Pelabuhan Pelayaran Rakyat (Pelra) Kalimas/ Pelabuhan Kalimas (Surabaya); Nenek Moyangku Benar-Benar Seorang Pelaut!

Pada kenal lagu ini, kan..

“nenek moyangku orang pelaut
gemar mengarung luas samudra
menerjang ombak tiada takut
menempuh badai sudah biasa

angin bertiup layar terkembang
ombak berdebur di tepi pantai
pemuda b’rani bangkit sekarang
ke laut kita beramai-ramai”

Lagu itu ternyata sungguh-sungguh menggambarkan siapa nenek moyang kita!

Walau bertahun-tahun diajarkan bahwa negara kita adalah negara kepulauan yang tentu saja membuat kapal sempat menjadi satu-satunya alat transportasi antar pulau yang ada / terjangkau, juga bertahun-tahun menyanyikan lagi diatas, rasanya ‘biasa saja’. Namun ketika akhirnya datang ke Pelabuhan Pelayaran Rakyat (Pelra) Kalimas/ Pelabuhan Kalimas, wuikkk.. Rasanya seperti ‘ditampar’ sampai bangun. Tersadar! Bahwa nenek moyang kita benar-benar seorang pelaut! Kenapa begitu?

P1220043 copy

Karena kapal kayu berderet-deret ini sizenya besar namun bisa berlayar melalui SUNGAI (bukan laut) dan bisa diparkir dengan gaya sirip ikan (menyamping.. seperti mobil2 gitu deh) oleh nahkoda yang belajar secara OTODIDAK!!! Ilmu-ilmu ‘parkir kapal’ dan berlayar yang mereka miliki hanya diturunkan tidak melalui sekolah dan buku, sejak RATUSAN tahun lalu! Kapan harus berangkat, menentukan arah, musim tangkap ikan, ilmu bertahan melalui badai, semuanya hanya berdasarkan tanda-tanda alam dan pengalaman, wow!

Dan pelabuhan ini, bukan sembarang pelabuhan. Namanya sudah disebut, pada jaman Majapahit..

Awalnya Pelabuhan Kalimas merupakan pelabuhan terbesar di Indonesia sejak jaman Kerajaan Majapahit abad ke 14. Hingga semasa pendudukan Belanda (1746), pelabuhan yang diyakini sebagai cikal-bakal peradaban Kota Surabaya ini akhirnya dipindah tahun 1910 atas prakarsa Ir. W B Van Goor. Pemindahan tersebut didasari atas terkendalanya bongkar muat barang (taken from here).

Walau tua, bukan berarti kemudian Pelabuhan Kalimas ditinggalkan/ dilupakan, pelabuhan ini masih berfungsi dan tidak ditinggalkan walau sudah melewati masa jayanya..

Pelabuhan Kalimas, pada mulanya membentang sepanjang Sungai Kalimas dari hilir hingga pelabuhan utama. Pada masa kejayaannya
(1870-1930) jumlah kapal yang berlabuh dan melakukan aktivitas bongkar muat mencapai 300 kapal dalam sehari. Pada umunya kapal-kapal tersebut membawa muatan dengan tujuan ke seluruh nusantara hingga Eropa. Namun pasca 1930-an, penurunan aktivitas terjadi seiring mulai berfungsinya Pelabuhan Tanjung Perak dan semakin baiknya moda transportasi darat.

Saat ini, pelabuhan Kalimas berganti nama menjadi Pelabuhan Pelayaran Rakyat (Pelra) Kalimas yang berdiri di atas lahan seluas 5,2 hektar. Pelabuhan ini dilengkapi dengan gudang penyimpanan seluas 6.180 meter persegi dengan panjang 2.270 meter yang menampung puluhan kapal (taken from here).

Di Kalimas Lama, proses bongkar muatnya masih pakai tenaga manusia! Jagung, beras, bahkan kasur spring bed, mebel, semuanya dinaik-turunkan kapal menggunakan tenaga kuli angkut pelabuhan:

P1220015 copy P1220034 copy P1220035 copy

Hmm, aku yang gara2 duduk seharian didepan laptop bisa koyo’an, apalagi mereka-mereka ini ya? Yang memanggul 25-50 kilo barang dipundak, berkali-kali naik turun kapal, di siang bolong yang panasnya keterlaluan itu. Olala, semoga rejeki mereka lancar sehingga bisa memperoleh penghidupan yang lebih baik, lah *amen*.

Dan jika dibayangan kalian pelabuhan tuh kotor, bau, semrawut, wah.. jangan salah! Pelabuhan Kalimas ini, begitu bersih dan teratur..

P1000074 copy P1000077 copy P1000084 copy

Bahkan menurutku sih, layak jadi tempat wisata dan lokasi hunting foto. Suer kewer, kita2 yang sehari-hari di Surabaya dan benernya dekat dengan pelabuhan ini aja senang setengah mati lihat kapal-kapal kayu cantik itu untuk pertama kali *malu.. kok baru sekarang ke Pelabuhan Kalimas*, bahkan sampe ada yang sibuk bergelantungan di tali jangkar dan ‘petakilan’ ga jelas, sampe tangan lecet dan pinggang pegel linu, hahahaha!! Kalo kita aja kagum ga jelas gini, apalagi orang2 dari kota-kota yang tidak memiliki pelabuhan, ya kan?

P1220021 copy P1220023 copy

Disisi lain (masih dari lokasi yang sama, walau dibedakan pintu masuknya), ada Pelabuhan Kalimas Baru. Bedanya dengan Pelabuhan Kalimas Lama adalah jenis kapal dan tenaga angkutnya. Jika di Pelabuhan Kalimas Lama kapal-kapalnya adalah kapal kayu dan tenaga bongkar muat manusia, di Pelabuhan Kalimas Baru kapal-kapalnya lebih modern. Banyak yang sudah menggunakan mesin dan besi, bahkan memiliki crane untuk membantu proses bongkar muat barang:

P1220037 copy

Perhatikan pula kontainer-kontainer kosong yang ada di tanah kosong disekitar sana. Itu adalah tempat tinggal para ABK selama mereka berlabuh. Jika pintu kontainer dibuka, nampaklah suasana kamar dengan beberapa baju yang bergelantungan. Bahkan beberapa ABK terkadang nampak berada didalam kontainer, untuk beristirahat atau tidur. Bersyukurlah atas kasur dan kamar sejuk yang kita tiduri setiap malam, kawan.

Kaya’nya tempat ini layak kok, jadi tempat wisata! Pake topi, lalu datanglah saat pagi; saat matahari belum terlalu ganas. Atau sore, selepas jam 1pm, karena cahayanya cakep, mataharinya pun sudah engga galak :p. Jangan lupa bawa kamera, hunting lah sebanyak-banyaknya foto, jangan ganggu aktifitas kerja dan sempatkanlah ngobrol dengan para ABK/ kuli angkut untuk menambah pengetahuan. Aku, cewe gini.. beberapa kali datang ke Palabuhan Kalimas dan ngobrol beberapa kali dengan para ABK lho. Mereka sopan dan cukup ramah saat istirahat kerja (ya kalo lagi kerja jangan diajak ngobrol, rek :p).

Foto dan data diperbarui pada April 2015.

Share

Post to Twitter