Pameran Foto Bol Brutu (Sangkring Art Space Yogyakarta); How Brutu Are You? Brutu Sekaleee!!!

Dan inilah acara utama, alasan primer, dari kepergian kita-kita ke Tanah Mataram, Yogyakarta! Pameran foto hasil blusukan para Brutus (pengikut Bol Brutu) yang diadakan di Sangkring Art Space dengan tajuk “How Brutu Are You?

Di website resmi Sangkring Art Space, tertulis singkat penjelasan mengenai acara tersebut:

How Brutu Are You?

Bol Brutu dan Situs-Candi Hindu-Buddha 

Kegiatan utama gerombolan ini pada dasarnya adalah ‘blusukan’: menelusuri batu-batu peninggalan masa lalu. Ada puluhan hingga ratusan tempat telah didatangi, dan melalui ribuan foto yang sebagiannya kemudian ditampilkan dalam jejaring sosial fesbuk, muncullah obrolan, diskusi, dan bahkan perdebatan. Dari sana juga lalu muncul ide untuk menampilkan foto-foto ini ke ruang publik yang lebih luas: pameran. Ya, pameran! Mengapa tidak? Continue reading

Share

Post to Twitter

Bol Brutu (Gerombolan Pemburu Batu) Bagi Laurentia Dewi

Namanya yang unik, sering menggelitik banyak orang untuk minimal mbatin, “Apa sih Bol Brutu itu?”. Secara ‘resmi’, deskripsi mengenai Bol Brutu adalah demikian (seperti yang tertulis di facebook ‘resmi’ Bol Brutu):

BOL BRUTU –akronim dari geromBOLan pemBuRU baTU– merupakan kumpulan beberapa orang yang menyukai blusukan atau jalan-jalan ke situs-situs, candi-candi, makam-makam, dan bangunan-bangunan tua. Satu-satunya kesukaan bersama kita yang gak berhubungan langsung dengan batu adalah kita juga suka kuliner bersama. Continue reading

Share

Post to Twitter

Putu Sutawijaya; Lah? Pelukis Terkenal, To? Haha!

Kenapa judulnya begitu? Karena ada ceritanya!

Gini.. hehe. Pas akhirnya nyampe di Sangkring Art Space dengan susah payah *lebay*, dihalaman depan, aku bertemu dengan Pak Cuk Riomanda, sesepuh Bol Brutu, tersenyum dengan kostum kebesarannya! Merah booo, dari kepala sampe kaki. Byuh! Tapi yang pasti, aku ga pernah merasa selega itu, bertemu Pak Cuk, hahahaha!!! Oleh-oleh se-kresek gede pun segera dioper. Lalu aku jalan, mengikuti Pak Cuk yang ‘menuntun’ kita masuk.

Tapi Pak Cuk ini kayanya punya ilmu ringan tubuh, deh? Lha bodinya seperti ga injak tanah! Jalannya enteng banget, trus cepet. Jadi aku yang masih sempet lirik2 bentar ke tembok sepanjang jalan masuk Sangkring Art Space (yang penuh foto!), jelas ketinggal jauh, jauh dan makin jauh. Sampai akhirnya tinggallah aku dan rombongan, tolah toleh seperti anak ayam kehilangan bapak, haha (padahal Bapaknya ituloh gede dan mencolok!).

Pas lagi bego2nya, tolah toleh ga jelas diantara kerumunan orang yang wajahnya antara aku kenal dan tidak (lha wong foto di FB dan kenyataan, bedanya langit dan bumi semua, haha!), tiba-tiba ada orang, laki-laki, kulitnya agak gelap, berkaos hitam pake logo Bol Brutu, keluar dari kegelapan (pula) dan teriak, “Loorensiaaaa!!!!”. Continue reading

Share

Post to Twitter

Sangkring Art Space (Yogyakarta); Galeri Seni yang Keren!

