Fort Rotterdam/ Benteng Rotterdam/ Benteng Ujung Pandang/ Benteng Jumpandang (Makassar – Sulawesi Selatan); The Best Preserved Dutch Fort in Asia

Engga mungkin banget kalau sudah sampai Makassar dan engga mengunjungi Fort Rotterdam/ Benteng Rotterdam/ Benteng Ujung Pandang/ Benteng Jumpandang di Jalan Ujung Pandang, Makassar, Sulawesi Selatan ini. Selain karena lokasinya yang dekat dengan Pantai Losari (dan hotelku), Fort Rotterdam/ Benteng Rotterdam/ Benteng Ujung Pandang/ Benteng Jumpandang ini identik sekali dengan Pangeran Diponegoro.

017-benteng-3Pangeran Diponegoro? Ya! Nanti deh, aku ceritakan. Sekarang, kita lihat dahulu bangunan yang menurut wartawan New York Times, Barbara Crossette, dikatakan sebagai, “the best preserved Dutch Fort in Asia”.

Untuk masuk kedalam Fort Rotterdam/ Benteng Rotterdam/ Benteng Ujung Pandang/ Benteng Jumpandang, kita harus melewati pintu tua yang buatku cantik sekali, sekaligus seram:

017-benteng-6 017-benteng-5

Bayangkan saja, kayunya kuat dan kokoh sekali, dengan sekian banyak baut besi. Aku bayangkan sisi luar pintu ini hanya dilihat 1x saja oleh tawanan yang ditahan didalam benteng karena banyak dari mereka tidak pernah keluar dalam keadaan hidup-hidup. Yeah, sodara-sodara, ketenangan hidup dan kemerdekaan yang kita nikmati sekarang dibayar dengan sangat banyak nyawa. Dan Fort Rotterdam/ Benteng Rotterdam/ Benteng Ujung Pandang/ Benteng Jumpandang dalah 1 dari sekian banyak tempat tahanan/ penyiksaan para pejuang kemerdekaan/ rakyat Indonesia.

Sebelum menjelajah, kita harus mampir dahulu ke pos dan mendaftarkan diri, sekaligus memberi sumbangan:

017-benteng-9 017-benteng-7

Setelahnya? Kalian bebas berkelana menjelajahi benteng seluas hampir 3 hektar ini; dengan atau tanpa tour guide.

Aku sih memilih menggunakan jasa tour guide karena belum sempat Googling banyak mengenai Fort Rotterdam/ Benteng Rotterdam/ Benteng Ujung Pandang/ Benteng Jumpandang & emang sebisa mungkin aku akan memanfaatkan jasa tour guide ditempat-tempat wisata sejarah untuk menjawab pertanyaan2 dadakan dari aku + memberi tambahan rejeki mereka, lah. Engga banyak orang yang mau ke tempat wisata sejarah, kan? Jadi penghasilan mereka sebagai tour guide wisata sejarah pun sepertinya tidak sebanyak tour guide wisata jenis lainnya.

Tour guide-ku, seorang Bapak setengah baya tampaknya ‘sial’ karena dapat tamu sepertiku haha! Berkali-kali Beliau tanya, apakah aku mau sampai ujung benteng, apakah aku mau masuk keruang tahanan, ke museum, dll dan semua aku jawab “mau!”. Udah gitu, aku banyak bertanya pula.. haha! Semoga si Bapak sehat dan banyak rejeki, lah..

017-benteng-29

OK, first of all, Fort Rotterdam/ Benteng Rotterdam/ Benteng Ujung Pandang/ Benteng Jumpandang ini bentuknya seperti penyu yang sedang merangkak turun ke laut, karenanya benteng ini berdiri menghadap laut (Pantai Losari):

017-benteng-98 017-benteng-118

Dan ini peta benteng di tahun 1800an (taken from here):

rotterdam

Aku diajak naik ke pinggir pagar batu/ Bastion Bone untuk melihat sisi kanan benteng, nih:

017-benteng-12

Begini, penampakannya diatas:

017-benteng-14 Ada tiang dengan sesaji dibagian bawahnya:

017-benteng-16

Melihat itu, Bapak Tour Guide buru-buru bilang, “Jangan remehkan ini, ini bentuk penghormatan orang/ keluarga kepada nyawa leluhur yang diambil di benteng ini, ini bukan klenik melainkan adat blablabla”. Ah, aku pribadi sih orang yang sangat liberal dan engga banyak cing-cong, mau pakai kembang dan menyan, atau tidak, buatku tidak masalah. Malah aku sempat berhenti sebentar disana, doa, sebelum jalan meninggalkan tiang itu. Sambil berjalan, Bapak Tour Guide (haish, aku lupa namanya) menjelaskan bahwa banyak masyarakat Sulawesi hingga sekarang masih percaya akan adanya hari baik, syukuran, selamatan, dll sebagai bagian dari adat/ kepercayaan walau sudah memeluk agama resmi.

Tak jauh dari tiang, ada beberapa bagian yang berbentuk menjorok seperti ini (dan makin lama ada makin banyak bentukan serupa):

017-benteng-19017-benteng-43017-benteng-25017-benteng-39

Itu adalah tempat serdadu mengintip/ berjaga-jaga, juga menaruh meriam untuk menyerang musuh. Nah, sekali lagi deh bayangkan: ini garis terdepan dalam upaya mempertahankan benteng. Disini, ratusan tahun yang lalu entah ada berapa banyak pria gagah berani memakai badannya untuk melontarkan peluru dengan resiko akan menjadi korban ‘angkatan’ pertama dalam setiap serangan.

Kini, tempat2 menjorok itu bisa dipakai untuk melihat keadaan sekitar bagian depan benteng:

017-benteng-22

Dulu, benteng ini langsung menghadap laut (Pantai Losari) sehingga dinamai Benteng Jumpandang. Kini, posisi laut (Pantai Losari) tertutup bangunan sehingga jarak pandang agak terbatas.

Oh, aku perhatikan pula susunan lantai batunya. Yang menggunakan batu bata adalah bagian tambahan yang dibangun oleh Belanda:

017-benteng-38

Sedangkan bangunan aslinya memakai batu kali seperti ini:

017-benteng-15 017-benteng-40

Kalau menemukan yang pakai titik timah begini, artinya batu yang digunakan adalah batu baru (cara yang sama mereka pakai untuk menandai batu baru di candi):

017-benteng-31

Kalian lihat besi yang ditanam pada lantai batu?

017-benteng-23017-benteng-24

Konon dahulunya itu adalah tempat tambat kapal-kapal besar yang berlabuh. Dan dari posisiku berdiri, nampak bangunan benteng, seperti ini:

017-benteng-26 017-benteng-27 017-benteng-28

Dari tempatku berdiri pula, nampak dinding bagian luar benteng yang penampilannya seperti ini (amati baik-baik permukaannya):

017-benteng-30 017-benteng-34

Aku sempat komentar, “Itu dinding lubang-lubang karena usia ya?” dan jawab Tour Guide-ku mengagetkan. “Itu dingin lubang bukan karena angin dan cuaca, itu karena peluru dari bedil dan meriam”. WHAT? OMG.. *speechless*.

017-benteng-35

Pidah ke sisi bagian belakang-kanan benteng:

017-benteng-36 017-benteng-41 017-benteng-42 017-benteng-43 017-benteng-44

Dari selutuh bagian, tiang ini adalah yang paling menarikku. Kata Tour Guide, ini tiang dahulunya dipakai untuk menyiksa tawanan. Mulai dari dijemur, dipecut dan entah diapakan lagi. Ya, di tiang ini:

017-benteng-46

Duh!

