Klenteng Kwan Sing Bio (Tuban); Terkenal Indah, Jiamsi Tepat dan Magis!

Akhirnya.. setelah pakai mampir ke gua Maharani dan makan di Palm Kendil Wesi, sampailah kita di kota Tuban!

Sekitar 3-4 tahun lalu, aku pernah ke kota ini. Namun buat Mamiku, ini adalah kali pertama bagina menginjak kota Tuban setelah 25 tahun! Wow. Jadi, kita sempatkan diri berputar-putar keliling kota, melihat beberapa tempat yang dahulu sering dikunjungi ketika kita tinggal di Tuban. Setelah itu, baru deh menuju kleteng.

Klenteng? Ya! Tujuan kita jauh-jauh ke Tuban adalah untuk ke Klenteng Kwan Sing Bio, sebuah klenteng tua dan terkenal akan jiamsi-nya yang (katanya) tidak bisa diremehkan. Tapi bukan itu saja yang menarik aku. Klenteng ini, cantik loh! Beberapa tahun lalu saat kesana, aku lebih banyak menghabiskan waktu diluar bangunan klenteng, berfoto kesana-kemari, haha.

Tapi sayang, kali ini kita tiba saat magrib dan aku dikejar waktu (untuk kembali ke Surabaya). Jadi, tanpa berkeliling dahulu, aku langsung masuk kedalam klenteng dan bersiap untuk ambil jiamsi! Hoho..

Awalnya, aku masih membandel dengan mengambil beberapa foto didalam klenteng, sebagai ‘kompensasi’ ketidak-beranianku mengambil foto-foto diluar klenteng:

Tapi aku dihentikan oleh seorang petugas disana. Dia bilang, berfoto diluar ruangan Kong Co is OK lah.. tapi tidak diijinkan untuk memfoto apapun didalam ruangan Kong Co. Weh, daripada ada apa-apa akhirnya aku menurut. Kamera disimpan, lalu bakar 3 hio untuk Kong Co dan khusuk berdoa sambil mengocok kaleng jiamsi.

Hm, sepertinya aku harus menceritakan sedikit mengenai djiamsi. Agak susah sih, benernya *garuk2 kepala*. Errrr, OK lah, singkat cerita, djiamsi memang (bisa) dikategorikan sebagai kegiatan ramal-meramal. Ada pula yang mengartikannya sebagai usaha memohon petunjuk. Apapun itu, aku rasa itu semua kembali kepada masing-masing individu yang melakukannya. Mau dianggap sebagai meramal masa depan, memohon petunjuk, budaya, kepercayaan, atau apa saja.. silakan.

Dan aku pribadi melakukannya karena penasaran!

Untuk itu, sebenarnya, aku harus sembahyang kesemua dewa-dewi yang ada di klenteng. Tapi karena dikejar waktu, akhirnya aku memilih jalur ekspres!

Caranya adalah: berdoa menggunakan 3 batang hio di altar Kong Co, lalu mengajukan pertanyaan dan memohon jawaban kepada Tuhan / Dewa / Kong Co. Setelah itu, kita mengocok kaleng djiamsi yang berisi beberapa bilah bambu kecil dengan nomor-nomor yang berbeda pada setiap bilahnya.

Setelah ada satu bilah yang keluar, kita kembali bertanya kepada Tuhan / Dewa / Kong Co, apakah benar, nomor pada bilah tersebut adalah petunjuk untuk pertanyaan kita. Untuk mendapat jawabnya, kita harus ‘melempar’ sepasang balok kayu.

Jika kedua balok kayu tengkurap, maka diyakini bahwa bilah bambu tersebut bukan petunjuk jawaban kita. Jika keduanya telentang, maka dipercaya bahwa kita sedang diketawai. Namun jika 1 balok kayu tengkurap dan satunya lagi telentang, maka jawabnya adalah “ya”.

Dan setelah mendapatkan jawaban “ya”, kita harus pergi mengambil kertas dengan nomor yang sesuai dengan nomor bilah bambu tadi. Kertas tersebut biasanya berisi puisi dalam bahasa Cina yang merupakan jawaban / petunjuk dari doa dan pertanyaan kita.

Untuk kalian-kalian yang penasaran melakukan jiamsi dan kurang paham dengan ‘tata cara’-nya, tidak usah khawatir. Di klenteng Kwan Sing Bio, ada beberapa petugas dengan baju kuning, diperuntukkan untuk kita-kita yang ‘bingung’. Hal ini dapat dimaklumi karena yang datang dan ‘penasaran’ dengan djiamsi tidak hanya datang dari penganut Kong Hu Cu saja, namun lintas agama dan ras, karena mereka-mereka yang beragama Buddha, Katolik, bahkan beberapa orang dengan kerudung tampak antri mengocok kaleng djiamsi.

Jadi, para petugas itu nantinya akan mendampingi kita bersembahyang, mengocok kaleng djiamsi, hingga mengambilkan kertas yang sesuai dengan nomor bilah bambu yang keluar:

Nah, karena jawaban diberikan dalam bentuk sastra Cina yang kurang bisa dimengerti oleh masyarakat awam, klenteng menyediakan beberapa orang yang ‘ditugasi’ membantu menerangkan djiamsi:

Dan tidak semua orang boleh / mampu membacakan jiamsi loh! Untuk itu, mereka harus memiliki keahlian bahasa dan sastra Cina yang diakui:

Memang, mereka-mereka ini bekerja suka rela untuk klenteng, namun alangkah baiknya jika waktu dan tenaga yang telah mereka beri, dihargai dalam bentuk rupiah.

Dan jika kita berjalan mengikuti lorong hingga bagian belakang kleteng, kita akan mendapati bangunan-bangunan dengan arsitektur Cina yang salah satunya dipergunakan sebagai dapur umum. Pengunjung dipersilakan makan apa adanya disana, tanpa dipungut biaya, pada setiap jam makan.

Dan berikut ini adalah beberapa foto lain yang sempat aku ambil sebelum akhirnya pulang ke Surabaya. Enjoy!

Share

Post to Twitter