Makam Pangeran Diponegoro (Makassar – Sulawesi Selatan); Peristirahatan Abadi Pangeran yang Pemberani

Ketertarikanku terhadap Pangeran Diponegoro dimulai dari sebuah lukisan cat air yang sangat indah, buatan Galuh Tajimalela:

diponegoro-copy

Lukisan indah Pangeran Diponegoro berpisah dengan kuda kesayangannya ini, begitu menyentuh. Kemudian, mulailah aku Googling, mencari tahu penggalan kisah apakah yang dihadirkan Galuh Tajimalela. Hasilnya, ini *hi, Olive!*:

Hari ini 228 tahun yang lalu di salah satu sudut ruang kaum perempuan dalam Keraton Yogyakarta; seorang perempuan menggeliat menahan sakit melahirkan. Hari jelang fajar ketika suara tangis itu memecah senyap. Jumat Wage, 11 Nopember 1785 seorang calon pemimpin besar lahir ke dunia. Bayi lelaki, putera sang fajar, sulung dari Hamengkubuwono III diberi nama Raden Mas Antawirya (Jawa : Ontowiryo). Cucu kesayangan Sultan Mangkubumi yang telah diramalkan oleh sang kakek, satu hari nanti akan memusingkan pemerintah Hindia Belanda ini; di kemudian hari lebih dikenal dengan Pangeran Diponegoro. Pentas Tetar Mini Pelana Kuda Pangeran Diponegoro di Museum Nasional Jakarta. Sehari sebelum ulang tahun Pangeran Diponegoro, bertepatan dengan hari Pahlawan, Minggu (10/11/2013); Komunitas Akhir Pekan di Museum bekerjasama dengan Teater Koma mempersembahkan sebuah pentas teater mini di Museum Nasional, Pelana Kuda Pangeran Diponegoro.

Kegiatan yang digelar setiap akhir pekan dengan tujuan untuk memperkenalkan perjalanan sejarah bangsa lewat koleksi-koleksi Museum Nasional melalui program edukasi publik ini telah dimulai sejak 8 September 2013 lalu. Satu hal yang menarik dari pementasan teater mini kali ini adalah personifikasi kuda kesayangan Pangeran Diponegoro, Kyai Gentayu menuturkan perjalanannya selama mendampingi sang Pangeran hingga perpisahan mereka karena pangeran ditangkap dan diasingkan ke Makassar. Kyai Gentayu dan pelana kuda Pangeran Diponegoro. Kedekatan si kuda hitam dengan majikannya sangat terasa membawa penonton hanyut dalam setiap tutur kisah yang disampaikan oleh Kyai Gentayu. Bagaimana sayang dan cintanya sang Pangeran kepada si Hitam usai berperang di Delanggu pada 28 Agustus 1826. Pangeran mengusap-usap lembut kepala Gentayu disertai pujian,”terima kasih Gentayu, tak salah aku memberimu nama Gentayu si burung jatayu, kuda hitamku!”

Pada pementasan ini dua buah artefak koleksi Museum Nasional yang sudah bertahun-tahun tidak ditunjukkan ke publik, dikeluarkan dan dipajang di sisi panggung kecil: Pelana Kuda dan Tombak Pangeran Diponegoro. Perpisahan dengan sang Pangeran membawa kesedihan yang sangat dalam bagi Gentayu. Dia tak tahu dimana majikannya kini berada, masihkah ada kesempatan mereka bertemu saat usianya sudah di ujung senja? Sebuah kisah mengharukan. Kita sudah sering mendengar kisah keluarga yang terpisah karena perang namun sangat jarang ada penuturan tentang binatang peliharaan, pendamping dan kawan perjuangan manusia yang sangat kehilangan ketika majikannya tertangkap.

Pangeran Diponegoro ditangkap pada 28 Maret 1830 ketika memenuhi undangan perundingan dari Jendral De Kock di Karasidenan Magelang tanpa melakukan perlawanan. Beliau diasingkan ke Batavia lalu dipindahkan ke Manado sebelum dipindahkan dan menghabiskan hidupnya dalam pengasingan di Benteng Rotterdam, Makassar (taken from here).

Dan informasi itu, bagaikan kalimat pembuka dari sebuah novel panjang yang akan aku baca (FYI, jauh sebelum menemukan lukisan Galuh Tajimalela aku sudah punya koleksi lengkap buku “Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855” karya Peter Carey dan belum pernah aku buka haha *parah*.

Singkat kata, ketika aku mulai Googling mengenai Makassar yang (ketika itu) akan aku kunjungi, aku menemukan kisah bahwa ternyata Pangeran Diponegoro ditahan, meninggal dan dimakamkan di Makassar. Maka, tentu saja aku kemudian datang berkunjung ke Fort Rotterdam/ Benteng Rotterdam/ Benteng Ujung Pandang/ Benteng Jumpandang untuk melihat lokasi Pangeran Diponegoro ditahan dan meninggal, juga ke Makam Pangeran Diponegoro yang terletak di Jalan Pangeran Diponegoro, Makassar, Sulawesi Selatan:

makam-diponegoro6

Lokasinya sama sekali tidak seperti bayanganku sebelumnya. Jika biasanya makam pahlawan terletak jauh dari keramaian, Makam Pangeran Diponegoro terletak di daerah padat penduduk yang ramai.

Namun suasana hiruk pikuk diluar pagar Makam Pangeran Diponegoro langsung berubah, ketika kita masuk ke bagian dalam:

makam-diponegoro027

Makam Pangeran Diponegoro tentulah yang bentuknya paling mencolok dan terletak dibawah pendopo terbuka yang secara fisik bangunan, nampak sangat baik dan terawat:

makam-diponegoro4

Dan inilah, makam sang Pangeran:

makam-diponegoro019makam-diponegoro022 makam-diponegoro8

Disebelahnya, ada makam lagi yang dipercaya sebagai makam salah satu istri Pangeran Diponegoro, R. A. Ratu Ratna Ningsih:

 

makam-diponegoro020makam-diponegoro9 makam-diponegoro7

Makam ini sebenarnya memiliki detail yang cukup cantik namun tidak mencolok, sehingga perlu mendekat untuk bisa melihatnya:

makam-diponegoro010 makam-diponegoro012 makam-diponegoro013

Didepan kedua makam ini, ada banyak makam lain yang semua dicat/ dipalpis tegel putih:

makam-diponegoro027 makam-diponegoro025

Disebutkan bahwa makam itu adalah makam para pengikut setia Pangeran Diponegoro. Diantara bagian makam pengikut dan makam Pangeran Diponegoro beserta istri, ada beberapa makam istimewa:

makam-diponegoro023

Ya, makam putra putri Pangeran Diponegoro! 4 diantaranya, aku foto spesial (ada artikel menyebutkan total ada 6 nisan putra putri Pangeran Diponegoro pada kompleks makam ini namun aku hanya menyadari 4):

“Total ada 98 makam. Dua makam yang besar merupakan makam Pangeran Diponegoro bersama istri nya, enam makam putra-putrinya, tiga makam pengikutnya serta 87 makam cucu dan cicit beliau,” jelas Muh. Yusuf. Menurutnya, semasa hidup, Pangeran Diponegoro sempat berwasiat kepada pengikut serta cucu dan cicitnya untuk tidak kembali ke Jawa dan tetap menetap di Makassar (taken from here).

makam-diponegoro021 makam-diponegoro030 makam-diponegoro029 makam-diponegoro024

Makam Pangeran Diponegoro ini hingga kini masih saja ada yang mendatangi untuk sekedar berkunjung; sepertiku, atau berdoa (seperti foto Bapak diatas). Yang pasti, kondisinya yang bersih dan terawat melegakan. Seorang Pangeran tanah Jawa yang pernah membuat Belanda pusing ini, layak mendapatkan penghormatan seperti ini.

Setelah berkunjung, mampirlah di bangunan sisi kanan belakang kompleks makam untuk mencatatkan data diri dan memberi sumbangan (hebatnya.. sumbangan diminta dimasukkan kedalam kotak, bukan diterima langsung oleh petugas jaganya loh):

makam-diponegoro5 makam-diponegoro2

Btw, pernahkah kalian dengar bahwa ada teori lain bahwa Makam Pangeran Diponegoro tidak di Makassar? Nah, ini salah satu artikel yang menceritakan kisahnya:

Tentu bila mendengar pertanyaan seperti pada judul diatas, kebanyakan orang akan menjawab, di Makasar. Seperti yang tertulis dalam buku sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang selama ini kita baca dan pelajari dalam pelajaran Sejarah dan buku-buku pelajaran yang ada sampai saat ini. Namun berbeda halnya dengan sebagian orang meyakini keberadaan makam pangeran Diponegoro berada di Sumenep. Kok bisa begitu ya? Hal inilah yang memunculkan rasa penasaran saya, untuk memastikan kebenaran informasi ini. Untuk itu, saat liburan Imlex tanggal 08 Februari 2016 yang lalu. Saya mencoba mencari jawab, akan rasa penasaran saya ini. Untuk itu selain dengan tujuan ingin menikmati tempat-tempat wisata di Sumenep di Ujung pulau Madura, dengan wisata pantai-pantainya, Masjid Agung peninggalan Kerajaan Sumenep, wisata sejarah seperti keraton Sumenep, yang menurut pengelola Museum Keraton Sumenep adalah satu-satunya peninggalan Keraton yang masih ada untuk wilayah Propinsi Jawa Timur, yang masih terjaga kelestariannya, hanyalah keraton Sumenep. Saya, menyempatkan diri untuk berziarah kemakam raja-raja Sumenep yang dikenal kawasan ini dengan nama Asta Tinggi.

Makam Pangeran Panji Panjang Jiwo Kala itu, sudah sore menjelang. Udara dingin mulai terasa menusuk kulit, mengingat cuaca mendung dan gerimis mulai turun membasahi bumi. Namun hal ini tidaklah menyurutkan langkahku untuk tetap memcoba mencari jawab, akan rasa penasaranku akan cerita dari mulut ke mulut yang telah ku dengar, bahwa makam pangeran Diponegoro berada di Sumenep. Setelah ku bersimpuh dan berdoa di beberapa tempat, di antara makam-makam di Asta Tinggi, Aku berdoa di samping makam Pangeran Panjang Jiwo, yang tak lain nama lain dari Prabu Arya Wiraraja (Raja Pertama Kerajaan Sumenep), mohon maaf bila saya salah karena saya sendiri hanya sekilas mendengar dari sang penutur atau penjaga makam.

Setelah selesai, saya mencoba bertanya kepada sang juru kunci makam, masih adakah makam lain selain di dalam kompleks Asta Tinggi ini? Kemudian sang juru kunci menjawab, “ada di belakang”, yaitu makam Pangeran Diponegoro, kata beliau tanpa ragu.

Mengingat saat itu hujan turun dengan lebatnya, maka kami tidak dapat langsung menuju kemakam yang dimaksud. Sambil menunggu hujan agak reda, sang juru kunci bercerita singkat, bagaimana cerita ini bisa terjadi. Bermula dari seseorang yang bertafakur dan berdoa di seputaran makam, kala itu mendapat petunjuk dengan ditemukannya tulisan di daun lontar dan petunjuk bathinnya bahwa di dekat dia melakukan tapa semedhinya, ada makam yang harus dihormati, yaitu makam pangeran Diponegoro berserta istrinya, yang dikuburkan berdampingan. Terus pertanyaan saya selanjutnya, kenapa hal ini tidak disampaikan secara resmi oleh pemerintah? Alasan beliau juga masuk akal juga, takut akan merubah sejarah yang selama ini telah masuk dalam kurikulum pendidikan kita, bahwa disitu tertulis, makam pangeran Diponegoro berada di Makasar.

Kemudian saya tidak berhenti sampai disitu saja, saya mencoba mencari jawab dari sisi yang lain. Kembali sang juru kunci berkisah. Bahwa dikisahkan dulu, pangeran Diponegoro dibawah perlindungan Prabu Arya Wiraraja (mohon maaf jika salah sebut), karena bukti impiris saya jujur tidak tahu. Menyelamatkan pangeran Diponegoro dari kejaran Belanda dengan menyembunyikan beliau di lingkungan keraton sampai meninggalnya di Sumenep. Karena kesaktian beliau, diserahkannya kepada Belanda, orang yang mirip atau menyerupai pangeran Diponegoro kala itu dan akhirnya yang diserahkan kepada Belanda inilah yang dimakamkan di Makasar.