Kita pun kemudian turun ke bawah..

017-benteng-47

Ini pemandangannya, sesaat setelah aku sampai dibawah:

017-benteng-49

Mungkin kalian heran, sama seperti diriku yang sempat heran, kenapa didalam benteng kerajaan Gowa ada banyak sekali bangunan berarsitektur Belanda? Nah, artikel berikut bisa menjawab keheranan kita:

Benteng ini awalnya dibangun tahun 1545 oleh raja Gowa ke X yakni Tunipallangga Ulaweng. Bahan baku awal benteng adalah tembok batu yang dicampur dengan tanah liat yang dibakar hingga kering. Bangunan didalamnya diisi oleh rumah panggung khas Gowa dimana raja dan keluarga menetap didalamnya. Ketika berpidnah pada masa raja Gowa ke XIV, tembok benteng lantas diganti dengan batu padas yang berwarna hitam keras.

Kehadiran Belanda yang menguasai area seputar banda dan maluku, lantas menjadikan Belanda memutuskan utk menaklukan Gowa agar armada dagang VOC dapat dengan mudah masuk dan merapat disini. Sejak tahun 1666 pecahlah perang pertama antara raja Gowa yang berkuasa didalam benteng tersebut dengan penguasa belanda Speelman. Setahun lebih benteng digempur oleh Belanda dibantu oleh pasukan sewaan dari Maluku, hingga akhirnya kekuasaan raja Gowa disana berakhir. Seisi benteng porak poranda, rumah raja didalamnya hancur dibakar oleh tentara musuh. Kekalahan ini membuat Belanda memaksa raja menandatangani “perjanjian Bongaya” pada 18 Nov 1667.

Dikemudian hari Speelman memutuskan utk menetap disana dengan membangun kembali dan menata bangunan disitu agar disesuaikan dengan kebutuhan dalam selera arsitektur Belanda. Bentuk awal yg mirip persegi panjang kotak dikelilingi oleh lima bastion, berubah mendapat tambahan satu bastion lagi di sisi barat. Nama benteng diubah pula menjadi Fort Rotterdam, tempat kelahiran Gub. Jend. Belanda Cornelis Speelman (taken from here).

Nah, selain Diponegoro, benteng ini juga erat ceritanya dengan sang Ayam Jantan dari Timur, Sultan Hasanuddin!

Sultan Hasanuddin lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 dan meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun, adalah Raja Gowa ke-16 dan pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Setelah memeluk agama Islam, ia mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, hanya saja lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja, oleh Belanda ia di juluki sebagai Ayam Jantan Dari Timur atau dalam bahasa Belanda disebut de Haav van de Oesten karena keberaniannya melawan penjajah Belanda.. Beliau diangkat menjadi Sultan ke 6 Kerajaan Gowa dalam usia 24 tahun (tahun 1655).

Beliau merupakan putera kedua dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15. Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa, ketika Belanda yang diwakili Kompeni sedang berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah. Gowa merupakan kerajaan besar di wilayah timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan. Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, Kompeni berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, tetapi belum berhasil menundukkan Gowa. Di lain pihak, setelah Sultan Hasanuddin naik takhta, ia berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan Kompeni.

Peperangan antara VOC dan Kerajaan Gowa (Sultan Hasanuddin) dimulai pada tahun 1660. Saat itu Belanda dibantu oleh Kerajaan Bone yang merupakan kerajaan taklukan dari Kerajaan Gowa. Pada peperangan tersebut, Panglima Bone, Tobala akhirnya tewas tetapi Aru Palaka berhasil meloloskan diri dan perang tersebut berakhir dengan perdamaian. Akan tetapi, perjanjian dama tersebut tidak berlangsung lama karena Sultan Hasanuddin yang merasa dirugikan kemudian menyerang dan merompak dua kapal Belanda , yaitu de Walvis dan Leeuwin. Belanda pun marah besar.

Lalu Belanda mengirimkan armada perangnya yang besar yang dipimpin oleh Cornelis Speelman. Aru palaka, penguasa Kerajaan Bone juga ikut menyerang Kerajaan Gowa. Sultan Hasanuddin akhirnya terdesak dan akhirnya sepakat untuk menandatangani perjanjian paling terkenal yaitu Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667. Pada tanggal 12 April 1668, Sultan Hasanuddin kembali melakukan serangan terhadap Belanda. Namun karena Belanda sudah kuat maka Benteng Sombaopu yang merupakan pertahanan terakhir Kerajaan Gowa berhasil dikuasai Belanda.

Hingga akhir hidupnya, Sultan Hasanuddin tetap tidak mau bekerjasama dengan Belanda. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari takhta kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670. Untuk Menghormati jasa-jasanya, Pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya dengan SK Presiden Ri No 087/TK/1973 (taken from here).

Masih pada ingat perjanjian Bongaya?

Perjanjian Bongaya adalah suatu perjanjian yang isinya mengatur hubungan antara Kerajaan Gowa dan VOC Belanda. Hubungan ini sifatnya hanya menguntungkan pihak Belanda saja sebagai pembuat perjanjian, sedangkan kerajaan Gowa sangat dirugikan. Tentara VOC Belanda pimpinan Cornelis Speelman dibantu sekutunya Aru Palaka berhasil membuat Kerajaan Gowa diambang kekalahan perang. Situasi ini dimanfaatkan oleh VOC Belanda untuk memaksa Kerajaan Gowa ke meja perundingan, sekaligus cikal bakal lahirnya perjanjian Bongaya. Perjanjian yang terkesan dipaksakan Belanda kepada Kerajaan Gowa tersebut benar-benar merugikan Kerajaan Gowa dan membawa keuntungan yang besar bagi pihak Belanda. Disebut dengan perjanjian bongaya merujuk pada tempat terjadinya perjanjian tersebut, yakni di desa Bongaya pada tanggal 18 November 1667.

Peperangan besar menjadi latar belakang dari lahirnya perjanjian Bongaya. Perlawanan Kerajaan Gowa menghadapi Belanda mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, putra Sultan Muhammad Said dan cucu Sultan Alaudin pada tahun 1653-1669. Selain menghadapi Belanda, Sultan Hasanuddin juga harus menghadapi perlawanan Aru Palaka dari Soppeng-Bone pada tahun 1660. Sultan Hasanuddin terdesak menghadapi perlawanan yang dibantu oleh Belanda ini. Dengan semangatnya yang menyala-nyala sehingga dijuluki Ayam Jantan dari Timur, Sultan Hasanuddin memimpin rakyat untuk terus benjuang dengan tidak mengenal menyerah. Peperangan itu berlangsung dengan seru selama satu tahun, terutama di lautan.

Dalam suatu kesempatan, pasukan Kerajaan Gowa tidak mampu menghadapi pasukan Belanda yang dilengkapi senjata mutakhir dan tambahan pasukan dari Batavia. Dalam upaya mempersiapkan pasukan dan strategi perang, Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani perjanjian di daerah Bongaya pada tanggal 18 November 1667.

Isi dari perjanjian Bongaya, antara lain Sultan Hasanuddin sebagai Raja Gowa mengakui pemerintahan dan kekuasaan Belanda (VOC) di Makassar. Kerajaan Gowa harus menyerahkan Benteng Ujungpandang (kemudian menjadi Fort Rotterdam) kepada Belanda. Berikut ini selengkapnya seluruh isi dari Perjanjian Bongaya:

  • Makassar harus mengakui monopoli VOC.
  • Wilayah Makassar dipersempit hingga tinggal Gowa saja.
  • Makassar harus membayar ganti kerugian perang.
  • Hasanuddin harus mengakui Aru Palaka sebagai Raja Bone.
  • Gowa tertutup bagi orang asing selain VOC.
  • Benteng-benteng yang ada harus dihancurkan kecuali Benteng Rotterdam.

