Museum La Galigo (Makassar – Sulawesi Selatan); Menarik Juga, Isinya

Jadi gini ceritanya, karena engga Googline apapun mengenai Fort Rotterdam, maka aku engga tahu bahwa didalamnya ada museum! Museum La Galigo, namanya..

Keberadaan  sebuah museum di Sulawesi Selatan berawal pada tahun 1938 dengan didirikannya “ Celebes Museum “oleh  pemerintah  Nederlandsch-Indie  (Hindia Belanda)  di kota Makassar sebagai ibu kota Gouvernement Onderhorigheden,Pemerintah Sulawesi dan Taklukannya. Museum pada waktu itu menempati bangunan   dalam  kompleks  Benteng Ujung  Pandang  (Fort Rotterdam)   yakni   bekas   kediaman   Gubernur   Belanda    Admiral C. J Speelman ( gedung D), koleksi yang dipamerkan antara lain keramik, piring emas, destar tradisional Sul-Sel, dan beberapa mata uang. Menjelang kedatangan Jepang di kota Makassar, Selebes Museum telah menempati 3 gedung ( gedung D, E dan M ) koleksi yang dipamerkan bertambah antara lain; peralatan permainan rakyat, peralatan rumah tangga seperi peralatan dapur tradisional, peralatan kesenian seperti ; kecapi, ganrang bulo, puik-puik, dsb.

Pada masa pendudukan Jepang Museum Selebes terhenti sampai pembubaran Negara Indonesia Timur (NIT) dan selanjutnya  pada  tahun  1966  oleh  kalangan  Budayawan  merintis kembali   pendirian   museum   dan  dinyatakan   berdiri   secara  resmi  pada  tanggal 1 Mei 1970 berdasarkan  Surat  Keputusan  Gubernur  Kepala  Daerah  Tingkat  I  Sulawesi Selatan No. 182/V/1970 dengan nama “Museum La Galigo”.  Pada  tanggal  24  Februari  1974  Direktur  Jenderal  Kebudayaan  Departemen  Pendidikan dan  Kebudayaan  Republik  Indonesia  Prof. I.B. Mantra  meresmikan  Gedung  Pameran  Tetap  Museum,  kemudian  pada  tanggal 28 Mei 1979 dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 093/0/1979 museum ini resmi menjadi “Museum La Galigo Provinsi Sulawesi Selatan” dan merupakan Unit Pelaksana Teknis di bidang Kebudayaan, khususnya bidang Permuseuman. Selanjutnya di era Otonomi Daerah Museum La Galigo berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sulawesi Selatan No.166 tahun 2001, tanggal 28 Juni 2001 berubah nama menjadi UPTD (Unit Pelaksana Teknis Dinas) Museum La Galigo Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan sampai sekarang.

PENAMAAN MUSEUM LA GALIGO

Penamaan “La Galigo” terhadap Museum Provinsi Sulawesi Selatan atas saran para cendikiawan dan budayawan dengan pertimbangan bahwa La Galigo atau I La Galigo adalah  sebuah karya sastera  klasik  dunia yang  besar dan terkenal, serta bernilai kenyataan kultural dalam bentuk naskah tertulis berbahasa Bugis yang disebut  Sure’ Galigo. Sure’ ini mengandung nilai-nilai luhur, pedoman ideal bagi tata kelakuan  dan dalam kehidupan nyata yang dipandang luhur dan suci, merupakan tuntunan hidup dalam masyarakat  Sulawesi Selatan pada masa dahulu seperti dalam sistem religi, ajaran kosmos, adat istiadat, bentuk dan tatanan persekutuan hidup kemasyarakatan/ pemerintahan tradisional, pertumbuhan kerajaan, sistem ekonomi/perdagangan, keadaan geografis/wilayah, dan peristiwa penting yang pernah terjadi dalam kehidupan manusia. Pada masa dahulu naskah atau sure’ yang dipandang suci ini disakralkan dan hanya dibaca pada waktu-waktu tertentu sambil dilagukan.

Pertimbangan lainnya penamaan Museum La Galigo adalah nama La Galigo sangat populer di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan, La Galigo  seorang tokoh legendaris,  putera Sawerigading Opunna Ware dari perkawinannya dengan We Cudai Daeng Ri Sompa, setelah dewasa La Galigo dinobatkan menjadi Payung Lolo (Raja Muda) di Kerajaan Luwu sebagai kerajaan tertua di Sulawesi Selatan (taken from here).

Menarik, di Makassar juga ada legenda Batara Guru!

017-benteng-78

Dari namanya, nampaklah bahwa kisah Batara Guru ini berbeda versi dengan versi Jawa..

