Monumen Perjuangan Rakyat Bali / Bajra Sandhi (Bali); Indahnya!

Ini satu-satunya tujuan wisata yang tidak dijadwalkan, bahkan tidak dikenal oleh aku.

Ceritanya, saat kita keluar dari Mara River Safari Lodge, menuju Tanah Lot, secara tidak sengaja kita melewati Restaurant Renon lagi dan menyadari bahwa didepannya ada sebuah monumen hitam, besar dan MENARIK!

Aku sampai lupa rencana makan siang di Restaurant Renon. Sibuk melihat monumen cantik itu. Aku bahkan meminta sopir berputar sekali lagi, lalu akhirnya (dengan cepat) memutuskan untuk berhenti dan turun, mendatangi monumen tersebut.

Monumen tersebut menurutku terlalu cantik untuk dilewatkan. Secantik apalah? Secantik ini! Lihat saja:

Namanya, Monumen Perjuangan Rakyat Bali. Dan monumen ini, juga dikenal dengan nama Bajra Sandhi Monument. Bajra, berarti genta. Dan biasa digunakan oleh pendeta-pendeta Hindu ketika membaca doa pada acara-acara keagamaan:

Selain itu, monumen ini juga merupakan perwujudan lingga dan yoni. Pertemuan antara kedua unsur merupakan simbol kesuburan dan kesejahteraan. Selain filsafat lingga dan yoni, monumen ini juga dilandasi oleh falsafah kisah pemutaran Mandara Giri, yang diambil dari cerita Adi Parwa.

 Dan wajar saja kalau monumen secantik ini belum aku kenal sebelumnya (lagi membela diri nih.. hahaha), karena walaupun sudah mulai dibangun sejak tahun 1988, monumen ini baru diresmikan pada 14 Juni 2003 oleh presiden ketika itu, Megawati Soekarnoputri.

FYI, Lapangan Renon Nitimandala, lokasi tempat diberdirikannya monumen ini, adalah lokasi terjadinya Perang Puputan (perang habis-habisan), antara penduduk Bali melawan pemerintahan Belanda. Dan tentu saja, seperti yang sudah ditebak, monumen ini didirikan untuk menghargai, serta memperingati perjuangan penduduk Bali dalam mengusir penjajah dari tanah air.

Monumen Bajra Sandhi merupakan Monumen Perjuangan Rakyat Bali untuk memberi hormat pada para pahlawan serta merupakan lambang persemaian pelestarian jiwa perjuangan rakyat Bali dari generasi ke generasi dan dari zaman ke zaman. Lokasi monumen ini terletak di depan Kantor Gubernur Kepala Daerah Propinsi Bali yang juga di depan Gedung DPRD Propinsi Bali Niti Mandala Renon persisnya di Lapangan Puputan Renon.

Keseluruhan data daerah monumen berbentuk segi empat bujur sangkar dengan penerapan konsepsi Tri Mandala:

  1. Sebagai Utama Mandala adalah pelataran/gedung yang paling ditengah
  2. Sebagai Madya Mandala adalah pelataran yang mengitari Utama Mandala
  3. Sebagai Nista Mandala adalah pelataran yang paling luar yang mengitari Madya Mandala

Bangunan gedung monumen pada Utama Mandala tersusun menjadi 3 lantai :

  • Utamaning Utama Mandala adalah lantai 3 yang berposisi paling atas berfungsi sebagai ruang ketenangan, tempat hening-hening menikmati suasana kejauhan disekeliling monumen. Para pengunjung bisa melihat panorama Denpasar dari tempat ini. Pada saat cuaca cerah sehingga pemandangan Denpasar terlihat jelas. Untuk mencapai tempat ini harus melewati tangga melingkat yang lumayan tinggi.
  • Madyaning Utama Mandala adalah lantai 2 berfungsi sebagai tempat diorama yang berjumlah 33 unit. Lantai 2 (dua) ini sebagai tempat pajangan miniatur perjuangan rakyat Bali dari masa ke masa. Dioramanya mirip dengan yang ada di Monas, Jakarta. Tapi yang di sini hanya menampilkan perjuangan rakyat Bali. Mulai zaman kerajaan, masuknya Hindu, Majapahit, penjajahan, perang kemerdekaan, hingga saat ini.

Di bagian luar sekeliling ruangan ini terdapat serambi atau teras terbuka untuk menikmati suasana sekeliling.

  • Nistaning Utama Mandala adalah lantai dasar Gedung Monumen, yang terdapat ruang informasi, ruang keperpustakaan, ruang pameran, ruang pertemuan, ruang administrasi, gedung dan toilet. Ditengah-tengah ruangan terdapat telaga yang diberi nama sebagai Puser Tasik, delapan tiang agung dan juga tangga naik berbentuk tapak dara.
Share

Post to Twitter