Bertamu ke Tanah Mojopahit (Trowulan/ Mojokerto) – 10; Masuk Kedalam Museum Arkeologi Trowulan *Finally*

Yeah, akhirnya.. aku berkesempatan masuk kedalam museum Trowulan yang menyimpan penggalan kisah Mojopahit, kerajaan termegah di Nusantara!

Menurut data yang saya baca (dari sini),

Pemrakasa museum ini adalah RAA. Kromojoyo Adinegoro yakni Bupati Mojokerto yang pada saat itu bekerja sama dengan Henricus Maclaine Pont asal Belanda, pada tanggal 24 April 1924 mendirikan oudheeidkundige vereeneging Majapahit (OVM). Dan setelah itu Museum berpindah-pindah sampai  beberapa kali dan yang akhirnya, sekarang menempati Museum baru berlokasi di Dusun  Trowulan, Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto, melalui  jalan Provinsi antara Mojokerto-Jombang.

Luas area Museum 57.255 meter persegi terdiri dari areal penggalian situs Majapahit, dan  bangunan museum, terdapat pula beberapa fasilitas, seperti toko souvenir Amerta yang menjual berbagai macam cindra mata, kaos, pigora, mushola dan lahan parkir kendaraan roda dua maupun roda empat.

Selangkah setelah memasuki gedung museum, kita disambut dengan sebuah pahatan batu yang nampak begitu cantik diusia tuanya. Yeah, sebuah arca ukiran logo kerajaan Majapahit yang utuh, menyambut siapapun yang datang:

Benda ini, tidak boleh dipegang, tidak boleh difoto. Uh, aku jadi kudu berlaaama-lama mengamatinya, terkagum-kagum dengan kecantikan dan detail ukiran kerajaan bermaha patihkan Gajah Mada yang tersohor itu.

Dan logo kerajaan ini, bukan asal dibuat! Semua ukiran, ada artinya loh:

Keterangannya adalah (taken from here):

simbol  Majapahit, perwujudan sinar matahari,  yang berbentuk 4 lingkaran dan 1 pusat utama, maksudnya Siwa (Pusat), Iswara (Timur), Mahadewa (Barat), Wisnu (Utara), Brahma (Selatan), Sambhu (Timur laut), Rudra (Barat daya), Mahesora (Tenggara), dan Sangkara (Barat laut) sedangkan Dewa Minor sebagai sinar yang memancar. Dan disebutkan juga Surya Majapahit sebagai lambang Negara Majapahit.

Kemudian, kita ke loket terbuka dibelakang logo Mojopahit, membeli tiket dan kemudian masuk berkeliling museum, ditemani dengan seorang guide. Well, mengenai keberadaan guide ini menurutku, karena kita lagi hoki aja. Awalnya, kita berkeliling sendiri dan aku melihat sebuah silsilah keluarga kerajaan Mojopahit, kemudian menjelaskannya secara singkat kepada teman-temanku. Seorang petugas disana tertarik dan kemudian menyimak. Selanjutnya, dia ikut berkeliling bersama kita (haha). Asik sih, tapi gara2 dia aku jadi ga bisa foto ini itu (memang dilarang foto, tapi aku kan ahli ambil foto diam-diam, haha!).

Ruangan pertama, adalah ruangan mengenai peralatan tombak, peralatan sembahyang, keris, dsb. Ada juga sebuah sumur yang sudah tidak digunakan. Nampak bahwa dinding sumur sudah dilapis dengan terakota, menandakan bahwa pada saat itu, Mojopahit sudah termasuk maju dan modern:

Setelah berpuas diri, kita menyebrang keruangan lain. Disini, ruangannya lebih besar dan kita masih bersama dengan ‘tour guide’ kita itu (namun aku masih ada sempet2nya fotoin beberapa hal):

Disini, disimpan beberapa gerabah yang dibuat pada masa jaman Kerajaan Mojopahit berjaya. Salah satunya yang paling membuatku histeris adalah gerabah yang diyakini sebagai gambar diri dari maha patih Gajah Mada yang sering aku lihat dibuku, ternyata ada diruangan ini (dan tidak diistimewakan), wow!!!

Beberapa lainnya, termasuk cantik dan menarik.. Seperti gerabah yang menggambarkan hubungan ibu dan anak. Juga gerabah penghias atap Kedaton yang dengan mudah bisa aku kenali (yeah.. dan tour guide kita melongo karena aku kok nampaknya lebih tahu banyak dari dia, haha!):

Dan lihatlah, Mojopahit sudah mengenal pipa air (yang lagi-lagi terbuat dari gerabah!), wow..

Suer, keren! Hahahaha!

Dannn.. ternyata hanya itu saja yang disimpan didalam museum *penonton kecewa*. Selebihnya, koleksi museum diletakkan diluar (bahkan dihalaman tanpa atap), yang bisa kalian lihat fotonya disini.

Share

Post to Twitter