Aan Ping Lau (Surabaya); Cabang Makassar, Nih..

Aan Ping Lau. Nama ini sounds so familiar di kuping, padahal aku ga tahu sama sekali.. apaan tuh Aan Ping Lau. Jadi, ketika ada kawan mengajakku ke Jalan Raya Darmo Baru Barat 85A, Surabaya.. aku semangat 45!

Lokasinya ga jauh dari Monopole dan Madame Chang, nih. Jadi, kalo kalian dari HR. Muhammad pergi ke Madame Chang dan Monopole, terus aja sampe ujung jalan, kemudian belok kiri dan kemudian cari ruko anyar disisi kiri jalan. Disanalah, Aan Ping Lau buka depot.

Kemudian, aku membaca menunya:

An Ping Lau (2) An Ping Lau (3)

Eaaa, makanan khas Makassar! Bagus, lah. Udah lama engga makan Mie UP dan kawan-kawannya. Jadi, aku pesan saja seporsi besar Mie UP spesial yang hadir dalam mangkok biru dengan porsi yang memang wow tenan:

An Ping Lau (7)An Ping Lau (9)

Aku pesan versi spesial kan, tadi? Nah, yang bikin spesial tuh toppingnya yang komplet memadukan babi manis yang kemerahan, babi asin yang warnanya putih itu dan suwiran daging ayam:

An Ping Lau (6)

Permukaan mangkoknya ditutupi oleh irisan daging-daging itu, plus taburan daun bawang dan pangsit goreng, sehingga mie-nya ga langsung nampak mata.. gitu. Bicara soal mie UP-nya Aan Ping Lau, menurutku nih, yang di Jalan Kedungdoro, Surabaya kok lebih enak ya(?). Tapi di Aan Ping Lau ini, ada babi asinnya! Jarang-jarang kan ada babi asin dipakai jadi topping mie UP(?):

An Ping Lau (5)

Dan ada deretan kecap, merica bubuk, sambal dan kawan-kawan yang ditempatkan disetiap meja untuk membuat mie UP pesanan kalian lebih cocok dengan selera. Menu yang terkenal dari tempat ini selain mie UP-nya adalah si nasi goreng! Nasi goreng di depot/ rumah makan Makassar emang biasanya enak-enak. Dan disini, ada 3 pilihan nasi goreng: nasi goreng merah/ coklat/ putih.

Waduh, sekalian deh pesan yang merah. Sesekali memakan yang berwarna, engga apa..

An Ping Lau (13)

Setelah diicip, err.. nothing special dengan nasi gorengnya. Biasa saja, sih. Demikian pula dengan si tamie cap cay yang punya nama resmi mie Kwangtong:

An Ping Lau (12)

Mie-nya kecil-kecil digoreng kering hingga warnanya kecoklatan, kemudian disiram dengan kuah cap cay yang kental. Harusnya, ketika dimakan.. mie-nya bakal krenyes-krenyes sebagian, sedangkan sebagian lain lembek. Nah, aku biasanya engga rewel dengan versi krenyes/ lembek makanan sejenis ini, lha wong ini jenis makanan kesukaanku. Tapi yang satu ini, kurang bisa dinikmati, padahal udah ditambahin ini itu yang diharapkan bisa ‘memperbaiki’ rasa. Untung, tebaran babi merah pada porsi mie kwangtong-nya cukup menghibur.

Tempat ini, laris banget lho. Jadi sepertinya, lidahku aja yang lagi rewel yak.. Hmm,  anggap saja begitu.

Share

Post to Twitter