Singkat cerita, hujan mulai reda, sang juru kunci makam pun menuntun langkah saya mengitari kompleks makam di Asta Tinggi, dengan tanpa beralas kaki untuk menuju dimana di akui oleh penduduk setempat sebagai makam pangeran Diponegoro dimakamkan. Dan akhinya sampailah kami di makam yang berada di belakang kompleks pemakaman.

Disitu ada dua makam di dalam rumah khusus, yang berdiri sendiri, atau terpisah dari megahnya kompleks pemakaman Asta Tinggi. Setelah ku berdoa sebentar di area makam tersebut, kami diajak lagi oleh sang juru kunci makam untuk melihat, dimana bekas tempat kuda pangeran Diponegoro minum. Disitu ada tempat seperti cekungan di tanah yang berada dibawah pohon besar, dimana disitu diyakini sebagai tempat minumnya kuda pangeran Diponegoro. Karena senja mulai menjelang dan tubuh lebih setelah melakukan perjalanan 5 jam dari kota Surabaya, ditambah basahnya rambut ini karena hujan, maka kami putuskan untuk segera pulang, dan menuju kepenginapan.

Pertanyaan selanjutnya muncul dibenakku. Dimana sebenarnya makam pangeran Diponegoro berada? Jawabnya secara tertulis pasti di Makasar, karena fakta sejarah yang ditulis adalah di Makasar. Namun, bagaimana bila benar Sang Prabu Arya Wiraraja benar memberikan kepada Belanda, adalah Pangeran Diponegoro yang palsu, yang akhirnya wafat dan dimakamkan di Makasar? Itulah sejarah, yang bisa di putarbalikan sesuai dengan kepentingan politik, situasi dan kondisi saat itu. Namun bila ditanya hatiku? Hatiku akan menjawab, sesuai dengan suara hatiku, makam pangeran Diponegoro benar ada di Sumenep.

Hanya Tuhanlah yang tahu kepastian ini, apalagi kisah super Heroik dari sang Pahlawan JAWA yang diakui oleh Belanda paling susah untuk ditaklukan adalah hanyalah kisah masa lalu. Disaat aku belum terlahir…… (taken from here).

Kisah lainnya:

Pangeran Dipanegara juga sering dieja Diponegoro (lahir di Yogyakarta, 11 November 1785 – meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Januari 1855 pada umur 69 tahun) adalah salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia. Pangeran Diponegoro terkenal karena memimpin Perang Diponegoro/Perang Jawa (1825-1830) melawan pemerintah Hindia-Belanda. Perang tersebut tercatat sebagai perang dengan korban paling besar dalam sejarah Indonesia

Namun demikian hasil penelusuran sebuah komunitas di Sumenep, Songennep Tempo Doeloe, melansir bahwa kemungkinan makam atau kuburan pahlawan Nasional itu berada di komplek pekuburan Asta Tinggi Sumenep. Hal ini dapat dibuktikan dari catatan-catatan dan nisan yang terdapat di komplek pemakaman tersebut

Keberadaan Makam Pangeran Dipenogoro dibelakang kompleks makam Asta Tinggi sampai saat ini masih menjadi perdebatan dikalangan masyarakat. Namun sebagain masyarakat Sumenep percaya bahwa makam sang pahlawan nasional ini memang benar-benar berada di Negeri Sungenep

“Abdul Hamid Pangeran Diponegoro Ontowiryo Amirul Mu’minin Sayidin Sido Ing Topo Panotogomo ” Nama Pangeran Diponegoro ( Raden Mas Ontowiryo ) sempat mengemuka dan mengelinding di Masyarakat Sumenep, sekitar tahun 1987, keberadaan makam tersebut di belakang area kompleks pemakaman Asta Tinggi, tepatnya di sebelah utara asta induk.

DR. Amin Budiman dalam acara Seminar Sejarah Pangeran Diponegoro yang diselenggarakan oleh Universitas Diponegoro Semarang, memaparkan bahwa sejarah tertangkapnya Diponegoro oleh Jenderal De Kock yang selama ini diyakini keberadaannya di Ujung Pandang , perlu dipertanyakan kembali seperti yang ditulis dalam ” Babad Diponegoro ” maupun ” Kidung Kebo “. DR. Amin Budiman juga memaparkan , bahwa apabila diperhatikan beberapa sumber lain dan prasasti yg ada di Sumenep membenarkan keberadaan Makam Pangeran Diponegoro berada di Pojok Belakang Luar Area Komplek Pemakaman Asta Tinggi.

Pangeran Diponegoro ( Raden Mas Ontowiryo ) dilahirkan tanggal 1 November 1785 putera Sultan Hamengku Buwono III dari hasil perkawinannya dengan Mangkorowati asal Bangkalan trah dari Pangeran Cakraningrat III.

Pangeran Dipnegoro mempunyai dua orang isteri antara lain R. Ayu Ratna Ningsih dari Pamekasan dan Raden Ajeng Uluhiyah ( Slowijo ) dari Sumenep Putri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I.

Sedikit cuplikan dari buku Tjarèta Naghârâ Songennep : – Handelingen – Kartasoedirdja – Taal land en volkonkuude van java – 1919 (halaman 21)” :

“Kaotja’a radji patmèna Soltan èngghâpanèka pottrèna Kyaè Adipati Soeroadimenggolo, Boepatè Samarang ; mèlaèpon nalèka perrang Dhipanaghârâ, serrèng Kandjeng Soltan aperrang sareng bhâlâ-bhâlâna dhibi’ dâri Samarang, sè padâ noro’ dâ’ Pangèran Dhipanaghârâ.

Abiddhâ Kandjeng Soltan Songennep sè aperrang è Djhoekdjakarta 19 boelân, pas ghoebhâr ka Songennep. Dhinèng bhâlâ pandjhoeriddhâ èdhingghâl è Djhoekdjâ kantos saoboessa perrang. Sè dhâddhi kapalana pandjhoerit Songennep èngghâpanèka tra-pottrana kandjeng Soltan, bânnja’na kaempa :

  1. Pangèran Koesoema Senaningalaga, Kolonel Commandant pandjhoerit Songennep, 
  2. Pangèran Koesoema Sinrangingrana, Luitenant Kolonel Infanterie,
  3. Pangèran Koesoema Soerjaningjoeda, Majoor Artilerie (èsebboet Pangèran Marijem ),
  4. Pangèran Tjandranimprang, Majoor Cavalerie.

