Pulau Sempu dan Laguna Segara Anakan (Malang); Pantai Terindah, Bersih dan Tak Terlupakan (Bagiku: Ini Prestasi!)
Sebenarnya aku 1000% sadar, kakiku bukan kaki rusa yang lincah dan kuat berjalan jauh (apalagi berlari!), tapi cerita keindahan Pulau Sempu dan lagunanya, si Segara Anakan, TERLALU MENGGODA (dan imanku lemah.. haha!).
Medan tempuh (menuju laguna) yang katanya berat, sempat menjadi bahan pertimbangan. Tapi Tanteku yang usianya sudah 50 tahunan aja ikut, oi! Masa aku kalah? Apalagi sepupuku cewe, udah berkali-kali kesana. Masa aku sekalipun belom pernah?
Trus, melihat anaknya (saat itu) lagi mupeng ga jelas, si Mami jadi ikutan pengen pergi kesana. Wah? Kalo ada Mami, aku bener-bener engga punya sebijipun alasan untuk engga berangkat!
Maka, berangkatlah aku beramai-ramai ke Pantai Sendang Biru, untuk kemudian pergi menyebrang ke Pulau Sempu (dan kemudian berjalan kaki menembus hutan menuju laguna Segara Anakan).
Pertama-tama, kita harus minta ijin sekaligus mendaftarkan diri dahulu ke pos jaga Dinas Perhutanan yang ’menguasai’ Pulau Sempu. Hey, Pulau Sempu itu cagar alam loh. Jadi, kita engga bisa blusak blusuk seenaknya aja, apalagi jika berniat menginap. Catettt.. *wakakakkk*.
Di pos penjaga, kita harus mendaftarkan data seluruh peserta yang ikut menyebrang ke Pulau Sempu (minimal diwakili oleh seseorang namun menyebut jumlah peserta) dan menyumbang sukarela untuk membantu pecinta alam melestarikan Pulau Sempu.
Jangan lupa, meminta tips (mengenai medan jalan, dsb) sebanyak-banyaknya kepada petugas Dinas Perhutanan. Kalau perlu, mintain deh nomor telepon petugasnya. Dan jika sebelumnya tidak ada yang pernah ke Segara Anakan, lebih baik sewa guide / ajak local people untuk membantu menunjukkan jalan*sangat amat disarankan*, karena didalam hutan sama sekali tidak ada papan petunjuk jalan. Jalan setapak sisa pendatang sebelumnya pun kadang tertutup semak yang masih harus ditebas dengan golok.
Selanjutnya, kita harus mencari kapal yang mau membawa kita menyeberang ke Pulau Sempu. Jika tertantang untuk menguji fisik, silakan pilih kapal tanpa mesin (menggunakan tenaga dayung):


Kondisi selat antara Pulau Jawa (Sendang Biru) dan Pulau Sempu memang relatif cukup aman digunakan untuk berolah raga perahu dayung.
Tapi karena kita beramai-ramai dan tidak ada yang berminat untuk olah raga dayung *grin*, maka kita mencari kapal nelayan yang cukup besar (soalnya aku saaaangat takut ombak dan air!), yang bisa menampung seluruh rombongan dan cukup stabil. Untuk itu, kita membayar sekitar 300 ribu untuk perjalanan pulang-pergi (tapi sepertinya ini kemahalan deh.. jadi, coba saja ditawar lebih rendah dari 300rb).

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah menyewa kapal:
- Tanyakan dengan jelas, nama nahkoda dan awaknya, beserta nomor telepon HP mereka.
- Laporkan hal tersebut ke pos Dinas Perhutanan (sehingga jika *amit2* ada hal buruk terjadi pada kita di Pulau Sempu / perjalanan menyebrang, petugas Dinas Perhutanan akan dengan mudah melacak dan datang menolong)
- Jangan bayar lunas didepan. Cukup beri uang muka sebesar 25-50% dari nilai sewa yang disepakati.
- Buat perjanjian tempat jemput dan jam jemput dengan jelas. Jika perlu, jangan berbicara dengan nahkota / awaknya saja, namun kepada semuanya.
Setelah hal-hal tersebut dilakukan, naiklah kita satu persatu kedalam perahu:

Perjalanannya sangat menyenangkan! Tidak sia-sia membayar mahal untuk menyewa kapal besar dengan daya tampung 30 orang (padahal kita hanya ber-9), karena kepal ini cenderung stabil. Tapi hal kestabilan tersebut juga dipengaruhi faktor cuaca. Beruntunglah kita, yang dikaruniai cuaca cerah saat ke Pulau Sempu..