Perjanjian Bongaya tidak berlaku lama karena Sultan Hasanuddin kembali memimpin rakyatnya untuk mengadakan peperangan dengan Belanda. Pada awalnya, Belanda kewalahan menghadapi serangan yang mendadak ini. Dengan persenjataannya yang lengkap, mereka dapat memukul mundur Sultan Hasanuddin. Sultan Hasanuddin dan rakyat Makassar tidak bisa berkutik ketika pertahanannya, yaitu Benteng Sombaopu jatuh ke tangan Belanda. Sultan Hasanuddin menyerahkan kekuasaan kepada putranya bernama Mappasomba. Rakyat yang tidak mau tunduk kepada Belanda dengan keberaniannya mengarungi lautan mencari daerah baru sambil menyebarkan agama Islam (taken from here).

Uh, sebagai seorang raja yang pasti punya harga diri tinggi dan rasa benci maksimal kepada penjajah, hal ini tentu saja sangat menyakitkan bagi Sultan Hasanuddin. Dan di benteng inilah dahulunya kerajaan pimpinan Sultan Hasanuddin melakukan perjuangan habis-habisan sebelum akhirnya kalah dalam pertempuran. Jadi, disetiap jengkal langkah kaki kita didalam Fort Rotterdam/ Benteng Rotterdam/ Benteng Ujung Pandang/ Benteng Jumpandang ada energi, kisah, darah dan keringat pahlawan-pahlawan nasional. Sungguh sebuah bangunan yang patut dilestarikan.

Ada beberapa sumur yang hingga kini masih berfungsi dengan baik namun diberi jeruji agar tidak ada orang yang jatuh ke bawah/ membuang sampah sembarangan (alasan kedua ini agak tidak masuk akal karena jerujinya cenderung lebar & memungkinkan kita buang sampah dengan mudah):

017-benteng-50

Ini adalah bagian untuk wanita-wanita istri tentara/ pejabat Belanda melahirkan dan merawat anak-anak mereka. Bagian ini sekarang dialih-fungsikan menjadi kelas-kelas bahasa Inggris:

017-benteng-51 017-benteng-52 017-benteng-53 017-benteng-54

Bagian ini, Belanda banget ya? Ini juga bangunan didalam benteng yang dibangun Belanda untuk tempat tinggal:

017-benteng-55 017-benteng-56 017-benteng-57 017-benteng-58

Dahulu, petugas/ pejabat Belanda yang tinggal didalam benteng membawa serta anak istri mereka untuk tinggal didalam benteng karena mereka tidak bisa keluar masuk benteng seenaknya. Maka dahulu didalam benteng ada fasilitas lengkap, mulai dari sekolah, rumah sakit, area tempat tinggal, termasuk gereja untuk ibadah:

017-benteng-59

Aku diajak ke bagian lainnya, masuk ke dalam lorong ini:

017-benteng-205

Sebelum masuk ke lorong, Tour Guide bertanya apakah aku baik-baik saja. Aku jawab, “Tangan saya kok merinding semua, ya?”. Karena jawabanku seperti itu, maka Tour Guide sempat tanya, apakah tour mau dilanjutkan/ tidak/ pindah ke bagian lain. Wah, aku sih lanjut saja. Dan cerita pun mengalir dari Tour Guide.

Jadi, lowong ini adalah lorong menuju ke ruang tahanan. Didalam lorong, aku mendapati adanya jendela seperti ini:

017-benteng-206 017-benteng-207

Itu adalah jendela sumber udara dan cahaya untuk tahanan. 1 ruangan, bisa dihuni ratusan tahanan dalam keadaan tidak layak/ bersesak-sesakan. Banyak tahanan yang terpaksa berdiri berhimpit-himpitan, kadang menginjak tahanan lain yang sakit/ sudah meninggal. Kadang, penjajah bisa saja masuk dan menghajar tahanan tanpa sebab, bahkan membunuhnya begitu saja didepan kawan-kawannya yang lain. Duh!

Karenanya, daerah ini disebut-sebut sebagai daerah paling horror diseluruh kompleks Fort Rotterdam/ Benteng Rotterdam/ Benteng Ujung Pandang/ Benteng Jumpandang. Beberapa kali tempat ini akan dipakai untuk uji nyali, namun sebelum dilakukan, ada saja kejadian mistis yang membuat acara akhirnya tidak bisa berlangsung. Daerah ini pula yang membuat Fort Rotterdam/ Benteng Rotterdam/ Benteng Ujung Pandang/ Benteng Jumpandang tutup jam 6pm, karena mereka tidak mau ada hal/ kejadian kurang enak yang terjadi pada pengunjung.

Belum selesai merindingku, tibalah aku disisi atas ruang tahanan yang pemandangannya seperti ini:

017-benteng-212

Diatas, inilah pemandangannya:

017-benteng-214 017-benteng-213

Tour Guide mendatangi salah satu ‘bangunan’ yang bagian atasnya kini diberi besi pemberat ini:017-benteng-210

Beliau menyuruhku menebak, bangunan apakah ini. Aku pertamanya mengira, ini adalah sejenis cerobong asap/ lubang udara. Ah, ternyata jawabanku salah.

Ini, adalah sejenis lubang tempat para penjajah melemparkan makanan kepada para tahanan! Makanan yang diberikan ya suka2 mereka, bisa saja kuah, makanan kering, nasi, roti (dalam keadan layak/ basi). Sering pula mereka lupa/ sengaja lupa memberi makan para tahanan (yang berada didalam ruang tahanan) sehingga mereka mati kelaparan/ lemas. Duh!

017-benteng-209

Puas diatas, aku pun diajak kembali ke bawah:

017-benteng-208

Dalam perjalanan didalam lorong, Tour Guide memberi tawaran padaku, mau kah aku coba masuk kedalam ruang tahanan? Wah, aslinya takut. Tapi mumpung masih siang begini, OK lah dan inilah, ruang tahanan yang dahulu dipakai untuk menyiksa tawanan itu:

017-benteng-215 017-benteng-216 017-benteng-217

Kini ruangan dipakai untuk gudang dan ruang kerja beberapa pegawai administrasi. Katanya sih, tidak ada kejadian aneh terjadi pada mereka, juga tidak ada penampakan-penampakan. Aku bahkan dipersilakan masuk ke bagian yang lebih dalam dan gelap (dibalik lemari) tapi wew, udah deh. Engga saatnya untuk uji nyali di tanah orang haha :p.

Tibalah aku di bagian N, yang identik dengan Pangeran Diponegoro:

017-benteng-220

Kenapa? Karena Gedung N inilah yang menjadi ruang tahanan Pangeran Diponegoro..017-benteng-221

Ya, ratusan tahun setelah era Sultan Hasanuddin, Fort Rotterdam/ Benteng Rotterdam/ Benteng Ujung Pandang/ Benteng Jumpandang ini juga dipakai Belanda untuk menahan seorang pangeran dari Jawa yang sangat lihai berperang. Pangeran Diponegoro.

Beliau dilahirkan di Yogyakarta, 11 November 1785. Ia  meninggal pengasingannya di Makassar, Sulawesi Selatan pada tanggal 8 Januari 1855 pada umur 69 tahun. Beliau adalah salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia. Makamnya berada di Makassar. Pangeran Diponegoro adalah putra sulung Hamengkubuwana III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dari seorang garwa ampeyan (selir) bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. Pangeran Diponegoro bernama kecil Bendoro Raden Mas Ontowiryo.

Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang selir, Diponegoro menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengkubuwana III, untuk mengangkatnya menjadi raja. Ia menolak mengingat ibunya bukanlah permaisuri. Diponegoro mempunyai 3 orang istri, yaitu: Bendara Raden Ayu Antawirya, Raden Ayu Ratnaningsih, & Raden Ayu Ratnaningrum.

Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo daripada di keraton. Pemberontakannya terhadap keraton dimulai sejak kepemimpinan Hamengkubuwana V (1822) dimana Diponegoro menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun, sedangkan pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danurejo bersama Residen Belanda. Cara perwalian seperti itu tidak disetujui Diponegoro.

Riwayat perjuangan Pageran Diponegoro
Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu, beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.

Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat “perang sabil” yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Goa Selarong.

Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden. Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro. Bahkan sayembara pun dipergunakan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro. Sampai akhirnya Diponegoro ditangkap pada 1830.

Penangkapan dan Masa Pengasingan
16 Februari 1830 Pangeran Diponegoro dan Kolonel Cleerens bertemu di Remo Kamal, Bagelen (sekarang masuk wilayah Purworejo). Cleerens mengusulkan agar Kanjeng Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal Markus de Kock dari Batavia.

28 Maret 1830 Diponegoro menemui Jenderal de Kock di Magelang. De Kock memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Diponegoro agar menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Diponegoro. Tetapi Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan teliti. Hari itu juga Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang, dan langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux pada 5 April.

Tanggal 11 April 1830 sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedung Museum Fatahillah). Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van den Bosch. 30 April 1830 keputusan pun keluar. Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Diposono dan istri, serta para pengikut lainnya seperti Mertoleksono, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruno akan dibuang ke Manado. tanggal 3 Mei 1830 Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam.

1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan. pada tanggal 8 Januari 1855 Diponegoro wafat dan dimakamkan di kampung Jawa Makassar. Dalam perjuangannya, Pangeran Diponegoro dibantu oleh puteranya bernama Bagus Singlon atau Ki Sodewo. Ki Sodewo melakukan peperangan di wilayah Kulon Progo dan Bagelen.

Bagus Singlon atau Ki Sodewo adalah Putera Pangeran Diponegoro dengan Raden Ayu Citrowati Puteri Bupati Madiun Raden Ronggo. Raden Ayu Citrowati adalah saudara satu ayah lain ibu dengan Sentot Prawiro Dirjo. Nama Raden Mas Singlon atau Bagus Singlon atau Ki Sodewo sendiri telah masuk dalam daftar silsilah yang dikeluarkan oleh Tepas Darah Dalem Keraton Yogyakarta.

Perjuangan Ki Sodewo untuk mendampingi ayahnya dilandasi rasa dendam pada kematian eyangnya (Ronggo) dan ibundanya ketika Raden Ronggo dipaksa menyerah karena memberontak kepada Belanda. Melalui tangan-tangan pangeran Mataram yang sudah dikendalikan oleh Patih Danurejo, maka Raden Ronggo dapat ditaklukkan. Ki Sodewo kecil dan Sentot bersama keluarga bupati Madiun lalu diserahkan ke Keraton sebagai barang bukti suksesnya penyerbuan.

Ki Sodewo yang masih bayi lalu diambil oleh Pangeran Diponegoro lalu dititipkan pada sahabatnya bernama Ki Tembi. Ki Tembi lalu membawanya pergi dan selalu berpindah-pindah tempat agar keberadaannya tidak tercium oleh Belanda. Belanda sendiri pada saat itu sangat membenci anak turun Raden Ronggo yang sejak dulu terkenal sebagai penentang Belanda. Atas kehendak Pangeran Diponegoro, bayi tersebut diberi nama Singlon yang artinya penyamaran.

Keturunan Ki Sodewo saat ini banyak tinggal di bekas kantung-kantung perjuangan Ki Sodewo pada saat itu dengan bermacam macam profesi. Dengan restu para sesepuh dan dimotori oleh keturunan ke 7 Pangeran Diponegoro yang bernama Raden Roni Muryanto, Keturunan Ki Sodewo membentuk sebuah paguyuban dengan nama Paguyuban Trah Sodewo. Setidaknya Pangeran Diponegoro mempunyai 17 putra dan 5 orang putri, yang semuanya kini hidup tersebar di seluruh Indonesia, termasuk Jawa, Sulawesi & Maluku.

Latar Belakang Perang Diponegoro
Perang Diponegoro (Inggris: The Java War, Belanda: De Java Oorlog), adalah perang besar dan menyeluruh berlangsung selama lima tahun (1825-1830) yang terjadi di Jawa, Hindia Belanda (sekarang Indonesia), antara pasukan penjajah Belanda di bawah pimpinan Jendral De Kock melawan penduduk pribumi yang dipimpin seorang pangeran Yogyakarta bernama Pangeran Diponegoro. Dalam perang ini telah berjatuhan korban yang tidak sedikit.

Baik korban harta maupun jiwa. Dokumen-dokumen Belanda yang dikutip para ahli sejarah, disebutkan bahwa sekitar 200.000 jiwa rakyat yang terenggut. Sementara itu di pihak serdadu Belanda, korban tewas berjumlah 8.000.

Perang Diponegoro merupakan salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama menjajah Nusantara. Peperangan ini melibatkan seluruh wilayah Jawa, maka disebutlah perang ini sebagai Perang Jawa. Setelah kekalahannya dalam Perang Napoleon di Eropa, pemerintah Belanda yang berada dalam kesulitan ekonomi berusaha menutup kekosongan kas mereka dengan memberlakukan berbagai pajak di wilayah jajahannya, termasuk di Hindia Belanda.

Selain itu, mereka juga melakukan monopoli usaha dan perdagangan untuk memaksimalkan keuntungan. Pajak-pajak dan praktek monopoli tersebut amat mencekik rakyat Indonesia yang ketika itu sudah sangat menderita.

Untuk semakin memperkuat kekuasaan dan perekonomiannya, Belanda mulai berusaha menguasai kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, salah satu di antaranya adalah Kerajaan Yogyakarta. Ketika Sultan Hamengku Buwono IV wafat, kemenakannya, Sultan Hamengku Buwono V yang baru berusia 3 tahun, diangkat menjadi penguasa.

Akan tetapi pada prakteknya, pemerintahan kerajaan dilaksanakan oleh Patih Danuredjo, seseorang yang mudah dipengaruhi dan tunduk kepada Belanda. Belanda dianggap mengangkat seseorang yang tidak sesuai dengan pilihan/adat keraton.

Pada pertengahan bulan Mei 1825, pemerintah Belanda yang awalnya memerintahkan pembangunan jalan dari Yogyakarta ke Magelang lewat Muntilan, mengubah rencananya dan membelokan jalan itu melewati Tegalrejo. Rupanya di salah satu sektor, Belanda tepat melintasi makam dari leluhur Pangeran Diponegoro.

Hal inilah yang membuat Pangeran Diponegoro tersinggung dan memutuskan untuk mengangkat senjata melawan Belanda. Beliau kemudian memerintahkan bawahannya untuk mencabut patok-patok yang melewati makam tersebut.

Belanda yang mempunyai alasan untuk menangkap Pangeran Diponegoro karena dinilai telah memberontak, pada 20 Juli 1825 mengepung kediaman beliau. Terdesak, Pangeran beserta keluarga dan pasukannya menyelamatkan diri menuju barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo, dan meneruskan ke arah selatan hingga tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul. Sementara itu, Belanda —yang tidak berhasil menangkap Pangeran Diponegoro— membakar habis kediaman Pangeran.

