<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>according to me</title>
	<atom:link href="http://laurentiadewi.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://laurentiadewi.com</link>
	<description>laurentiadewi.com</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 00:43:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Pameran Foto Bol Brutu (Sangkring Art Space Yogyakarta); How Brutu Are You? Brutu Sekaleee!!!</title>
		<link>http://laurentiadewi.com/pameran-foto-bol-brutu-sangkring-art-space-yogyakarta-how-brutu-are-you-brutu-sekaleee</link>
		<comments>http://laurentiadewi.com/pameran-foto-bol-brutu-sangkring-art-space-yogyakarta-how-brutu-are-you-brutu-sekaleee#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 17:47:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>laurentiadewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALL]]></category>
		<category><![CDATA[INTERESTING THING]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laurentiadewi.com/?p=12158</guid>
		<description><![CDATA[Dan inilah acara utama, alasan primer, dari kepergian kita-kita ke Tanah Mataram, Yogyakarta! Pameran foto hasil blusukan para Brutus (pengikut Bol Brutu) yang diadakan di Sangkring Art Space dengan tajuk &#8220;How Brutu Are You?&#8220; Di website resmi Sangkring Art Space, &#8230; <a href="http://laurentiadewi.com/pameran-foto-bol-brutu-sangkring-art-space-yogyakarta-how-brutu-are-you-brutu-sekaleee">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dan inilah acara utama, alasan primer, dari kepergian kita-kita ke Tanah Mataram, Yogyakarta! Pameran foto hasil blusukan para Brutus (pengikut Bol Brutu) yang diadakan di Sangkring Art Space dengan tajuk &#8220;<a href="http://www.sangkringartspace.net/2012/01/10/how-brutu-are-you-by-bol-brutu-gerombolan-pemburu-batu-sangkring-art-project/">How Brutu Are You?</a>&#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Di <a href="http://www.sangkringartspace.net/2012/01/10/how-brutu-are-you-by-bol-brutu-gerombolan-pemburu-batu-sangkring-art-project/">website resmi Sangkring Art Space</a>, tertulis singkat penjelasan mengenai acara tersebut:</p>
<blockquote>
<h2><strong>How Brutu Are You?</strong></h2>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bol Brutu dan Situs-Candi Hindu-Buddha</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kegiatan utama gerombolan ini pada dasarnya adalah ‘blusukan’: menelusuri batu-batu peninggalan masa lalu. Ada puluhan hingga ratusan tempat telah didatangi, dan melalui ribuan foto yang sebagiannya kemudian ditampilkan dalam jejaring sosial fesbuk, muncullah obrolan, diskusi, dan bahkan perdebatan. Dari sana juga lalu muncul ide untuk menampilkan foto-foto ini ke ruang publik yang lebih luas: pameran. Ya, pameran! Mengapa tidak?<span id="more-12158"></span></p>
<p style="text-align: justify;">How Are You Brutu? Adalah pameran foto candi, artefak, dan situs-situs lainnya yang pernah dan bahkan berulang-ulang didatangi gerombolan para pemburu batu atau yang diakronimkan menjadi Bolbrutu ini. Dalam pameran ini ditampilkan secara khusus situs-situs Hindu-Budha pada abad pertengahan, sebagian besar di Jawa, dan beberapa di Sumatera dan Kalimantan yang marjinal.</p>
<p style="text-align: justify;">Marjinal di sini maksudnya adalah kurang dikenal dan serentak dengan itu juga kurang mendapat perhatian. Sifat pameran ini terutama bukanlah artistik, tetapi lebih hendak mengkhabarkan bahwa di suatu tempat, terdapat sebuah atau lebih candi, yang menyimpan ribuan cerita kehidupan kita. <em>(BOL BRUTU)</em></p>
</blockquote>
<p>Dan RRI Jogja, yang memuat mengenai acara ini, menulis demikian:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://rrijogja.co.id/berita/nasional/berita-budaya/995"><strong>RRI-Jogja News</strong></a>, Sejumlah foto tentang artefak, candi-candi, arca, prasasti dan situs-situs peninggalan sejarah di Nusantara yang diabadikan oleh anggota komunitas penggemar jalan-jalan bernama <em>Bol Brutu</em> digelar dalam Pameran Fotografi bertajuk “How Brutu Are You ?” berlangsung di galeri senirupa Sangkring Art Project yang berlokasi di Dusun Nitiprayan, Kasihan, Bantul, hingga akhir bulan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pameran tersebut, komunitas <em>Bol Brutu</em> menampilkan situs-situs Hindu-Budha pada abad pertengahan, sebagian besar di Jawa, dan beberapa di Sumatera dan Kalimantan yang kurang dikenal dan belum mendapat perhatian.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Koordinator Pameran Hairus Salim, sifat pameran ini terutama bukanlah artistik, namun lebih pada keinginan  mengabarkan bahwa di suatu tempat, terdapat sebuah atau lebih candi, yang menyimpan ribuan cerita kehidupan masa lalu bangsa Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Bol Brutu sendiri sebagai komunitas yang menggemari aktivitas <em>blusukan</em><strong> </strong>atau menelusuri situs-situs purbakala, candi-candi, makam-makam kuno, masjid-masjid tua, bangunan-bangunan kolonial, mengabadikannya untuk kemudian ditampilkan melalui jejaring social <em>facebook</em>, dilanjutkan dengan obrolan, diskusi sehingga muncul ide untuk menampilkan karya-karya mereka dalam suatu pameran.</p>
