Gunung Kawi – 3 (Malang); Raden Mas Kyai Zakaria II alias Mbah / Eyang Jugo, dan Raden Mas Imam Sujono, alias Mbah / Eyang Sujo

Baca dahulu blog sebelumnya:

Nah, sebenarnya.. yang dari tadi dihormati, diputari makamnya, diberi persembahan selamatan dan sebagainya itu siapa, sih?

Ada 2, kawan. Yaitu: Raden Mas Kyai Zakaria II alias Mbah / Eyang Jugo dan Raden Mas Imam Sujono, alias Mbah / Eyang Sujo.

Menurut Soeryowidagdo (1989), Eyang Jugo atau Kyai Zakaria II dan Eyang Sujo atau Raden Mas Iman Sudjono adalah seorang Bhayangkara (lah ini kok pake istilah pasukan Mojopahit, ya?) terdekat Pangeran Diponegoro.

Pada tahun 1830 saat perjuangan terpecah belah oleh siasat kompeni, dan Pangeran Diponegoro tertangkap kemudian diasingkan ke Makasar, Eyang Jugo dan Eyang Sujo mengasingkan diri ke wilayah Gunung Kawi ini.

Semenjak itu mereka berdua tidak lagi berjuang dengan mengangkat senjata, tetapi mengubah perjuangan melalui pendidikan. Kedua mantan bhayangkara balatentara Pangeran Diponegoro ini, selain berdakwah agama Islam dan mengajarkan ajaran moral Kejawen, juga mengajarkan cara bercocok tanam, pengobatan, olah kanuragan serta ketrampilan lain yang berguna bagi penduduk setempat.

Perbuatan dan karya mereka sangat dihargai oleh penduduk di daerah tersebut, sehingga banyak masyarakat dari daerah kabupaten Malang dan Blitar datang ke padepokan mereka untuk menjadi murid atau pengikutnya.

Setelah Eyang Jugo meninggal tahun 1871, dan menyusul Eyang Iman Sujo tahun 1876, para murid dan pengikutnya tetap menghormatinya. Setiap tahun, para keturunan, pengikut dan juga para peziarah lain datang ke makam mereka melakukan peringatan.

Setiap malam Jumat Legi, malam meninggalnya Eyang Jugo, dan juga peringatan wafatnya Eyang Sujo etiap tanggal 1 bulan Suro (Muharram), di tempat ini selalu diadakan perayaan tahlil akbar dan upacara ritual lainnya:

Upacara ini biasanya dipimpin oleh juru kunci makam yang masih merupakan para keturunan Eyang Sujo.

Ada lagi kepercayaan yang menyebutkan bahwa Raden Mas Kyai Zakaria II alias Mbah / Eyang Jugo adalah seseorang keturunan Cina. Sedangkan Raden Mas Imam Sujono, alias Mbah / Eyang Sujo, adalah keturunan pribumi.

Oleh karena itu, tidak jarang banyak orang Cina datang ke makam atau orang pribumi ke Klenteng, baik untuk ziarah atau wisata. Jadi, wisata ziarah Gunung Kawi  ini  memang lintas agama, kepercayaan dan suku bangsa, bahkan bahasa (karena ternyata banyak sekali turis manca negara singgah ke Gunung Kawi).

Logal guide disana jarang sekali mau membicarakan soal SARA, selain memang berusaha netral, hal ini ada kaitannya dengan bisnis mereka. Mereka (dan aku pribadi) lebih berpendapat bahwa semuanya kembali kepada si pelaku dan kepercayaan mereka terhadap Gunung Kawi beserta kisah (mistik) yang menyelimutinya.

Namun ambilah sisi positivenya, dimana kerukunan begitu terasa. Disana, makanan halal dan non halal sama-sama ditawarkan, hiasan2 Cina banyak dijajakan bersamaan dengan hiasan2 Jawa. Banyak orang Cina dan pribumi duduk bersama, berdoa dan melakukan ritual2 lainnya, atau sekedar nonton wayang kulit.

Indah rasanya, ketika semuanya adalah kawan.

Lanjut ke blog berikutnya:

Share

Post to Twitter