Pangeran Diponegoro kemudian menjadikan Goa Selarong, sebuah goa yang terletak di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul, sebagai basisnya. Pangeran menempati goa sebelah Barat yang disebut Goa Kakung, yang juga menjadi tempat pertapaan beliau. Sedangkan Raden Ayu Retnaningsih (selir yang paling setia menemani Pangeran setelah dua istrinya wafat) dan pengiringnya menempati Goa Putri di sebelah Timur.

Setelah penyerangan itu, dimulailah sebuah perang besar yang akan berlangsung 5 tahun lamanya. Di bawah kepemimpinan Diponegoro, rakyat pribumi bersatu dalam semangat “Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati“; sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati. Selama perang, sebanyak 15 dari 19 pangeran bergabung dengan Diponegoro. Perjuangan Diponegoro dibantu Kyai Maja yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan (taken from here).

Nah, didalam ruangan kecil dengan pintu kayu inilah, Diponegoro ditahan hingga akhir hidupnya:

017-benteng-222

Pintu itu kini selalu tertutup untuk mencegah adanya aksi vandalisme. Namun kita bisa melihat ruangan bagian dalam dari jendela kaca disamping pintu:

017-benteng-224

Pintu kecil disebelah kiri adalah tempat keluar masuknya Pangeran Diponegoro. Sengaja dibuat pendek, dengan harapan sang Pangeran seolah dipaksa menunduk didepan serdadu/ pejabat Belanda ketika keluar dari tahanan. Nah, konon sang pangeran tidak pernah mau keluar dengan wajah menghadap depan. Jadi, Beliau akan keluar dengan punggung menghadap luar sehingga tidak sekali pun Beliau tampak sedang membungkuk di hadapan serdadu/ pejabat Belanda. Luar biasa!

Sehingga setelah diperdaya dalam perundingan dengan Letnan Jenderal Hendrik Merkus De Kock di Magelang pada 28 Maret 1830 akhirnya pihak Belanda berhasil menangkap Pangeran Diponegoro.

Hari itu juga Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang, dan ke Batavia menggunakan Kapal Pollux pada 5 April di tahun yang sama.

Lalu pada 11 April 1830 sang pangeran sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedung Museum Fatahillah). Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Johannes Van den Bosch. Lalu 30 April 1830 keputusan pun keluar, Pangeran Diponegoro serta para pengikut lainnya  dibuang ke Manado.

Pada 3 Mei 1830 Pangeran Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan Kapal Pollux yang dilengkapi 16 meriam laut ke Manado.

Setelah sampai di Manado, 13 Juni 1830 pangeran ditawan pada salah satu ruangan di Benteng Fort Nieuw Amsterdam. Sehingga dimulailah masa tiga tahun pertama pengasingan Pangeran di Sulawesi Utara dengan mendapat tunjangan 600 gulden setiap bulannya.

Pangeran menempati empat kamar bersama pengikut dan keluarga besarnya di Fort Nieuw Amsterdam. Sehingga dunia sang pangeran mendadak menyempit menjadi hanya seluas empat kamar itupun harus berbagi dengan keluarga dan pengikutnya.

Dua kuda pun dibeli untuk pangeran sehingga dia dapat berkeliling di daerah itu.  Namun di sini pengalaman bergaulnya dengan penduduk setempat kurang begitu harmonis karena perbedaan agama.

Sehingga dia tidak lagi berminat untuk berkeliling ke desa-desa di sekitarnya. Dengan tunjangan 600 gulden pangeran pun mulai hidup sederhana dan menabung untuk suatu ketika berangkat naik haji ke Mekkah.

Satu-satunya kemewahan yang dilakukannya adalah membeli sarung keris berhiaskan emas untuk keris pusakanya Kanjeng Kiai Bondoyudo.

Karenanya uang tabungannya pun menjadi cukup besar sehingga membuat khawatir Belanda jika uang tersebut digunakan untuk membiayai perang baru. Lalu uang tunjangan Pangeran Diponegoro dipotong menjadi 200 gulden.

Dengan jumlah ini sangat kurang untuk hidup di pengasingan karena hanya cukup untuk membayar pembantu dan membeli makanan.

Hal ini mengakibatkan kondisi kesejahteraan pangeran turun drastis hingga diambang kemiskinan saat kematiannya karena jumlahnya tidak mencukupi mengingat keluarganya yang semakin besar ditambah dengan adik perempuannya Raden Ayu Dipowiyono beserta suaminya.

Ketegangan pun sering terjadi antara Diponegoro dengan adiknya sehingga RA Dipowiyono beserta suaminya. Namun disaat saat itulah sang pangeran sempat merampungkan catatan otobiografinya (Babad Diponegoro) pada 3 Februari 1832. Babad Diponegoro mulai dia ditulis pada 20 Mei 1831.

Naskahnya dibuat dengan aksara pegon dengan panjang 1.151 halaman kertas ukuran folio. Naskah itu terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama menceritakan sejarah Tanah Jawa mulai dari jatuhnya Majapahit hingga perjanjian Giyanti. Sayangnya buku ini justru terbit di Malaysia dan Belanda. Di Indonesia belum ada.

Sedang bagian kedua mengisahkan tentang kehidupan dan sepak terjang Pangeran Diponegoro sejak kelahirannya pada 1785 hingga pengasingannya di Manado.

UNESCO lalu menetapkan Babad Diponegoro pada 21 Juni 2013 sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World). Karena Babad Diponegoro merupakan salah satu karya sastra besar di era Jawa Modern.

Ketegangan dengan adiknya pun berakhir ketika RA Dipowiyono beserta suaminya dipulangkan ke Jawa pada Agustus 1832 oleh pemerintah Belanda.

Kemudian pada 20 Juni 1833 akibat kondisi darurat di Eropa memaksa Pemerintah Belanda memindahkan Pangeran Diponegoro ke Benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan.

Penjagaan bagi Diponegoro semakin diperketat ketika berada di Makassar. Jika di Fort Nieuw Amsterdam pangerah masih diperkenankan untuk keluar benteng, namun di Fort Rotterdam pangeran dan pengikutnya tidak sama sekali diizinkan untuk keluar.

Pangeran pun dibatasi ruang geraknya karena berita-berita mengenai dirinya bisa bocor ke luar, di mana dia masih bisa berkorespondensi dengan kerabatnya di Yogya. Pangeran pun tidak diizinkan untuk menulis surat, namun dia diperbolehkan menulis untuk kesenangan sendiri dengan buku-buku dan naskah-naskah Jawa yang disalinkan baginya atas biaya pemerintah.

Pada 1838 pangeram mulai menyusun dua naskah dengan aksara pegon yaitu Sejarah Ratu Tanah Jawa dan Hikayat Tanah Jawa. Sejarah Ratu Tanah Jawa bercerita tentang sejarah Jawa dan legenda-legenda sejarah Jawa, mulai dari Nabi

Adam hingga jatuhnya Majapahit pada sekitar 1510 dan kedatangan Islam. Sementara Hikayat Tanah Jawa isinya seputar pemahaman pangeran tentang Islam, pengalaman-pengalaman religiusnya, doa-doa sufi dan berbagai teknik meditasi serta denah denah mistik.

Dalam dekade terakhir hidupnya pangeran mulai mempersiapkan saat kematiannya dengan apa yang dalam tradisi mistrik Syatariah dikenal dengan plawanganing pati atau membuka pintu gerbang kematian.