Berbicara tentang kapan berdirinya kerajaan Luwu belum ada sumber yang akurat yang bisa menjelaskan secara pasti tahun di dirikannya kerajaan Luwu tersebut. kerajaan Luwu baru terunkap secara resmi setelah ditulis oleh Prapanca pada saman Gajah Mada tahun 1364 M dalam bukunya Negarakertagama bersamaan dengan kerajaan yang ada disulawesi sebagai fase periode kerajaan di Nusantara.tetapi jika bersumber dari data ini maka kerajaan Luwu itu berawal Dari Simpurusiang padahal dalam sumber I Lagaligo terangkan bahwa pemerintahan Luwu pernah dibawah raja yang Bernama Batara Guru dan Batara Lattu.
Kerajaan Luwu  juga diperkirakan se-zamandengan kerajaan Sriwijaya dan kerajaan lain di pulau jawa. Dari perkiraan itu sehingga ada yang menduga bahwa kerajaan Luwu sudah ada pada Abad ke-10 dan jika menghitung mundur dari masa pemerintahan Simpurusiang ( raja Luwu III ) yang berkuasa pada Tahun 1268 dengan adanya jarak kekosongan pemerintahan selama 300 tahun maka besar kemungkinan masa pemerintahan Batara Lattu berakhir pada tahun 948 M dimana dalam buku Sarita Pawiloy-Ringkasan Sejarah Luwu dikatakan bahwa Batara Lattu memerintah selama 20 tahun. Dari sumber ini dapat disimpulkan bahwa Batara Guru memerintah pada Tahun Sembilan Ratusan lebih jika menghitung mundur lagi dimasa pemerintahan Batara Lattu.
Dalam Epos I Lagaligo yang merupakan sumber tertua sejarah Luwu yang berhasil dikumpulkan oleh sarjana Belanda B.F. Matthes tahun 1880. Disebutkan bahwa yang pertama mendirikan kerajaan ware’ sekitar Ussu bernama Batara Guru. Batara Guru adalah anak lelaki tertua dari To Patotoe dengan Datu Palinge.
Batara Guru dikisahkan sebagai manusia jelmaan dari dewa yang diturunkan oleh Patotoe ke bumi dimana pada saat itu terjadi kekosongan. Dalam penafsiran kata “kosong” oleh para sejarawan bermakna kekosongan pemerintahan yang mengatur kehidupan manusia dari kekacauan ( Sianre Bale ) di tana Ware.
Adapun latar belakang diturunkannya Batara Guru ke Bumi dapat kita ketahui dalam kitab I Lagaligo sebagai berikut :
“Empat Manusia Dewa Sebagai Abdi Dikerajaan Langit, Sepulang dari taruhan permainan badai, petir, dan guntur melapor kepda baginda raja penguasa kerajaan langit yakni dewa sang penentu Patoto’E- Ampun Baginda kami baru saja pulang dari dunia tengah ( Ale Lino ) kami melihat bumi dalam keadaan kosong”.
Mendengar laporan para abdinya itu membuat raja PatotoE berpikir perlunya diutus salah seorang penghuni langit untuk diturungkan kebumi agar bisa memakmurkan bumi, selain itu agar bisa berketurunan dan kelak ada yang mengirimkan doa kepada dewata dikala senang mapun sulit.
Karena PatotoE merasa ini adalah hal yang penting untuk kelangsungan hidup di Bumi dan Langit maka Raja PatotoE mengundang seluruh kerajaan Dewa yang ada dikerajaan Langit ( Boting Langi ) Maupun kerajaan dasar Laut ( Paratiwi / Uri Liu ) untuk memutuskan siapa yang akan di utus  turun ke bumi. Dari kesepakatan antara pasangan raja PatotoE dengan Istrinya Datu Palinge maka di putuskanlah bahwa Putranyalah yang bernama La Toge Langi yang kemudian dikenal dengan nama Batara Guru.
Dalam cerita selanjutnya Batara Guru pun diturunkankan ke bumi ( Ale Lino ). Konon dalam cerita bahwa Batara Guru dimunculkan dari balik rumpun bambu kemudian disusul turunnya hak warisan berupa bekal kehidupan termasuk istana disekitar kampung “Ussu” yang kala itu masih hutan rimba dimana dari tempat ini menjadi awal mula pemerintahan “Ware” setelah Batara Guru bertemu dengan Istrinya yang bernama We NyiliQ Timo yang masih merupakan sepupunya yang berasal dari kerajaan Laut ( Para Tiwi ). We Nyiliq Timo muncul di “Busa Empong” di perkirakan muncul di teluk “Ussu” waktu dipertemukan dengan Batara Guru. Dalam sumber lain dikatakan bahwa disamping menikahi We Nyiliq Timo Batara Guru juga menikah We Saungriu.
Dari perkawinannya itu lahir Sangian Sari, tetapi putri ini Mati muda dan dikisahkan bahwa dari perabuan Sangian sari tumbuh padi pertama di Luwu.
Dalam sejarah digambarkan bahwa sebelum Batara Guru diturunkan dibumi, situasi masyarakat Bugis Kuno hidup dalam ketidak teraturan, mereka saling menyerang tanpa aturan yang jelas, situasi tidak aman, yang kuat memangsa yang lemah ( Sianre Bale ). Akibat dari ketidak teraturan itu maka masyarakat sangat merindukan yang namanya kedamaian.
Disaat Masyarakat mengalami keterasingan jiwa, Batara Guru hadir membawa ajaran kebenaran yang menyankut hal hal prinsif seperti “ Adele, Lempu,Tongeng, dan Getteng “ ajaran tersebut sangat didukung oleh situasi sehingga membuat ajaran dan segala kebijakan pada pemerintahan Batara Guru sangat efektif di masyarakat. Sosok seorang Batara Guru digambarkan oleh masyarakat itu amat dihormati karena disamping sebagai titisan Manusia Dewa, ia amat bijak dalam memerintah dan mempunyai tenaga yang kuat dan pemberani dalam melindungi penduduk dan hal ini diturunkan atau diwariskan secara tutun temurun kepada peminpin masyarakat Bugis yang dituangkan dalam simbol “ Pedang Emas, Payung Kerajaan dan Perisai ”.
Dari pernikahannya dengan We Nyiliq Timo, Batara Guru dikarunia seorang anak yang bernama Batara Lattu. Ia merupakan calon pemegang tahta kerajaan Luwu setelah Batara Guru. Ia dilahirkan diistana Ware dilokasi segita ( Bukit Finsemouni- Ussu- Cerekan ). Dalam sumber sejarah dikatakan bahwa ketika Batara Lattu cukup dewasa, dan pemerintahan tegak kembali, Batara Guru memutuskan untuk kembali ke kerajaan Langit.
Kekuasaan Ware pun diserahkan kepada Batara Lattu dan tetap dianggap sebagai Dewa (taken from here).

017-benteng-65 017-benteng-66

017-benteng-67 017-benteng-68 017-benteng-69 017-benteng-79 017-benteng-80 017-benteng-81 017-benteng-82 017-benteng-83

Kisah ini ternyata berhubungan dengan kapal pinisi:

017-benteng-70

Pinisi merupakan perahu legendaris yang tak hanya terkenal seantero Nusantara, tapi juga menembus mancanegara setelah Kapal Dewaruci melanglang buana. Perahu kayu warisan nenek moyang Sulsel itu masih bisa ditemui di Pelabuhan Paotere, Kota Makassar.

Di sana bisa dijumpai puluhan pinisi yang bersandar usai mengarungi lautan lepas sebagai kapal pengantar barang. Sebagian nelayan juga menggunakannya untuk mencari ikan bagi kehidupan keluarganya.

Pinisi mulai muncul sekitar abad 14 hingga 16 Masehi. Pembuat pertama perahu layar tersebut adalah putra Kerajaan Luwu yang dikenal dengan nama Sawerigading. Ia merupakan salah satu tokoh legendaris dalam buku Lontarak I Babad La Galigo yang perjalanan hidupnya ditampilkan dalam pementasan di berbagai daerah hingga luar negeri.

Dalam buku tersebut, Sawerigading diceritakan baru pulang dari pengembaraan saat berjumpa dengan saudara kembarnya, Watenri Abeng. Ia kemudian jatuh cinta pada Watenri hingga membuat ayahnya yang merupakan Raja Luwu marah besar.

Karena itu, Sawerigading meninggalkan kampung halamannya demi mencari seseorang yang berwajah mirip Watenri. Sesuai saran saudara kembarnya, Sawerigading berencana berangkat ke Tiongkok dan menemukan sesosok perempuan We Cudai yang dikabarkan mirip dengan Watenri.

Sebelum berangkat, Sawerigading kebingungan mendapatkan cara mengarungi lautan lepas yang dikenal ganas. Orang-orang terdekatnya menyarankan Sawerigading membuat perahu yang tangguh dan kuat.

Ia pun mencari cara membuat sebuah perahu yang kuat. Seseorang memberinya masukan agar Sawerigading menggunakan kayu pohon welenreng atau pohon dewata yang ketika itu hanya bisa didapatkan dari daerah Mangkutu.

Sawerigading pun mencari pohon tersebut. Saat hendak ditebang, tak ada seorang pun mau membantunya karena pohon dimaksud dikeramatkan warga. Namun, ia tak berputus asa.

Ia menemui neneknya, La Toge Langi, yang dikenal masyarakat Luwu sebagai Batara Guru. Menurut La Toge, pohon keramat itu bisa ditebang setelah roh penunggunya dipindahkan ke pohon lain dengan cara menggelar ritual upacara.

Setelah upacara ritual digelar yang dipimpin langsung La Toge, pohon walenreng akhirnya bisa ditebang dan dibawa ke perkampungan untuk segera dibuat menjadi perahu. Dibantu kekuatan sang nenek, Sawerigading berhasil membuat perahu di dalam perut bumi.

Perahu itu kemudian digunakan Sawerigading untuk ke negeri Tiongkok mencari We Cudai. Sebelum mengarungi lautan, Sawerigading berjanji tak akan lagi kembali ke Tanah Luwu jika kelak menemukan We Cudai.

Sawerigading akhirnya berhasil tiba di Tiongkok dan bertemu dengan We Cudai. Ia selanjutnya mempersuntingnya menjadi istri. Setelah lama menetap, Sawerigading tiba-tiba ingin pulang ke Luwu.

Ia pun meminta ijzn kepada We Cudai dan berlayar kembali ke Luwu. Di tengah perjalanan menuju ke Luwu, perahu yang dikendarai Sawerigading dihantam ombak besar dan menyebabkan perahu tersebut hancur terbagi beberapa keping.