Nah, setelah selesai makan malam kilat di warung Bakmi Jawa Pak Rakiman, kita kudu buru-buru menuju ke Sangkring Art Space, sebuah galeri seni di Jalan Nitiprayan Rt.01/20 no 88 Ngestiraharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta 55182.

Ditempat itulah, beberapa foto hasil kamera butut-ku dipajang, dalam pameran yang diadakan oleh komunitas penggila batu2an candi, Bol Brutu, bekerja sama dengan Sangkring Art Space.

Dan, ehm.. maaf duluan yah. Jujur saja, saat pertama kali mendengar kata “galeri”, di Yogyakarta pula, yang terbayang adalah rumah biasa yang dibikin los, dinding-dindingnya ditempel aneka lukisan atau foto, lalu ditengah ruangan ada beberapa benda seni. That’s it. Soalnya, beberapa kali masuk galeri seni di Yogyakarta, ya begitu itulah keadaannya. Eh, sekali lagi, maaf loh.

Jadi, supaya tidak kecewa dan siap mental, aku browsing dahulu (sekali lagi, hidup Google!!!) dengan keyword “Sangkring”. Kemudian, jrenggg.. munculah website-nya! Edian, ternyata punya website segala *kukur2 kepala*, to? Dan, wuih? Aku melongo lamaaa sekali, melihat bentuk galeri Sangkring Art Space. Jauh dari imajinasiku! Continue reading

Share

Post to Twitter

Bakmi Jawa Pak Rakiman (Yogyakarta); Ayamnya Seksi!

Di Yogyakarta, kita memang sengaja cari makanan-makanan yang khas. Dan kita menyadari, bahwa beberapa makanan khas Yogyakarta, dijual diemperan. Karenanya, sejak sebelum berangkat, mental kita sudah dipersiapkan untuk itu *lebay*, haha! Jadi, kita akhirnya beneran makan emperan di Bakmi Jawa Pak Rakiman, Jalan Kyai Haji Achmad Dahlan, Yogyakarta, kita fine-fine saja.

Kalau menurut penerawangan Mbah Google, Pak Rakiman ini sepertinya kurang banyak direkomendasikan. Namun apa daya, kita memang mencari penjual bakmi Jawa terdekat dari guest house kita, karena setelah ikut kudu buru-buru menuju Sangkring Art Space untuk menghadiri pembukaan pameran Bol Brutu (will talk more about this, di blog berikutnya!). Dan lokasi jualan Pak Rakiman ini, hanya 10 menitan dari guest house. Continue reading

Share

Post to Twitter

Gudeg Yu Djum (Yogyakarta); Enak!!!

Tentu, kalau sudah sampai ke Yogyakarta, alangkah tidak sah-nya kunjungan tersebut kalau tidak pakai acara makan gudeg. Dan waktu yang tepat untuk menyantap Gudeg ya siang-siang, setelah kita ngos-ngosan dan basah kemringet karena petakilan ga karu-karuan di kompleks Taman Sari, hehe (ga cocok jadi putri keraton, deh!).

Sebelumnya, kita sudah banyak tanya kepada orang-orang & browsing mengenai tempat makan gudeg di Yogyakarta, namun akhirnya kita ‘ga peduli’ lagi dengan segala informasi yang sudah dalam genggaman. Kita maunya gudeg yang terdekat dengan lokasi Taman Sari (karena sudah sangat amat kelaparan), titik. Haha!

Akhirnya, kita memutuskan untuk makan Gudeg Yu Djum, di Jalan Wijilan 31, Yogyakarta (buka dari jam 6 pagi hingga 10 malam). Hal ini sesuai dengan petunjuk dan nasehat dari tour guide kita di Taman Sari itu. Karena orangnya santun dan baik, wah.. kita percaya deh dengan rekomendasinya. Rekomendasi yang ternyata tidak salah! Continue reading

Share

Post to Twitter

Ringin Kurung Alun-Alun Utara/ Lor (Yogyakarta); Setia Menemani Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Ada yang menarik dihalaman belakang, seberang Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang biasa disebut dengan: Alun-Alun Utara / Lor.