Abiddhâ perrang è Djhoekdjakarta 5 taon, oboessa ètaon 1830. Pangèran Dhipanaghârâ èallè dâ’ Songennep ……………. “

Salah seorang permaisuri beliau (Raden Abdurrahman Pangeran Natanegara R. Aryo Tirtadiningrat Pangeran Pakunataningrat I Sultan Natakusuma II) adalah Raden Ayu Siti Khatijah putri dari Kanjeng Kiyai Raden Daeng Mertamenggala II Demang Gemulak Kiyai Aryo Suroadimenggolo (Bupati Semarang) yang juga adalah kerabat dekat Pangeran Diponegoro. Jadi Sultan Abdurrahman masih ipar dari Pangeran Diponegoro.

Sultan Abdurrahman pernah memberi wasiat kepada keturunan dan para sentana keraton Songennep, dg memberikan nama kepada para penjaga Asta Tinggi seperti Kaji Sèngnga, Kaji Buddhi, Kaji Nangger, Kaji Makam, Kaji Jhâjâbângsa, Kaji Jhâjâaddur, Kaji Sekkar, dan Kaji Langghâr. Bilama nama-nama tersebut dirangkai dirangkai maka akan terjadi suatu kalimat yg berbunyi sebagai berikut :

“Sènga’ sopajâ èkatao-è, jhâ’ è bu?ina Asta tèngghi arèya ba?a bungkana nanggher, è seddhi’na nanggher bâ?â kobhurânna orèng sè abillai kajhâjâ-ân bhângsa tor abhillai agâma. Ngarep sopajâ èsekkarè (diziarahi), mon ta’ sempat, kèbâ kèyaè soro duwâ’âghi”. (Sejarah Sumenep, 2003;181-182).

Kalimat tsb. memang menjadi tanda tanya bagi para generasi (yg mengetahuinya) masa kini, apa maksud yg sebenarnya. Karena konon yg mengajak Pangeran Diponegoro ke Sumenep adalah Sultan Abdurrahman.

Pustaka :

  • Tjarèta Naghârâ Songennep – Handelingen – Kartasoedirdja – Taal land en volkonkuude van java – 1919 (halaman 21)
  • Lintasan Sejarah Sumenep dan Asta Tinggi Beserta Tokoh dh Dalamnya , Hal 57 – 64. Bindara Akhmad. (rangkuman diskusi forum songennep tempo doeloe juni 2012)

Menurut Faruk Abdillah, yang pertama kali menemukan kuburan Pangeran Diponegoro ialah R. Harunur Rasyid ( Almarhum), seorang sejarawan, ahli metafisika yang pada saat membaca secara prasasti yang terdapat dibatu nisan makam, dan dibantu oleh RB. Abd Rasyid ( Gus Endung, mantan kepala Asta Tinggi serta dirinya, kapasitasnya sebagai seorang jurnalis.

Menurut catatan Faruk pihaknya menindaklanjuti temuan tersebut termasuk studi riset. Ada tujuh buku yang ia tulis tentang itu, termasuk didalamnya tentang sejumlah kidung Diponegoro yang terpahat dari berbagai ukiran di asta tinggi/ pikthograf. Di Sumenep tidak hanya kuburan Pangeran Diponegoro, tapi juga putra putrinya Endang Kaliangi. Pangeran Joyo Kusumo, Pangeran Dipokusumo ( dalam catatan sejarah ia pernah ditahan di Benteng Kalimo’ok ) setelah mengantar orang yang diserupakan dengan Pangeran Diponegoro dalam perjanjian dengan Belanda. Orang yang dimiripkan dengan Pangeran Diponegoro adalah salah seorang laki-laki bernama Jiko Matturi asal Desa Manding. Dan salah satu putrinya ( saya lupa namaya ) dinikahi oleh Pangeran Ami Kepanjen, putra Sultan Abdurrahman. Dan ibunda Pangeran Diponegoro di kuburkan di Bangkalan., ujar Faruk

Penulisan nama Pangeran Diponegoro dalam alinea pertama sebagaimana aksara diatas, tidak lengkap, karena yang benar prasasti yang awal ditemukan dibelakanganya tertulis ” ing tanah Jawi “.

Bukti lain sangat banyak dan itu berupa prasasti yang bisa dibaca. Termasuk prasasti “Samaraga “, dan praasti lainnya yang mudah-mudahan tidak rusak. “Saya ingin sekali bertemu dengan Dr. Amin Budiman. Karena masalah ini hingga tahun 2009 masih banyak yang memburu. Sebab ternyata berita acara kematian pada jasad Pangeran Diponegoro yang didokumentasi Belanda, ternyata tidak pernah menyebutkan bekas luka tembak ditubuh Pangeran Diponegoro yang meninggal di Ujung Pandang. Padahal Belanda terkenal sangat detil dalam urusan ini. Atau mungkin Belanda gagal ngakali bangsa ini. Sehingga tidak mencantumkan bekas luka tembak saat perang di sekitar Ambarawa (Selarong) – (dilansir dari songennep tempo doleloe) (taken from here).

Ah, kalau ternyata kisah diatas benar, maka itu akan sangat menggemaskan, karena aku sudah 2x pergi ke Asta Tinggi namun tidak satupun informasi/ tanda bahwa Pangeran Diponegoro dimakamkan dikompleks indah tersebut. Juga tidak ada informasi mengenai itu ketika aku Googling mengenai Asta Tinggi sebelum melakukan 2x kunjungan kesana. Aku baru mengetahuinya di November 2016 ini dan ke Sumenep itu butuh 6 jam, rek. Duh.. *elus2 boyok*.

Jika tertarik dengan kisah Pangeran Diponegoro? Aku sarankan kalian membaca buku karya Peter Carey dengan judul “Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855”. Berikut sekilas informasi mengenai buku tersebut:

Dalam kurun lebih dari dua dasawarsa (1808–1830) tatanan lama Jawa dihancurkan dan sebuah pemerintah kolonial baru didirikan—suatu peristiwa yang mendorong kekuatan identitas kembar, Islam dan kebangsaan Jawa, ke dalam suatu perseteruan sengit dengan gelombang imperialisme yang dibawa oleh gubernemen Hindia Belanda. Dikenal sebagai Perang Jawa (1825–1830), perseteruan itu berakhir dengan kekalahan dan pengasingan Diponegoro. Pascaperang itulah lahir suatu zaman baru di Nusantara, zaman kolonial, yang berlangsung hingga pendudukan militer Jepang (1942–1945).