Sebagian badan perahu terdampar di antai Ara, tali temali dan layar perahu terdampar di daerah Tanjung Bira, dan lunas perahu dikabarkan terdampar di daerah Lemo-Lemo. Masyarakat dari ketiga daerah yang semuanya dalam wilayah Kabupaten Bulukumba, Sulsel, tersebut mencoba menyusun kepingan perahu yang didapatkan hingga kembali utuh menjadi sebuah perahu.

Dari kisah itu, warga percaya nenek moyang ketiga tempat itulah yang membuat atau merekonstruksi perahu milik Sawerigading yang kini dikenal dan dikagumi dengan sebutan pinisi. Sejak itu, keturunan di tiga tempat di Kabupaten Bulukumba tersebut mewarisi keahlian membuat perahu yang melegenda itu.

Salah satunya Haji Wahab seorang pembuat pinisi asal Desa Ara, Kecamatan Tana Beru, Kabupaten Bulukumba, Sulsel. Wahab yang kini memasuki usia 67 tahun itu sudah membuat puluhan perahu layar tradisional itu pesanan nelayan lokal maupun mancanegara. Salah satunya dari Italia.

Proses pembuatan pinisi, kata dia, dilakukan di sebuah galangan kapal sederhana yang disebut sebagai bantilang. Pembuatan pinisi tak boleh orang sembarangan melainkan hanya melibatkan tukang ahli yang disebut punggawa. Para punggawa dibantu para tukang lainnya yang disebut sawi.

“Secara keseluruhan melibatkan puluhan orang. Semuanya tukang ahli yang didapatkan dari warisan leluhur,” kata Wahab.

Pembuatan sebuah pinisi, lanjut Wahab, bisa memakan waktu hingga tahunan. Itu tergantung dari besarnya perahu yang akan dibuat. Tak hanya proses pembuatan yang memakan waktu, tetapi juga proses pencarian kayu.

Kayu yang digunakan kata Wahab berasal dari pohon Walenreng atau Dewata karena pohon tersebut memiliki daya tahan dan sangat serta mampu awet jika lama terkena air.

“Kayu ini dicari pada hari hari tertentu, yaitu hari kelima dan ketujuh, pada bulan dimulainya pembuatan perahu. Ini ada kaitannya dengan kepercayaan bahwa angka 5 dianggap sebagai angka yang baik karena mempunyai makna rezeki sudah ada di tangan, sedangkan angka 7 berarti selalu memperoleh rezeki,” tutur Wahab.

Sama dengan sejarah awalnya, kata Wahab, dalam menebang pohon walenreng juga dilakukan ritual upacara persembahan di mana seekor ayam disembelih dan dijadikan tumbal dalam ritual adat itu. Tujuannya agar roh halus yang menghuni pohon tersebut berpindah dan ke depannya kayu yang digunakan tidak membawa dampak sesuatu yang tidak diinginkan.

Tak hanya dalam pencarian hingga penebangan pohon yang dijadikan bahan baku pinisi, ritual kembali diadakan  namun sebelum kayu dipotong-potong sesuai dengan keinginan dan dilakukan peletakan balok lunas.

Balok lunas diletakkan di bawah kayu yang akan dijadikan bahan pembuatan pinisi dan salah satu ujungnya dihadapkan ke timur laut. Hal itu merupakan simbol laki-laki. Sedangkan ujung yang satu lagi yang arahnya berlawanan merupakan simbol perempuan.

“Kayu yang sudah dikeringkan kemudian akan dipotong sesuai keinginan. Namun tetap dilakukan hajatan doa yang tujuannya agar kayu tersebut dapat berfungsi dengan baik ketika telah menjadi perahu,” kata Wahab.

Selain itu, pemotongan kayu dilakukan tak boleh secara terputus putus melainkan harus sampai selesai hingga kayu terpotong. Hal itu untuk menjaga kekuatan kayu.

“Pemotongan kayu dimulai pada bagian ujung-ujungnya. Salah satu potongan ujungnya nanti akan dibuang ke laut sebagai penolak bala dan sekaligus sebagai simbol peran laki-laki (suami) yang mencari nafkah di laut. Sedangkan, ujung yang satunya disimpan di rumah sebagai simbol peran perempuan (isteri) yang menunggu suami pulang,” ujar Wahab.

Tak sampai di situ, ritual lainnya kembali dilakukan setelah memasuki proses pemasangan papan pengapit lunas (soting). Pemasangannya disertai dengan upacara yang disebut kalebiseang dan disusul dengan pemasangan papan yang ukurannya berbeda-beda (dari bawah ke atas).

“Papan yang kecil ada di bagian bawah, sedang papan yang besar ada di bagian atas. Dan sebelum pemasangan ada upacara lagi yang disebut anjerreki, yaitu upacara yang bertujuan untuk memperkuat lunas,” Wahab menjelaskan.

Setelah papan tersusun, proses pekerjaan selanjutnya adalah pemasangan buritan dan tempat kemudi bagian bawah.

“Badan perahu yang telah terbentuk tapi masih banyak sela di antara papan yang satu dengan lainnya, maka sela-sela tersebut ditutup dengan majun. Inilah yang disebut appanisi,” kata dia.

Kemudian diberikan perekat agar sambungan antarpapan dapat merekat dengan kuat. Perekat itu terbuat dari sejenis kulit pohon yang bernama pohon barruk.

Selanjutnya proses berikutnya adalah “allepa” atau mendempul. Bahan untuk mendempul menggunakan campuran kapur dan minyak kelapa. Campuran tersebut diaduk oleh sedikitnya enam orang selama sekitar 12 jam. Banyaknya dempul yang diperlukan bergantung dari besar-kecilnya perahu yang dibuat.

“Badan perahu yang telah dilapisi dengan dempul itu dihaluskan dengan kulit buah pepaya,” ujar dia..

Penggunaan bahan-bahan seperti kulit pohon barruk dan kulit buah pepaya ada kaitannya dengan mitos awal mula penciptaan pinisi yang menggunakan kekuatan magis. Orang-orang di Tana Beru merasa mereka adalah bagian dari alam, sehingga ia tetap menjaga hubungan tersebut yang sifatnya sakral.

Hingga saat ini, Kabupaten Bulukumba masih dikenal sebagai produsen pinisi yang para perajinnya tetap mempertahankan tradisi dalam pembuatan perahu penakluk tujuh samudra itu, terutama perajin pinisi di Kecamatan Tana Beru (taken from here).

Btw, ini kisah Sawerigading:

Sawerigading adalah nama seorang putera raja Luwu dari Kerajaan Luwu Purba, Sulawesi Selatan, Indonesia. Dalam bahasa setempat Sawerigading berasal dari dua kata, yaitu sawe yang berarti menetas (lahir), dan ri gading yang berarti di atas bambu betung. Jadi nama Sawarigading berarti keturunan dari orang yang menetas (lahir) di atas bambu betung[1]. Nama ini dikenal melalui cerita yang termuat dalam Sureq Galigo (Periksa Edisi H. Kern 1939), dimulai ketika para dewa dilangit bermufakat untuk mengisi dunia ini dengan mengirim Batara Guru anak patotoe di langit dan Nyilitomo anak guru ri Selleng di peretiwi (dunia bawah) untuk menjadi penguasa di bumi. Dari perkawinan keduanya lahirlah putra mereka yang bernama Batara Lattu’, yang kelak menggantikan ayahnya penguasa di Luwu.

Dari perkawinan Batara Guru dengan beberapa pengiringnya dari langit serta pengiring We Nyilitomo dari peretiwi lahirlah beberapa putra mereka yang kelak menjadi penguasa di daerah-daerah Luwu sekaligus pembantu Batara Lattu’. Setelah Batara Lattu’ cukup dewasa, ia dikawinkan dengan We Datu Sengeng, anak La Urumpassi bersama We Padauleng ditompottikka. Sesudah itu Batara Guru bersama isteri kembali kelangit. Dari perkawinan keduanya lahirlah Sawerigading dan We Tenriabeng sebagai anak kembar emas yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan[2].