Setelah berlayar sekitar 30-an menit (kalo langsung menyebrang, cukup 5-10 menitan, tapi biasanya kita diajak muter2 dahulu), kapal mengurangi laju dan kita menuju sebuah ‘celah’ kecil di Pulau Sempu:


Mesin kapal dimatikan dan kapal melaju mengandalkan ombak (karena banyak batu karang yang tajam). Lalu, kita mendarat..

Suasananya heniiing sekali. Setelah sedari tadi kuping mendengar kebisingan di Pantai Sendang Biru dan suara mesin kapal, saat pertama kali tiba, sunyinya Pulau Sempu cukup ‘mencekam’. Apalagi ditambah kondisinya yang bener-bener ditengah hutan.
Segera setelah janjian jam jemput kepada nahkoda, kita menyiapkan diri sejenak dan kemudian langsung masuk kedalam hutan. Dan.. heiii, hutannya bener-bener hutan loh!


Dalam kondisi fit dan normal, kita akan berjalan antara 1-1,5 jam menembus hutan, sebelum akhirnya sampai ke laguna Segara Anakan. Tapi karena kondisi fisikku dan Mami (yang kakinya bukan kaki rusa *grin*), perjalanan menjadi 2jam-an.
Kita harus selincah mungkin berpindah pijakan dan menghindari tanah yang tampak agak basah karena khawatir tanah tersebut adalah lumpur yang dapat membuat kita terperosok:

Juga harus melompati beberapa pohon (berdiameter 1,5m lebih) yang tumbang:

Kita juga kudu esktra hati-ati menjaga keseimbangan saat melintas di jembatan kayu ala kadarnya (hati-hati: dibagian bawah jembatan ada banyak karang tajam lo). Sangat menguras fisik:

Dan berkali-kali kita harus berhenti terengah-engah mengatur nafas sambil saling menyemangati satu dengan lainnya, karena rasanya.. laguna ini jauh sekali. Sejauh mata memandang, yang kita lihat hanya pohon besar, tinggi menjulang. Dan akar gelantung.
Kebetulan, kita 2-3x berpapasan dengan pengunjung lain yang akan meninggalkan Pulau Sempu. Dengan mereka-merekapun kita saling menyemangati, bahkan saling membantu. Beberapa diantara mereka menawarkan sisa air minum (air minum adalah hal penting di pulau ini) dan memberi tips untuk melanjutkan perjalanan.
Setelah berjalaaan lama, kita mulai mendengar debur ombak! Dan lama kelamaan, mulai nampak air disamping kanan kita. Awalnya, air yang aku lihat berwarna kehijauan (namun sangat bening sehingga dapat melihat dengan jelas ikan-ikan yang berenang!) dan setelah makin berjalan, air menjadi kebiru-biruan, indah… sekali! Berkilauan memantulkan sinar matahari:


Tak lama, medan jalan mengecil. Kita bener-bener merabat tebing (benar-benar merambat: jalan menyamping dengan berpegangan pada akar dan batu karang, sedangkan dibawah kita sudah air laut), hingga akhirnya kita tiba di laguna Segara Anakan *horrrray!!!*.
Ini adalah foto, saat aku pertama kali melihat laguna Segara Anakan dari atas tebing:


Jangan tergoda melompat dari tembing:

Lanjutkan dahulu perjalanan hingga melihat pijakan yang lebih landai. Ini penting karena arus disekitar tebing biasanya cukup kuat (walau nampak tenang dan aman) sehingga bisa membuat tenggelam seorang perenang andal sekalipun *catet bener2 ya!*.
Setelah merayap lagi bagai cicak (tapi bodinya seukuran badak!), tibalah pada bagian melandai dan ‘mendaratlah’ seorang Dewi di SURGA!!!