<p style="text-align: justify;">Komunitas Bol Brutu kini memiliki 250 anggota tersebar di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Magelang, Solo, Semarang, Kudus, Mojokerto, Malang, Surabaya, Lumajang, Blitar, Denpasar, Sumatera hingga ke beberapa negara seperti Jepang, Jerman dan Amerika (<a href="http://rrijogja.co.id/berita/nasional/berita-budaya/995"><em>taken from here</em></a>).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Trus, ngapain nih si Laurentia Dewi nulis ini? Eh, pake jauh-jauh pergi ke Yogyakarta segala (duduk sampe pantat bantat selama 10 jam lebih di mobil: lha wong pake mampir makan disana sini, haha)! Juga bela-belain malem2 kehujanan, berbasah-basah menuju Sangkring Art Space <em>*lebay*</em>? Bukannya ujan-ujan gitu enakan duduk manis di warung ronde, kemudian pergi bobo dengan kenyang dan senyum, karena mimpi indah bisa &#8216;menguasai&#8217; candi Prambanan sepuas-puasnya, memfoto setiap jengkal batunya?</p>
<p style="text-align: justify;">Karena ikke, Laurentia Dewi ini, termasuk sejenis &#8220;Brutuwati&#8221;! Wekekekek.. <em>*PROUD*</em></p>
<p style="text-align: justify;">Tapi ya gitu deh, bukan Laurentia Dewi namanya kalo ga pake nyasar (_ _!!). Padahal udah dibela-belain makan malam di <a href="http://laurentiadewi.com/bakmi-jawa-pak-rakiman-yogyakarta-ayamnya-seksi">Bakmi Jawa Pak Rakiman</a> yang deket <a href="http://laurentiadewi.com/nitiprayan-home-stay-yogyakarta-nyaman-cakep-bersih">guest house</a> kita di Nitiprayan, berarti harusnya Sangkring Art Space ini dekat dengan kita, lha wong sama-sama Nitiprayan. Tapi suer deh, aku ga bisa nemuin! Haizh, bodo sedunia kok diambil sendiri sih, Wi.. @___@.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-12238" title="Nyasar (taken from pelicanpr.co.uk)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/map_reading1-300x228.jpg" alt="" width="300" height="228" />Untung, kawan-kawan Bol Brutu baik-baik. Setelah mendapat petunjuk gaib bahwa aku nyasar, seorang diantara mereka menelepon (Mbak Putri, matur nuwun nggih!). Dan segera setelahnya, aku mendapat &#8216;pencerahan&#8217;. Lalu, 5 menit kemudian, aku sudah dapat menjumpai sosok yang begitu mencolok (lha wong merah dari ujung kepala sampe kaki, haha). Sosok dari salah seorang sesepuh aliran pecinta batu ini: Pak Cuk Riomanda, haha! Suer kewer, ga pernah sebahagia dan lega itu, bertemu Pak Cuk (walau pas pertemuan pertama<em> *ceile*</em> sebenernya ada perasaan lega juga, ga salah hotel <em>*uhui.. ketemuan di hotel, rek!*</em>, haha!).</p>
<p style="text-align: justify;">Yang membuat makin memalukan, ternyata paginya, saat keluar dari guest house dengan keadaan bumi yang terang benderang, ealah.. ternyata Sangkring Art Space tuh cuma lurusannya guest house, belok kanan, udah! Haiya.. (resmilah aku jadi orang dengan spesialisasi nyasar!).</p>
<p style="text-align: justify;">OK, lupakan kebodohan itu, lupakan! Kita kembali ke cerita mengenai acara pamer-pamernya.</p>
<p style="text-align: justify;">Anggota Bol Brutu, biasanya secara spontan dengan dana sendiri (beginilah manusia kalo sudah kecanduan!), blusukan kesana kemari, mengagumi benda-benda tua peninggalan abad lampau. Entah itu berupa timbunan batu yang disebut candi, bisa pula arca, prasasti, atau benda-benda yang kini sudah dikurung dalam bingkai kaca di museum, juga yang masih digali. Masjid bersejarah, juga gereja dan klenteng, bahkan makam tua sekalipun, biasanya tidak dilewatkan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12239" title="Aktifitas Bol Brutu" src="http://laurentiadewi.com/uploads/meimei.jpg" alt="" width="427" height="615" /></p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Dan tentu, ketika tiba ditujuan, anggota2nya ini tidak hanya sibuk mengisi batin dengan kegembiraan dan pengalaman tak terlupakan, kemudian tidak mengabadikannya. Kamera dapat dipastikan adalah barang yang wajib dibawa dan digunakan. Entah untuk memfoto objek tidak bergerak, kawan seperjalanan (yang mungkin sama antiknya dengan candi yang didatangi.. haha!), manusia disekitar sana dan tentu ehm, diri sendiri. Nah, kalo pas foto-foto, ada &#8216;mahluk lain&#8217; yang ikut nampang, yeah.. itung saja sebagai bonus <em>*nyengir*</em> (tapi foto dibawah ini bukan foto penampakan loh, suer!).</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: center;"><img class="aligncenter  wp-image-12240" title="Aktifitas foto Bol Brutu (foto model: Cuk Riomanda, courtesy of: Boen Mada *kamsia say!*)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/foto.jpg" alt="" width="427" height="369" /></div>