Mengenai masa hidup Sawerigading terdapat berbagai versi di kalangan ahli sejarah. Menurut versi Towani-Tolotang di Sidenreng, Sawerigading lahir pada tahun 564 M. Jika versi ini dihadapkan dengan beberapa versi lain, maka data ini tidak terlalu jauh perbedaanya. Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan dikemukakan tiga versi mengenai masa hidup Sawerigading, yaitu :

  1. Versi Sulawesi Tenggara, abad V;
  2. Versi Gorontalo, 900 dikurangi 50 = 850;
  3. Versi Kelantan – Terengganu, tahun 710.

Sepertinya, versi Sulawesi Tenggara lebih dekat dengan versi yang dikemukakan oleh masyarakat Towani-Tolotang. Mereka menetapkan versi ini sebab menurut kepercayaan mereka Sawerigading sezaman dengan Nabi Muhammad, bahkan pernah bertemu[3].

Galigo.jpg

Berdasarkan pesan Batara Guru, kedua anak kembar itu harus dibesarkan terpisah agar kelak bila mereka menjadi dewasa tidak akan saling jatuh cinta. Namun suratan menentukan yang lain, sebab dirantau Sawerigading mendapat keterangan bahwa ia mempunyai seorang saudara kembar wanita yang sangat cantik, We Tenriabeng namanya. Sejak itu hatinya resah hinggah pada suatu waktu ia berhasil melihatnya dan langsung jatuh cinta serta ingin mengawininya. Maksud itu mendapat tentangan kedua orang tuanya bersama rakyat banyak, karena kawin bersaudara merupakan pantangan yang jika dilanggar akan terjadi bencana terhadap negeri, rakyat dan tumbuh-tumbuhan serta seluruh negeri kebingungan. Melalui suatu dialog yang panjang, berhasil juga We Tenriabeng membujuk saudaranya untuk berangkat ke negeri Cina memenuhi jodohnya di sana, I We Cudai namanya. Wajah dan perawakannya sama benar dengan We Tenriabeng. Pada waktu Sawerigading berangkat ke Cina, We Tenriabeng sendiri naik kelangit dan kawin dengan tunangannya di sana bernama Remmang ri Langi. Dengan mengatasi hambatan demi hambatan, akhirnya berhasil juga Sawerigading mengawini I We Cudai yang tunangannya, Settiaponga sudah lebih dahulu dikalahkan, dalam suatu pertempuran di tangah laut dalam perjalanan menuju ke Cina. Mereka hidup rukun damai dan memperoleh tiga orang anak yaitu : I La Galigo , I Tenridio dan Tenribalobo. Dari seorang selirnya I We Cimpau, Sawerigading memperoleh seorang anak bernama We Tenriwaru.

Dalam pada itu La Galigo pun menjadi dewasa, merantau, menyabung, kawin, berperang dan memperoleh anak. Pada suatu ketika I We Cudai ingin berkunjung ke negeri suaminya, menjumpai mertua yang belum pernah dilihatnya. Sawerigading bimbang mengingat akan sumpahnya dahulu, ketika hendak bertolak ke Cina, bahwa seumur hidupnya tidak akan lagi menginjakkan kaki lagi ditanah Luwu, tetapi sayang akan isteri, anak dan cucu dibiarkan berlayar sendiri tanpa ditemani, akhirnya iapun ikut serta. Setiba di Luwu, Patotoe menetapkan akan menghimpun segenap keluarganya di Luwu. Dalam pertemuan keluarga besar itulah ditetapkan bahwa keturunan dewa- dewa yang ada di bumi harus segera kembali kelangit atau peretiwi dengan masing-masing seorang wakil.

Tidak lama setelah para kaum keluarga pulang ke negerinya masing-masing Sawerigading bersama anak, isteri dan cucunya pulang ke Cina. Di tengah jalan tiba-tiba perahunya meluncur turun ke peretiwi. Di sana ternyata disambut gembira penguasa untuk menggantikan neneknya sebagai raja peretiwi. Di peretiwi ia masih memperoleh seorang anak yang kemudian kawin dengan anak We Tenriabeng di langit, yang selanjutnya dikirim ke Luwu untuk menjadi raja di sana. Akhirnya tibalah saatnya pintu langit ditutup sehingga penguasa yang ada di peretiwi tidak lagi leluasa pulang pergi, dengan ketentuan sewaktu-waktu kelak akan dikirim utusan untuk memperbarui darah mereka sebagai penguasa.

Opera Sawerigading oleh Robert Wilson, sutradara asal Amerika Serikattahun 2004

Gong Nekara di Pulau Selayar

Dipandang dari berbagai sudut, beberapa ahli telah mengemukakan pendapatnya tentang cerita Sawerigading. Fachruddin Ambo Enre, dalam disertasinya berjudul Rintumpanna Welenrennge (1993), mengemukakan tiga jenis pandangan tentang naskah Sureq Galigo yaitu sebagai naskah mitos dan legenda, sebagai naskah sejarahdan sebagai karya sastra.

Pendapat yang menyatakan sebagai mitos dan legenda cukup beralasan sebab dalam cerita tersebut terdapat ciri-ciri cerita yang berkaitan dengan mitos penciptaan oleh dewa di langit dengan mengirim anaknya Batara Guru dan We Nyilitimo ke bumi. Batara Gurulah yang menciptakan gunung, sungai, hutan dan danau. Menyusuli kehadirannya di sana muncullah tanaman seperti : ubi, keladi, pisang, tebu dan lainnya. Kekuatan supernatural yang dimiliki para tokohnya, seperti naik ke langi, turun ke peretiwi, atau menyeberang ke maja (dunia roh), kemampuannya meredakan angin ribut dan halilintar, kesanggupannya menghidupkan kembali orang mati dalam perang, gambaran tentang berbagai macam upacara, ritus dan aspek budaya lainnya merupakan ciri-ciri cerita mitos yang umum.

Pandangan yang menyatakan bahwa cerita Sawerigading sebagai legenda didasarkan pada benda-benda alam yang dihubungkan dengan tokoh Sawerigading, seperti Bulupoloe di dekat malili, dikatakan sebagai bekas tertimpa pohon Welenreng yang rebah karena ditebang untuk dijadikan perahu oleh Sawerigading. Contoh lain, misalnya Batu cadas di daerah Cerekang banyak diambil untuk dijadikan batu asah, disebut sebagai kulit bekas tebasan pohon Welenreng itu. Digunung Kandora, daerah mangkedek, tana Toraja terdapat batu yang dianggap penjelmaan We Pinrakati, isteri Sawerigading yang meninggal dalam keadaan hamil yang dijemput oleh Sawerigading di dunia roh. Setiba kembali di bumi ia melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Jamallomo. Anak tersebut kemudian menjelma menjadi batu. Gunung batu di daerah Bambapuang Enrekang, yang dari jauh nampak sebagai anjungan perahu, dianggap perahu Sawerigading yang karam dan telah menjadi batu. Gong Nekara yang terdapat di Selayar dianggap gongnya Sawerigading[4], yang selalu dibawa berlayar dan dibunyikan setiap memasuki pelabuhan. Demikian pula kepingin perahu yang terdapat di Bontote’ne dianggap perahu Sawerigading.