Sehingga pada akhir 1848 dia meminta pada Gubernur Jenderal agar diizinkan bertemu lagi dengan kedua putranya Pangeran Dipokusumo dan Raden Mas Raib. Namun hal itu tidak dikabulkan oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Pangeran pun mulai diisolasi di dalam Benteng Fort Rotterdam. Karena pengaruh Diponegoro masih dirasakan sehingga ada kekhawatiran pangeran akan coba melarikan diri mengingat Makassar adalah pelabuhan bebas.

Pada 11 Mei 1849 Gubernur Jenderal di Batavia mengirimkan surat rahasia yang memerintahkan bahwa Diponegoro harus tetap menghabiskan sisa hidupnya di dalam benteng. Sampai pada Senin 8 Januari 1855 Pangeran wafat, di mana penyebab kematiannya adalah kondisi fisik yang terus menurun lantaran usia lanjut. Pangeran lalu dimakamkan di Kampung Melayu bersama dengan keris pusakanya Kanjeng Kiai Bondoyudo (taken from here).

Nah, yang besar ini adalah jendela untuk tentara Belanda mengamati kegiatan/ aktifitas Pangeran Diponegoro:

017-benteng-223

Nampak ada 1 meja kecil yang dahulu dipakai sang Pangeran menulis. Untuk lebih detailnya, aku Googling dan mendapati beberapa foto yang aku comot dari sini, sini dan sini:

benteng-fort-rotterdam1 dwitagama-diponegoro-3-side

Bayangkan, seorang Pangeran dari Jawa yang terkenal begitu cerdas dan keras, pintar perang dan sangat anti Belanda ditahan didalam bangunan kokoh seperti ini, selama 26 tahun dan hanya diberi 1 tempat tidur tanpa kasur, meja kecil dan peralatan sholat. Secara fisik, Pangeran Diponegoro tidak disiksa karena Beliau adalah tahanan politik, namun aku percaya selama 26 tahun sang Pangeran mengalami siksaan batin/ mental yang luar biasa karena Beliau pasti tahu, setiap saat ada saja tawanan yang disiksa/ dibunuh didalam benteng ini, belum lagi Beliau juga terpaksa melihat musuhnya berkuasa dan semena-mena.

Ada teori lain yang menyebutkan sang Pangeran tidak benar-benar ditawan ditempat ini, namun disebuah tempat lain yang dirahasiakan sampai sekarang. Teori ini juga tidak mempercayai lokasi makam Pangeran Diponegoro sekarang. Namun semuanya belum terbukti.

Btw, silakan catat baik-baik jam buka Fort Rotterdam/ Benteng Rotterdam/ Benteng Ujung Pandang/ Benteng Jumpandang:

017-benteng-8

Baca ini juga, ya:

Fort Rotterdam atau Benteng Rotterdam Makassar (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros. Benteng Rotterdam Makassar ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.

Nama asli benteng ini adalah Benteng Rotterdam Makassar, biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Rotterdam Makassar diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.

Di kompleks Benteng Rotterdam Makassar kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar.

BENTENG ROTTERDAM
SejarahRotterdam

Benteng Rotterdam Makassar dibangun oleh Raja Gowa ke IX Daeng Matare Karaeng Manguntungi Tumapa’risi’ Kallonna dan diselesaikan oleh putranya Raja Gowa X Imanriogau Bontokaraeng lakiung Tonipallangga Ulaweng dengan konstruksi tanah liat pada tahun 1545. Atas perintah Raja Gowa XIV Imangerangi Daeng Manrabia (Sultan Alauddin) pada tahun 1634 tembok benteng diperbaiki dan menambah material batu karang, batu padas, dan batu bata menggunakan kapur dan pasir sebagai perekat.

Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros.

Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.

Nama asli benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang, biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur sampai saat ini benteng Rotterdam digunakan untuk perdagangan dan dijadikan sebagai tempat wisata prasejarah,selain itu Benteng Rotterdam dijadikan kantor pemerintah yakni Pusat Kebudayaan Makassar,

Di kompleks Benteng Ujung Pandang kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar. Salah satu obyek wisata yang terkenal disini selain melihat benteng serta museum Lagaligo adalah menjenguk ruang tahanan sempit Pangeran Diponegoro saat dibuang oleh Belanda sejak tertangkap ditanah Jawa.

Di benteng ini pernah di jajah oleh pasukan belanda, untuk memperluas daerah kekuasaannya karena kerajaan gowa memliki rempah-rempah yang banyak, Setahun lebih benteng digempur oleh Belanda dibantu oleh pasukan sewaan dari Maluku, hingga akhirnya kekuasaan raja Gowa disana berakhir. Seisi benteng porak poranda, rumah raja didalamnya hancur dibakar oleh tentara musuh. Kekalahan ini membuat Belanda memaksa raja menandatangani “perjanjian Bongaya” pada 18 Nov 1667 Di tempat ini juga Pangeran Diponegoro dipenjara.

Luas Benteng Rotterdam Makassar adalah 28.595,55 meter bujur sangkar, dengan ukuran panjang setiap sisi berbeda, serta tinggi dinding berfariasi antara 5-7 meter dengan ketebalan 2 meter. Benteng Rotterdam Makassar mempunyai lima buah sudut (Bastion),  yaitu :

  •           Bastion Bone terletak di sebelah barat
  •           Bastion Bacam terletak di sudut barat daya
  •           Bastion Butan terletak di sudut barat laut
  •           Bastion Mandarsyah terletak di sudut timur laut
  •           Bastion Amboina terletak di sudut tenggara

Fungsi Rotterdam

Saat Belanda datang ke tanah Makassar, pecahlah perang antara Sultan Hasanuddin yang ada di dalam benteng dengan penguasa Belanda, Cornelis Speelman pada tahun 1666. Selama setahun, Benteng Ujung Pandang digempur Belanda hingga akhirnya pasukan Sultan Hasanuddin kalah dan harus menyerahkan benteng kepada Belanda.

Pada masa Kolonial Belanda, Benteng Ujung Pandang dibangun kembali dan ditata sesuai dengan arsitektur Belanda. Sejak saat itu, nama benteng pun berubah menjadi Fort Rotterdam yang tidak lain merupakan daerah kelahiran Cornelis Speelman di Belanda. Pada masa ini, benteng dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan penampungan rempah-rempah Belanda di Indonesia.

Pada masa kolonial Jepang, benteng ini beralih fungsi menjadi pusat studi pertanian dan bahasa. Sementara setelah Indonesia merdeka, benteng ini dijadikan sebagai pusat komando yang kemudian beralih fungsi menjadi pusat kebudayaan dan seni Makassar.

Benteng ini amat mudah dikenali mengingat bangunannya yang sangat mencolok dibandingkan dengan gedung perkantoran ataupun rumah disekitarnya. Memasuki pintu utama benteng ini, nuansa kejayaan masa lalu terekam jelas melalui dinding benteng yang masih kokoh. Di sudut benteng, terdapat bastion yang di bangun sebagai pertahanan artileri utama. Di tempat ini pula terdapat beberapa lubang meriam untuk pertahanan benteng.

Di benteng ini juga terdapat beberapa ruang tahanan yang salah satunya pernah digunakan untuk menahan Pangeran Diponegoro. Ruang tahanan amat kokoh dengan dinding melengkung. Selain itu di tempat ini juga terdapat gereja yang merupakan gereja pertama yang ada di Makassar.

Sebagai pusat kebudayaan dan seni, saat ini dalam kompleks benteng terdapat Museum Nageri La Gilago yang menyimpan beragam koleksi prasejarah, numismatik, keramik asing, sejarah hingga naskah serta etnografi. Kebanyakan benda kebudayaan yang dipamerkan berasal dari suku-suku di Sulawesi seperti suku Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja.