<p style="text-align: justify;">Makin lama, folder foto peserta Bol Brutu di Facebook-nya masing-masing makin &#8216;nggilani&#8217; jumlahnya. Isinya semuanya ga jauh-jauh dari candi, prasasti, arca, makam, rumah ibadat dan makanan (haha). Wall di group Bol Brutu, juga demikian. Notifikasi Facebook hampir tidak pernah berhenti memberitakan postingan foto di wall (yang komentarnya bisa sampai ribuan itu <em>*hidup Erson!!!*</em>).</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, melihat dokumentasi kita (yang menurut terawangan gaib &#8216;Mama Loren Palsu&#8217; jumlahny lebih banyak dan lengkap dari koleksi dokumentasi seorang arkeolog beneran), layaklah untuk gerombolan ini menggelar pameran. Setuju? (ayo sini yang bilang ga setuju, aku cubit satu-satu <em>*ama berusaha pasang tampang garang*</em>, hahaha!).</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, pameranpun dipersiapkan!</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12246" title="Pembukaan pameran foto Bol Brutu: &quot;How Brutu Are You?&quot; (foto courtesy of Sankring Art Space)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/art-31.jpg" alt="" width="518" height="353" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12247" title="Pembukaan pameran foto Bol Brutu: &quot;How Brutu Are You?&quot; (foto courtesy of Sankring Art Space)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/art-6.jpg" alt="" width="518" height="353" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12248" title="Pembukaan pameran foto Bol Brutu: &quot;How Brutu Are You?&quot; (foto courtesy of Sankring Art Space)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/art-35.jpg" alt="" width="518" height="768" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12249" title="Pembukaan pameran foto Bol Brutu: &quot;How Brutu Are You?&quot; (foto courtesy of Sankring Art Space)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/art-24.jpg" alt="" width="518" height="768" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12250" title="Pembukaan pameran foto Bol Brutu: &quot;How Brutu Are You?&quot; (foto courtesy of Sankring Art Space)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/art-25.jpg" alt="" width="518" height="351" /></p>
<p style="text-align: justify;">Wew! Terharu aku ngelihat foto-foto ini <em>*sambil menyembunyikan mata berkaca2, berusaha mempertahankan image diri yang ga jelas*</em>, hehe.</p>
<p style="text-align: justify;">Undanganpun akhirnya disebar kesegala penjuru bumi, menggunakan teknologi masa kini dan tempo dulu:</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12257" title="Undangan pameran foto Bol Brutu: &quot;How Brutu Are You?&quot; (foto courtesy of Bol Brutu &amp; Sangkring Art Space)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/How-Brutu-Are-You-by-Bol-Brutu-392x600.jpg" alt="" width="410" height="618" /></p>
<p style="text-align: justify;">Sehingga pada akhirnya, pada 14 Januari 2012 (catet.. hari bersejarah loh, ini!), jam 19.00 WIB, bertempat di Sangkring Art Space, pameran Bol Brutu terjudul &#8220;<strong>How Brutu Are You?</strong>&#8221; dibuka oleh: H. M. Badri dan ditutup pada 4 Februari 2012 kemarin.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12242" title="Pembukaan pameran foto Bol Brutu: &quot;How Brutu Are You?&quot; (foto courtesy of Sankring Art Space)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/art-2.jpg" alt="" width="518" height="768" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12251" title="Pembukaan pameran foto Bol Brutu: &quot;How Brutu Are You?&quot; (foto courtesy of Sankring Art Space)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/art-22.jpg" alt="" width="518" height="352" /></p>
<p style="text-align: justify;">Acara pembukaannya, diiringi rintik air hujan yang turun tiada henti. Namun Bol Brutu memang magnet luar biasa (nih, yang dari Surabaya aja bener-bener belain datang, juga yang dari Jakarta, Bandung, Bali, wow!), sehingga hujan sama sekali bukan masalah! Yang datang tetap banyak, bejubel memenuhi Sangkring Art Space:</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12243" title="Pembukaan pameran foto Bol Brutu: &quot;How Brutu Are You?&quot; (foto courtesy of Sankring Art Space)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/art-28.jpg" alt="" width="518" height="351" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12244" title="Pembukaan pameran foto Bol Brutu: &quot;How Brutu Are You?&quot; (foto courtesy of Sankring Art Space)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/art-5.jpg" alt="" width="518" height="351" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12245" title="Pembukaan pameran foto Bol Brutu: &quot;How Brutu Are You?&quot; (foto courtesy of Sankring Art Space)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/art-26.jpg" alt="" width="518" height="317" /><img class="aligncenter size-full wp-image-12253" title="Pembukaan pameran foto Bol Brutu: &quot;How Brutu Are You?&quot; (foto courtesy of Sankring Art Space)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/art-17.jpg" alt="" width="518" height="331" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tidak hanya itu saja, pertunjukan musik dan &#8216;sajen&#8217; seadanya, disajikan kepada pengunjung. Bayangkan, mana ada pameran yang memanjakan body and soul seperti pamerannya Bol Brutu ini. Mata kenyang, perut kenyang, hati kenyang, olala!</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12254" title="Pembukaan pameran foto Bol Brutu: &quot;How Brutu Are You?&quot; (foto courtesy of Sankring Art Space)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/art-14.jpg" alt="" width="518" height="351" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12255" title="Pembukaan pameran foto Bol Brutu: &quot;How Brutu Are You?&quot; (foto courtesy of Sankring Art Space)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/art-18.jpg" alt="" width="518" height="351" /></p>
