Istana Berkat Seafood Restaurant (Surabaya); A’la Makassar!

img_6698-copy

Whuahuaa, sungguh foto yang menggoda!

FYI sejak aku ke Makassar, aku mendadak suka dengan ikan laut terutama yang dibakar polos dan dinikmati dengan sambal. Yeah, Makassar memang ‘racun’, entah sudah berapa kali aku tanya kesana kemari ikan bakar dimana yang mirip dengan yang di Makassar dalam 2 bulan ini (sejak aku pulang dari Makassar). Setiap orang Makassar di Surabaya yang aku tahu, pasti aku kontak haha! Mostly mereka pada merekomendasikan 2 tempat: Jukuta dan Istana Berkat.

Sebelumnya, aku juga sudah ke beberapa tempat makan ikan, termasuk Layar, Arto Moro Seafood dan tentu saja Jukuta. Jukuta, enak! Sayang, fotoku tidak layak tayang (eh.. kok “tayang”, emangnya TV?) dan jauh dari rumah, sehingga ketika aku ngidam ikan lagi, aku pun nekad pergi ke Istana Berkat Seafood Restaurant di Jalan Manyar Kertoarjo 66, Surabaya:

img_6674-copy

Tempat ini jejeran plek dengan si Layar tapi keduanya berbeda jauh. Layar megah banget dengan puluhan meja besar yang ga pernah sepi (diluar jam makan sekalipun) sedangkan Istana Berkat Seafood Restaurant cenderung lebih ‘anteng’ (FYI: foto diatas aku foto jam 5.30pm, belom jam makan) dan sederhana. Tapi aku menemukan banyak keistimewaan tempat ini. Ntar deh aku beber satu-satu.

Sebelum benar-benar makan disana, Mami tanya bolak balik, “Yakin mau Istana Berkat? Engga sekalian ke Layar aja? Kamu kalo pengen makan, sekalian aja di tempat yang jelas, bla bla bla” dan aku jawab “Ke Istana Berkat Seafood Restaurant aja, yang tak pengen disana”. Sok yakin tuh aslinya, karena aku engga pernah ke Istana Berkat (pernah sekali, 2 tahun yang lalu tapi cuma buat kongkow dan hampir engga makan) haha!

Tapi daripada menyesal, saat pintu masuk dibukakan untukku, aku langsung tanya 1 hal, “Ada sambal dabu-dabu?” dan dijawab dengan semangat, “Ada, Ce!” sambil pamerin meja ini ke aku:

food2016-118 food2016-119 food2016-120

Baca jelas-jelas tuh, ada colo-colo, dabu-dabu, juga sambal petis a’la Makassar. Penting itu, penting! Jadi, OK deh.. aku jadi makan di Istana Berkat Seafood Restaurant haha! Aku kode Mamiku dan dia pun kemudian nyusul masuk (anaknya yang bandel ini).

Btw, mari bersama-sama baca lembar menunya:

img_6657-copy img_6658-copy img_6659-copyimg_6660-copy

Mau duduk anteng dan milih hanya model lembar menu? Bisa. Mau pilih sendiri udang/ ikan/ kepiting yang hendak dimakan? Bisa..

food2016-109 food2016-110 food2016-113 food2016-114 food2016-115 food2016-116

Kualitasnya ikan hidupnya emang beda dengan ikan/ udang di Layar sih, jumlah dan variannya juga. Tapi buatku pribadi, ga ngaruh karena aku di resto seafood gini pesan yang “fresh” (alias udah mati dan di claim fresh), bukan yang masih idup.

Selesai pesan ini itu, tiba-tiba tadaaa.. datanglah seporsi Lumpia Udang Istana Berkat lengkap dengan saus cocolnya (taoco dan sambal botolan):

food2016-102 food2016-101

Ada yang pesan? Engga. Udah gitu, nih Lumpia Udang Istana Berkat disajikan dalam keadaan hangat dan (ternyata) free!!! Nah lo, catat. Free, sodara-sodara. Sayangnya, aku batuk dan engga mau ambil resiko ngicip makanan ini, jadi aku engga bisa kasih tahu bagaimana rasanya namun 2 meja tetanggaku menghabiskan nih menu. Jadi, sepertinya layak dicoba.

Eh, kembali soal ikan.. aku akhirnya pesan makanan yang sebelumnya sama sekali belum pernah aku pesan: Ikan Katamba Bakar Polos!!!

Yeah, aku tidak sekalipun pernah pesan “ikan bakar polos”, apalagi ikannya berjenis Katamba/ Lencam/ Emperor Fish, bahkan mendengar namanya pun baru kali ini *jedok2in kepala ke bantal*. Tentu saja, ikan ini hasil rekomendasi waitress yang dengan baik-sabar-tabah meyakinkan aku setelah ikan kakap merah yang aku pesan ternyata habis stocknya. Dan baru saja aku Googling, katanya Katamba termasuk ikan yang cukup mahal di Indonesia ya:

katambamentah

Have you ever try a lencam (emperor fish) before? This fish has a firmer yet tasty meat texture compare to snapper, suitable for grilling with a dash of hot spices and fresh tomato. Emperor fish has high protein, calcium and Omega 3 that is good for your heart. Fish comes from local small-scale fishermen in Takalar, South Sulawesi using eco-friendly bottom long-line and hand-line fishing tool that is safe for coral and marine ecosystem (taken from here).

