Monumen Perjuangan Rakyat Bali / Bajra Sandhi (Bali); Indahnya!

Ini satu-satunya tujuan wisata yang tidak dijadwalkan, bahkan tidak dikenal oleh aku.

P1010074 copy

Ceritanya, saat kita keluar dari Mara River Safari Lodge, menuju Tanah Lot, secara tidak sengaja kita melewati Restaurant Renon lagi dan menyadari bahwa didepannya ada sebuah monumen hitam, besar dan MENARIK!

Aku sampai lupa rencana makan siang di Restaurant Renon. Sibuk melihat monumen cantik itu. Aku bahkan meminta sopir berputar sekali lagi, lalu akhirnya (dengan cepat) memutuskan untuk berhenti dan turun, mendatangi monumen tersebut. Monumen tersebut menurutku terlalu cantik untuk dilewatkan. Secantik apalah? Secantik ini! Lihat saja:

P1010082 copy P1010079 copy

Namanya, Monumen Perjuangan Rakyat Bali. Dan monumen ini, juga dikenal dengan nama Bajra Sandhi Monument. Bajra, berarti genta. Dan biasa digunakan oleh pendeta-pendeta Hindu ketika membaca doa pada acara-acara keagamaan. Selain itu, monumen ini juga merupakan perwujudan lingga dan yoni. Pertemuan antara kedua unsur merupakan simbol kesuburan dan kesejahteraan. Selain filsafat lingga dan yoni, monumen ini juga dilandasi oleh falsafah kisah pemutaran Mandara Giri, yang diambil dari cerita Adi Parwa.

Dan wajar saja kalau monumen secantik ini belum aku kenal sebelumnya (lagi membela diri nih.. hahaha), karena walaupun sudah mulai dibangun sejak tahun 1988, monumen ini baru diresmikan pada 14 Juni 2003 oleh presiden ketika itu, Megawati Soekarnoputri.

Monumen Bajra Sandhi merupakan Monumen Perjuangan Rakyat Bali untuk memberi hormat pada para pahlawan serta merupakan lambang pesemaian pelestarian jiwa perjuangan rakyat Bali dari generasi ke generasi dan dari zaman ke zaman serta lambang semangat untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari 17 anak tangga yang ada di pintu utama, 8 buah tiang agung di dalam gedung monumen, dan monumen yang menjulang setinggi 45 meter. Lokasi monumen ini terletak di depan Kantor Gubernur Kepala Daerah Provinsi Bali yang juga di depan Gedung DPRD Provinsi Bali Niti Mandala Renon persisnya di Lapangan Puputan Renon. Monumen ini dikenal dengan nama “Bajra Sandhi” karena bentuknya menyerupai bajra atau genta yang digunakan oleh para Pendeta Hindu dalam mengucapkan Weda (mantra) pada saat upacara keagamaan. Monumen ini dibangun pada tahun 1987, diresmikan oleh Presiden Megawati Sukarno Putri pada tanggal 14 Juni 2003. Tujuan pembangunan monumen ini adalah untuk mengabadikan jiwa dan semangat perjuangan rakyat Bali, sekaligus menggali, memelihara, mengembangkan serta melestarikan budaya Bali untuk diwariskan kepada generasi penerus sebagai modal melangkah maju menapak dunia yang semakin sarat dengan tantangan dan hambatan (taken from here).

FYI, Lapangan Renon Nitimandala, lokasi tempat diberdirikannya monumen ini, adalah lokasi terjadinya Perang Puputan (perang habis-habisan), antara penduduk Bali melawan pemerintahan Belanda. Dan tentu saja, seperti yang sudah ditebak, monumen ini didirikan untuk menghargai, serta memperingati perjuangan penduduk Bali dalam mengusir penjajah dari tanah air.

Pertempuran Puputan Margarana merupakan salah satu pertempuran antara Indonesia dan Belanda dalam masa Perang kemerdekaan Indonesia yang terjadi pada 20 November 1946. Pertempuran ini dipimpin oleh Kepala Divisi Sunda Kecil Kolonel I Gusti Ngurah Rai. Dimana Pasukan TKR di wilayah ini bertempur dengan habis habisan untuk mengusir Pasukan Belanda yang kembali datang setelah kekalahan Jepang, untuk menguasai kembali wilayahnya yang direbut Jepang pada Perang Dunia II, mengakibatkan kematian seluruh pasukan I Gusti Ngurah Rai yang kemudian dikenang sebagai salah-satu Puputan di era awal kemerdekaan serta mengakibatkan Belanda sukses mendirikan Negara Indonesia Timur.

Pada waktu staf MBO berada di desa Marga, I Gusti Ngurah Rai memerintahkan pasukannya untuk merebut senjata polisi NICA yang ada di Kota Tabanan. Perintah itu dilaksanakan pada 20 November 1946 (malam hari) dan berhasil baik. Beberapa pucuk senjata beserta pelurunya dapat direbut dan seorang komandan polisi NICA ikut menggabungkan diri kepada pasukan Ngurah Rai. Setelah itu pasukan segera kembali ke Desa Marga. Pada 20 November 1946 sejak pagi-pagi buta tentara Belanda mulai nengadakan pengurungan terhadap Desa Marga. Kurang lebih pukul 10.00 pagi mulailah terjadi tembak-menembak antara pasukan NICA dengan pasukan Ngurah Rai. Pada pertempuran yang seru itu pasukan bagian depan Belanda banyak yang mati tertembak. Oleh karena itu, Belanda segera mendatangkan bantuan dari semua tentaranya yang berada di Bali ditambah pesawat pengebom yang didatangkan dari Makassar. Di dalam pertempuran yang sengit itu semua anggota pasukan Ngurah Rai bertekad tidak akan mundur sampai titik darah penghabisan. Di sinilah pasukan Ngurah Rai mengadakan “Puputan” atau perang habis-habisan di Desa Margarana sehingga pasukan yang berjumlah 96 orang itu semuanya gugur, termasuk Ngurah Rai sendiri. Sebaliknya, di pihak Belanda ada lebih kurang 400 orang yang tewas. Untuk mengenang peristiwa tersebut pada tanggal 20 November 1946 dikenal dengan perang puputan margarana, dan kini pada bekas arena pertempuran itu didirikan Tugu Pahlawan Taman Pujaan Bangsa (taken from here).

Share

Post to Twitter