Pangeran Diponegoro (1785–1855), seorang mistikus, muslim yang saleh, dan pemimpin perang suci melawan Belanda antara tahun 1825 dan 1830, adalah pahlawan nasional tersohor dalam sejarah Indonesia. Meskipun demikian, sejauh ini belum ada biografi yang utuh tentang kehidupan sang Pangeran yang menggunakan sumber Belanda dan Jawa untuk melukiskan hidup pribadinya. Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855 adalah buku pertama yang menggunakan babad dan arsip kolonial Belanda dan Inggris sebagai tulang punggung.
Buku ini, yang disusun dalam kurun sekitar 30 tahun, bertutur tentang riwayat hidup Diponegoro dengan latar pergolakan akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, ketika kekuatan imperialisme baru Eropa melanda Nusantara seperti tsunami Asia. Dengan runtut dan rinci penulis mengungkap rahasia tokoh sejarah yang penuh teka-teki dan karisma itu: sosok yang mengakui kelemahannya sebagai penggemar perempuan, tapi juga gagah berani dan blak-blakan menghadapi kekejian kolonial—seorang pelopor
kemerdekaan yang penuh paradoks.
Gerakan Diponegoro, Gerakan Anak Muda
Sejarah perlawanan Pangeran Diponegoro ketika melawan pemerintah kolonial Belanda merupakan peristiwa yang fenomenal dalam sejarah Indonesia.

Salah satu yang menarik dalam perang Diponegoro, selain merupakan gerakan anak muda, dalam perjuangannya Pangeran Diponegoro juga membukti kan dirinya sebagai intelektual yang memiliki karakter berani, jujur, dan peduli.

Demikian rangkuman pendapat yang mengemuka dalam Diskusi dan Peluncuran Buku Kuasa Ramalan Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785 1855 karya Peter Carey, peneliti sejarah dari Trinity College, Oxford , Sabtu (10/3) di kampus Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah.

Acara yang dibuka R ektor Undip Semarang Prof Sudharto P Hadi, dihadiri Hashim Djojohadikusumo (pendukung utama penerbitan Buku Kuasa Ramalan Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785 1855), Direktur Lembaga Kerajaan Belanda mengenai Pengkajian Asia Teng gara dan Karibia atau KITLV-Jakarta, Roger Tol (mewakili penerbit).

Diskusi yang dipandu mantan Rektor Undip Eko Budihardjo menghadirkan seniman dan budayawan Prof. Sardono W. Kusuma dan sejarawan Undip Prof Singgih Tri Sulistiyono.

Gerakan Diponegoro sebenarnya adalah gerakan anak muda. Dari 28 pangeran di Yogyakarta, yang penting lebih dari 50 persen bergerak bersama Diponegoro, ungkap Sardono yang menilai kisah tentang Diponegoro sejak dulu sudah luar biasa menarik. Karena walaupun dalam peperangan D iponegoro kalah secara militer, namun secara kultur Diponegoro menang.

Prof Singgih menilai buku Kuasa Ramalan Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785 1855 yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), merupakan karya sejarah, karena Peter mampu memadukan sumber sejarah Belanda dan Inggris dan sumber tradisional karya Diponegoro dan beberapa babad di Yogyakarta.

Dia mencoba menyelami apa yang dipikirkan Diponegoro. Dalam buku ini Peter Carey mencoba mengupas tuntas fenomena Pangeran Diponegoro baik secara tekstual maupun kontekstual, paparnya.

Buku tersebut juga menempatkan Pangeran Diponegoro secara jelas sebagai anak zaman di Jawa yang sedang mengalami perubahan yang dahsyat.

Peter juga menunjukkan secara gamblang sang Pangeran Diponegoro sebagai sosok yang mempresentasikan pergolakan jiwa seorang patriotis Jawa, dalam menghadapi dinamika internal masyarakatnya sebagai dampak dari puncak ekspansi eksternal, berupa gelombang imperialisme Barat, yang mampu menjebol benteng terakhir kekuatan fisik Jawa yang selama berabad-abad merasa superior dalam menghadapi berbagai tantangan.

Buku ini secara ilmiah bernilai tinggi, dan secara sejarah bisa dipercaya. Kalau kita menulis sejarah kita gampang membuat mitos yang diada-adakan, ini tidak, ujar mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Wardiman Djojonegoro.

Adapun Hashim Djojohadikusumo mendukung penerbitan buku tersebut karena selain Diponegoro memiliki keterkaitan sejarah dengan keluarga besar Djojohadikusumo, penerbitan buku tentang sejarah Diponegoro merupakan upaya pelestarian sejarah. Dari pengalaman hidup Diponegoro, kita memperoleh banyak teladan, katanya (taken from here).

Btw, sekalian aku tampilkan pelana Kyai Gentayu, kuda kesayangan sang Pangeran (diambil dari berbagai sumber dari internet):

252217_pelana-kuda-_663_382 pelana-kuda-diponegoro pelana-kuda-kiai-gentayu
Sedangkan tongkat yang dibicarakan, sepertinya ada 2. Yang satu, bernama tombak Kiai Rondhan dan bentuknya seperti ini:

Dan ada 1 lagi, bernama Kyai Cokro dan bentuknya lumayan unik:

?????????????

diponegoro1

Tongkat ziarah Pangeran Diponegoro akhirnya kembali ke Indonesia setelah lebih dari 183 tahun disimpan keluarga Baud di Belanda. Keturunan Jean Chretian Baud, Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Jawa Tengah (1833-1834), menyerahkan tongkat Kyai Cokro itu kepada Pemerintah Indonesia melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, saat pameran Aku Diponegoro, pada 6 Februari lalu di Galeri Nasional.

Tongkat tersebut kini mendampingi dua jimat Pangeran Diponegoro lain yang dipamerkan, yakni Tombak Kyai Rondhan dan Pelana Kuda. Kurator pameran Jim Supangkat, Peter Carey dan Werner Kraus menempatkan jimat-jimat itu di satu ruang yang bernama ruang Arwah. Di dekat tongkat dan tombak ditaburi melati.

Dua keturunan Baud datang sendiri ke Jakarta menyerahkan tongkat. Mereka datang atas bantuan Pemerintah Belanda dan Rijksmuseum untuk membawa barang tersebut ke Indonesia.