Penampilan ikannya setelah dibakar, seperti ini:

food2016-129

Sekilas, biasa saja bahkan bagian mulitnya tampak masih mentah (tapi bagian itu kan engga aku makan):

img_6701-copy

Dan jika kalian endus-endus, ada bau smokey *aaaw*!!! Sedappp tenan. Dan setelah aku potong, eeh.. dagingnya ternyata menggoda! Selain durinya yang mudah disingkirkan, dagingnya kesat, padat, empuk dan putih, tidak bau amis sama sekali! Nih, aku foto sebagian:

img_6700-copy

Dan kembali pada foto paling atas, ikan ini hadir pakai banyak bawa pasukan:

img_6698-copy

Total ada 5 sambal yang datang ke meja makanku (bahkan sebelum si ikan tiba):

food2016-100 food2016-97 food2016-99 food2016-98 food2016-103

Kemudian aku ke meja sambal dan meracik sambal sesuai yang aku mau:

food2016-122 food2016-121

Jawa banget sambalku: sambal teras Jawa + pencit (mangga muda) tuh. Buat jaga-jaga kalo aku ga doyan dengan 5 sambal sebelumnya. Sedangkan yang pencit (mangga muda) doang, buat nyokap lah.

Apa yang kita makan? Well, nyokap pesan Ko Lo Kee (jangan ngakak):
food2016-125

Nih makanan, pesanan nyokap yang kuatir dia engga bakal bisa makan makanan pesanan anaknya (she’s soooo picky & Ko Lo Kee tuh menu paling aman buat dia). Bukan chinese food yang familiar di lidah orang Surabaya tapi sesaat setelah aku makan, aku ketawaaa ke Mamiku. Aku bilang, “Inget gak tempat makan Chinese Food di Pare Pare, mirip ini to?” dan Mamiku bilang, “Tapi ini lebih enak”. Setuju!

Kalo yang di Pare Pare – Sulawesi Selatan, yang satu cenderung hambar, satunya lagi berwarna horror sampe ga selera makan blas (read here). Secara rasa, mirip dengan Ko Lo Kee ini tapi ini lebih bisa kita nikmati rasanya (mungkin karena sudah dia modif wkwkwk).

Jadi, mejaku tuh sepenuh ini:

food2016-127

Lebih tepatnya, penuh sambal haha!

Oh ya, aku juga pesan Kerang Hijau Saus Padang dengan harapan ntar Saus Padangnya bisa dipakai cocol ikan (kalo ikannya engga enak):

food2016-123

Saus Padangnya bedaaa dengan Layar ya. Kalo di layar itu mantab, berat, nah yang ini lebih light. Kalau kita biasa makan makanan dengan banyak bumbu, nih saus awalnya pasti kurang nendang tapi lama-lama berasa kok sedapnya. Mirip dengan yang aku makan di Makassar, namun yang ini lebih berbumbu (mungkin disesuaikan dengan lidah orang Surabaya yang suka bumbu yah?).

Kerangnya sendiri engga semuanya gede, ada beberapa yang sizenya kecil namun secara keseluruhan engga mengecewakan lah..

food2016-128

Kalo aku nih, secara emang lagi kangen dengan seafood a’la Makassar, aku bahagia banget makan di Istana Berkat Seafood Restaurant. Dan mungkin, engga semua kawanku akan cocok dengan style-nya si Istana Berkat Seafood Restaurant (apalagi kalo belum kena ‘pelet’ makanan a’la Makassar dan terbiasa dengan Layar).

Aku akui, Layar emang susah ditolak. Bumbu2nya (terutama Saus Padang dan Saus Telur Asin) cucok banget ama lidah orang Surabaya (bahkan banyak kawan dan kenalan dari luar pulau pengennya makan seafood di Layar; mungkin karena style-nya beda dengan seafood ditempat mereka).

Trus, sebelum pulang, tadaaa…

img_6703-copy

Masih dapat Semangka! Dan free.

Istana Berkat Seafood Restaurant ini berasa humble banget (dibandingkan Layar), baik dari interior ruangan hingga pelayanannya (di Layar sono kita yang manggil2 mulu minta tolong & tolah toleh menanti pesanan/ bantuan sedangkan di Istana Berkat Seafood Restaurant kita tuh bener-bener diperhatikan). Nih tempat juga dermawan (ingat dengan Lumpia Udang Istana Berkat juga semangka potong yang keduanya free?), padahal harga jualnya beda dengan Layar. Plusss.. jangan lupakan deretan sambal yang Nusantara banget (dari Makassar, Ambon, Jawa) dan engga ada di Layar. Nah lo!

Share

Post to Twitter