Museum Fatahillah / Museum Sejarah Jakarta / Museum Batavia (Jakarta); Tempat Pembantaian?

Coba lihat:

Gedung kokoh dan megah ini adalah Museum Fatahillah / Museum Sejarah Jakarta / Museum Batavia yang terletak di: Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat. Tel. (62-21) 6929101, 6901483, Fax. (62-21) 6902387, email: [email protected]

Dan sebelum dialih-fungsikan menjadi sebuah museum sejak 31 Maret 1974, dahulunya gedung cantik bergaya Barok dengan luas 1300m2 ini adalah sebuah balai kota yang dibangun pada tahun 1707-1710, atas perintah seorang gubernur jendral Belanda bernama Johan van Hoorn.

Bangunan itu terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.

Isinya sih, ‘garing’. Saat pertama kali kesana, 8 tahunan lalu, aku pikir isinya adalah serba Belanda-Belanda gituloh, ternyata engga. Malah isinya prasasti2, gitu. Haha:

Dan beberapa replika barang jaman Jakarta masih disebut “Batavia”:

Dan dari sekian banyak benda kurang terawat ini, ada 2 hal yang paling menarik, yaitu pedang algojo dan sebuah lukisan mengenai keadilan:

Untung, aku cukup terhibur dengan bentuk bangunannya yang bener-bener cantik (you know lah, aku kan suka bangunan2 tua, haha!):

Dari segi fisik bangunannya memiliki daya tahan luar biasa. Bangunan itu peletakan batu pertamanya dilakukan 25 Januari 1707 oleh Petronella Wilhelmina van Hoorn (8) putri Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu van Hoorn. Berarti bangunan itu berumur hampir 300 tahun, dan masih utuh hingga sekarang. Kayu-kayunya belum lapuk, apalagi dinding betonnya masih kokoh hingga saat ini. Pintu bagian depan, masih menampakkan keangkuhannya. Terbuat dari kayu jati tebal sekitar 10 sentimeter, dan tinggi lebih dari tiga meter. Dicat berwarna merah menyala, pintu tersebut tampak kokoh dan berwibawa.

Sementara itu ketika memasuki bagian dalam gedung, tampak anggun tetapi sederhana. Hanya anak tangga menuju lantai dua yang terkesan mewah. Anak tangga tersebut dicat berwarna merah dan dihiasi Singa berukir di bagian bawahnya.

Tapi dari semua bagian gedung, bagian yang paling menarik adalah bagian penjaranya (sorry fotonya jelek, karena pakai kamera seadanya):

Bukan karena bentuk arsitekturnya, namun karena kisah dibalik keberadaannya. Bayangkan saja, penjara sekecil itu, konon diisi dengan banyak sekali orang (bisa sampe 70 anorang padahal ruangannya kecil sekali, dimasukin 10 orang aja udah susah geraknya tuh!). Dan masing-masing kaki si terpenjara, diberi bandul besi ini:

Eh, ga main-main loh! Seorang orang kawan mencoba mengangkatnya dan… gagal! Bahkan beberapa kawan membantu dan tetap gagal. Aku sih malas pegang, jadi aku coba dorong dengan kaki, eh.. gagal! Intinya, semua bola besi (yang besarnya hanya 3/4 bola volley itu), sama sekali ga bergeming (apalagi bola besi yang ditempatkan dikeliling lapangan depan museum yah?? Tingginya aja hampir selutut *astaganaga!*):

Selain kaki diikat bola besi, para tahanan itu dikurung dalam ruangan pengap, gelap, dan tanpa ventilasi udara. Menurut bukti-bukti sejarah, bukan hanya perampok, garong, atau maling yang sempat menghuni penjara seram tersebut, tetapi mantan Gubernur Jenderal Belanda di Sri Lanka, Petrus Vuyst, pernah juga disekap dalam ruangan pengap tersebut. Penyebabnya bukan karena memberontak tetapi karena mengidap penyakit gila.

Yang lebih kejam lagi, seusai pemberontakan Cina di Batavia tahun 1740, sekitar 500 orang Cina disekap dalam ruangan sempit itu. Setiap hari para tahanan yang kurus kering itu cuma diberi nasi encer dan air tawar. Selanjutnya satu per satu orang Cina tersebut dikeluarkan dan dihukum mati dengan cara digantung di alun-alun depan Gedung Museum Sejarah Jakarta sekarang:

Dan mayatnya, dibuang kedalam sumur yang dengan diameter sekitar 3 m, yang konon  dahulu dalamnya mencapai sekitar 20m. Wew, kejamnya (sampe-sampe ga ada ikan yang bisa bertahan hidup didalamnya loh). Saking kejamnya, konon hanya Untung Suropati saja yang katanya bisa lolos (namanya bawa pengaruh kali ya, haha?).