“Proses pengembaliannya sangat emosional dan luar biasa. Tapi istimewanya saat penyerahan, benar-benar di luar perkiraan kami,” ujar Erica kepada Tempo melalui surat elektroniknya yang diterima Senin malam, 23 Februari 2015.

Erica menceritakan keluarga mereka semula tak menyadari tongkat ziarah Diponegoro itu adalah benda yang berharga dan spesial. Leluhurnya pun tak pernah menceritakan sesuatu atau berwasiat tentang tongkat itu.

Lalu bagaimana proses pengembalian tongkat itu? Erica itu menceritakan tongkat itu memang benar disimpan keluarga mereka. Seorang kurator Rijksmuseum di Amsterdamlah yang ‘menemukan’ tongkat itu. “Dia mempelajari arsip-arsip lama dan mempelajari tongkat itu. Dia juga yang menemukan surat di dalam tongkat itu,”ujarnya.

Begitu mengetahui kemungkinan tongkat itu merupakan tongkat milik Diponegoro mereka lalu membawa tongkat itu ke Rijksmuseum untuk diteliti lebih lanjut. Museum lalu mengatur pertemuan keluarga Baud dengan para pakar?sejarawan dan antropolog, dan berkonsultasi dengan beberapa orang berbeda di Belanda serta sejarawan Peter Carey di Indonesia.Tongkat itu kemudian dipastikan milik Diponegoro.

Tongkat itu awalnya juga dirampas Belanda saat penyergapan Diponegoro di daerah Gowong. Tongkat lalu jatuh ke tangan cucu komandan perempuan pasukan Diponegoro, Nyi Ageng Serang, Pangeran Adipati Notoprojo. Dia dikenal sebagai sekutu politik bagi Hindia Belanda. Dia pula yang membujuk Ali Basya Sentot Prawirodirjo untuk menyerahkan diri pada Belanda pada 16 Oktober 1829. Adipati Notoprojolah yang menyerahkan Kyai Cokro kepada JC Baud. Tongkat itu diserahkan pada Juli 1834, saat melakukan inspeksi pertama di Jawa Tengah (taken from here).

Artikel lain:

Ada kejutan pada malam pembukaan pameran ”Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa, dari Raden Saleh hingga Kini” di Galeri Nasional, Jakarta, Kamis (5/2/2015). Tongkat pusaka Sang Pangeran dipulangkan dari Belanda ke Indonesia.

Pengembalian tongkat itu mengejutkan karena benda tersebut sudah 181 tahun disimpan salah satu keluarga keturunan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jean Chretien Baud (1833-1834). ”Saya juga tidak diberi tahu sebelumnya kalau ada penyerahan pusaka tongkat Pangeran Diponegoro pada acara pembukaan ini,” kata Kepala Galeri Nasional Tubagus ”Andre” Sukmana.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan meresmikan pembukaan pameran yang dijadwalkan berlangsung hingga 8 Maret 2015 itu. Terkait pengembalian tongkat, Anies mengucapkan terima kasih. ”Atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia, kami berterima kasih kepada keluarga Baud yang telah menyimpan dengan baik dan memulangkan pusaka tongkat Diponegoro ini kembali ke Pulau Jawa,” katanya.

Pengembalian tongkat Diponegoro (1785-1855) juga disambut meriah para seniman, budayawan, dan pemerhati sejarah yang hadir di Galeri Nasional. Benda itu selanjutnya disimpan di Museum Nasional sebagai artefak penting milik negara dan rakyat Indonesia.

Sejarah tongkat 

Bagaimana sebenarnya kisah tongkat itu? Menurut ahli sejarah Diponegoro asal Inggris, Peter Carey, tongkat tersebut diperoleh Pangeran dari warga pada sekitar tahun 1815. Tongkat itu lantas digunakan semasa menjalani ziarah di daerah Jawa selatan, terutama di Yogyakarta. Itu terjadi sebelum Diponegoro mengobarkan perang terhadap Hindia Belanda pada 1825-1830.

”Penyerahan (tongkat itu ke Indonesia) dirahasiakan sesuai permintaan keluarga yang menyimpan pusaka tongkat Diponegoro tersebut di Belanda,” kata Peter, yang juga menjadi salah satu kurator pameran, selain Werner Kraus (Jerman) dan Jim Supangkat (Indonesia).

Michiel Baud mewakili keluarga besar keturunan JC Baud menyerahkan pusaka tongkat ziarah Diponegoro kepada Anies Baswedan.

JC Baud menerima tongkat ziarah Diponegoro, yang juga disebut tongkat Kanjeng Kiai Tjokro, dari Pangeran Adipati Notoprojo. Notoprojo adalah cucu komandan perempuan pasukan Diponegoro, Nyi Ageng Serang.

Notoprojo dikenal sebagai sekutu politik bagi Hindia Belanda. Ia pula yang membujuk salah satu panglima pasukan Diponegoro, Ali Basah Sentot Prawirodirjo, untuk menyerahkan diri kepada pasukan Hindia Belanda pada 16 Oktober 1829.

Tongkat Kanjeng Kiai Tjokro dipersembahkan Notoprojo kepada JC Baud saat inspeksi pertama di Jawa Tengah pada musim kemarau tahun 1834. Kemungkinan Notoprojo berusaha mengambil hati penguasa kolonial Hindia Belanda. Sejak 1834, Baud dan keturunannya di Belanda merawat tongkat ziarah Diponegoro itu sampai Kamis malam lalu dipulangkan kembali ke Tanah Air.

Berdasarkan penelusuran Peter Carey, Tongkat Kanjeng Kiai Tjokro menjadi artefak spiritual sangat penting bagi Diponegoro, terutama dari simbol cakra di ujung atas tongkat sepanjang 153 sentimeter itu. Berdasarkan mitologi Jawa, cakra sering digambarkan digenggam Dewa Wisnu pada inkarnasinya yang ketujuh sebagai penguasa dunia.

”Sesuai mitologi Jawa, tongkat tersebut dikaitkan dengan kedatangan Sang Ratu Adil atau Erucakra,” kata Peter.

Diponegoro kemudian menganggap perjuangannya sebagai perang suci untuk mengembalikan tatanan moral ilahi demi terjaminnya kesejahteraan rakyat Jawa. Perang juga dianggap sebagai pemulihan keseimbangan masyarakat.

”Panji pertempuran Diponegoro menggunakan simbol cakra dengan panah yang menyilang,” kata Peter.

