Archive for the ‘ INTERESTING THING ’ Category

Pengertian Istilah Babah / Peranakan / Chinese Indonesian

Babah / Peranakan (taken from here):

Peranakan Chinese and Baba-Nyonya are terms used for the descendants of late 15th and 16th-century Chinese immigrants to the Indonesian archipelago of Nusantara during the Colonial era. Read more

Share

Post to Twitter

Oei Tiong Ham; Sugar Baron dari Indonesia, Terkaya Di Asia Tenggara

Toean Oei Tiong Ham ada poetra jang ke doea dari toean Oei Tjie Sien di Semarang, jang mempoenjai 3 anak lelaki (Oei Tiong Tjan meninggal di oesia jang sanget moeda, Oei Tiong Ham dan Oei Tiong Bing, djoega disini dikenal dengen seboetan Majoor Djoe Gwan).

Oei Tiong Ham lahir pada 13 Tjap-Gwee, taon Phia-in, di djaman kaizer Tong Tie memrentah taon ke V. Djam doea siang. Bie-sie atawa masehi’nja 19 November 1866. (*taon 1866, sama dengen lahir’nja Dr Sun Yat Sen)

Tatkala ia masih orok, papa’nja kasih liat „Peh-Dji’nja” pada satoe sinshe khoa-mia (peramal Tionghoa), dan di njataken peh-dji itoe bagoes sekali!, anak itoe aken mendjadi seorang jang tadjem otak’nja, bakal dapet kedoedoekan jang moelia dan aken mendjadi seorang hartawan besar! Read more

Share

Post to Twitter

Oei Hui Lan; Putri The Sugar Baron Oei Tiong Ham, Orang Indonesia Terkaya di Asia Tenggara

OEI TIONG HAM ORANG TERKAYA DI ASIA TENGGARA

Oei Tiong Ham, yang dijuluki Raja Gula dari Semarang pernah jadi orang terkaya di Asia Tenggara. Ia juga berdagang candu. Berlainan dengan Tjong A Fie, ia tidak dikenal sebagai dermawan. Sekitar tiga dasawarsa yang lalu, putrinya Oei Hui Lan, bersama Isabella Taves, menulis memoar yang diterbitkan di Amerika Serikat. Dari buku berjudul No Feast Last Forever itu kita bisa tahu perihal kehidupan mereka, yang bisa membeli apa saja dengan uang mereka yang berlimpah. Namun apakah mereka berbahagia ? Read more

Share

Post to Twitter

(Lontong) Cap Go Meh

Familiar dengan istilah “Cap Go Meh” namun tidak memahaminya?

Wikipedia memuat deskripsi singkat mengenai makna Cap Go Meh:

Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama (Cap = Sepuluh, Go = Lima, Meh = Malam). Ini berarti, masa perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama lima belas hari.

Perayaan ini dirayakan dengan jamuan besar dan berbagai kegiatan. Di Taiwan ia dirayakan sebagai Festival Lampion. Di Asia Tenggara ia dikenal sebagai hari Valentine Tionghoa, masa ketika wanita-wanita yang belum menikah berkumpul bersama dan melemparkan jeruk ke dalam laut – suatu adat yang berasal dari Penang, Malaysia (taken from here). Read more

Share

Post to Twitter

Klenteng Oro-Oro Dowo (Malang)

Adik Mamiku dan anaknya yang kebetulan datang beberapa hari menjelang Cap Go Meh, pergi ke Malang bersama kita. Dan diantara rentetan acara jalan-jalannya aku selipkan agenda mengunjungi klenteng kecil, di Jalan Brigjen Slamet Riyadi, Malang. Entah apa nama resminya, namun berpuluh tahun kita menyebutnya sebagai Klenteng Oro-Oro Dowo.

Klenteng ini, kecil sekali dan sepertinya dikelola perseorangan, bukan yayasan. Jadi tidak heran, orang kota Malang sendiri banyak yang tidak tahu. Tapi karena sudah sejak kecil aku sering kesini (well, minimal 1x setahun lah), maka klenteng ini seperti memiliki ‘ikatan’ batin denganku. Minimal, karena setiap kali masuk kesana, atmosfernya begitu aku kenal. Demikian pula orang-orangnya dan kadang ada kepingan kenangan masa lalu yang muncul kembali, haha:

Read more

Share

Post to Twitter