Selain penjara itu, ada pula bunker (didalam tanah) dengan ukuran 3m x 31m. Kondisi bunker itu sendiri, katanya kerap terendam air. Dan hal ini dimanfaatkan untuk ‘merendam’ tawanan didalam air hingga mati tenggelam / mati lemas, kelelahan. Tapi ini hanya cerita yang berkembang di masyarakat, sih.

Sementara berdasarkan catatan sejarah, bunker yang berada di depan pintu masuk Museum Fatahillah itu dibangun sekitar tahun 1940 oleh Pemerintah Hindia-Belanda. Bunker ini digunakan sebagai tempat persembunyian tentara Hindia-Belanda saat perang dunia II terjadi. Kala itu, tentara Hindia-Belanda memang sudah terdesak dengan tentara Jerman. Namun, tidak menutup kemungkinan juga bunker ini digunakan sebagai penjara bagi para tawanan pribumi. Karena bunker yang berada di bagian belakang Museum Fatahillah dapat dipastikan sebagai penjara.

Dan didekat sumur, yang sama-sama terletak dihalaman belakang (seberang penjara), nampaklah meriam Si Jagur yang maha terkenal, ikon Museum Fatahillah / Museum Sejarah Jakarta / Museum Batavia.

Duuulu, waktu pertama kali melihatnya, aku merasa de ja vu ga jelas, selain karena tertarik dengan bentuknya:

Dan karena penasaran, aku jadi tanya kesana kemari dan Googling, hingga  pada saat kunjungan berikutnya, aku sudah lebih kenal dengan si Jagur termasyur ini.

Ternyata, dibagian atas meriam, tertulis tulisan bahasa latin “ex me ipsa renata sum” yang berarti: “dari diriku sendiri aku terlahir kembali”. Hal ini sepertinya menjelaskan kisah terlahirnya meriam ini.

Meriam Si Jagur dilebur dari meriam-meriam kecil yang jumlahnya 16 buah. Terbuat dari logam besi berukuran panjang 380 cm. Panjang tangan di bagian belakang yang banyak menarik perhatian sekitar 41 cm. Lingkar tangan belakang 60 cm, diameter moncong meriam bagian depan 39 cm (bagian dalam) dan 50 cm (keluar) lingkar moncong meriam 158 cm, lingkar badan meriam terkecil 122 cm, lingkar badan meriam terbesar 206 cm, lebar badan meriam 100 cm. Berat meriam 7000 pound atau 3,5 ton.  Dan bernomor seri: 27012.

Dibuat oleh MT Bocarro di Macao sebagai peralatan tempur. Kemudian diangkut ke Malaka untuk memperkuat benteng Portugis di Malaka. Ketika Malaka jatuh ke tangan VOC tahun 1641, meriam Si Jagur diangkut ke Batavia. Niatnya untuk memperkuat pertahanan Batavia dari ancaman musuh. Andaikata meriam Si Jagur itu manusia/prajurit tempur, pastilah dia sudah berpangkat jenderal. Sebab meriam ini diutamakan guna menghancurkan pertahanan musuh. Dan jatuh-bangun di medan perang dengan memuntahkan ratusan bahkan ribuan peluru yang dapat membumi hanguskan lawan.

Meriam Si Jagur yang semula tersimpan di Museum Nasional, Jalan Medan Mereka Barat, Jakarta Pusat. Kemudian dipindahkan untuk dipajang di depan halaman luar Museum Sejarah Jakarta, jalan Fatahillah Jakarta Kota. Letaknya persis di depan Kantor Pos Jakarta Kota, tempat para pedagang pakaian dan barang kelontong lainnya disekitar Kantor Pos. Sehingga  masyarakat sekelilingnya mengenal betul sosok Si Jagur yang unik.

Meriam tersebut tergeletak di bawah udara terbuka. Bila terik matahari memancarkan sinarnya, tubuh meriam itu sedikit memuai seolah menggelembung karena kepanasan. Bila turun hujan, maka badan meriam itu terasa dingin dan mengkilat. Namun karena letaknya dekat dengan keramaian pasar, maka orang-orang pasar sekaligus merasa lebih dekat dan akrab. Seringkali anak-anak disekeliling pasar pun bermain-main disitu. Orang tuanya kerapkali menjemur pakaian di badan Si Jagur. Bahkan Si Jagur menjadi teman pelepas lelah.