Benteng Ujung Pandang memang memiliki keunikan tersendiri. Sebagai bangunan sejarah, benteng ini merupakan bukti nyata kisah panjang masa kolonialisme yang pernah ada di bumi nusantara. Selain itu, benteng ini juga menjadi saksi bisu sejarah panjang kota Makassar.

Bangunan – Bangunan di Rotterdam

  1. Gedung A merupakan tempat menerima tamu dari Bone.
  1. Gedung B pada bagian atas dahulu digunakan sebagai tempat perwakilan dagang dan bagian bawah sebagai ruang tahanan.
  1. Gedung Cdahulu adalah wisma bagi tamu-tamu dari Buton.
  1. Gedung D dahulu bagian belakang merupakan rumah sakit bagi orang Beland kemudian dirubah fungsi sebagai wisma tentara. Bagian depan gedung ini tempat tinggal Cornelius Speelman. Namun, sekarang Gedung D ini menjadi Museum Nagari La Galligo yang menyimpan berbagai benda-benda bersejarah.
  1. Gedung E dahulu tempat tinggal pimpinan perdagangan dan pendeta.
  1. Gedung F dahulu adalah tempat tinggal belanda
  1. Gedung G adalah gudang dan bengkel.
  1. Gedung H dahulu sebagai tempat menerima tamu dari Ternate.
  1. Gedung I dibangun oleh Jepang dengan sebagai kantor penelitian bahasa dan pertanian.
  1. Gedung J merupakan kantor pemegang buku germising.
  1. Gedung Kadalah Kantor Balai Kota.
  1. Gedung L merupakan ruang tahanan.
  1. Gedung M adalah gudang dan kantor perdagangan Belanda.
  1. Gedung N merupakan tempat menerima tamu dari Bacan.
  1. Gedung O adalah kantor Gubernur Sulawesi Selatan dan sekitarnya.
  1. Gedung P merupakan tempat peribadatan ( gereja ).

rotterdam

Bangunan – bangunan lainnya yang ada di Benteng Rotterdam

  • Halaman Pelantaran di kawasan Rotterdam
  • Pintu Masuk
  • Jendela Tahanan
  • Tempat Menempatkan Meriam
  • Tempat mengeluarkan meriam

Benda-Benda Bersejarah

Di dalam Rotterdam terdapat museum yang disebut La Galigo  ini memiliki koleksi sebanyak kurang lebih 4999 buah yang terdiri dari koleksi prasejarah, numismatik, keramik asing, sejarah, naskah, dan etnografi. Koleksi etnografi terdiri dari berbagai jenis hasil teknologi, kesenian, peralatan hidup dan benda lain yang dibuat dan digunakan oleh suku Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Museum juga memiliki benda-benda yang berasal dari kerajaan-kerajaan lokal dan senjata yang pernah digunakan pada saat revolusi kemerdekaan.

  • Koleksi Nusantara

Disalah satu ruangan museum La Galigo anda dapat jumpai replika dari beberapa situs atau cagar budaya di Indonesia, seperti bangunan candi, arca dan bentuk bentuk nisan yang banyak ditemukan pada makam – makam kuno.

  • Koleksi Keramik

Diruangan Koleksi Keramik terdapat berbagai jenis keramik kuno dari berbagai dinasti seperti Dinasti Sung abad 13-14 Dinasti Swaton abad 16-18, Dinasti cing abad 17-19, Dinasti Yuan terjan abad 14-16, Dinasti Annamese abad 14-16 Keramik – keramik ini berasal dari China, Vietnam, Thailand ,Siam dan Jepang. Dan ada juga, keramik yang berisi tulisan arab.

  • Alat-alat Tradisional Perikanan dan Kelautan

Pada bangunan lain Museum Lagaligo anda akan menjumpai koleksi Perangkat Tradisional para pelaut dan nelayan bugis Makassar terdapat replika Perahu Pinisi yang terkenal sampai ke manca negara berbagai jenis peralatan nelayan untuk mengkap ikan yang umumnya masih dapat dijumpai dalam kehidupan masyrakat pesisisr hingga saat ini.

  • Sepeda dan Bendi

Tidak hanya peralatan tradisional nelayan yang terpanjang di ruangan ini anda pun dapat melihat bendai, Sepeda ataupun Dokar, koleksi Perangkat pertanian Tadisional yang terdapat dalam useum lagaligo ini adalah bukti sejarah peradaban bahwa sejak jaman dahulu bangsa indonesia khususnya masyarakat Sulawesi Selatan telah dikenali sebagai masyarakat yang bercocok tanam. Mereka menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian terutama tanaman padi sebagai bahan makanan pokok.

  • Koleksi Peralatan Menempa Besi dan Hasilnya

Jika anda ingin mengenali lebih jauh tentang sisi lain dari kehidupan masa lampau masyarakat Sulawesi Selatan, maka anda dapat mengkajinya melalui koleksi tradisional menempa besi, Hasil tempaan berupa berbagai jenis senjata tajam, baik untuk penggunan sehari – hari maupun untuk perlengkapan upacara adat.

  • Koleksi Peralatan Tenun Tradisonal dan Kain

Dari koleksi Peralatan Tenun Tradisional ini, dapat diketahui bahwa budaya menenun di Sulawesi Selatan diperkirakan berawal dari jaman prasejarah, yakni ditemukan berbagai jenis benda peninggalan kebudayaan dibeberapa daerah seperti leang – leang kabupaten maros yang diperkirakan sebagai pendukung pembuat pakaian dari kulit kayu dan serat – serat tumbuhan-tumbuhan. Ketika pengetahuan manusia pada zaman itu mulai Berkembang mereka menemukan cara yang lebih baik yakni alat pemintal tenun dangan bahan baku benang kapas. Dari sinilah mulai tercipta berbagai jenis corak kain saung dan pakaian tradisional.

  • Alat Senjata

Kesimpulan

Fort Rotterdam atau Benteng Rotterdam Makassar (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke IX yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke XIV Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros (taken from here).

Informasi lain:

Tembok besar yang tersusun dari bebatuan padas itu berdiri memanjang, mengelilingi areal seluas tiga hektare lebih. Di salah satu sisi, tepat di atas sebuah gapura yang jadi pintu masuk, terdapat tulisan “Fort Rotterdam”.

Benteng Fort Rotterdam, sering disebut Benteng Ujung Pandang,ada juga yang menyebutnya Benteng Penyu dan Kota Towaya–lagi berbenah. Di dalamnya, selain pengunjung dan pegawai Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar (BP3M), banyak kuli bangunan. Mereka sedang mengerjakan revitalisasi bangunan-bangunan besar di dalam kompleks benteng. “Kalau rencana pemerintah provinsi, ini (rampung) sampai 2015. Revitalisasinya bukan hanya lingkungan dalamnya, tapi juga lingkungan di luar benteng,” ujar Muhamad Natsir, pegawai BP3M.

Bangunan-bangunan besar itu merupakan peninggalan Belanda. Jumlahnya ada 15 buah tapi menurut Natsir ada 16. Selain bangunan, di dalam kompleks benteng juga terdapat taman yang luas. Fort Rotterdam merupakan saksi bisu perkembangan Makassar. Peranannya sangat penting. Benteng ini merupakan satu dari beberapa benteng yang dibangun setelah ketegangan Makassar-VOC (kongsi dagang Belanda) meningkat.

