Bertamu ke Tanah Mojopahit (Trowulan/ Mojokerto) – 9; Makam Putri Campa dan Brawijaya V

Nah, kalo yang ini.. (kompleks) makam beneran, nih! Beda dengan Makam Panjang, yang ternyata bukanlah sebuah makam, wekekekk..

Tepatnya, ini adalah “Makam Putri Campa“:

Lokasinya sendiri tidak jauh dari Kolam Segaran dan tertutup oleh perumahan warga, sehingga tidak nampak begitu saja. Dari halaman depan rumah juru kunci, kemudian kita kudu meninggalkan kendaraan roda 4, untuk sedikit berjalan kaki sehingga menemukan sebuah gapura tua yang sangat amat cantik:

Lihat saja detailnya, yang sempat membuatku merasa sedang berada di Jawa Tengah atau entahlah, dimana.. (yang pasti, serasa engga lagi di Trowulan!):

Itu baru pagarnya! Belom apa-apa udah cakep gitu. Makin semangat masuk,  deh.. melewati semacam selasar yang kanan kirinya terbuka:

Sampai akhirnya, kita nemu lagi semacam ‘gerbang’ kedua yang juga sama menariknya dengan yang pertama kita jumpai:

 

Dan aku ga ngerti, kenapa ada teko raksasa ‘ditaruh’ diatas gerbang tengah, wekekekekk:

Nah, gerbang ini memiliki 3 pintu. Dipintu sebelah kanan, aku melihat ada beberapa orang sedang duduk sambil membakar kemenyan dan berdoa didepan sebuah makam. Aku sih memilih untuk masuk lewat pintu tengah (yang diatasnya ‘diberi’ teko raksasa).

Dari situ, ternyata masih ada selasar terbuka lagi yang mengingatkanku pada tipe-tipe rumah sakit (peninggalan Belanda) di Malang:

 

Dannnn.. lagi-lagi ada gapura! Namun, kali ini.. hanya ada 1 pintu saja:

 

Dari situ, kemudian ada anak tangga. Kita naikin deh anak tangganya, kemudian nampaklah satu bangunan terbuka yang bertegel keramik. Disitu, ada 3 makam dengan ukuran besar. Satu makam pertama, begitu panjang. Konon, disanalah pembantu setia Putri Campa dimakamkan:

Dan makam lainnya adalah 2 makam yang dijadikan satu. Diberi lampu gantung dengan model Jawa kuno juga payung kain kuning:

Nah, itulah makam Putri Campa dan suaminya, Prabu Brawijaya V, raja Majapahit (pertama) yang dimakamkan secara Islam (raja-raja sebelumnya kan diperabukan).  Disisi kiri (jika kita menghadap ke makam, dari arah tangga) adalah makakm sang Prabu, sedangkan sisi kanannya adalah makam sang Putri.

Tak lama kemudian, rombongan orang yang tadi aku jumpai sebelumnya, sampai ke makam Brawijaya dan Putri Campa ini. Mereka kembali membakar kemenyan dan mengucap doa-doa. Mamiku yang penasaran dengan doa dan ritual ini, sempat mendekat untuk menyimak, namun kemudian meninggalkan mereka.

Sesaat sebelum benar-benar meninggalkan kompleks makam ini, kita sempat bicara dengan salah seorang dari rombongan itu. Mereka sedang ‘mencoba’ memohon restu dan berkat dari para leluhur Mojopahit, agar usaha mereka diberi kelancaran. Untuk itu, mereka ‘dibimbing’ oleh seorang sesepuh daerah setempat, yang dipercaya ‘pintar’.

Oooh, gitu toh, hehe. Kalo saya sih, cuman sekedar datang untuk menikmati arsitektur bangunannya yang asik. Warna hitam putihnya begitu ‘pas’ untuk memperkuat serta memperindah lekuk dan detail gerbang & gapura yang ada, tanpa meninggalkan kesan duka.

Ada juga beberapa bangunan kecil yang digembok, yang konon juga adalah makam. Dari bentuk arsitekturnya, tampaknya bangunan itu sama tuanya dengan gerbang & gapura yang ada, sih:

Bahkan lantainya terbuat dari marmer. Sayang, aku disana pada saat maghrib (yeaaah.. magrib2 di kuburan, haha!), penjaga makamnya sudah tidak disana lagi. Jadi, tidak ada yang bisa aku tanyai lebih lanjut mengenai bangunan itu.

Dan beberapa hari belakangan ini, aku diberi tahu bahwa tidak jauh dari makam ini, ada juga makam Brawijaya I dan Damar Wulan (wow!). Kudu didatangi juga deh! Wekekekkk..

Share

Post to Twitter