Halelujah Puji Tuhan. Selamat sampai ditujuan. Puji Tuhan, punya panca indra sempurna. Ga ada habis2nya ngucap syukur, selain karena berhasil ‘merayap’ dengan taruhan nyawa *lebay*, keindahan Segara Anakan sungguh luar biasa!
Semua teman seperjalanan kita terdiam dulu, sebentar setelah menginjakkan kaki di pasir putih Segara Anakan. Ih, kalo aku waktu itu malah sampe sempet berkaca-kaca. Biar deh dikata cengeng, gembeng, whatever. I don’t care. Nyampe ke Segara Anakan itu prestasi (mengingat kakiku pernah kecelakaan segala), apalagi indahnya seperti itu. Olala.. Speechless! LUNAS semua lelah perjalanan menembus hutan Pulau Sempu. Lunas nas nas nassss:






Coba lihat sendiri. Pasir puuutih bersih, nyaris tanpa kotoran dan jejak kaki manusia. Langit birrru cerah. Air laut yang beeening kebiruan. Dikelilingi bukit karang yang hiiijau. Apalagi alasan yang bisa kita cari untuk tidak memuji Tuhan, setelahnya?
Segara Anakan ini adalah laguna di Pulau Sempu. Sumber airnya adalah dari hempasan ombak ganas Samudra Hindia yang masuk melalui bagian karang yang lubang, sehingga setiap kali ombak ganas menghajar bagian karang yang lubang itu, air laut Samudra langsung menyembur masuk, membentuk cipratan air yang indah dan putih:


Walau menyembur hampir tiap 3-5 menit, semburannya cukup aman sehingga siapapun bisa berenang didekatnya. Sensasinya, sunggggguh.. mendebarkan!
Berenang di Segara Anakan, engga menyiksa. Selain karena minim ombak dan sensasi semburannya yang unforgettable, airnya tidak terlalu asin (payau) dan beningnya luar biasa! Bawalah kaca mata renang. Akan sangat berguna untuk ‘mengintip’ kehidupan dibawah air. Ada banyak ikan cantik berenang-renang di Segara Anakan.
Setelah berpuas diri main, kita mendaki bukit karang. Dan tampaklah Samudra Hindia sejauh mata memandang. Airnya tampak biru gelap, menandakan kedalaman laut yang engga main2. Hembusan ombaknya juga kencang, wow..
Jika beruntung, kita bisa kelihat lumba-lumba! Dari tempat ini pula, akan nampaklah Segara Anakan secara (hampir) keseluruhan:

Disisi lain, nampak beberapa orang pria yang mencoba keberuntungan dengan melempar kail. Ternyata, sangat tidak susah mendapatkan ikan segar! Tidak lama setelah kail dilempar, ada saja ikan yang tertangkap. Bahkan kita, para penonton yang engga memiliki pancing dan kail pun, mendapat ikan! Hahaha, ada seorang nelayan membagi ikannya ke kita, waaaahhh…

Maklum, norak.. Itu pengalaman pegang mayat ikan. Apalagi freshhh from the ocean. Btw, hahaha, orang2 difoto itu adalah mereka yang kebetulan lagi ada di Segara Anakan. Dengan cepat kita bisa jadi teman, seperti itu, hahaha. Hutan kadang memang membuat manusia jadi begitu menghargai kehadiran manusia lainnya *sok bijak*.
Setelah bersenang-senang hampir 3-4 jam, kita sudah harus berkemas, lalu berjalan pulang. Menempuh medan yang sama. Sungguh BELUM puas main. Makanya, aku sih menyarankan orang-orang yang ke Segara Anakan untuk menginap. Toh disana cukup aman. Kalau sejak awal merasa kurang aman, ajaklah guide / petugas Dinas Perhutanan untuk menemani.
Perjalanan pulang ternyata luar biasa berat. Karena kita sudah kecapaian, belum lagi sandalku putus. Jadi, aku bertelanjang kaki sepanjang perjalanan pulang *astaganaga!* padahal medan tempuhnya susah (penuh batu karang, lumpur, akar, dsb). Mamiku, juga mulai KO kakinya. Perjalanan yang harusnya dijalani 1-1,5 jam kita tempuh selama hampir 3,5 jam!!!
Langit sudah mulai gelap, kala itu. Hutan sudah mulai gelap dan munculah suara-suara diantara semak. Beberapa kali aku kejatuhan buah yang sudah habis dimakan hewan-hewan liar. Sungguh tidak nyaman, berjalan dihutan belantara dikala senja.
Hampir putus asa rasanya, saat melihat keseluruh penjuru arah, yang ada hanya pohon raksasa, lumpur, akar bergelantungan, bahkan ada yang mulai bergerak-gerak disemak-semak, haiyaaa… (-_-!!). Dan makin lama, hutan makin gelap. Bunyi2an mulai sering terdengar dan keras. Pengen rasanya, ada helikoter menjemputku keluar dari hutan! Aku rindu peradabaaaannnn… T_T.
Maka aku bahagia binti gembira ria, setelah akhirnya mendapati kakiku menginjak air lagi!