<p>Hati kenyang? Ya!</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kegirangan setengah mati (perjuanganku dapat ijin ke Yogyakarta tuh pake dibantu bakar menyan dan hio oleh kawan-kawan Bol Brutu loh, haha!) ketika akhirnya bener-bener sampai di Sangkring Art Space (ga mau upload fotoku saat tiba <em>*malu2in*</em>, haha!).</p>
<p style="text-align: justify;">Bahagia, bertemu dengan mereka-mereka yang selama ini hanya dilihat fotonya saja. Kalo biasanya komentar di foto-foto mereka dengan menggunakan ketikan kata, kali ini live. Bisa pake colek-colek, diskusi, tanya jawab, dilihat ekspresi ketawanya, diendus bau abab mulutnya, kalo perlu disenggol dikit-dikit, bahkan pake cubit-cubitan. Wuih.. mana bisa semua ini dilakukan di Facebook, ya to? Facebook loh, cuma busa poke-poke tok!</p>
<p style="text-align: justify;">Aku heran melihat mereka satu-satu. Ada yang namanya familiar, tapi wajahnya beda dengan di foto. Ada yang wajahnya familiar pol-pol&#8217;an tapi namanya hilang dari otak (untuk kasus Pak Kris contohnya: baru setelah jabat tangan terus-terusan selama 5 menit, barulah namanya muncul ke otak.. haha!), ada (banyak) yang tidak bisa dikenali karena ternyata lebih cakep dari fotonya di Facebook.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan mereka-mereka ini, dari mana-mana, mau-maunya gituloh, ke Yogyakarta demi Bol Brutu. Yaaa.. ituloh hebatnya! Dibelain cuti, &#8216;kabur&#8217;, ijin, ninggalin istri, ninggalin suami, ninggalin anak, oh, Bol Brutu.. magnetmu ituloh, ck ck ck..</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12256" title="Pembukaan pameran foto Bol Brutu: &quot;How Brutu Are You?&quot; (foto courtesy of Sankring Art Space)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/art-34.jpg" alt="" width="518" height="324" /></p>
<p style="text-align: justify;">Walau datangnya pake deg-deg&#8217;an antara antusias, mules grogi <em>*bohong!!!*</em> dan pusing nyasar <em>*hipermetabola*</em>, wealah, lha kok pas pulang hatinya ga kebawa. Ketinggalan di Sangkring Art Space. Sedih, iya. Gak puas, juga iya. Tapi ya mau bagaimana lagi, sudah malam, sopir sudah hampir &#8216;tewas&#8217; kelelahan, Mami juga kecapean, haizh, terpaksa.. berpisahlah kita setelah foto-foto ini:</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12259" title="Pembukaan pameran foto Bol Brutu (Yogyakarta): &quot;How Brutu Are You?&quot;" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1020495.jpg" alt="" width="518" height="393" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12260" title="Pembukaan pameran foto Bol Brutu (Yogyakarta): &quot;How Brutu Are You?&quot;" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1020498b.jpg" alt="" width="518" height="393" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12261" title="Pembukaan pameran foto Bol Brutu (Yogyakarta): &quot;How Brutu Are You?&quot;" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1020499.jpg" alt="" width="518" height="393" /></p>
<p style="text-align: justify;">Dan mbak endut berbaju coklat kotak-kotak dengan kerah badut aneh itu, ternyata juga bisa narsis, to? Sekalinya narsis, eh.. kebablasan! Masa dia berfoto terus-terusan, didepan hasil jepretan kamera purbanya? Aih, narsis kok stadium 4, hahahaha:</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12262" title="Pembukaan pameran foto Bol Brutu (Yogyakarta): &quot;How Brutu Are You?&quot;" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1020478.jpg" alt="" width="518" height="393" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12263" title="Pembukaan pameran foto Bol Brutu (Yogyakarta): &quot;How Brutu Are You?&quot;" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1020481.jpg" alt="" width="518" height="393" /></p>
<p style="text-align: justify;">Errr, sebenernya aku punya beberapa foto lain si mbak endut itu dengan berbagai pose yang tidak normal. Tapi sebaiknya jangan dipublikasikan secara mendunia seperti ini. Kasihan nama baik dan citranya <em>*halah*</em>, haha!</p>
<p style="text-align: justify;">Kamsia, Bol Brutu, tim seleksi foto, Sangkring Art Space, juga semua yang aku temui disana (yang namanya tidak mungkin disebut satu-satu, bukan karena lupa <em>*alhamdulillah kok kali ini inget nama-nama mereka dan wajahnya satu persatu!!!*</em>, tapi banyaaak.. bo, haha. Terima kasih untuk acaranya, kesempatannya, undangannya, rayuannya, ajakannya, aduh, semuanya deh.</p>
<p style="text-align: justify;">Hmuach muah <em>*sun satu2 sampe monyong*</em>, I love you, Bol Brutu, more and more!</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Cuk, kalo aku nyasar lagi, aduh, mohon didanai beli GPS yang nggak ngambekan yah <em>*loh???*</em>. Juga mohon doa dan petunjuk agar segera nyampe, ga kebanyakan mampir kesana kemari. Doakan juga suatu saat nanti beneran bisa nyongkel Sangkring, bawa lari lukisan Pak Putu dan Mei Mei <em>*eeeh?*</em>. Nanti Pak Cuk boleh kok kebagian ngemong Mei Mei sesekali. Trus, lukisannya Pak Putu 5 hari dipajang dirumahku, 2 hari dirumah Pak Cuk. Gimana? Deal? Haha!</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Putu, terima kasih sambutan hangat dan tawaran baiknya. Trus gimana nih, saya kok jadi naksir Mei Mei! Hahaha :p.</p>