Alun-alun Lor adalah sebuah lapangan berumput di bagian utara Keraton Yogyakarta. Dahulu tanah lapang yang berbentuk persegi ini dikelilingi oleh dinding pagar yang cukup tinggi. Sekarang dinding ini tidak terlihat lagi kecuali di sisi timur bagian selatan. Saat ini alun-alun dipersempit dan hanya bagian tengahnya saja yang tampak. Di bagian pinggir sudah dibuat jalan beraspal yang dibuka untuk umum. Di pinggir Alun-alun ditanami deretan pohon Beringin (Ficus benjamina; famili Moraceae) dan di tengah-tengahnya terdapat sepasang pohon beringin yang diberi pagar yang disebut dengan Waringin Sengkeran/Ringin Kurung (beringin yang dipagari). Kedua pohon ini diberi nama Kyai Dewadaru dan Kyai Janadaru[23]. Pada zamannya selain Sultan hanyalah Pepatih Dalem [24] yang boleh melewati/berjalan di antara kedua pohon beringin yang dipagari ini (taken from here). Continue reading

Share

Post to Twitter

Praja Cihna; Lambang Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Praja Cihna, ternyata adalah nama dari lambang Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat! Aku sendiri baru tahu *jedok-jedokin kepala ke bantal*, padahal di Yogyakarta kemarin, aku dan temanku berfoto dengan lambang ini, bahkan kita sempat berusaha menggapainya (Kalo temanku sih masuk akal yah, pengen coba pegang. Dia kan tinggi. Lha aku? Hahahaha!) Continue reading

Share

Post to Twitter

Sop Ayam Pak Min Klaten (Yogyakarta); Sarapan Pertama Kita!

Dengan otak yang masih kopyak (read: kopyor) karena kecapean dijalan dan kurang tidur, kita sudah harus segera bangun (tidur 3 jam saja loh) dan memanfaatkan waktu yang pendek untuk mengunjungi banyak tempat menarik. Jadi, kita ga bisa mikir dengan benar, mau sarapan apa dan dimana.

Tangan sih Googling melulu tapi otak ga bisa nentuin mau makan apa dan ga mudeng tempat-tempatnya *aseli o’on*. Sopir jalankan mobil ga tentu arah dan tau2 nyampe di Malioboro. Kawan menyarankan makan pecel dideket Pasar Beringharjo. Ancer-ancernya adalah gedung Mirota yang disebelah kanan jalan. Dasar otak masih bego, aku suruh sopir berhenti di Mirota yang disebelah kiri jalan. Jauh tuh, dari Beringharjo! Haha! Dan tolah toleh lamaaa, cariin pecel tapi kok nemunya kaos Dagadu palsu, haha *tolol*. Continue reading

Share

Post to Twitter

Nitiprayan Home Stay (Yogyakarta); Nyaman, Cakep, Bersih..

Selama menjadi tamu Sultan *gubrag* di Yogyakarta, aku menginap disebuah home stay di daerah Nitiprayan, namanya adalah Nitiprayan Home Stay, di Jalan Nitiprayan 76, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Telp: (0274) 380016.

Well, tempat ini.. sama sekali ga masuk hitungan saat kita pergi dari rumah dan menuju ke Yogyakarta. Lebih tepatnya, kita itu berangkat ke Yogyakarta TANPA memiliki tempat untuk menginap (hebaaat, Dewi *tepuk tangan*).

Ini karena aku terlalu menyepelekan hal ini. Aku merasa sekarang ini kan bukan musim liburan, alias ‘low season’ (_ _!!). Aku lupa, bahwa bagaimanapun Yogyakarta adalah kota wisata yang terkenal dan favorit, sehingga saat akhir minggu, penginapan model apapun pastinya laris manis. Continue reading

Share

Post to Twitter