Gua Maharani (Lamongan); Akhirnya..

Sudah sejak 4 tahun lalu aku ‘ngidam’ ke tempat ini. Beberapa orang bilang, gua Maharani bagus, soalnya. Tapi tidak pernah keturutan!

Dan keinginan makin memuncak saat akhirnya  ke WBL dan masuk ke gua. Itu gua pertama yang aku masuki saat dewasa. Takjub rasanya berada di perut bumi. Aku masuk ke lorong-lorong (yang saat itu menurutku tampak) indah, yang semakin lama makin dalam, sebelum akhirnya keluar dan bertemu sinar matahari lagi.

Tapi apa daya. Gua Maharani ditutup dengan jangka waktu yang cukup lama karena dibenahi. Setiap kali kesana, tutup. Aih!

Akhirnya, saat libur lebaran kemarin, kita spontan berangkat ke Klenteng Kwan Sing Bio Tuban dan melewati lokasi Gua Maharani (yang sudah selesai direnovasi) dalam perjalanan. Mampir, deh!

FYI, gua Maharani yang sekarang berbeda dengan gua Maharani yang dulu. Jika dulu, gua Maharani ‘terbuka’ begitu saja, maka kini pemerintah Lamongan melakukan banyak perbaikan dan pengembangan disekelilingnya hingga menjadi satu dengan kompleks Wisata bahari Lamongan (WBL) yang menjual pesona bahari dengan menjadikan Tanjung Kodok sebagai daya tarik utama.

Kini, gua yang ditemukan secara tidak sengaja pada 6 Agustus 1992 itu telah dirombak pada beberapa bagian.

Selain dibuatkan jalan permanen yang lebih baik menuju gua, sesaat sebelum masuk ke bagian yang lebih dalam, kita akan menjumpai ‘pintu masuk’ berupa 2 naga emas bermahkota:

2 naga ini diinspirasi mimpi istri penemu gua, bahwa pada malam sebelum gua itu ditemukan, dia bermimpi melihat cahaya bunga­ – bunga yang sangat indah berwarna – warni yang di jaga oleh dua ekor naga raksasa bermahkota. Ini pula yang menjadi inspirasi menamai gua cantik ini dengan nama “Maharani”.

Selain itu, bagian dalam gua juga direnovasi. Tapi aku juga memahami, bahwa renovasi yang dilakukan untuk mempermudah pengunjung melintasi gua dan membuat stalaktit dan stalakmit bisa dilihat dengan jelas:

Beberapa bagian didalam gua juga disorot oleh lampu, selain untuk memudahkan pengunjung menikmati keindahan gua, ternyata stalaktit dan stalagmit yang tumbuh di dalam gua dapat meman­carkan cahaya warna warni bila terkena cahaya! Yup, inilah, salah satu keistimewaan gua ini:

 

Beberapa bentukan di gua juga indah. Ada yang menyerupai pohon beringin, gigi, bunga kenanga, mahkota Maharani, dll:

 

Itu sajakah keistimewaannya? Nope! Gua Maharani juga memiliki sumber air suci didalam gua yang bersumber pada sebuah sumur yang terletak di tengah gua dan berbentuk mulut naga. Air tersebut dapat dipergunakan untuk penyembuhan berbagai penyakit, termasuk seperti penyakit gila. Wow!

 

Stalagtit dan stalagmit gua ini juga masih tumbuh sebesar 1cm dalam 10 tahun. Tidak heran, pada beberapa bagian aku ketetesan air / melihat stalagtit meneteskan air dengan sangat pelan. Indah sekali!

 

Ada beberapa mitos yang beredar mengenai gua ini. Beberapa mempercayai, bahwa  sebelum masuk, kita harus kulonuwon (meminta izin) dengan mengucapkan salam kepada Eyang Singojoyo dan Eyang Dewi Berinting.

Beberapa lagi bahkan mempercayai sosok Roro Ayu Mantili, putri dari kerajaan Madangkara, sering menampakkan diri di dalam gua didampingi para embannya. Sugeng, juru kunci gua bahkan memberi informasi bahwa setiap bulan suro, pada hari Jumat Kliwon, Wali Songo mengadakan pertemuan di dalam bagian gua yang berbentuk mulut naga tersebut. Ia juga mengaku pernah bertemu sapa dengan Bung Karno sebanyak dua kali di sana. Wew..

Setelah keluar dari gua, jalanan bercabang. Salah satunya menghubungkan kita kembali ke zoo (kebun binatang) dan satunya lagi mengarah ke museum bebatuan. Aku memilih ke museum:

 

Didalam museum, ada banyak sekali bebatuan tua dan fosil-fosil langka. Aku cukup menikmatinya. Ruangannya yang ber AC, menambah betah pengunjung karena cuaca Lamongan memang lumayan panas.

Keluar dari museum, hanya ada satu jalan. Yaitu masuk ke zoo (tapi kita bisa saja balik ke Gua Maharani). Nah, bicara soal zoo, kebun binatang di Maharani lumayan manusiawi jika dibandingkan kebun binatang Surabaya (KBS) yang baru-baru ini dikabarkan banyak satwanya mati tidak wajar karena masalah kebersihan dan kesehatan yang kurang diperhatikan.

 

Dan dibagian luar, disediakan aneka stan menjual aneka benda, oleh-oleh, topi, makanan, juga minuman:

 

Buka dari jam 08.30 – 17.00 , 365 hari dalam satu tahun dengan harga tiket Maharani: 15.000 untuk Senin-Kamis dan 20.000 untuk hari Jumat -Minggu. Kalau mau sekalian masuk ke WBL, cukup membayar 45.000 untuk Senin-Kamis dan 60.000 untuk hari Jumat -Minggu.

Pakailah sunblock dan topi, minumlah banyak air (bukan soda) dan lindungilah barang dengan baik (terutama elektronik, seperti: HP, camera, handycam, dsb) terutama jika masuk ke WBL karena beberapa permainan disana melibatkan air dan fisik.

Dan setelah puas ‘bermain-main’ didalam gua dan menyapa beberapa satwa, aku melanjutkan perjalanan ke klenteng Kwan Sing Bio Tuban setelah mengisi perut di rumah makan Kendil Wesi. Perjalanan yang menyenangkan!

Share

Post to Twitter