<p style="text-align: justify;">Mbak Putri, terima kasih sudah menuntun saya kembali kepada jalur yang benar. Carlos, managerku yang ternyata artis ibu kota Jatim, belilah HP yang lebih bagus (ini bukan saran, tapi perintah! Mosok ditelpan-telpon tapi ga masuk2 panggilannya, haha). Mbak Riris, Mbak Titiek tanpa Poespa yang cantik, terima kasih obrolannya. Trus, hm.. Edy Hamzah, haha, si beningnya Bol Brutu, terima kasih ya foto2ku ga kamu sebarkan *<em>GR, emangnya Edy fotoin aku???</em>*. Pak Kris, terima kasih loh, Mami saya dilamar (EEEEEHHHH???). Pak Hairus, terima kasih diceritai panjang lebar kali tinggi (lha kok jadi rumus matematika) mengenai ini dan itu. Mbak Henny, terima kasih ya, mau-maunya ditempelin pipinya ama aku (padahal pas itu ternyata kita belom kenalan resmi, ya? Haha!). Cik Fientje, yuhuu.. kamsia shake handnya, hihihi. Ersonnnn, ajarin masak ya? Ya? Ya?</p>
<p style="text-align: justify;">Btw, katanya tadi ga mau sebut nama satu-satu, Wi? Beneran deh, paragraf diatas kalo diterusin, bisa jadi novel, saking banyaknya nama dan kebaikan yang harus dijabarkan, haha. Udahan ah, kalo jadinya setebal novel, aku malu sama para penulis top yang di Bol Brutu, hihihi.</p>
<p>Berikut ini, adalah yang <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Tembi_%28Rumah_Budaya_Tembi%29">Tembi</a> tulis mengenai Bol Brutu di website-nya:</p>
<blockquote>
<h1 style="text-align: justify;"><strong> Hasil &#8216;Berburu&#8217; Batu dari Bol Brutu</strong></h1>
<p style="text-align: justify;">Sebutan gerombolan sering identik dengan aktivitas yang tidak baik. Mengganggu masyarakat, bahkan kriminal. Namun, ada satu gerombolan yang mempunyai kegiatan sangat positif dan berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan. ‘Bol Brutu’ nama gerombolan ini, dan tidak identik dengan ‘geng’ . Bol Brutu kependekan dari ‘Gerombolan pemburu batu’. Kata pemburu batu bukan sekedar batu yang mudah di temui di jalan-jalan, tetapi batu yang memiliki sejarah masa lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bol Brutu &#8211;akronim dari geromBOLan PembBuRU baTU—merupakan kumpulan beberapa orang yang menyukai blusukan atau jalan-jalan ke situs-situs, candi-candi, makam-makam, dan bangunan-bangunan tua. Satu-satunya kesukaan bersama kita yang gak berhubungan langsung dengan batu adalah kita juga suka kuliner bersama” demikian penjelasan teks tertulis yang bisa dibaca dihalaman 2 dari buku ‘How Brutu Are You’.</p>
<p style="text-align: justify;">Anggota komunitas ini, sebut saja begitu, semuanya masih muda-muda, meski sudah berkeluarga, tetapi masuk dalam kategori keluarga muda, yang usianya belum genap 50 tahun, atau mungkin ada yang lebih sedikit dari angka itu. Tetapi, kesenangan mereka menjumpai batu-batu yang usianya sudah tua, bahkan sudah melampaui abad. Batu-batu jaman Hindu-Budha dalam bentuk candi maupun serpihan candi dan artefak lainnya, tidak luput dari ‘kunjungangan’ Bol Brutu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebut saja, apa yang dilakukan Bol Brutu ‘melebihi’ dari apa yang dikerjakan oleh pegawai Purbakala, yang mungkin saja belum ‘mengunjungi’ peninggalan yang tidak dikenal. Oleh mereka, peninggalan yang diabaikan itu dihampiri dan semua anggota Bol Brutu mendokumentasi melalui kamera digital. Jadi, setiap kali melakukan blusukan, siapa saja person Bol Brutu yang ikut, pasti membawa kamera digitital dan semuanya akan mengambil momen yang berbeda. Masing-masing juga saling memotret kawannya, barangkali masing-masing menganggapnya sebagai artefak Bol Brutu. Maka, perlu juga untuk didokumentasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasil dari blusukan, atau perburuan Bol Brutu, hasilnya berupa candi-candi Hindu-Budha, atau tumpukan batu, atau juga batu yang tertimbun dedaunan, dipamerkan di Sangkring, Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta. Ada banyak foto situs-situs yang mereka kunjungi, dalam rupa-rupa situs dipamerkan. Seperti halnya situs yang terserak, karya foto dari Bol Brutu ini juga ‘terserak’ di dinding ruang pamer Sangkring.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua keterangan dalam foto situs yang dipamerkan, memang sekedar memberi keterangan. Barangkali Bol Brutu mengajak orang yang melihatnya untuk berkunjung langsung ke lokasi dan diantar oleh Bol Brutu. Maka, keterangannya tidak perlu menunjuk lokasi, misalnya situs ‘Banyunibo’ cukup ditulis di Sleman DIY. Tidak perlu ditunjukkan lokasi dusun, desa dan kecamatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari hasil blusukan ‘Bol Brutu, kita bisa melihat beragam situs yang telah mereka kunjungi dan tidak hanya di wilayah DIY, tetapi sudah melampaui kabupaten atau propinsi lain. Oleh karena itu, tepat kalau dikatakan apa yang dikerjakan Bol Brutu ‘melampaui’ dari kantor Purbakala.</p>
