Pelabuhan Kalimas (Surabaya); Nenek Moyangku Benar-Benar Seorang Pelaut!

Ingat lagu ini:

“nenek moyangku orang pelaut
gemar mengarung luas samudra
menerjang ombak tiada takut
menempuh badai sudah biasa

angin bertiup layar terkembang
ombak berdebur di tepi pantai
pemuda b’rani bangkit sekarang
ke laut kita beramai-ramai”?

Lagu itu ternyata sungguh-sungguh menggambarkan siapa nenek moyang kita!

Walau bertahun-tahun diajarkan bahwa negara kita adalah negara kepulauan yang tentu saja membuat kapal sempat menjadi satu-satunya alat transportasi antar pulau yang ada / terjangkau, juga bertahun-tahun menyanyikan lagi diatas, rasanya ‘biasa saja’. Namun ketika akhirnya datang ke Pelabuhan Kalimas Lama, wuikkk.. rasanya seperti ‘ditampar’ sampai bangun. Tersadar! Bahwa nenek moyang kita benar-benar seorang pelaut!

Kenapa begitu?

Karena kapal kayu berderet-deret ini sizenya besar namun bisa berlayar melalui SUNGAI (bukan laut) dan bisa diparkir dengan gaya sirip ikan (menyamping.. seperti mobil2 gitu deh) oleh nahkoda yang belajar secara OTODIDAK!!!

Ilmu-ilmu ‘parkir kapal’ dan berlayar yang mereka miliki hanya diturunkan tidak melalui sekolah dan buku, sejak RATUSAN tahun lalu! Kapan harus berangkat, menentukan arah, musim tangkap ikan, ilmu bertahan melalui badai, semuanya hanya berdasarkan tanda-tanda alam dan pengalaman, yiaaaw!!! Kalah deh radar, GPS, dsb. Cara bikin kapalnyapun pake ilmu otodidak.

OMG, nenek moyangku, yang juga nenek moyangmu itu, ternyata KEREN sekali, boooo!!!

Ga pake tabrakan loh, pas parkir! Padahal jarak antar kapalnya cuma sepanjang lengan orang dewasa dan bisa berjejer rapi pula, weh.. weh!

Udah gitu, untuk bongkar muat, mereka masih pakai tenaga manusia! Jagung, beras, bahkan kasur spring bed, mebel, semuanya dinaik-turunkan kapal menggunakan tenaga manual manusia. Tenaga kuli angkut pelabuhan:

Hmm, aku yang gara2 duduk seharian didepan laptop bisa koyo’an, apalagi mereka-mereka ini ya? Yang memanggul 25-50 kilo barang dipundak, berkali-kali naik turun kapal, di siang bolong! Olala, semoga rejeki mereka lancar sehingga bisa memperoleh penghidupan yang lebih baik, lah *amen*.

Dan jika dibayangan kalian pelabuhan tuh kotor, bau, semrawut, wah.. jangan salah! Pelabuhan Kalimas ini, begitu bersih dan teratur. Bahkan menurutku sih, layak jadi tempat wisata dan lokasi hunting foto. Suer kewer, kita2 yang sehari-hari di Surabaya dan benernya dekat dengan pelabuhan ini aja senang setengah mati lihat kapal-kapal kayu cantik itu untuk pertama kali *malu.. kok baru sekarang ke Pelabuhan Kalimas*, bahkan sibuk bergelantungan di tali jangkar dan ‘petakilan’ ga jelas, sampe tangan lecet dan pinggang pegel linu, hahahaha!! Kalo kita aja kagum ga jelas gini, apalagi orang2 dari kota-kota yang tidak memiliki pelabuhan, ya kan?

Apalagi, pelabuhan ini cikal bakalnya sudah ada sejak jaman majapahit di awal tahun 1300-an, loh! Tepatnya, disekitar Jembatan Petekan sono, tapi ujung-ujungnya ya Kalimas (dan kawan-kawannya) ini.

Disisi lain (masih dari lokasi yang sama, walau dibedakan pintu masuknya), ada Pelabuhan Kalimas Baru. Bedanya dengan Pelabuhan Kalimas Lama adalah jenis kapal dan tenaga angkutnya.

Jika di Pelabuhan Kalimas Lama kapal-kapalnya adalah kapal kayu dan tenaga bongkar muat manusia, di Pelabuhan Kalimas Baru kapal-kapalnya lebih modern. Banyak yang sudah menggunakan mesin dan besi, bahkan memiliki crane untuk membantu proses bongkar muat barang:

Perhatikan pula kontainer-kontainer kosong yang ada di tanah kosong disekitar sana. Itu adalah tempat tinggal para ABK selama mereka berlabuh. Jika pintu kontainer dibuka, nampaklah suasana kamar dengan beberapa baju yang bergelantungan. Bahkan beberapa ABK terkadang nampak berada didalam kontainer, untuk beristirahat atau tidur. Bersyukurlah atas kasur dan kamar sejuk yang kita tiduri setiap malam, kawan.

Dan tenang.. mereka-mereka yang disana cukup ramah dengan kita dan mempersilakan kita berfoto dan naik ke kapalnya, bahkan terkadang begitu antusias menjelaskan ini itu. Mereka juga cukup sopan dengan wanita dan ramah kepada anak-anak. Jadi, Pelabuhan Kalimas memang bisa dijadikan tempat wisata!

Share

Post to Twitter