Tanda bahwa aku sudah tiba pada tempat aku pertama kali diturunkan di Pulau Sempu *lebay*, hwuehkuahaaa. Dan makin bahagia tiada kira saat melihat kapal kita! Kapal yang akan mengembalikanku ke tanah Jawa, ke peradaban, hahahaha!
Disekitar situ, ada banyak ikan dan beberapa kepiting mulai bermunculan:

Saat itu kapal menunggu agak jauh dari bibir pulau Sempu, dengan tidak sabar. Bukannya apa-apa, tapi karena langit sudah semakin gelap, laut akan pasang dan kita harus berenang untuk mencapai kapal (ingat: kapal tidak bisa terlalu dekat dengan pulau karena banyak karang tajam). Ombak pun dikhawatirkan juga akan makin besar (ingat.. kita ini dekat sekali dengan Samudra Hindia yang besar dan ganas, loh). Maka, segera setelah ada upacara penyambutan kita yang penuh haru *halah* (soalnya Mami bisa menyelesaikan perjalanan!), segeralah kapal melaju meninggalkan pulau Sempu:

Pulangnya pun, engga langsung diseberangkan ke pulau Jawa. Kapal mengarah ke samudra Hindia! Waaaa.. aku sampe tegang, karena ombak di depan tampak besar. Tapi nahkodanya ketawa saja, soalnya engga sampe Samudra Hindia, perahu sudah dibelokkan. Eeealah.. *phew!*

Setelahnya, aku mulai kembali menikmati perjalanan, air tenang dan tampak biru tua (karena itulah Pantainya yang di Pulau Jawa disebut Pantai Sendang Biru). Beberapa kapal nelayan tampak mulai berangkat melaut menuju Samudra Hindia, mengadu untung. Aku sih, yang pasti.. sudah merindukan pulau Jawa, wakakakkk:

Dan berikut adalah tips penting untuk menuju Pulau Sempu dan Segara Anakan:
- Untuk ke Sendang Biru, dibutuhkan waktu sekitar 2 jam’an dari Malang. Disarankan, berangkat dari Malang selambat-lambatnya jam 7 pagi (sehingga tiba si Sendang Biru sekitar jam 9, berangkat ke Sempu jam 10, tiba sekitar jam 12 di Segara Anakan, bermain hingga jam 15, lalu perjalanan pulang, karena biasanya kita akan dijemput maximal jam 17).
- Jangan membawa anak kecil! Membawa diri sendiri saja susah..
- Jangan pergi sendirian ke Segara Anakan, kecuali emang lagi mau coba ilmu kebatinan tingkat tinggi.
- Bawalah air minum yang cukup dan makanan.
- Bawa obat-obatan, pisau camping (bahkan golok), plester, sunblock, topi, baju renang, kaca mata renang, dsb. Kamera, battery cadangan, HP, dsb lebih baik dimasukkan kedalam plastik kedap air, untuk berjaga-jaga.
- Pakai ransel! Jangan tas jenis lain (postman bag-pun tidak disarankan).
- Pakai sandal /sepatu kets. Kalau pakai sandal jepit biasa, bawa cadangannya! Karena sandal jepitku yang baru, ‘tewas’ saat perjalanan pulang (selain itu tampak banyak ‘bangkai’ sandal jepit dimana-mana), sedangkan medan jalannya berat: banyak batu karang yang harus diinjak.
- Jangan ke Pulau Sempu (dan Segara Anakan) saat musim hujan. Itu sama saja dengan ‘bunuh diri’ karena medannya akan makin susah ditaklukkan (pada saat tidak musim hujan saja banyak tanah yang ternyata lumpur sehingga banyak yang terperosok).
- Tanyakan dengan jelas, nama nahkoda dan awaknya, beserta nomor telepon HP mereka.
- Laporkan hal tersebut ke pos Dinas Perhutanan (sehingga jika *amit2* ada hal buruk terjadi pada kita di Pulau Sempu / perjalanan menyebrang, Dinas Perhutanan akan dengan mudah melacak dan datang menolong)
- Jangan bayar lunas didepan. Cukup beri uang muka sebesar 25-50% dari nilai sewa yang disepakati.
- Buat perjanjian tempat jemput dan jam jemput dengan jelas. Jika perlu, jangan berbicara dengan nahkota / awaknya saja, namun kepada semuanya.
- Jangan berhenti berjalan. Walau sangat lambat, teruslah berjalan. Karena setelah berhenti, suhu tubuh dan denyut jantung turun, akan berat untuk tubuh memulai memacu jantung dan menaikkan suhu badan. Tenaga yang ada malah lebih cepat habis.
- Hutan di Pulau Sempu cenderung masih perawan (dan wingit). Jagalah perilaku dan ucapan. Konon, pulau ini dijaga seekor naga. Namun yang pasti, masih ada macan dan binatang-bianatang liar hidup bebas disana. Pernah pula ditemukan bekas kulit ular dengan diameter sebesar ban truk!
- Jaga lingkungan, kubur bungkus makanan yang terbuat dari bahan alam (yang memungkinkan bisa diurai tanah) dan bawa kembali sampah-sampah plastik!
- Jangan buang air besar / kecil sembarangan! Gali dulu tanah / pasir untuk buang air besar.
Tapi aselinya, asal ada kemauan, siapapun bisa ke pulau ini. Kalau ada merasa tidak mampu sebelum mencoba, semoga kalimat ini membantu: “Mamiku aja, yang lutut kakinya sering lepas engsel, yang di mall-pun susah jalan, BISA menyelesaikan perjalanan dengan baik!”.
GOOD LUCK!
waduh..ternyata Pulau ini menyajikan pemandangan yang cakep.
Mbok sekali-kali mengirimkan artikel pariwisata untuk Blogku Plesiran nduk.
Bagi pengirim artikel yang dimuat akan mendapatkan tali asih sebuah buku yang menarik dan bermanfat atas pilihan sendiri.
Silahkan, tak tunggu ya.
salam hangat dari Surabaya
matur nuwun tawarannya, bapak.
setelah ada waktu saya akan mencoba menulis sesuatu untuk blog plesiran.
pulau sempu dan segara anakan memang sangat cantik!
namun banyak yang mungkin belum tahu.
semalam, beberapa kawan yang tinggal di malang memberitahu bahwa mereka bahkan belum pernah mendengar namanya. wah! sayang sekali..
Wah..asyik banget tuh pantainya…Boleh nanya beberapa,
1.Perjalanannya ini dilakukan pas bulan apa ya?
2.Di pantai sendang birunya ada tempat nginep?
3.Banyak yang nginep di pulau sempu juga ya?
4.Kalo sewa guideman berapa bayar uang tips nya?
Thank infornya
hai hai
segara anakan memang luar biasa asik!
haha, laguna paling asik yang sejauh ini aku tahu
kalau mau kesana, disarankan pas musim panas saja (jangan musim hujan). sebenarnya, kalau iklim dan cuaca tidak berubah-ubah seperti sekarang, bulan-bulan april hingga oktober adalah masa-masa terbaik untuk ke segara anakan.
tapi bulan agustus kemarin saja, sudah hujan setiap hari..
jadi, bulan tidak lagi bisa jadi patokan untuk kesana.
di pantai sendang biru SEPERTINYA tidak ada tempat menginap.
tapi MUNGKIN ada beberapa rumah penduduk yang bisa untuk menginap.
menginap di sempu: banyak!
. jangan khawatir.
banyak sekali, bahkan.
pada saat liburan agak panjang misalnya, bibir laguna bisa penuh dengan kemah. tapi tidak merusak keindahan pemandangan kok..
guideman…. wah, kurang tahu (karena kebetulan karena waktu itu di rombongan, sudah ada yang sering kesana sehingga tidak mebutuhkan guide), tapi sepertinya itu bergantung negosiasi. seperti harga kapal, kita dapatnya 300ribu, padahal ada orang lain yang hanya bayar 100rb loh, untuk size kapal yang hampir sama.
tapi aku sarankan, kalau nemu sesama penyebrang lain, join saja rombongan mereka. selain lebih aman, juga irit biaya.
selamat berpetualang!
semoga infonya cukup membantu
satu kata yg bs q ucap asyiiiiik banget!!!!!!!!!!
maha asik, benernya! hauhauahuaha
capenya bener2 sebanding dengan indahnya segara anakan!