Pandangan yang menyatakan bahwa cerita Sawerigading mempunyai nilai sejarah yaitu adanya kronik di Bone, Soppeng yang menyatakan bahwa raja pertama mereka adalah Tomanurung yang bersumber dari keturunan Sawerigading. Demikian pula kaum bangsawan di Sulawesi Selatan, termasuk Luwu, menganggap bahwa La Galigo dan Sawerigading adalah nenek-moyang mereka. Dalam silsilah raja-raja di Sulawesi Selatan Lontara Panguriseng, di puncak silsilah itu terdapat tokoh-tokoh La Galigo, Sawerigading, Batara Lattu’ dan Batara Guru. Menurut Mills, yang menciptakan silsilah itu raja-raja itu sendiri untuk memperoleh legitimasi magis-religius yang menurut dugaan meniru model-model kronik Jawa. Sebenarnya mereka tidak menyebut tokoh Sawerigading sebagai tokoh sejarah, tetapi mereka mengklaim bahwa tokoh-tokoh itu benar-benar ada, walaupun sebagian besar ceritanya adalah fiksi.

Cerita Sawerigading dianggap sebagai karya sastra oleh beberapa tokoh antara lain Raffles, Matthes, R.A. Kern, A. Zainal Abidin Farid, cerita Sawerigading adalah sastra kuno yang dianggap suci oleh Bugis tetapi bukan sejarah. Demikian pula Fachruddin menganggap Sureq Galigo adalah sastra suci.

Dalam cerita Sawerigading dapat diungkap beberapa nilai budaya antara lain nilai religius, sistem kepercayaan pra-Islam yang menggambarkan dunia gaib dan konsep kejadian manusia. Dalam cerita ini digambarkan bahwa dunia gaib adalah dunia dewa-dewa di langit, di bumi (mulatau) yang keturunan dewa-dewa. Seiring dengan perkembangan Islam dan agama lain di Luwu, maka nilai religius dari cerita ini lambat laun akan mengalami kepunahan, karena tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat. Beberapa kepentingan cerita itu dalam kajian ilmu-ilmu sosial dapat diuraikan sebagai berikut :

  • Nilai sejarah dalam cerita Sawerigading dapat dilihat faktanya dengan adanya silsilah raja-raja di Sulawesi Selatan yang menghubungkan keturunan mereka dari Sawerigading. Namun fakta sejarah ini perlu mengalami telaah kritis dengan memilah-milah antara fakta sejarah dengan cerita mitos yang telah diselipkan dalam penyusunan silsilah tersebut.
  • Nilai mitos dan legenda sangat dominan dalam mewarnai cerita Sawerigading. Terbukti dengan alur cerita, tokoh cerita tempat dan peristiwa cerita, sesuai dengan ciri-ciri yang dikategorikan cerita mitos dan legenda.
  • Walaupun cerita ini kurang bernilai sejarah dan lebih dominan bernilai mitos dan legenda, tetapi cerita ini dapat membantu dalam pengungkapan bukti-bukti yang bernilai arkeologis dalam merekonstruksi sejarah kebudayaan Sulawesi Selatan.
  • Semboyan daerah Luwu sebagai bumi Sawerigading, artinya masyarakat Luwu mengidentifikasikan jati diri mereka dengan seorang tokoh mitologis agar dapat mempunyai implikasi positif. Mungkin dapat di bandingkan dengan menyebut Irak sebagai bumi Abunawas.

Saat ini banyak yang menggunakan nama Sawerigading sebagai nama suatu bangunan atau sebagai nama suatu yayasan. Misalnya Universitas Sawerigading di Makassar, Rumah Sakit Umum Daerah Sawerigading di Kota Palopo, Yayasan Sawerigading di Kota Jakarta dan masih banyak lagi (taken from here).

Kisah mengenai Batara Guru & Sawerigading pun dikenal dengan nama epos La Galigo yang kin menjadi harta dunia dengan adanya sertifikat dari Unesco:

017-benteng-74 017-benteng-75017-benteng-77

La Galigo, ternyata juga bukan sembarang epos. La Galigo adalah epos terpanjang didunia! Dan berikut salah satu manuskrip yang dipamerkan di museum:

017-benteng-72

La Galigo sebuah naskah yang manuskripnya bisa mencapai 2851 halaman ukuran kertas folio. Yang menceritakan Awal mula kerajaan bumi, Kisah Dewa-Dewi yang berasal dari kerajaan Langit dan kerajaan bawah air, Kisah Percintaan Abadi, Serta semua kearifan lokal yang terkandung dalam kebudayaan bugis klasik. Naskah La Galigo ini merupakan epos terpanjang di dunia yang dimana mengalahkan panjangnya Manuskrip dari India yang dikenal dengan Mahabarata

Tetapi dalam kebesaran sastra tulis yang sudah mendunia itu Naskah La Galigo dapat di jumpai di beberapa negara. Naskah tersebut tidak merupakan satu kesatuan yang utuh akan tetapi naskah tersebut terpisah-pisah. Hal inilah yang menjadi hambatan bagi para Peneliti Epos La Galigo. Manuskrip La Galigo bisa di jumpai di Museum La Galigo di Makassar, Di Perpustakaan Leiden di Belandan, Di Malaysia, dan manuskrip juga masih bisa kita jumpai pada keluarga-keluarga bugis yang melestarikan epos Tersebut.

Naskah tua yang harganya tak ternilai itu kebanyakan halamannya hasil dari proses penyalinan (Bukan Naskah Asli) bukan hanya itu saja banyak potongan episode dalam naskah yang penting itu hilang dan membuat pembacanya merasa kesulitan untuk menyambung cerita epos tersebut.

Begitu banyak mitos-mitos dalam naskah ini yang mungkin tidak pernah kita fikirkan dalam akal sehat manusia tapi itulah kerendahan hati sebuah epos suci yang di tuliskan dengan hati yang membuat para para pakar budaya tanah air dan asing tergoda untuk mengungkap rahasia tersembunyi dalam epos suci kebudayaan bugis klasik. Begitu banyak pakar budaya yang sudah meneliti epos tersebut tetapi yang mereka bisa ungkap hanya saja episode cinta yang terlarang yang dimana Sawerigading mencintai saudara kembarnya yakni Tenriabeng yang terhalang oleh Adat Istiadat Bugis dan perjalanan Sawerigading ke Cina. sedangkan ada beberapa pakar yang mencoba meneliti sumber awal terjadinya Kerajaan Bumi Dari Turunnya Batara Guru memimpin Kerajaan Bumi hingga proses terjadinya manusia pertama yang membuat banyak persepsi yang berbeda-beda

Sudah beratus-ratus tahun Legenda Masyarakat Bugis ini tercipta dan mungkin Masa juga yang akan menjawab dari misteri Legenda Masyarakat Bugis. La Galigo adalah sebuah misteri yang tak pernah terungkap (taken from here).

Informasi lain:

Sureq Galigo, atau Galigo, atau disebut juga La Galigo adalah sebuah epikmitos penciptaan dari peradabanBugis di Sulawesi Selatan (sekarang bagian dari Republik Indonesia) yang ditulis di antara abad ke-13 dan ke-15 dalam bentuk puisibahasa Bugis kuno, ditulis dalam hurufLontara kuno Bugis.[1] Puisi ini terdiri dalam sajak bersuku lima dan selain menceritakan kisah asal usul manusia, juga berfungsi sebagai almanak praktis sehari-hari.[1][2]

Epik ini dalam masyarakat Bugis berkembang sebagian besar melalui tradisi lisan dan masih dinyanyikan pada kesempatan-kesempatan tradisional Bugis penting. Versi tertulis hikayat ini yang paling awal diawetkan pada abad ke-18, di mana versi-versi yang sebelumnya telah hilang akibat serangga, iklim atau perusakan.[1]Akibatnya, tidak ada versi Galigo yang pasti atau lengkap, namun bagian-bagian yang telah diawetkan berjumlah 6.000 halaman atau 300.000 baris teks, membuatnya menjadi salah satu karya sastra terbesar.[3]

Latar belakang dan usaha pelestarian

Ada dugaan pula bahwa epik ini mungkin lebih tua dan ditulis sebelum epik Mahabharata dari India. Isinya sebagian terbesar berbentuk puisi yang ditulis dalam bahasa Bugis kuno. Epik ini mengisahkan tentang Sawerigading, seorang pahlawan yang gagah berani dan juga perantau.

