Killiney Kopitiam (Surabaya); Well..

Pas jalan ke Grand City, teringatlah pada seorang kawan yang menyarankan aku mencoba sebuah kopitiam disana, untuk membandingkan rasa kaya toast-nya dengan My Kopi O!. OK, aku ikuti sarannya dan sampailah aku kesatu2nya Kopitiam yang ada di Grand City: Killiney.

Killiney Kopitiam (Surabaya)

Killiney Kopitiam (Surabaya)

Pertama, aku memang tidak masuk langsung tapi meminta buku menunya dahulu. Karena tujuannya jelas: icip kaya toast, maka aku langsung tanya kepada pelayannya, “Ada kaya toast?”. Dijawab “Ada”. Kemudian, buku menu dibuka.

Si Mbak (sepertinya) menunjukkan tulisan “Kaya Toast” dan belum selesai baca (boro2 baca, lirik aja blom sempat), eh.. buku ditutup! Loh? Aku kan mau lihat menu, bukan anak SD mau contek PR orang, kan? (_ _!!).

Kemudian, OK lah.. duduk (kalo ga karena udah janji ke teman untuk memberi tahu rasa kaya toast di Killiney ini, aku ga bakal masuk deh). Dan kejadian pahit *halah* kedua terjadi. Belom apa2, pas aku mau foto buku menunya, baru aja nyalain kamera, buku menu diambil. Proteslah aku! Dan kata Mbaknya, “Maaf, saya pikir sudah selesai baca”. What??? Megang aja belom, trus ditarik gitu aja? Wew! Kalau memang keberatan buku menunya difoto, lebih baik aku dilarang baik-baik daripada diberi alasan “Dikira sudah selesai dibaca”.

Jadi, kawan.. foto ini aku dapatkan setelah ngomel:

Killiney Kopitiam (Surabaya) Killiney Kopitiam (Surabaya) Killiney Kopitiam (Surabaya)

Lalu, akhirnya.. makanan datang. Kalau di My Kopi O! kaya toast disajikan istimewa diatas telenan dan beralas daun pisang, ditata indah dan rapi, kaya toast di Killiney disajikan gitu aja, plontosan. Bahkan kaya toast yang biasa disajikan ke aku dirumah, lebih cantik penampilannya:

 Killiney Kopitiam (Surabaya) Killiney Kopitiam (Surabaya)Karena terpana, aku liatin toast-ku agak lama… Diem…

Dan passs baru aja mau ambil garpu untuk makan, eh.. bill datang!!!! Maka, emosi jiwalah akuuuu..

Aku complain “Kalian ini kenapa sih??!! Dari saya belom masuk sampe sekarang, ga bisa ya biarin saya makan dengan tenang? Ini maksudnya apa??? Ngusir?!!”.

Ya iyalah, soalnya Mami masih mau pesan pohong goreng (isi 4 dengan harga 10rb++), akupun masih baru saja mau pesan minuman, kok bill sudah datang? Emangnya bill datang per item, gitu? Tajir bener! Ya gini ini, malasnya pergi ke tempat makan baru, yang pelayannya masih bau kencur.

Dan yang menggelikan bin ngenes (aslinya sih mau bilang “jijik”) dari tempat ini adalah menu book-nya!!! Tempat baru tapi buku menunya kumal, mengelupas, berbau dan berminyak? ASTAGA!!! Becanda, ya??? Kalo yang dijual tuh ote-ote seharga Rp 500,- per biji, OK lah! Lha ini jualannya setangkup kaya toast dengan harga 22ribu loh! Di mall, loh! Walau konsepnya warung, tapi dengan harga yang saya bayarkan, boleh dong saya punya ekspetasi lebih?

Rasanya saya tidak akan kembali ke tempat ini.

Share

Post to Twitter