Favehotel Daeng Tompo (Makassar – Sulawesi Selatan); Nyaman!

Setibanya aku di Makassar, ada masalah lain menanti. Kawan yang sedang menginap di kasih info, kalau sudah tidak ada kamar untukku, di hotel tempatnya menginap. Maka, aku pun harus segera cari tempat menginap! Dan setelah Googling kesana kemari, sepertinya aku tertarik dengan Favehotel Daeng Tompo, di Jalan Daeng Tompo 28-36, Makassar, Sulawesi Selatan. Setelahnya, dengan menggunakan booking.com, aku booking kamar di Favehotel Daeng Tompo:

fave3 fave4

Aku prefer pakai booking.com karena dia engga meminta pembayaran secara online; maklum.. aku sengaja ga instal m-banking di HP, juga engga terlalu sering nemu ATM dalam perjalanan ke Makassar.

Nah, sopir bermasalahku ini memang istimewa. OK lah kalau dia tidak tahu banyak soal Pare Pare, tapi masa Losari saja dia tidak tahu?! Sepanjang jalan dia telepon kesana kemari, meminta petunjuk kawannya mengenai Jalan Daeng Tompo yang di Waze nampak kalau lokasinya dekat sekali dengan Benteng Rotterdam dan Pantai Losari. Come on, man! Udah gitu, sok pintar pula! Aku sudah kasih dia instruksi mengenai kemana dia kudu belok, tapi tidak dituruti karena dia merasa alternatif jalan yang dia pilih, lebih benar. Haish!!!

At the end, dia menyerah, ikuti petunjukku dari Waze dan kita pun tiba di Favehotel Daeng Tompo *dari tadi kek nurutnya!*:

img_5379-copy

Aku cuma butuh menujukkan kode booking, ID card, bayar, selesai. Aku pun diantarkan menuju kamar:

img_5306-copy img_5307-copy img_5304-copy

Kamarnya tidak terlalu luas namun cukup nyaman, dengan AC yang berfungsi baik, TV, sofa, meja kerja, lengkap dengan teko pemanas air + teh + kopi + gula & creamer. Tidak ada safety box, kulkas kecil, dll namun buatku fasilitas yang ada sudah OK.

Kamar mandinya cukup nyaman dengan shower air panas dan dingin yang juga berfungsi baik, air mengalir deras, saluran pembuangannya lancar pula:

img_5308-copy

Ada handuk (rada buluk), sabun, shampoo, sikat gigi dan gelas kumur yang dilengkapi air mineral:img_5309-copyimg_5310-copy

Sayang, wastafel kamar bermasalah. Mampet. Keesokan harinya, memang ada orang yang membetulkan wastafel itu namun kemudian bermasalah lagi. Jadi ya sudahlah. Dan jika ada keperluan mandi lain yang dibutuhkan, silakan telepon angka “2” dan membelinya:

img_5311-copy

Di lantai dasar yang juga tempat receptionist dan lobby, ada tempat sarapan sekaligus resto-nya. Inilah suasananya (saat pagi dan malam):

img_5341-copyimg_5377-copy

Untuk sarapan, pilihannya cukup banyak tapi sarapan di Favehotel engga terlalu yumm menurutku (tahu gak sih, menu & penampilannya mirip banget dengan Favehotel tempatku menginap di Jakarta 2 tahunan silam *gubrak*):

img_5387-copy img_5354-copy img_5355-copy img_5356-copy img_5357-copy img_5358-copy img_5359-copy img_5360-copy img_5363-copy img_5364-copy img_5365-copy img_5362-copy

Karena itu, pada hari kedua aku sengaja tidak ambil paket sarapan di hotel & memilih pesan menu sarapan dari lembar menunya saja (aslinya kepikir makan keluar tapi sopir belum datang & perut sudah lapar):

img_5384-copy img_5385-copy

Di dekat tempat makan, ada kolam renang yang bersih:

img_5366-copy img_5375-copy img_5369-copy img_5373-copy

Disamping kolam, ada tempat untuk makan/ sekedar ngobrol/ istirahat setelah renang. Ruang ini juga bisa dimanfaatkan bagi perokok untuk menikmati makan pesanan/ sarapan mereka:

img_5376-copy img_5370-copy

Btw, disinilah puncak amarahku dengan sopir brengsek yang mengantarkanku ke Toraja, memuncak. Sopir meminta pelunasan biaya perjalananku ke Toraja dan dia memungkiri harga yang sudah kita sepakati. Bedanya sekitar 400.000, exclude bensin dalam perjalanan pulangku ke Makassar (yang seharusnya bukan tanggunganku). Karena dalam perjalanan dengannya aku sudah merasa banyak ‘dirampok’ dan dirugikan (kenapa aku kudu berangkat subuh dari Toraja, coba? Seharusnya aku masih bisa ke tempat tenun kek, ke makam bayi kek, dll tapi semua dia jawab “Engga keburu waktunya buat balik Makassar”, dia juga menolak untuk berhenti di tempat-tempat yang Mamiku mau), maka aku menolak untuk bayar dan sempat marah besar ke sopir brengsek ini!