La Galigo bukanlah teks sejarah karena isinya penuh dengan mitos dan peristiwa-peristiwa luar biasa. Namun, epik ini tetap memberikan gambaran kepada sejarawan mengenai kebudayaan Bugis sebelum abad ke-14.

Versi bahasa Bugis asli Galigo sekarang hanya dipahami oleh kurang dari 100 orang.[3] Sejauh ini Galigo hanya dapat dibaca dalam versi bahasa Bugis aslinya. Hanya sebagian saja dari Galigo yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan tidak ada versi lengkapnya dalam bahasa Inggris yang tersedia.[1] Sebagian manuskrip La Galigo dapat ditemui di perpustakaan-perpustakaan di Eropa, terutama di PerpustakaanKoninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde Leiden di Belanda. Terdapat juga 600 muka surat tentang epik ini di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, dan jumlah muka surat yang tersimpan di Eropa dan di yayasan ini adalah 6000, tidak termasuk simpanan pribadi pemilik lain.

Hikayat La Galigo telah menjadi dikenal di khalayak internasional secara luas setelah diadaptasi dalam pertunjukanteaterI La Galigo oleh Robert Wilson, sutradara asal Amerika Serikat, yang mulai dipertunjukkan secara internasional sejak tahun 2004.

Isi hikayat La Galigo

Epik ini dimulai dengan penciptaan dunia. Ketika dunia ini kosong (merujuk kepada Sulawesi Selatan), Raja Di Langit, La Patiganna, mengadakan suatu musyawarah keluarga dari beberapa kerajaan termasuk Senrijawa dan Peretiwi dari alam gaib dan membuat keputusan untuk melantik anak lelakinya yang tertua, La Toge’ langi’ menjadi Raja Alekawa (Bumi) dan memakai gelar Batara Guru. La Toge’ langi’ kemudian menikah dengan sepupunya We Nyili’timo’, anak dari Guru ri Selleng, Raja alam gaib. Tetapi sebelum Batara Guru dinobatkan sebagai raja di bumi, ia harus melalui suatu masa ujian selama 40 hari, 40 malam. Tidak lama sesudah itu ia turun ke bumi, yaitu di Ussu’, sebuah daerah di Luwu’, sekarang wilayah Luwu Timur dan terletak di Teluk Bone.

Batara Guru kemudian digantikan oleh anaknya, La Tiuleng yang memakai gelar Batara Lattu’. Ia kemudian mendapatkan dua orang anak kembar yaitu Lawe atau La Ma’dukelleng atau Sawerigading (Putera Ware’) dan seorang anak perempuan bernama We Tenriyabeng. Kedua anak kembar itu tidak dibesarkan bersama-sama. Sawerigading ingin menikahi We Tenriyabeng karena ia tidak tahu bahwa ia masih mempunyai hubungan darah dengannya. Ketika ia mengetahui hal itu, ia pun meninggalkan Luwu’ dan bersumpah tidak akan kembali lagi. Dalam perjalannya ke Kerajaan Tiongkok, ia mengalahkan beberapa pahlawan termasuklah pemerintah Jawa Wolio yaitu Setia Bonga. Sesampainya di Tiongkok, ia menikah dengan putri Tiongkok, yaitu We Cudai.

Sawerigading digambarkan sebagai seorang kapten kapal yang perkasa dan tempat-tempat yang dikunjunginya antara lain adalah Taranate (Ternate di Maluku), Gima (diduga Bima atau Sumbawa), Jawa Rilau’ dan Jawa Ritengnga, Jawa Timur dan Tengah), Sunra Rilau’ dan Sunra Riaja (kemungkinan Sunda Timur dan Sunda Barat) dan Melaka. Ia juga dikisahkan melawat surga dan alam gaib. Pengikut-pengikut Sawerigading terdiri dari saudara-maranya dari pelbagai rantau dan rombongannya selalu didahului oleh kehadiran tamu-tamu yang aneh-aneh seperti orang bunian, orang berkulit hitam dan orang yang dadanya berbulu.

Sawerigading adalah ayah I La Galigo (yang bergelar Datunna Kelling). I La Galigo, juga seperti ayahnya, adalah seorang kapten kapal, seorang perantau, pahlawan mahir dan perwira yang tiada bandingnya. Ia mempunyai empat orang istri yang berasal dari pelbagai negeri. Seperti ayahnya pula, I La Galigo tidak pernah menjadi raja.

Anak lelaki I La Galigo yaitu La Tenritatta’ adalah yang terakhir di dalam epik itu yang dinobatkan di Luwu’.

Isi epik ini merujuk ke masa ketika orang Bugis bermukim di pesisir pantai Sulawesi. Hal ini dibuktikan dengan bentuk setiap kerajaan ketika itu. Pemukiman awal ketika itu berpusat di muara sungai dimana kapal-kapal besar boleh melabuh dan pusat pemerintah terletak berdekatan dengan muara. Pusat pemerintahannya terdiri dari istana dan rumah-rumah para bangsawan. Berdekatan dengan istana terdapat Rumah Dewan (Baruga) yang berfungsi sebagai tempat bermusyawarah dan tempat menyambut pedagang-pedagang asing. Kehadiran pedagang-pedagang asing sangat disambut di kerajaan Bugis ketika itu. Setelah membayar cukai, barulah pedagang-pedagang asing itu boleh berniaga. Pemerintah selalu berhak berdagang dengan mereka menggunakan sistem barter, diikuti golongan bangsawan dan kemudian rakyat jelata. Hubungan antara kerajaan adalah melalui jalan laut dan golongan muda bangsawan selalu dianjurkan untuk merantau sejauh yang mungkin sebelum mereka diberikan tanggung jawab. Sawerigading digambarkan sebagai model mereka.

La Galigo di Sulawesi Tengah

Nama SawerigadingI La Galigo cukup terkenal di Sulawesi Tengah. Hal ini membuktikan bahwa kawsan ini mungkin pernah diperintah oleh kerajaan purba Bugis yaitu Luwu’.

Sawerigading dan anaknya I La Galigo bersama dengan anjing peliharaanya, Buri, pernah merantau mengunjungi lembah Palu yang terletak di pantai barat Sulawesi. Buri, yang digambarkan sebagai seekor binatang yang garang, dikatakan berhasil membuat mundur laut ketika I La Galigo bertengkar dengan Nili Nayo, seorang Ratu Sigi. Akhirnya, lautan berdekatan dengan Loli di Teluk Palu menjadi sebuah danau iaitu Tasi’ Buri’ (Tasik Buri).

Berdekatan dengan Donggala pula, terdapat suatu kisah mengenai Sawerigading. Bunga Manila, seorang ratu Makubakulu mengajak Sawerigading bertarung ayam. Akan tetapi, ayam Sawerigading kalah dan ini menyebabkan tercetusnya peperangan. Bunga Manila kemudian meminta pertolongan kakaknya yang berada di Luwu’. Sesampainya tentara Luwu’, kakak Bunga Manila mengumumkan bahwa Bunga Manila dan Sawerigading adalah bersaudara dan hal ini mengakhiri peperangan antara mereka berdua. Betapapun juga, Bunga Manila masih menaruh dendam dan karena itu ia menyuruh anjingnya, Buri (anjing hitam), untuk mengikuti Sawerigading. Anjing itu menyalak tanpa henti dan ini menyebabkan semua tempat mereka kunjungi menjadi daratan.