Kurator dari Rijks Museum Belanda, Harm Stevens, juga meneliti tongkat itu selama beberapa bulan terakhir. ”Saya telah mencocokkan dengan petunjuk-petunjuk yang ada. Benar kalau tongkat itu milik Pangeran Diponegoro,” katanya.

Tombak, pelana, jubah 

Selain tongkat ziarah, pameran juga menghadirkan benda-benda bersejarah Pangeran Diponegoro yang lain. Sebut saja tombak Rondhan dan pelana kuda, yang sebelumnya juga berada di Belanda. Artefak-artefak itu diperoleh ketika pasukan gerak cepat Hindia Belanda, yang dipimpin Mayor AV Michiels, menyergap Diponegoro pada 11 November 1829.

Diponegoro berhasil meloloskan diri. Namun, tombak Rondhan, peti pakaian, kuda, dan barang berharga lain tidak dibawa serta. Pasukan penjajah merampas dan menyerahkan artefak berharga tersebut kepada Raja Belanda Willem I (yang bertakhta tahun 1813-1840). Pada tahun 1978, Ratu Belanda Juliana mengembalikan tombak Rondhan dan pelana kuda itu ke Indonesia.

Pelana kuda itu menyimpan kisah Diponegoro sebagai penunggang kuda hebat. Dia memiliki istal luas di kediamannya di Tegalrejo. Kuda hitam dengan kaki putih bernama Kiai Gentayu dianggap sebagai pusaka hidup Sang Pangeran.

Sebenarnya Diponegoro juga mewariskan jubah Perang Sabil. Sayangnya, jubah berbahan sutra shantung dan cinde berukuran 200 X 100 sentimeter tersebut tidak ikut dipamerkan. Benda tersebut tetap berada di Museum Bakorwil II Magelang.

Kisah di balik jubah itu juga menarik. Jubah tersebut dirampas saat penyergapan oleh Mayor AV Michiels di wilayah pegunungan Gowong, sebelah barat Kedu, 11 November 1829. Setelah perang, jubah dengan tepi brokat yang konon dijahit oleh gundunya disimpan putra menantu Basah Ngabdulkamil. Selama lebih seabad keluarga Diponegoro menyimpan jubah itu dan dipinjamkan permanen pada tahun 1970-an kepada Museum Bakorwil II.

Penangkapan Diponegoro 

Benda bersejarah lain yang menarik perhatian pengunjung dalam pameran ini adalah lukisan ”Penangkapan Pangeran Diponegoro”. Karya ini dipamerkan bersama karya seni rupa dari 21 perupa Indonesia.

Kurator Jim Supangkat mengatakan, lukisan itu dibuat pada 1856-1857 berdekatan dengan wafatnya Diponegoro di pembuangan pada 8 Januari 1855. Karya itu dihadiahkan kepada Raja Belanda Willem III (1817-1890). Pada tahun 1978, Ratu Juliana mengembalikan lukisan kepada Indonesia.

Sebenarnya lukisan itu mengandung kritik tersembunyi. Raden Saleh mencela siasat tak etis pada penangkapan Diponegoro dan kebohongan lukisan Nicolaas Pieneman dengan tema sama tahun 1835. Dari yang sekarang terungkap dari lukisan itu, kita juga mengetahui bahwa berita penangkapan Diponegoro tersebar ke Eropa.

Selain lukisan penangkapan, ditampilkan juga dua lukisan lain karya Raden Saleh, yaitu ”Harimau Minum” (1863), dan ”Patroli Tentara Belanda di Gunung Merapi dan Merbabu” (1871). Lukisan ”Penangkapan Pangeran Diponegoro” dan ”Harimau Minum” adalah koleksi Istana Negara, sedangkan ”Patroli Tentara Belanda di Gunung Merapi dan Merbabu” koleksi pengusaha Hashim Djojohadikusumo. Ketiga karya itu direstorasi ahli dari Jerman pada tahun 2013 atas prakarsa Yayasan Arsari Djojohadikusumo.

Semua benda dalam pameran ”Aku Diponegoro” berhasil menghidupkan kembali kenangan akan sosok pahlawan itu. Memasuki ruang pameran, lingkaran sejarah serasa berulang (taken from here).

Sekalian artikel ini:

Reproduksi 'Penangkapan Diponegoro' karya Raden Saleh yang diberi judul This Hegemony Life, karya Indieguerillas, duet perupa asal Jogja: Miko Bawono dan Santi Ariestyowanti. Karya ini pertama kali dipamerkan di Singapura pada 2012, di gelaran Marcel Duchamp in South-East Asia.

Reproduksi ‘Penangkapan Diponegoro’ karya Raden Saleh yang diberi judul This Hegemony Life, karya Indieguerillas, duet perupa asal Jogja: Miko Bawono dan Santi Ariestyowanti. Karya ini pertama kali dipamerkan di Singapura pada 2012, di gelaran Marcel Duchamp in South-East Asia.

Kamis malam, 5 Februari 2015. Seremoni sudah lama usai. Sebelumnya, lepas azan Isya, beranda depan Galeri Nasional Indonesia, Jalan Medan Merdeka Timur 14, Gambir, Jakarta, begitu ramai dengan para tamu undangan dan pejabat negeri.

Ada gelaran besar di gedung yang berada tepat di seberang Stasiun Gambir itu. Pameran “Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa, dari Raden Saleh Hingga Kini”. Menurut saya, ini pameran luar biasa, yang berusaha menarik garis kuat antara masa silam dan kekinian.

Pameran tidak hanya menampilkan lukisan ikonik “Penangkapan Diponegoro” maha karya Raden Saleh Syarif Bustaman, namun juga menampilkan karya pelukis lama, seperti Soedjono Abdullah, Harijadi, Sumodidjojo, Basoeki Abdullah, Sudjojono, dan generasi baru seperti Hendra Gunawan.

Juga dilengkapi seni intalasi modern maupun karya seniman kontemporer kondang seperti Heri Dono, Nasirun, Srihadi Soedarsono, Entang Wiharso, karya grafis Indieguerillas dan lain-lain.

Yang menarik, Galeri Nasional juga memamerkan senjata pusaka dan pelana kuda Pangeran Diponegoro. Pusaka itu berupa tombak Kiai Rondhan, pelana kuda Kiai Gentayu, dan tongkat ziarah Erucakra.

Dari sinilah cerita nyata misteri ringkik kuda gaib itu bermula.

