Gunung Kawi – 2 (Malang); Sekeliling Makam, Guci Air & Pohon Dewandaru

Baca dahulu blog sebelumnya:

Setelah makam ditutup.. aku sempat balik ke penginapan dan makan nasi selamatan bersama-sama. Soal rasa, OK lah. Padahal isinya sederhana saja: hanya seekor ayam kampung (utuh), nasi dan serundeng manis. Hanya saja, akan lebih enak andai lauk serta nasinya hangat:

Barulah setelah selesai makan, kita naik lagi ke kompleks makam, untuk berkeliling sedangkan Mamiku memilih pijat dengan tukang pijatnya Gunung Kawi yang unik:

Mereka dandan komplet dengan kebaya dan sanggul, haha. Cantik-cantik dan sopan.

Si Ibu cerita, mereka memang sengaja berdandan begitu untuk menghargai diri sendiri dan mengurangi niat pira-pria iseng yang menggoda. Tarifnya sekitar 40ribu, untuk pijat capek selama kurang lebih 45 menit.

Oya, kembali pada rencana kita untuk berjalan-jalan. Aslinya,  itu hanya karena kita penasaran dan PD dengan lutut2 muda kita (yang ternyata sudah tua), haha! Eh, ternyata.. ada ritual keliling makam loh! Dan tidak sembarangan, caranya. Berminat? Monggo, diperhatikan tata caranya..

Sesuai dengan jadwal yang tertulis didepan gapura masuk, pengunjung dipersilakan ritual keliling makam (dengan arah BERLAWANAN jarum jam) mulai jam 12.00 (tengah malam) hingga jam 01.00.

Pertama-tama, pengunjung harus datang pada pintu masuk makam (bagian depan), bersujud doa sambil meminta ijin sekaligus perlambang kita ‘sungkem’ kepada kaki Eyang Jugo dan Eyang Sujo.

Kemudian, pengunjung pergi ke pintu kedua makam. Letaknya disebelah kanan pintu utama (Info: didekat pintu kedua ada 2 buah guci tua berisi air yang dipercaya akan mendatangkan kebaikan dan awet muda jika diminum dan dipakai cuci muka). Ini sebagai lambang, kita menghormat kepada tangan kiri Eyang Jugo dan Eyang Sujo.

Lalu, perjalanan diteruskan menuju bagian belakang makam. Disana, ada tiang yang penuh dengan bunga-bunga. Disitu, pengunjung kembali berdoa, lambang menghormat kepada kepala Eyang Jugo dan Eyang Sujo.

Selanjutnya, ada sebuah pintu kecil. Seperti sebelum-sebelumnya, pengunjung berdoa didepan pintu tersebut, sekaligus menghormat pada tangan kanan Eyang Jugo dan Eyang Sujo.

Tempat kelima, adalah sebuah pintu, yang didepannya tertanam kokoh pohon Dewandaru yang konon usianya sudah ratusan tahun. Pengunjung berdoa disana sesaat, kemudian kembali lagi ke pintu utama untuk mengucapkan terima kasih.

Nah, biasanya.. ritual keliling ini dilakukan berkali-kali. Biasanya 3x, 7x, 11x atau lebih. Beberapa pengunjung lebih suka melakukannya tanpa berhitung, namun mengandalkan kekuatan dan feeling.

Bicara soal pohon Dewandaru didepan pintu terakhir makam, ternyata.. pohon ini bukan sembarang pohon. Beberapa menyebutnya sebagai pohon keramat, pohon sakti, pohon kekayaan, dsb (foto berikut adalah foto pohon Dewandaru namun BUKAN pohon yang berada di kompleks makam):

Pohon ini, konon.. adalah tongkat dari Raden Mas Imam Sujono, alias Mbah Sujo yang ditancapkan dan berubah menjadi pohon. Ada pula yang meyakini pohon ini ditanam oleh kedua tokoh sebagai penanda bila daerah Gunung Kawi subur, tentram dan wilayah yang aman.

Dan bagian dari pohon yang yang terjatuh (daun / buahnya) dipercaya akan mendatangkan kekayaan dan kelancaran rejeki jika ada manusia dibawahnya yang kejatuhan / memungut. Masalahnya.. pohon ini berbeda dengan pohon-pohon Dewandaru lainnya yang ada disekitar makam. Jika disekitar pohon Dewandaru lain sering aku dapati buah atau daunnya berjatuhan, disekitar pohon ini tidak aku temukan satupun daun atau buah yang ‘tergeletak’.

Bukan (saja) karena sudah diambil orang, tapi memang karena pohon ini unik: jarang sekali ada daun, apalagi buahnya yang jatuh (walaupun ada hujan angin sekalipun!). Sehingga tidak jarang, ada orang yang menginap dibawah pohon ini selama seminggu, 10 hari atau bahkan lebih. Tidak jarang pula, orang-orang tersebut pulang dengan tangan kosong.