Kisah lain yang terdapat di Donggala ialah tentang I La Galigo yang terlibat dalam adu ayam dengan orang Tawali. Di Biromaru, ia mengadu ayam dengan Ngginaye atau Nili Nayo. Ayam Nili Nayo dinamakan Calabae sementara lawannya adalah Baka Cimpolo. Ayam I La Galigo kalah dalam pertarungan itu. Kemudian I La Galigo meminta pertolongan dari ayahnya, Sawerigading. Sesampainya Sawerigading, ia mendapati bahwa Nili Nayo adalah bersaudara dengan I La Galigo, karena Raja Sigi dan Ganti adalah sekeluarga.

Di Sakidi Selatan pula, watak Sawerigading dan I La Galigo adalah seorang pencetus tamadun dan inovasi.

La Galigo di Sulawesi Tenggara

Ratu Wolio pertama di Butung (Butuni atau Buton) di gelar Wakaka, dimana mengikut lagenda muncul dari buluh (bambu gading). Terdapat juga kisah lain yang menceritakan bahwa Ratu Wolio adalah bersaudara dengan Sawerigading. Satu lagi kisah yang berbeda yaitu Sawerigading sering ke Wolio melawat Wakaka. Ia tiba dengan kapalnya yang digelar Halmahera dan berlabuh di Teluk Malaoge di Lasalimu.

Di Pulau Muna yang berdekatan, pemerintahnya mengaku bahwa ia adalah keturunan Sawerigading atau kembarnya We Tenriyabeng. Pemerintah pertama Muna yaitu Belamo Netombule juga dikenali sebagai Zulzaman adalah keturunan Sawerigading. Terdapat juga kisah lain yang mengatakan bahwa pemerintah pertama berasal dari Jawa, kemungkinan dari Majapahit. Permaisurinya bernama Tendiabe. Nama ini mirip dengan nama We Tenyirabeng, nama yang di dalam kisah La Galigo, yang menikah dengan Remmangrilangi’, artinya, ‘Yang tinggal di surga’. Ada kemungkinan Tendiabe adalah keturunan We Tenyirabeng. Pemerintah kedua, entah anak kepada Belamo Netombule atau Tendiabe atau kedua-duanya, bernama La Patola Kagua Bangkeno Fotu.

Sementara nama-nama bagi pemerintah awal di Sulawesi Tenggara adalah mirip dengan nama-nama di Tompoktikka, seperti yang tercatat di dalam La Galigo. Contohnya Baubesi (La Galigo: Urempessi). Antara lainnya ialah Satia Bonga, pemerintah Wolio(La Galigo: Setia Bonga).

La Galigo di Gorontalo

Legenda Sawerigading dan kembarnya, Rawe, adalah berkait rapat dengan pembangunan beberapa negeri di kawasan ini. Mengikut legenda dari kawasan ini, Sarigade, putera Raja Luwu’ dari negeri Bugis melawat kembarnya yang telah hidup berasingan dengan orangtuanya. Sarigade datang dengan beberapa armada dan melabuh di Tanjung Bayolamilate yang terletak di negeri Padengo. Sarigade mendapat tahu bahwa kembarnya telah menikah dengan raja negeri itu yaitu Hulontalangi. Karena itu bersama-sama dengan kakak iparnya, ia setuju untuk menyerang beberapa negeri sekitar Teluk Tomini dan membagi-bagikan kawasan-kawasan itu. Serigade memimpin pasukan berkeris sementara Hulontalangi memimpin pasukan yang menggunakan kelewang. Setelah itu, Sarigade berangkat ke Tiongkok untuk mencari seorang gadis yang cantik dikatakan mirip dengan saudara kembarnya. Setelah berjumpa, ia langsung menikahinya.

Terdapat juga kisah lain yang menceritakan tentang pertemuan Sawerigading dengan Rawe. Suatu hari, Raja Matoladula melihat seorang gadis asing di rumah Wadibuhu, pemerintah Padengo. Matoladula kemudian menikahi gadis itu dan akhirnya menyadari bahwa gadis itu adalah Rawe dari kerajaan Bugis Luwu’. Rawe kemudiannya menggelar Matoladula dengan gelar Lasandenpapang.

La Galigo di Malaysia dan Riau

Kisah Sawerigading cukup terkenal di kalangan keturunan Bugis dan Makasar di Malaysia. Kisah ini dibawa sendiri oleh orang-orang Bugis yang bermigrasi ke Malaysia. Terdapat juga unusur Melayu dan Arab diserap sama.

Pada abad ke-15, Melaka di bawah pemerintahan Sultan Mansur Syah diserang oleh ‘Keraing Semerluki’ dari Makassar. Semerluki yang disebut ini kemungkinan adalah Karaeng Tunilabu ri Suriwa, putera pertama kerajaan Tallo’, dimana nama sebenarnya ialah Sumange’rukka’ dan ia berniat untuk menyerang Melaka, Banda dan Manggarai.

Perhubungan yang jelas muncul selepas abad ke-15. Pada tahun 1667, Belanda memaksa pemerintah Goa untuk mengaku kalah dengan menandatangani Perjanjian Bungaya. Dalam perjuangan ini,Goa dibantu oleh Arung Matoa dari Wajo’. Pada tahun berikutnya, kubu Tosora dimusnahkan oleh Belanda dan sekutunya La Tenritta’ Arung Palakka dari Bone. Hal ini menyebabkan banyak orang Bugis dan Makassar bermigrasi ke tempat lain. Contohnya, serombongan orang Bugis tiba di Selangor di bawah pimpinan Daeng Lakani. Pada tahun 1681, sebanyak 150 orang Bugis menetap di Kedah. Manakala sekitar abad ke-18, Daeng Matokko’ dari Peneki, sebuah daerah di Wajo’, menetap di Johor. Sekitar 1714 dan 1716, adiknya, La Ma’dukelleng, juga ke Johor. La Ma’dukelleng juga diberi gelar sebagai pemimpin bajak laut oleh Belanda.

Keturunan Opu Tenriburong memainkan peranan penting dimana mereka bermukim di Kuala Selangor dan Klang keturunan ini juga turut dinobatkan sebagai Sultan Selangor dan Sultan Johor. Malahan, kelima-lima anak Opu Tenriburong memainkan peranan yang penting dalam sejarah di kawasan ini. Daeng Marewah menjadi Yang Dipertuan MudaRiau, Daeng Parani menikah dengan puteri-puteri Johor, Kedah dan Selangor dan juga ayanhanda dari Opu Daeng Kemboja (Yang Dipertuan MudaRiau ke-3), Opu Daeng Manambung (menjadi Sultan Mempawah dan Matan), Opu Daeng Cella’ (menikah dengan Sultan Sambas dan keturunannya menjadi raja di sana).

Pada abad ke-19, sebuah teks Melayu yaitu Tuhfat al-Nafis mengandung cerita-cerita seperti di dalam La Galigo. Walaubagaimanapun, terdapat perubahan-perubahan dalam Tuhfat al-Nafis seperti permulaan cerita adalah berasal dari Balqis/Ratu Syeba dan tiada cerita mengenai turunnya keturunan dari langit seperti yang terdapat di dalm La Galigo. Anak perempuannya, Sitti Mallangke’, menjadi Ratu Selangi, sempena nama purba bagi pulau Sulawesi dan menikah dengan Datu Luwu’. Kisah ini tidak terdapat dalam La Galigo. Namun, anaknya, yaitu Datu Palinge’ kemungkinan adalah orang yang sama dengan tokoh di dalam La Galigo (taken from here).

Luar biasa! Ya kan?