Suatu ketika masyarakat pasar Kota Intan terkejut dan terheran-heran lantaran sosok Si Jagur yang akrab itu menghilang dari tempatnya. Ya, betul Si Jagur hilang! Haha, tapi ternyata hilangnya karena dipindahkan ke halaman bagian dalam Museum. Tepatnya tanggal 22 Nopember 2002 malam, di bulan Ramadhan. Pemindahan dilakukan malam hari seusai sholat tarawih, sehingga masyarakat sekitar pasar tidak mengetahui.

Dan lihatlah bagian belakangnya (foto kiri), bagian belakang meriam itulah yang justru yang lebih banyak diamati oleh pengunjung. Kenapa ? Karena bentuknya yang unik!

Bagian belakang meriam itu berbentuk tangan mengepal dengan ibu jari dijepit oleh jari telunjuk dan jari tengah. Menilik bentuknya, selintas seperti lingga atau penis pria yang tengah menerobos pintu alat vital wanita. Ini sebuah perlambang kesuburan.

Dan banyak orang yang kemudian percaya, bahwa si Jagur bisa membuat wanita bersuami yang sudah lama menikah dan susah memperoleh keturunan, jadi hamil. Caranya adalah dengan menggosokkan perut kebagian belakang meriam. Wah, menarik juga! Hehe.

Benda menarik lainnya adalah keberadaan patung Dewa Hermes yang indah sekali. Awalnya, patung ini terletak di daerah Harmoni dan dipercaya sebagai simbol keberuntungan. Saat itu, jembatan Harmoni merupakan penghubung jalur perdagangan.

Tidak jelas kapan pertama kali patung tersebut di buat, para arkeolog percaya, patung Hermes yang terbuat dari perunggu seberat 70kg dibuat antara abad ke 18 dan 19 dan merupakan salah satu saksi berdirinya Kota Jakarta.

Uniknya, saat itu terdapat 2 buah patung Hermes. Pemerintahan Hindia Belanda meletakan satu di jembatan harmoni dan satu lagi di pintu air Istiqlal. Yang dipintu air istiqlal dipercaya sebagai simbol penyampai pesan terhadap ketinggian air di pintu air tersebut.

Tapi, patung yang ada di pintu air Istiqlal udah ilang entah kemana sejak tahun 1970-an. Saat ini, patung hermes dari pintu air Istiqlal, dipercaya dijual ke pasar gelap kolektor benda antik Singapura. Hal ini karena, sekitar 11 tahun yang lalu, patung kembarannya di jembatan harmoni di hargai oleh kolektor Singapura seharga 1 milliar lebih.

Sebenernya hermes dari jembatan harmoni juga pernah hilang loh! Tepatnya diketahui sekitar Agustus 1999 dan akhirnya ditemukan di kantor Dinas Pekerjaan Umum. Banyak versi mengenai hilangnya patung ini, ada yang bilang diselamatkan karena sempet roboh saat terjadi kerusuhan 1998, ada juga yang bilang roboh akibat ditabrak mobil sehingga akhirnya diselamatkan, bahkan ada yang bilang sengaja dicopot dengan alasan untuk direparasi padahal untuk dijual ke pasar gelap.

Tapi apapun alasannya, sejak ditemukan kembali di kantor DPU, patung ini tidak pernah dikembalikan ke posisi semula. Bang Yos (gubernur Jakarta saat itu) yang mengetahui harga patung tersebut di pasar internasional dan mengetahui banyak yang mengincarnya serta nilai sejarah dibalik patung tersebut, memutuskan untuk mengamankan dan memindahkannya ke Museum Fatahillah / Museum Sejarah Jakarta / Museum Batavia.

Sedangkan yang sekarang terlihat di Jembatan Harmoni merupakan replikanya saja yang saat itu dibuat dengan biaya 100 – 150jt serta dengan ukuran lebih kecil dari aslinya dan yang pasti, tanpa memiliki nilai sejarah (saat ini).  Saat ini, patung Hermes yang asli dapat di lihat di halaman belakang Museum Fatahillah / Museum Sejarah Jakarta / Museum Batavia.

Share

Post to Twitter