Pintu besar di ruang pameran sudah terkunci rapat sejak empat jam lalu. Hari pertama pembukaan pameran. Tepat hari Kamis Kliwon, malam Jumat Legi, 5 Februari 2015.

Lampu-lampu ruang pameran dipadamkan. Hanya sorot lampu kecil yang menghiasi lukisan atau karya seni yang dipamerkan.

Ruang pameran pusaka peninggalan pangeran Diponegoro. Di dalam ruangan tersedia bangku panjang berlapis kain batik untuk tempat pengunjung bersemedi dan merasakan getaran aura pusaka bersejarah ini.

Ruang pameran pusaka peninggalan pangeran Diponegoro. Di dalam ruangan tersedia bangku panjang berlapis kain batik untuk tempat pengunjung bersemedi dan merasakan getaran aura pusaka bersejarah ini.

Begitu pula dengan ruangan tempat menyimpan ke tiga pusaka tak ternilai itu. Dalam balutan warna hitam, ruangan dengan luas sekitar 4×5 meter persegi itu terasa wingit.

Taburan bunga melati terserak rapi di bawah tongkat ziarah, di sekitar pelana, dan di sekeliling tombak Kiai Rondhan.

Sekitar pukul 2 malam, petugas keamanan dari Goethe-Institut Indonesien, yang bertugas menjaga ruang pamer pusaka, mendengar ringkik kuda dari dalam ruangan.

Beberapa saat dirinya tertegun. Tak percaya dengan yang dia dengar. Namun, ringkik kuda yang kesekian kali terdengar dari ruangan pusaka menyadarkannya bahwa telinganya tak salah dengar.

Pelana kuda perang Pangeran Diponegoro yang bernama Kiai Gentayu.

Pelana kuda perang Pangeran Diponegoro yang bernama Kiai Gentayu.

“Iya, ringkik kuda, sepertinya, dia sedang bernain-main di dalam ruangan,” ungkap Pak Ahmad, petugas keamanan Goethe-Institut Indonesien, kepada saya di Galeri Nasional Indonesia, Rabu sore (11/2) lalu. “Paginya saya langsung membuat laporan tertulis apa yang saya alami,” kata dia.

Mungkinkah ringkik gaib itu berasal dari energi pelana kuda berusia 186 tahun yang tersimpan rapi di dalam kotak kaca? Wallahualam.

Yang jelas, pelana kuda itu merupakan pasangan Kiai Gentayu, kuda tunggangan Pangeran Diponegoro. Seekor kuda perang berbulu hitam dengan kaki putih yang dianggap sebagai pusaka hidup. Sang pangeran memang mahir berkuda dan tangkas berolah kanuragan di atas kuda.

Bagian-bagian tongkat ziarah pangeran Diponegoro. Foto : Kompas.com http://sains.kompas.com/read/2015/02/08/18300061/Kisah.Tongkat.Pangeran.Diponegoro

Bagian-bagian tongkat ziarah pangeran Diponegoro. Foto : Kompas.com http://sains.kompas.com/read/2015/02/08/18300061/Kisah.Tongkat.Pangeran.Diponegoro

Istalnya begitu luas di kawasan Tegalrejo. Saat itu, sebelum Perang Jawa atau biasa disebut Perang Diponegoro berlangsung (1825 – 1830), peternakan kuda sang pangeran mempekerjakan tak kurang 60 pengasuh maupun pencari rumput.

Kiai Gentayu, si kuda istimewa inilah yang menemani bangsawan ini berperang hampir 5 tahun lamanya. Hingga, suatu ketika, pada 11 November 1829, tepat di hari ulang tahun ke 44 Diponegoro (1785-1855), nasib berkata lain.

Tongkat ziarah Pangeran Diponegoro yang disebut Erucakra. Tongkat ini disimpan selama 181 tahun oleh salah satu keluarga keturunan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jean Chretien Baud (1833-1834). Kini tongkat ziarah itu telah kembali ke tanah leluhurnya.

Tongkat ziarah Pangeran Diponegoro yang disebut Erucakra. Tongkat ini disimpan selama 181 tahun oleh salah satu keluarga keturunan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jean Chretien Baud (1833-1834). Kini tongkat ziarah itu telah kembali ke tanah leluhurnya.

Dalam serangan taktis pasukan gerak cepat ke 11 yang dikomandani Mayor Andreas Victor Michiels, di kawasan pegunungan Gowong, Kedu, sang pangeran nyaris tertangkap. Itu karena serdadu Belanda ada yang berasal dari kesatuan prajurit Ternate yang kondang dengan kemampuan melacaknya.

Pangeran Diponegoro terpaksa harus meloncat dari kudanya dan lari terjun ke jurang di sekitar lokasi. Beliau bersembunyi di dasar jurang, berlindung diantara gelagah dan tanaman liar lainnya. Kiai Gentayu, senjata pusaka, berikut jubah dan perlengkapan pribadi Diponegoro disita pasukan Belanda.

Tombak Kiai Rondhan, pusaka kesayangan Pangeran Diponegoro yang dianggap memiliki kekuatan supranatural yang melindungi sang pangeran.

Tombak Kiai Rondhan, pusaka kesayangan Pangeran Diponegoro yang dianggap memiliki kekuatan supranatural yang melindungi sang pangeran.

Pelana kuda Kiai Gentayu, tombak Kiai Rondhan dikirim ke Raja Belanda, Willem I (1813-1840) sebagai harta rampasan perang. Namun, pada 1978, Ratu Juliana (1948-1980) mengembalikan benda-benda pusaka tersebut ke pemerintah Indonesia, berdasarkan kesepakatan Budaya Belanda-Indonesia yang diteken 1968.

Pelana kuda ini terdiri dari bahan: kulit, kapas padat, kain, kawat, dan besi untuk sanggurdi. Kini usianya sudah 186 tahun, kulit tebal di bagian bawah masih bertahan, begitu pula kawat dan besi sanggurdi. Hanya kain pelapis dan kapas padat yang lapuk termakan usia (taken from here).

Setelah membaca cukup banyak hari ini (wew, untuk menulis 1 postingan ini & melengkapinya dengan informasi dari sana sini, aku membutuhkan waktu 6 jam!), ada rasa bangga terselip didada, bahwa bangsa ini memiliki Diponegoro (yang kini beberapa benda pribadinya sudah kembali ke negeri kecintaan Diponegoro). Terharu, rek!

Share

Post to Twitter