<p style="text-align: justify;">Pastilah, masing-masing Brutuis, untuk menyebut aktifis Bol Brutu, seperti juga ditulis Hairus Salim, salah seorang Brutuis, mempunyai imajinasi yang berbeda, dan masing-masing memiliki interes yang tidak sama. Namun kesediaannya untuk blusukan ‘mengungjungi’ situs-situs yang dilupakan adalah sesuatu yang ‘menakjubkan’. Karena lokasi situs, seringkali tidak mudah ditempuh, dan Brutuis tidak segan-segan menghampiri dan memotretnya. Dalam kata lain, para Brutuis, dengan blusukan menemukan situs-situs, seperti sedang mengungjungi satu peradaban masa lalu, yang tidak pernah dialami, tetapi simbol-simbolnya, meski berupa puing-puing, masih bisa dilihat. Para Brutuis seperti sedang mempelajari sejarah bangsanya yang terserak dibanyak lokasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat foto-foto situs yang dipamerkan oleh Bol Brutu. Kita membayangkan, di lokasi situs, selalu tidak berhenti terdengar suara: klik! klik! dari kamera digital yang mereka bawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Pembukan pameran Bol Brutu yang disertai hujan deras dan Brutis tidak henti-hentinya saling klik! klik!.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, agaknya, password dari Brutis, adalah klik!</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ons Untoro </em>(<a href="http://www.tembi.net/id/news/beritabudaya/hasil-berburu-batu-dari-bol-brutu-2104.html"><em>taken from here</em></a>)</p>
</blockquote>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Flaurentiadewi.com%2Fpameran-foto-bol-brutu-sangkring-art-space-yogyakarta-how-brutu-are-you-brutu-sekaleee&amp;t=Pameran%20Foto%20Bol%20Brutu%20%28Sangkring%20Art%20Space%20Yogyakarta%29%3B%20How%20Brutu%20Are%20You%3F%20Brutu%20Sekaleee%21%21%21" id="facebook_share_button_12158" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; display: -moz-inline-block; display:inline-block; padding:1px 20px 0 5px; margin: 5px 0; height:15px; border:1px solid #d8dfea; color: #3B5998; background: #fff url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top right;">Share</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_12158') || document.getElementById('facebook_share_icon_12158') || document.getElementById('facebook_share_both_12158') || document.getElementById('facebook_share_button_12158');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_12158') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	<div class="tweetthis" style="text-align:left;"><p> <a class="tt" href="http://twitter.com/intent/tweet?text=Pameran+Foto+Bol+Brutu+%28Sangkring+Art+Space+Yogyakarta%29%3B+How+Brutu+Are+You%3F+Brutu+Sekaleee%21%21%21+http%3A%2F%2Flaurentiadewi.com%2F%3Fp%3D12158+%28via+%40laurentiadewi%29" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://laurentiadewi.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/en/twitter/tt-twitter-micro3.png" alt="Post to Twitter" /></a></p></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laurentiadewi.com/pameran-foto-bol-brutu-sangkring-art-space-yogyakarta-how-brutu-are-you-brutu-sekaleee/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bol Brutu (Gerombolan Pemburu Batu) Bagi Laurentia Dewi</title>
		<link>http://laurentiadewi.com/bol-brutu-gerombolan-pemburu-batu</link>
		<comments>http://laurentiadewi.com/bol-brutu-gerombolan-pemburu-batu#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 17:39:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>laurentiadewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALL]]></category>
		<category><![CDATA[INTERESTING THING]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laurentiadewi.com/?p=12198</guid>
		<description><![CDATA[Namanya yang unik, sering menggelitik banyak orang untuk minimal mbatin, &#8220;Apa sih Bol Brutu itu?&#8221;. Secara &#8216;resmi&#8217;, deskripsi mengenai Bol Brutu adalah demikian (seperti yang tertulis di facebook &#8216;resmi&#8217; Bol Brutu): BOL BRUTU &#8211;akronim dari geromBOLan pemBuRU baTU&#8211; merupakan kumpulan &#8230; <a href="http://laurentiadewi.com/bol-brutu-gerombolan-pemburu-batu">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Namanya yang unik, sering menggelitik banyak orang untuk minimal mbatin, &#8220;Apa sih Bol Brutu itu?&#8221;. Secara &#8216;resmi&#8217;, deskripsi mengenai <strong>Bol Brutu</strong> adalah demikian (seperti yang tertulis di <a href="http://www.facebook.com/groups/135387239853364/">facebook</a> &#8216;resmi&#8217; Bol Brutu):</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">BOL BRUTU &#8211;<em>akronim dari gerom</em><strong><em>BOL</em></strong><em>an pem</em><strong><em>B</em></strong><em>u</em><strong><em>RU</em></strong><em> ba</em><strong><em>TU</em></strong>&#8211; merupakan kumpulan beberapa orang yang menyukai blusukan atau jalan-jalan ke situs-situs, candi-candi, makam-makam, dan bangunan-bangunan tua. Satu-satunya kesukaan bersama kita yang gak berhubungan langsung dengan batu adalah kita juga suka kuliner bersama.<span id="more-12198"></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Namun penjelasan yang lebih panjang lebar, berhasil aku dapatkan dari blog salah satu sesepuh (yang belum sepuh) Bol Brutu, Pak Cuk Riomanda:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tentang GEROMBOLAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Gerombolan dipilih karena memang sejak awal kita suka bergerombol, <em>ngruntel koyo mbako</em>, untuk melakukan perjalanan bersama. Gerombolan dipilih karena BOL BRUTU bukan institusi resmi yang mempunyai visi dan misi tertentu, selain bahwa kita berbagi keceriaan, kebahagiaan, keindahan di Batu-batu yang kami datangi. Gerombolan ini sifatnya terbuka buat siapa saja, dari golongan apa saja … baik yang memiliki agama maupun yang baru memikirkan untuk akan beragama. Gerombolan ini memilih Media Visual, Teks dan Facebook sebagai alat pemersatu.</p>