Dengan sangat sadar aku ingat, angka yang dia sepakati, aku bahkan kemudian inisiatif kirim uang muka kepadanya (tanpa dia minta) dalam jumlah tertentu, agar nantinya sisa uang yang aku bayarkan padanya tinggal 1 juta saja. Tapi semuanya dibantah. Sialnya, semua kesepakatan itu dilakukan dengan pembicaraan telepon tanpa ada bukti tertulis.

Sopir ini dan anak buahnya (dia minta bawa asisten yang sama sekali ga guna: tidak bisa setir mobil sehingga tidak bisa menggantikan sopir saat cape, tidak tahu jalan, dll namun kehadirannya jelas-jelas membuat pengeluarkanku untuk biaya makan, dll nambah), aku kenal dari rekan kerja. Karena aku tidak mau keluarga rekan kerjaku mendapat masalah (mengingat sekarang banyak orang gila yang pendek akal), maka aku bayar si sopir!

Proses bayar membayar yang pakai teriakan amarah, acara debat, plus tampang sopir yang lebih cocok disebut preman, membuat diriku sempat merasa terancam. Apalagi si sopir tahu dimana aku menginap. Maka aku pun kemudian menghubungi receptionist untuk meminta perlindungan, bahkan sempat terpikir untuk pindah hotel jika nantinya aku mendapatkan jawaban yang kurang memuaskan.

Conversationku dengan receptionist, kurang lebih seperti ini:

  • Me (D): Malam, saya Dewi dari kamar 777
  • Receptionist (R): Ada yang bisa dibantu?
  • D: Saya bermasalah dengan sopir yang saya pakai dan sempat ribut saat di lobby. Malam ini saya merasa kurang nyaman, bisakah dibantu agar jika ada yang cari saya, dibilang bahwa saya tidak ada?
  • R: Maaf, boleh saya tahu masalah ibu dengan orang tersebut?
  • D: Dia meminta bayaran 400-500 lebih mahal dari kesepakatan, total yang dia minta adalah Rp. x juta untuk 2 hari
  • R: Ya, tadi saya dengar Ibu menyebut angka tersebut (di lobby saat ribut dengan sopir) & itu terlalu mahal, Bu. Baiklah, saya akan buat status Ibu menjadi incocnito
  • D: Apa itu “incocnito”?
  • R: Ibu menjadi invisible bagi siapapun, kecuali petugas Receptionist dan pihak-pihak internal yang berkepentingan dengan kehadiran Ibu
  • D: Bagaimana jika sopir itu datang lagi dan membuat keributan?
  • R: Semuanya akan menjadi tanggung jawab hotel, selama Ibu menjadi tamu kami dan berada di area hotel
  • D: Menurut kamu, saya aman?
  • R: Iya. Jika Ibu berpergian, tolong untuk naik turun kendaraan didalam area hotel. Dengan demikian, jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, security kami punya hak bertindak, untuk melindungi Ibu
  • D: Baik
  • R: Saya konfimasi ulang Ibu Dewi, mulai saat ini status Ibu adalah incocnito hingga check out & saya sudah kirim pemberitahuan resmi kepada security & seluruh petugas front office 24 jam untuk waspada terhadap orang yang mencurigakan/ mencari/ menanyakan Ibu. Ada hal lain yang bisa saya bantu?
  • D: Tidak, terima kasih

FYI, ini sangat amat melegakan!!! Untuk pertama kalinya sejak aku ribut dengan sopir itu, aku bisa ambil nafas panjang. Sungguh!

Aku pun akhirnya membatalkan niat untuk pindah hotel, bahkan malam itu bisa tidur tanpa mimpi buruk. Terima kasih, buat Favehotel Daeng Tompo, buat perlindungannya padaku hari itu *muach*.

Btw, ini adalah lobby hotel (tempatku ribut):

 

img_5378-copy

Dan ini tarif sewa mobil (termasuk biaya jasa sopir & BBM) yang disediakan oleh Favehotel Daeng Tompo (sungguh, biaya yang diminta sopir brengsek itu lebih mahal dari biaya sewa mobil ini!!!):

img_5316-copy

Untukku pribadi, selain perlindungan mereka kepadaku, ada beberapa hal lain yang bisa jadi nilai plus Favehotel Daeng Tompo:

  • Dekat dengan Losari (kalau mau, Losari bahkan bisa dijangkau dengan jalan kaki santai)
  • Dekat dengan Benteng Rotterdam
  • Dekat dengan banyak tempat makan/ jajanan enak
  • Termasuk didaerah ramai sehingga mudah dapatkan taxi
  • Lift yang aman (hanya bisa bergerak dengan kartu yang dipegang tamu & itu pun hanya bisa dipakai menuju lantai tempat kamar tamu menginap, jadi aku yang di lantai 7, engga bisa kya-kya ke lantai lain).
  • Responsible staff(s)

Sepertinya jika aku kembali ke Makassar (oh, I will!), aku akan kembali menginap di hotel ini.

Share

Post to Twitter