Aku juga sempat kaget dengan adanya arca dari bahan logam seperti ini:

017-benteng-135

Informasi awal yang aku dapatkan, hanyalah demikian:

Buddha Tembaga dari Sulawesi Barat dalam gaya Amaravati atau Anuradhapura dari abad kedua dan kelima, ditemukan di kecamatan Sampaga (Mamuju), Sulawesi Barat pada tahun 1921.

Menarik kan, ada arca Buddha (ya, Buddha!) dari bahan perunggu, di daerah yang begitu kental ke-Islam-annya (seperti menemukan arca Buddha di kawasan Afganistan, rasanya! Btw, emang ada banyak situs Buddha di Afganistan —> click here) dan sudah ada sejak abad ke 2!!! Bayangkan, betapa tuanya arca yang ternyata bernama Arca Sampaga ini..

Kemudian, informasi lain pun didapatkan (sekaligus menjawab pertanyaanku). Sayang, tidak bisa di copy paste sehingga aku harus capture informasi tersebut (taken from here):

img_6284-1 img_6285 img_6286 img_6287 img_6288 img_6289 img_6290 img_6291 img_6292 img_6293 img_6294

Penulisnya:

img_6295

Koleksi Museum La Galigo lainnya? Ada meriam:

017-benteng-88 017-benteng-87 017-benteng-89

Ada pula banyak benda-benda yang disimpan, hasil bongkar bangunan/ renovasi Museum. Seperti ini, misalnya:
017-benteng-114017-benteng-90 017-benteng-92 017-benteng-91 017-benteng-93 017-benteng-95 017-benteng-96 017-benteng-97 017-benteng-101 017-benteng-109017-benteng-113 017-benteng-112

Cara mereka menyajikan dan menyimpan benda-benda ini terbilang OK dan jelas.

Masih dari ruangan yang sama, ada banyak informasi mengenai Pahlawan Nasional kita:

017-benteng-103 017-benteng-104 017-benteng-105 017-benteng-106 017-benteng-107 017-benteng-108 017-benteng-110 017-benteng-111 017-benteng-115

Selain itu, ada denah dan maket Benteng Rotterdam:

017-benteng-98 017-benteng-99 017-benteng-100 017-benteng-118 017-benteng-117

Di gedung seberangnya, koleksi menjadi lebih eksotik:

017-benteng-119 017-benteng-121 017-benteng-123

Katapel kuno?

017-benteng-125

Perhiasan yang dipakai nenek moyang jaman dulu ternyata bagus juga ya:

017-benteng-126

Dan ada beberapa patung menarik (sayang, aku tidak foto keterangannya):

017-benteng-127 017-benteng-128 017-benteng-129

Surprised! Ada juga lingga/ replika kelamin pria di Sulawesi Selatan:

017-benteng-130 017-benteng-131

Beberapa alat berburu kuno, ikut dipamerkan:017-benteng-132

Namun ini adalah yang paling bikin kaget, karena ada juga arca Buddha di Sulawesi Selatan (keterangannya sudah dijabarkan lengkap dibagian atas tulisan ini ya):

017-benteng-135

Ada pula beberapa patung kino yang ditemukan dari makam-makam tua di Sulawesi Selatan:

017-benteng-136 017-benteng-137 017-benteng-138 017-benteng-140

Yang ini, adalah repelika perhiasan yang dahulu dimiliki kerajaan Gowa – Tallo:

017-benteng-142 017-benteng-143 017-benteng-144

Dan ini, mengenai Kerajaan Luwu:017-benteng-145 017-benteng-146 017-benteng-147 017-benteng-150 017-benteng-151 017-benteng-152

Ada pula beberapa senjata api peninggalan kolonial:

017-benteng-154 017-benteng-155 017-benteng-157 017-benteng-156

Sst, ada ruang rahasia tuh haha! Tour guide ga mau bahas isi ruangannya dan mengajakku buru-buru pergi. Ah, makin jadi penasaran..

017-benteng-158

Ini, di lantai 2nya nih:

017-benteng-159

Lantainya terbuat dari kayu tua dan masih kuat menyangga beban kita + beban benda2 yang dipamerkan, tuh. Keren, yak! Sekaligus bikin semriwing karena tiap injak lantai, ada bunyinya “kriettt” gitu, haha (takut tau2 meluncur ke lantai 1 soalnya :p).

017-benteng-160

Ada replika rumah adat Sulawesi Selatan, nih:

 017-benteng-163 017-benteng-164 017-benteng-165

Alat bikin obat (sendoknya cakep tuh):

017-benteng-166

Guci tua:

017-benteng-167 017-benteng-168

Juga senjata tajam:

017-benteng-169 017-benteng-170 017-benteng-171 017-benteng-172 017-benteng-173

Yang ini, menjelaskan pakaian dan perhiasan wanita (dari anak-anak sampai dewasa) suku Bugis:

017-benteng-174 017-benteng-175 017-benteng-176 017-benteng-177 017-benteng-178 017-benteng-179

Baju Bodo adalah pakaian tradisional perempuan suku Bugis Makassar, Sulawesi, dan Bugis Pagatan, Kalimantan, Indonesia. Baju bodo juga dikenali sebagai salah satu busana tertua di dunia.

Baju bodo berbentuk segi empat, biasanya berlengan pendek, yaitu setengah atas bagian siku lengan. Dulu, baju bodo bisa dipakai tanpa penutup payudara. Hal ini sudah sempat diperhatikan James Brooke (yang kemudian diangkat sultan Brunei menjadi raja Sarawak) tahun 1840 saat dia mengunjungi istana Bone. Perempuan Bugis mengenakan pakaian sederhana. Sehelai sarung menutupi pinggang hingga kaki dan baju tipis longgar dari kain muslin (kasa), memperlihatkan payudara dan leluk-lekuk dada. Cara memakai baju bodo ini masih berlaku pada tahun sampai tahun 1930-an.

Menurut adat Bugis, setiap warna baju bodo yang dipakai oleh perempuan Bugis menunjukkan usia ataupun martabat pemakainya.

Warna Arti
Jingga dipakai oleh anak perempuan berumur 10 tahun.
Jingga dan merah dipakai oleh gadis berumur 10-14 tahun.
Merah dipakai oleh perempuan berumur 17-25 tahun.
Putih dipakai oleh para pembantu dan dukun.
Hijau dipakai oleh perempuan bangsawan.
Ungu dipakai oleh para janda.

(taken from here).

Ada pula replika pelaminan, nih:

017-benteng-180 017-benteng-183 017-benteng-185

Diujung sana, ada Lesung Panjang:017-benteng-186 017-benteng-187

Karena yang pakai adalah para putri bangsawan (dalam rangka mencari jodo), maka lesungnya pun bukan sembarang lesung. Lihat saja, ukiran yang nampak:

017-benteng-188 017-benteng-189 017-benteng-190

Selain itu masih ada banyak benda tua lainnya yang dipamerkan:

017-benteng-191

Salah satunya, ini:017-benteng-192

Katanya, itu alat tumbuk padi(?). Aku hampir mengiranya yoni! Hahaha..

Turun ke lantai bawah, tangganya seram tuh (kayunya banyak yang sudah lapuk), akan ada banyak koleksi lain:

017-benteng-194

Salah satunya replika phinisi:

017-benteng-196

Juga replika kapal-kapal lain:

017-benteng-198

Ada juga beberapa alat pertukangan yang dipakai untuk membuat Kapal Phinisi yang terkenal itu:

017-benteng-199

Didekat pintu keluar, ada penjelasan mengenai kota Pare Pare:

017-benteng-200 017-benteng-201 017-benteng-202 017-benteng-203

Nah, selesai sudah acara keliling museum. Besok, saya akan post tulisan mengenai Benteng Rotterdam/ Benteng Ujung Pandang..

Share

Post to Twitter