<p style="text-align: justify;">BOL BRUTU, semua yang terlibat didalamnya memiliki posisi yang (relatif) setara. Jadi meskipun Mahatmanto adalah seorang yang sangat menguasai soal <em>Space &amp; Place</em>, tapi yang memikirkan untuk membuat denah situs-situs di Prambanan adalah Nikko, seorang lelaki tanggung yang (waktu itu) belum lulus kuliah dan menghabiskan waktu dengan pacaran dan menjadi penjaga warnet. Putu Sutawijaya yang rumahnya <em>magrong-magrong</em> itu bahkan sering (hanya) menjadi sopir dari perjalanan-perjalanan BOL BRUTU.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebhinekaan BOL BRUTU ini begitu cair, sehingga kita kadang bisa tenggelam di dalamnya. Tenggelam dalam keceriaan, tenggelam dalam perbedaan, tenggelam dalam kecanduan, tenggelam dalam ke-<em>lebay</em>-an. Untunglah selalu ada penyelam dan perenang yang handal sehingga kita bisa relatif cukup waspada kapan harus <em>slulup</em> kapan harus <em>mecungul</em>. Intinya, keanekaragaman individu itu bisa cukup saling mengisi dan membuat BOL BRUTU tetep cihuy</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tentang CITRA dan IDENTITAS</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Mengingat sifatnya sebagai Gerombolan yang cair dengan kebhinekaan individu maka cukup sulit untuk melakukan Identifikasi BOL BRUTU dalam pencitraan seperti yang dibayangkan oleh Eriksen (1993: 117-118) yang mengatakan bahwa identitas dibangun dari seleksi dengan batasan yang bersifat semena-mena, hanya dari satu bentuk budaya yang dianggap sangat penting dan dapat mewakili secara keseluruhan. Melihat hal itu, dapat dilihat bahwa bagaimanapun juga, citra kolektif pun dibentuk oleh sekelompok orang. Citra kolektif tergantung pada subyektifitas. Eriksen juga mengatakan bahwa identitas selalu dibangun berdasarkan legitimasi sebuah bentuk lembaga yang berkepentingan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa bermaksud menggugat maksud baik, percobaan yang dilakukan pada akun Twitter BOL BRUTU yang dikelola oleh perorangan. Para pandemen BOL BRUTU ternyata memiliki kesadaran kolektif akan sebuah Identitas ke-BOL BRUTU-an dan kurang setuju atas tafsir tunggal tentang ke-BOL BRUTU-an. Kenneth Boulding (1972: 41-51) menyatakan citra sebagai sebuah bentuk pengetahuan subyektif. Dari sudut pandang individu citra merupakan gabungan informasi dari pribadi individu serta pengetahuan budaya dari masyarakat atau publik. Salah satu bagian dari citra adalah sejarah terbentuknya citra itu sendiri, sebuah proses munculnya kesadaran tentang citra. Pada gilirannya, ketika sekelompok manusia berbagi citra yang sama maka rangkaian pesan-pesan yang diterima dalam membangun citra adalah identik, sehingga sistem nilai dari semua individu harus dilihat secara identik. Kasus atas akun Twitter BOL BRUTU adalah bagian dari sejarah kesadaran kolektif tentang pencitraan identitas dari BOL BRUTU.</p>
<p style="text-align: justify;">BOL BRUTU memilih untuk berada di (ruang) aktivitas dokumentasi situs-situs marjinal serta (sekali lagi) berbagi keceriaan. BOL BRUTU tidak memilih berada di ruang-ruang yang sudah menjadi pilihan “gerombolan yang lain” seperti BP3, Aktivis Heritage (resmi), Balai Arkeologi dan sejenisnya, bahwa individu-individu di BOL BRUTU punya concern kesana itu sah dan sangat bagus. Namun perlu diingat, seperti yang pernah diungkapkan oleh Putu Sutawijaya pada MY-MAGZ:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“BOL BRUTU bukan komunitas berat yang mempelajari secara detail atau anggotanya harus hafal betul mengenai sejarah. Kami hanyalah orang-orang yang punya imajinasi sendiri tentang apa yang kami temui dan kami semua suka berpetualang”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ungkapan Putu Sutawijaya tersebut bisa dipahami bahwa BOL BRUTU selalu mengakomodasi fantasi-fantasi personal, sekalipun sudah terbangun kesadaran pengetahuan kolektif akan identitas BOL BRUTU.</p>
<p style="text-align: justify;">Ken Plumer (1994: 271) mengungkapkan bahwa identitas merupakan proses penamaan atau penempatan diri di dalam suatu kategori atau konstruksi sosial tertentu. Identitas sendiri juga merupakan sebuah konstruksi sosial, dalam arti kita mengekspresikan diri kita yang bisa diterima oleh orang “lain” dalam menilai identitas diri kita sendiri . Konsep identitas ini muncul ketika sesuatu hal berhadapan dengan sesuatu hal yang lain. Identitas kemudian merupakan sebuah batasan dalam rangka membedakan diri dengan yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun demikian, saya meyakini bahwa Identitas yang dibangun atas kesepakatan pengetahuan bersama dan kesadaran kolektif ini sifatnya akan negosiabel, karena semua individu yang aktif di BOL BRUTU memiliki kontribusi setara dalam membangun Citra Identitas BOL BRUTU, kemarin, sekarang dan esok (<em><a href="http://ziarah-visual.blogspot.com/2011/11/alkisah-tentang-2-tahun-bol-brutu.html">taken from here</a>).