Eko Wisata Mangrove Wonorejo (Surabaya); Lokasi Wisata Terbaru di Surabaya

Beberapa bulan lalu, koran terbitan Surabaya terus-terusan memuat berita mengenai hutan Mangrove yang disulap menjadi lokasi tujuan wisata bernama “Ekowisata Mangrove Wonorejo”, terletak di sekitar kawasan Wonorejo-Rungkut:

Berbekal rasa penasaran segede gaban dan info secuil (benar-benar susah mendapatkan info mengenai tempat ini kecuali memiliki kawan / kenalan yang sudah pernah kesana), berangkatlah kita beramai-ramai menuju daerah Wonorejo, sambil berharap menemukan papan nama / papan petunjuk didaerah sana.

Puji Tuhan, niat direstui. Sesaat setelah melewati kampus Stikom (sekitar jembatan MERR C), kita mulai melihat papan petunjuk menuju  Ekowisata Mangrove Wonorejo. Makin lama jalannya makin mengecil dan daerahnya makin sepi, bahkan kanan kiri jalan yang kita lalui sudah berupa belukar atau rawa.

Kita melewati sekolah IPH dan pangkalan taxi Orenz. Kemudian, kita melihat papan petunjuk terakhir yang mengarahkan kita masuk kesebuah areal dengar pagar besi seadanya. Tidak ada loket atau petugas disana. Sekeliling kita hanya rawa, tambak kecil dan semak. Kita berjalan terus mengikuti bekas ban mobil yang tampak ditanah yang becek.

Hingga akhirnya, kita melihat segerombolan orang dan beberapa warung kecil. Disanalah kita berhenti dan memulai petualangan!

Pertama-tama, kita membeli tiket untuk naik perahu. Ya, kita harus naik perahu menyusuri sungai terlebih dahulu. Harga tiketnya adalah Rp. 25.000 per kepala (tarif berlaku untuk penumpang dewasa dan anak-anak), untuk 1x perjalanan pergi dan pulang.

Didalam perahu, disertakan rompi pelampung. Penumpang tidak disarankan memakai pelampung tersebut namun hampir semua penumpang dengan sadar dan sukarela langsung memakainya. Sungai yang akan kita susuri cukup lebar dan deras, nampak gelombang air berkecipak.

 

Karena perahu pertama tampaknya sudah sarat penumpang, kita dengan sukarela menunggu pelayaran berikutnya. Sebenar-nya disediakan 2 perahu yang masing-masing berkapasitas 40 penumpang dewasa, namun karena ada 1 perahu yang rusak, maka kita harus sabar menunggu 20-25 menit.

Oh, tidak masalah! Kita menemukan banyak ‘hiburan’ sekitar dermaga semi permanen yang dibangun menggunakan bambu-bambu. Ada monyet liar yang dikurung dan diikat, ada warung-warung menjajakan minuman kemasan dan gorengan hangat (tapi tetap kudu dilihat dulu sanitasinya yaaa..), monyet, serombongan foto model dan fotographer, segerombolan penghobi pancing, juga nelayan ikan bandeng yang saat itu baru saja panen ikan!

 

Tidak lama kemudian, perahu kita datang dan kosong tanpa penumpang dan satu persatu dari kita-pun naik:

Kalau Mamiku bisa dengan santai naik perahu, tidak dengan anaknya. Aku dikenal bernyali kucing (alias takut air!). Jadi, butuh keberanian seluas samudra dan niat setinggi Semeru untukku naik ke perahu, hiks. Tapi akhirnya dengan perjuangan, naiklah aku ke perahu *pheew!*, memakai rompi pelampung, duduk manis sambil komat kamit doa. Pelampung? Iyalah, kudu dipake tuh:

Pertama2, asik ajah. Perahu berjalan cukup tenang tapi tiba-tiba, hey! Perahu menuju lautaaannn!! Aku mulai ketakutan setengah mati apalagi perahu tiba-tiba lebih berguncang dan disekeliling hanya ada air, air dan air. OMG! Sesekali aku lihat ada tanaman bakau ditengah laut, bagus sih.. tapi aku lebih kepikiran dengan air dan ombak, air dan ombak, haha!

 Hingga akhirnya bernafas sedikit lega karena perahu berputar, kembali  menuju sungai dan berhenti disebuah dermaga semi permanen yang juga dibangun dari bambu-bambu. Disana, penumpang kapal sebelumnya sudah menunggu dan menunggu untuk diberangkatkan pulang:

Tampaknya mereka begitu lega yah, dijemput? Wew! Aku bertanya kepada beberapa orang disana, ada apa di hutan mangrove? Mereka bilang: “Nothing”. Oh, great.

Segera setelah seluruh kawan mendarat dan perahu pergi, suasana langsung menjadi sunyi dan  kita melanjutkan perjalanan meniti jembatan yang lagi-lagi terbuat dari bambu. Sekali lagi, ini adalah tantangan untukku karena (lagi-lagi) aku takut aiiiir! Aku sangat takut jembatan itu ambruk (ini mah phobia sejak kecil dan aku dengan sengaja ikut ke hutan mangrove untuk mengalahkan rasa takut) lalu aku terjatuh ke air lalu tenggelam, hmm..

Sedangkan dikanan kiri, hanya ada tanaman bakau hijau (dan sampah / lumpur):

 

Kita menempuh perjalanan yang menakutkan (untukku) dan lumayan panjang, meniti jembatan bambu yang beberapa bagiannya sudah rusak / lapuk *yeah!*:

Hingga akhirnya kita melihat sebuah bangunan semi permanen lain (yang juga dibuat dari bambu!). Aha.. rupanya disanalah tujuan utama kita:

Akhirnya, kita duduk sambil bercanda dan berfoto sebanyak mungkin (karena menyadari sepertinya ini akan menjadi kunjungan pertama dan terakhir, haha!). Disana, kita dapat melihat pulau Madura dari kejauhan, juga jembatan bambu tempat kita tadinya berjalan, juga beberapa tanaman mangrove yang baru ditanam:

 

Dan sekitar 30 menit setelahnya, kita mendengar bunyi gaduh dari perahu. Horrray!!! Perahu datang, kita bisa melihatnya dari gazebo! Itu sekaligus merupakan tanda bagi kita untuk harus segera bergerak menuju dermaga jika tidak ingin menjadi orang utan *wakakakakkk!*:

Perjalanan pulang menempuh sungai yang sama namun terasa lebih lama karena perahu bergerak melawan arus, sedangkan arus sungai menuju muara cukup deras. Tapi nikmati saja. Tampak beberapa burung dan beberapa hewan lainnya mulai bermunculan. Dan tidak lama kemudian petugas di perahu mulai bergerak maju dan mengambil tali, tanda daratan kian dekat, aaah.. leganya:

Dan? Oho, senangnya melihat daratam apalagi menginjaknyaaa!

Didaratan, tampak para foto model sedang rehat. Ah, I dont really care! Haha, lagian mereka ga cakep2 amat. Aku terlalu sibuk bersenang-senang, mempertemukan telapak kakiku dengan tanah. Darataaannn! Hahahaha :D.

Satu hal yang aku dapat dari tempat ini. Aku jadi tidak terlalu paranoid berada diatas jembatan yang dibawahnya ada air. Aku sendiri tidak terlalu memperhatikan sampai akhirnya aku pergi menyeberang jembatan kecil yang dibawahnya ada air dan aku berdiri santai diatasnya.

Aku ‘sembuh’? Wow!

Share

Post to Twitter