Bubur Ayam Mang Dudung (Surabaya); Rame Kruntelan di Tengah Malam

Siapa ga pernah dengar nama Mang Dudung? Err, mungkin banyak sih, tapi buat telingaku.. nama ini sering sliweran sampai akhirnya jadi penasaran dan dibela-belain deh tengah malam ke Bubur Ayam Mang Dudung di Jalan Kedungdoro 105, Surabaya:


Ya, antrinya heboh. Heboh banget, tepatnya. Kita sampe melongo dulu beberapa saat (apalagi aku sama sekali ga pernah tahu lokasi si Mang Dudung ini sebelumnya), lihat banyaknya orang berdiri dan duduk. Seorang kawan sampai komen, “Berasa lagi di camp refugee”; simply karena semua kruntelan demi semangkok bubur (note: ga terima kehadiran orang sensi denger kata “refugee” disini).

Karena datang ber-6, maka kita bagi tugas. Ada yang antri, ada yang gerilya cari tempat duduk:

Duduknya ya diatas trotoar, tapi ada beberapa meja kursi disediakan untuk penikmat bubur. Kondisinya khas PK5 yang ramai, rada kotor dan ada baiknya berhati-hati dengan barang bawaan (soalnya banyak banget orang, juga pake senggol2 karena sesak).

Benernya, si penjual bubur tuh geraknya cepat! Sekali serving, bisa langsung 15an mangkok:

Tapi karena yang makan banyak banget, akhirnya tetap saja ada antrian panjang.

Btw kalau mau cari tambahan lauk, ada warung kecil disebelahnya yang menangkap celah dengan cerdas:

Aslinya, jual STMJ tapi kemudian dia menambahkan beberapa jualan seperti ini:

Dan tiap ada meja yang dapat pengunjung baru, langsung deh dikasih 5 Sate Telur Puyuh dan 5 Sate Usus:

Itungnya belakangan, gitu. Bukan gratisan.

Jadi, jangan heran kalau kemudian meja kita sebegini penuh karena selain bubur, ada juga 5 Sate Telur Puyuh dan 5 Sate Usus, minuman, sambal, kecap manis, kecap asin, merica bubuk..

Dan inilah Bubur Ayam Spesial Mang Dudung yang tersohor itu *tiup terompet*:


Buburnya encer, bukan jenis bubur kental dan diberi topping kulit pangsit goreng (warnanya pucat), daging ayam dan jerohan yang sudah dipotong sampai hampir mencapai ukuran mikro *halah* dan kering sehingga lebih mengingatkanku pada abon daging. Ada sedikit bawang goreng juga dannn.. telur rebus yang cair (tuh kan, unik):

Sorry, fotonya gelap karena salah setting kamera. Tapi telur ini asli unik, karena biasanya bubur kan diberi telur mentah/ rebus yang utuh, tapi buburnya Mang Dudung dikasih telur rebus yang masih cair. Baru pertama kali aku lihat telur model begini. Telurnya tuh bagian putihnya sudah keruh tapi masih cair, sedangkan bagian kuningnya sudah setengah matang —-> bikin jadi penasaran, itu telur direbus berapa lama ya haha!

Dan bicara soal rasa.. bubur ini ENGGA ENAK. Engga ada gurihnya. Engga wangi. Engga ada rasanya. Walau daging, telur, dll disuap bersamaan pun, tetap engga cocok dilidah. Seorang kawan yang belum menyerah mencoba menambahkan kecap asin, merica, dll tapi tetap saja buburnya tidak bisa dia habiskan haha.

Semangkok bubur biasa (tanpa jerohan ayam), cuma 10ribu. Yang spesial dengan telur dan jerohan ayam (seperti foto diatas), cuma 15ribu saja. Dan saranku sama seperti tulisan-tulisan sebelumnya: miliki pengalaman sendiri!

Karena selain bubur, ada juga 5 Sate Telur Puyuh dan 5 Sate Usus, minuman, sambal, kecap manis, kecap asin, merica bubuk..

Share

Post to Twitter