Para pedagang Belanda kala itu tertarik dengan pertumbuhan pesat Makassar sejak akhir abad ke-16. Perwakilan dagang dari berbagai negara ada di sana. Jalinan niaga, diplomatik, dan militernya juga sangat luas. Mau tak mau, “Dutch East India Company yang mengetahui hal itu harus memutus Makassaragar monopoli cengkeh dan pala mereka di Maluku berjalan efektif,” tulis Anthony Reid dalam “The Fall of Mighty Makassar”, dimuat dalam antologi Sulawesi Indonesia karya Kal Muller (editor).

VOC menyerang perahu-perahu dagang Makassar di perairan Maluku dekat Ambon. Penguasa Makassar memprotes perwakilan VOC di sana tapi tak diindahkan. VOC malah mendesak Sultan Alauddin agar tak menjual beras ke orang Portugis di Malaka. Seorang utusan VOC dari Maluku tiba di Makassar tak lama kemudian. Pesannya kepada raja Makassar: raja diharapkan melarang orang Makassar berniaga di Maluku. Sultan Alauddin pun marah. “Negeri saya terbuka untuk semua bangsa dan tidak ada perlakuan istimewa untuk Tuan, sebagaimana juga untuk orang Portugis,” kata sultan sebagaimana disitir Edward Poelinggomang dalam Makassar Abad XIX: Studi tentang Kebijakan Perdagangan Maritim.

Tak terima atas jawaban sultan, VOC melakukan serangan yang kemudian dikenal sebagai Peristiwa Enckhuyzen –merujuk kapal yang dinahkodai Dirck de Vries dan berlabuh di Pelabuhan Makassar pada 28 April 1615. Ketika acara malam ramah-tamah antara para awak kapal dan para pembesar serta bangsawan Makassar di kapal itu, tanpa diduga pihak VOC melucuti semua persenjataan para undangan. Perlawanan terjadi. Korban jiwa berjatuhan. Syahbandar Makassar Encik Husen dan dua anggota keluarga raja ditawan lalu dibawa ke Banten.

Makassar lalu menutup perwakilan VOC di sana. Mereka juga menggiatkan pembangunan benteng di pesisir-pesisir kota. Yang pertama adalah Benteng Tallo di perbatasan utara (selatan muara Sungai Tallo) dan Benteng Panakkukang di perbatasan selatan (selatan muara Sungai Jeneberang). Menyusul kemudian Benteng Ujung Pandang, Barokbaso, Barombong, Garasi, Mariso, dan Ujung Tanah hanya Benteng Ujung Pandang yang kini masih berdiri kokoh. Di dalam benteng-benteng inilah perdagangan berlangsung.

Semasa pemerintahan Sultan Hasanuddin, “Benteng Ujung Pandang pernah dijadikan sebagai pusat persiapan perang dan upacara membasuh panji-panji Kerajaan Gowa dengan darah untuk menghadapi VOC,” tulis leaflet keluaran Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar.

Ketika Perang Makassar pecah (1666-1667) dan akhirnya VOC berhasil memaksakan penandatanganan Perjanjian Bongaya yang merugikan Makassar, Benteng Ujung Pandang lepas dari tangan Makassar. Pasal 11 perjanjian itu menyatakan, Makassar harus menyerahkan Benteng Ujung Pandang berikut perkampungan dan lingkungannya kepada VOC.

Di tangan Laksamana Cornelis Speelman, pemimpin ekspedisi Makassar yang kemudian jadi gubernur jenderal, benteng yang dibangun kali pertama pada 1545 ini diganti namanya menjadi Fort Rotterdam kota kelahiran Speelman. Perbaikan dilakukan di sana-sini. Speelman juga mengubah benteng dan kawasan sekitarnya menjadi kota baru. Cakupannya meliputi benteng pertahanan, kota dagang yang dinamakan Vlaardingen di utara benteng, dan perkampungan di sekitar Vlaardingen.

Penguatan benteng juga dilakukan. Yang paling mencolok, penggunaan batu padas berbentuk balok sebelumnya tembok benteng hanya menggunakan bahan gundukan tanah, lalu batu bata dan pembangunan lima bastion atau sudut pertahanan (Amboina, Bacan, Bone, Buton, Mandarsyah). Tiap bastion berterap tiga. Tangga menjadi alat untuk naik ke atasnya. Jenis tangganya terbagi dua: yang berjenjang untuk personel dengan senjata ringan, sementara yang datar untuk meriam dan senjata berat. “Itu kan sebetulnya fungsi-fungsi dalam kaitannya dengan pertahanan,” ujar Natsir.

Di depan pintu masuk sebuah bangunan di pojok Bastion Bacan terdapat sebuah papan petunjuk bertuliskan “Ruang Tahanan P. Diponegoro”. Di tempat inilah konon Pangeran Diponegoro dulu ditahan. Setelah dibuang ke Manado, Diponegoro dipindahkan ke Makassar. “Berdasarkan arsip, waktu di Makassar dia ditahan di Fort Rotterdam. Tapi itu hanya visualnya. Kita buatkan biar lebih mudah. Tempat pastinya di mana, tak ada yang tahu,” ujar Natsir.

VOC, kemudian juga pemerintah Hindia Belanda, juga membangun gedung-gedung bergaya gothik yang masih berdiri hingga kini. Satu di antaranya lalu dipakai sebagai kantor gementee (kotapraja) Makassar. Gedung itu sekarang sudah berubah atap depannya.

Pusat Sejarah Kota Makassar

Fungsi Benteng Ujung Pandang sebagai pusat komando pertahanan, perdagangan, pemerintahan, dan permukiman terus berlanjut hingga kekuasaan Hindia Belanda berakhir. Setelah itu, benteng itu menjadi Kantor Pusat Penelitian Pertanian dan Bahasa di masa Jepang, markas tentara KNIL pascaproklamasi hingga 1950, lalu permukiman hingga 1969. Baru tahun 1970 benteng itu diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan guna dipelihara. Empat tahun kemudian, panggung pertunjukan seni dibangun dan Benteng Ujung Pandang ditetapkan sebagai Pusat Budaya Sulawesi Selatan sekaligus tempat wisata budaya.

Di dalam benteng, terdapat Museum Lagaligo yang diresmikan tahun 1970. Sebelumnya, pemerintah Hindia Belanda pernah mendirikan museum serupa pada 1938, dengan mendirikan Celebes Museum. Letaknya di bekas kediaman Cornelis Speelman. Kemudian ditutup psda saat Jepang masuk.

Fort Rotterdam masih kokoh berdiri hingga kini. Tak lagi berfungsi sebagai pusat pertahanan, politik, niaga, tapi sebagai “pusat sejarah” kota Makassar. Fort Rotterdam merupakan bukti visual yang masih tersisa dari dinamika sebuah peradaban.

Revitalisasi, termasuk mengembalikan kanal di luar benteng yang sempat hilang, dimaksudkan untuk tetap menjaga kelestarian Fort Rotterdam beserta kisah-kisah di baliknya. “Versi catatan sejarahnya, ada peta lama tahun 1800-an yang kita pegang, ada data tentang kanal,” ujar Natsir. “Jadi kita mengembalikannya berdasarkan catatan riil yang ada pada saat ditemukan.”

Ratusan tahun sudah usia Fort Rotterdam. Keanggunannya masih terjaga. Tak berlebihan bila wartawan New York Times Barbara Crossette melukiskannya sebagai, “the best preserved Dutch Fort in Asia” (taken from here).

Hormat dan doaku, untuk Sultan Hasanuddin, Pangeran Diponegoro dan seluruh pejuang yang telah mengorbankan keringat dan darah untuk kemerdekaan. Semoga mereka semua beristirahat dalam damai, amen.

Share

Post to Twitter