Nah, kebetulan.. saat aku berdiri dibawah pohon itu sambil mengagagumi kisahnya, seorang local guide menyarankan aku memegang batang pohon dan berdoa. Aku lakukan. Dan tidak lama, ada sesuatu jatuh dari pohon. Aku ambil. Wow, ternyata buah Dewandaru-nya! Oho… how lucky I am!!!

Beberapa local guide mendadak dangdut heboh. Seseorang diantaranya menyuruhku menemui seorang Bapak yang dia tunjuk. Aku menurut. Sesampainya di Bapak itu, aku bilang “Saya dapat rejeki”. Dia bertanya, “Apa yang sampean dapat?”.

Aku buka genggaman tanganku. Dan hebohlah dia, seperti kawan-kawannya, setelah mengetahui aku mendapat buah Dewandaru. Dia langsung menyuruhku melakukan ritual keliling makam. Caranya sama, seperti cara yang akju jabarkan diatas. Hanya saja, pada pintu 1, 2 dan tiang, aku harus mengetuk 3x sambil mengucap terima kasih.

Pada pintu kedua, aku disuruh memakan buah Dewandaru (rasanya seperti cerme / ceremai , hanya saja agak terasa asam) dan mengeluarkan bijinya. Biji tersebut, dibungkus dengan uang kertas dan mereka menyuruhku terus menggenggam biji Dewandaru, sambil meneruskan ritual keliling makam.

Setelah itu, Bapak ini memintaku untuk segera melakukan selamatan dengan cara melepas kambing. Hm? OK lah.. Aku pikir, harganya sekitar 600ribu saja (berdasarkan tabel yang tertera diatas loket). Eh, kok mintanya lebih? Sampai jutaan? Dan si local guide menjawab, kambing yang nantinya dilepas adalah kambing sakti, karena itulah harga yag ditawarkan tinggi.

WASPADAILAH hal ini, kawan. Karena hal itu TIDAK benar.

Sempat, aku mencobai local guide itu. Aku bilang, aku mau melihat sendiri prosesi pelepasan kambing. Local guide mencoba mengelak dengan alasan “Sampean kan perempuan, masa malam-malam masuk ke hutan, melepas kambing?”. Aku jawab, “Ga apa, kan saya ajak ibu dan saudara2 saya sekalian”. Namun si local guide ‘memaksa’ aku untuk menitipkan uangnya saja ke dia / meninggalkan uangnya di tiang belakang makam (tiang bagian kepala nisan). Olala..

Setelah berunding, aku memutuskan untuk tidak membayar ongkos selamatannya. Aku memilih balik ke hotel dan bertanya kepada orang-orang disekitar hotel, apakah benar orang yang dapat buah Dewandaru harus melakukan selamatan melepas kambing yang harganya jutaan? Semuanya menjawab: TIDAK.

Tapi ternyata, aku dibuntuti hingga ke hotel. Untung, aku pergi dengan beberapa saudara laki yang badannya tinggi kekar dan ahli bela diri *horrray!* sehingga merasa aman. Dan setelah mengutus petugas hotel untuk memberi tahu (ulang) bahwa aku tidak berminat membayar selamatan, pergilah para local guide meninggalkan mangsa mereka. Phew!

Kemudian orang-orang memberi tahu cara yang benar jika seseorang ‘ketiban’ rejeki seperti aku. Memang benar, si penerima harus keliling makam sambil mengetuk pintu 1 & 2, juga tiang dibelakang makam. Namun, tidak perlu sampai mengadakan selamatan lepas kambing.

Biasanya, si penerima memang akan disuruh makan buahnya, kemudian bijinya dikeluarkan, dibungkus uang kertas dan dibawa keliling. Setelahnya, biji yang terbungkus uang kertas tersebut, dimasukkan kedalam kantong kain berwarna merah yang harus dijahit sendiri oleh si penerima.

Selanjutnya, kantong beserta isinya, ditaruh pada laci uang.

Barulah jika usaha atau rejeki menjadi lancar, doa-doa dikabulkan, ada baiknya si penerima kembali ke Gunung Kawi dan melakukan selamatan ucap syukur. Sudah, begitu saja.

Jadi, berhati-hatilah dengan mereka-mereka yang mengambil kesempatan. Local guide di Gunung Kawi sebenarnya menurutku baik. Mereka beberapa kali menjelaskan ini dan itu tanpa memungut bayaran (namun tidak menolak jika diberi). Silakan kalian memakai jasanya, namun berhati-hatilah jika ada permintaan yang berlebihan.

Lanjut ke blog berikutnya:

Share

Post to Twitter