnya hijau, ditumis dengan baik sehingga tidak terlalu layu. Mie-nya juga cukup crunchy sehingga memberi sedikit sensasi kriuk ketika dikonsumsi. Dagingnya (babi,  hiwan, dll) pun jumlahnya tidak terlalu pelit.

Mamiku yangpenggemar kepiting, kemudian memesan fu yung hai dengan daging kepiting yang muncul dengan sausnya yang merah menyala (lupakan soal pewarna buatannya!) dan hiasan dari daun selada di tepi piring:

Tio Ciu (Surabaya)

Dan itu fuyunghai beneran deh dibikin menggunakan daging kepiting karena beberapa kali aku menemukan ‘serpihan’ daging kepitingnya ketika membelah adonan telur. Sayang, aku kurang menikmati sausnya yang menurutku kurang cocok di lidah karena entah kenapa menurutku agak sedikit terasa hambar. Bukannya harusnya agak sedikit asam-manis (atau minimal manis lah, ya?).

Btw, heiii.. untuk kawanku yang sengaja pengen babi, tamie cap cay berdaging babi itu tentulah ga cukup. Maka sebuah menu yang engga ada di menu pun akhirnya dipesan. Namanya, babi mentega!

Daging babinya digoreng dengan tepung hingga kulitnya menjadi kecoklatan, kemudian sajikan diatas sebuah piring saji yang dilengkapi dengan hiasan dari timun, tomat dan jeruk nipis, lalu disiram dengan saus yang bercitarasa gurih-asin berwarna kekuningan:

Tio Ciu (Surabaya)

Buatku, rasanya agak terlalu gurih-asin sehingga aku memakannya dengan mencampurkan tamie cap cay atau fuyunghai pada setiap suapan. Namun, berbeda denganku.. kawanku ternyata sangat menyukai makanan ini sehingga dia pun kemudian memujinya hehe.

Dan seperti kebanyakan makanan cina biasanya, makanannya disertai denga acar dan potonan cabe rawit yang disajikan terpisah:

Tio Ciu (Surabaya)

 Penuh deh, mejaku jadinya:

Tio Ciu (Surabaya)

Btw, porsi ditempat ini lumayan besar lho. 3 makanan itu, engga bisa dihabiskan oleh 3 orang, wkwkwk.. Harganya pun cukup masuk akal (tapi aku emang engga pesan seafood sih). Tapi, bicara soal acara bayar membayar, tadi kan aku sudah ceritain kalo aku kesana tapi engga bawa banyak uang karena ga sempat mampir ambil uang cash dahulu. Nah, ternyata jreng jreeeng.. disana engga bisa terima pembayaran dengan debit, apalagi credit card *tepuk tangaaan!!!*. Jadi, terpaksa bongkar2 dompet deh buat kumpulin duit. Duh, wkwkwkwk.. Jadi, kalo kesana, bawalah uang cash. Penting deh, itu.

Selain itu, tadi di awal tulisan kan aku bilang bahwa didepan tempat makannya ada sebuah dapur terbuka. Nah, aku sempat berlama-lama didepan dapur mereka karena menemani temanku yang sedang menunggu jemputan. Dan ternyata menyenangkan lho, mengamati kegatan masak memasak gini (mendingan lihat yang life gini daripada Chef Juna!) karena jarang2 kan ada dapur chinese food yang ‘rada kompleks’ gini dipamerkan ke pengunjung:

Ada seorang koki senior yang dibantu dengan 2 asistenya dan 1 tukang potong senior. Semuanya bekerja dengan serius dan alat-alat masaknya wow bener deh, semuanya rapi dan bersih, full alumunium.

Tio Ciu (Surabaya)

Tio Ciu (Surabaya)   Tio Ciu (Surabaya)

Asik, yah! Sayur mayurnya pun dipamerkan dan menarik untuk difoto:

Soto Khas Semarang Pak Man Soto Khas Semarang Pak Man Soto Khas Semarang Pak Man Soto Khas Semarang Pak Man

Share

Post to Twitter