</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Bol Brutu, memiliki logo yang khas yang sepertinya kini mulai nampang disana sini. Dengan menggotong <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gana">Gana</a> sebagai pemeran utama, perkenalkan (untuk yang belum kenal).. inilah logo Bol Brutu:</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12223" title="Logo BOL BRUTU (Courtesy of Kris Budiman), taken from: http://ziarah-visual.blogspot.com/2011/06/bahaya-budaya-visual-refleksi-atas.html" src="http://laurentiadewi.com/uploads/bb2.jpg" alt="" width="304" height="335" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tentang GANA dan BOL BRUTU</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Logo GANA hadir lebih dulu daripada nama “BOL BRUTU”, logo yang merupakan hasil pertapaan Kris Budiman di Candi Morangan selama beberapa abad. Ini kesaksiannya:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Kalo kita pake logo gana bisa seolah-olah lebih &#8220;filosofis&#8221;, Cuk&#8230; biar ketok serius. Figur gana bisa kita reka-reka sebagai misi gerombolan yg seakan-akan mulia: menopang atau menyokong segala upaya yg berkaitan dgn preservasi atau whatever, entah candi atau bangunan2 dan segala macam peninggalan bersejarah yg lainnya. Lagi pula, secara fisik si gana itu lutuna ruar binasa. Dia gemuk-bujel, posenya jongkok seakan bengis, badannya kuntet mangkulangit&#8230; belum ada simbol lain yg lebih tepat untuk gerombolan kita, keknya, selain si dewa cebol ini.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sementara melalui berbagai diskusi ceria yang melibatkan Rafael, Putu Sutawijaya, Davina Anggraini, Mas Ayu Kumala Yulia, Mahatmanto, Kris Budiman dan diriku, maka pada Maret 2010 terpilihlah &#8220;BOL BRUTU&#8221;, kependekan dari gerom<strong>BOL</strong>an pem<strong>B</strong>u<strong>RU</strong> ba<strong>TU</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengingat makna sebenarnya dari BOL &amp; BRUTU yang merujuk pada organ pembuangan, serta juga GANA yang kurang popular dibanding Arca Dewa-Dewi lainnya. Secara filosofis “<em>othak-athik gathuk</em>”, pilihan ini sedang berusaha memberi “nilai lebih” dari sesuatu yang selama ini dianggap tidak penting, (mungkin) tabu dan (tentu saja) marjinal.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi kira-kira nama dan logo tersebut adalah dalam rangka kami melakukan aktivitas melihat dan memaknai kembali situs-situs marjinal yang selama ini terlupakan, sesuatu yang sebetulnya sudah lama dimulai oleh Risky, Pey, Agung Leak dan Jean Pascal Elbaz. Juga beberapa kelompok legendaris seperti pasukannya Landung Simatupang, Gati Andoko dan kawan-kawan yang melakukannya sejak Ringroad belum ada, atau rombongan para pertapa antro seperti Danu, Margono, Engel dan sejenisnya (<em><a href="http://ziarah-visual.blogspot.com/2011/11/alkisah-tentang-2-tahun-bol-brutu.html">taken from here</a></em>).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Dan aku, dengan bangga, menyebut bahwa diriku ini adalah seorang &#8220;Brutuwati&#8221; (cewe, pengikut &#8216;aliran&#8217; Bol Brutu), haha.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah bagaimana kisahnya, kok aku bisa &#8216;terseret&#8217; dalam perkumpulan hangat ini (yang namanya kumpul2 itu bikin hangat, ya to?). Seingatku nih, tiba-tiba Pak Cuk Riomanda sudah duduk manis di daftar friend list-ku (sekali lagi ingatlah, ikke ini penderita &#8220;short term memory lost&#8221;). Kemudian, aku sering &#8216;panas&#8217; dibuatnya!</p>
<p style="text-align: justify;">Eits, panasnya bukan karena hobinya pake sesuatu yang serba merah dari kepala sampe kaki itu loh, haha! Tapi karena postingannya di Facebook yang &#8216;ga sopan&#8217; dan terus-terusan itu (_ _!!). Gile. Yang bener aja, yah.. Pak Cuk ini ga henti-hentinya upload status dan (terutama) foto mengenai candi, candi, candi, makam tua, candi, masjid, gereja, prasasti, candi, makam, makan, makam, makanan, trus candi lagi, wuih?!!</p>
<p style="text-align: justify;">Rasanya orang ini kok nemuuu aja tempat2 &#8216;aneh&#8217; yang jarang, atau bahkan belom pernah aku dengar namanya. Orang ini kok ga abis-abis yah, tenaganya. Orang ini kok ga takut yah (padahal aku sering nakut2in pake komen sok mistik di foto-fotonya, tapi yang takut malah istrinya, haha). Sedangkan aku nih, pengen ke candi aja susah bener. Selain Jawa Timur candinya tidak sebanyak daerah Yogyakarta dan sekitarnya, waktu buat blusukannya juga jarang ada <em>*sok sibuk*</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, nampaknya &#8216;panas hatiku&#8217; ini tertangkap jelas oleh Pak Cuk. Dan bukannya ngebantu bikin adem, eh, aku malah &#8216;diseret&#8217; nyebur tungku: masuk ke Bol Brutu yang postingan mengenai situs purbakala, makam, makanan, museum dan tempat2 ibadah bersejarah-nya ga abis-abis.</p>
<p style="text-align: justify;">Pikirku waktu itu, &#8221; Group apa to ini, kok rame bener? Notifnya ga berhenti-berhenti&#8221;. Abis diamati diem-diem, wealah.. ternyata group ini isinya &#8220;Sekumpulan Pak Cuk&#8221;, gitu.</p>
<p style="text-align: justify;">Gemes kan, jadinya? 1 Pak Cuk aja sudah nggemesi, lha ini ada 200an Pak Cuk! Haha!</p>
<p style="text-align: justify;">Gara2 dasarnya suka &#8216;pamer&#8217; (foto) dan melihat bahwa &#8216;pamer&#8217; (foto) adalah sesuatu yang normal dan disukai di group tersebut, wah, aku jadi sregep blusak-blusuk kesana kemari. Foto yang banyak, kemudian yang paling bagus diposting di wall group mereka. Puas! Hihi, apalagi kalo ada yang meraung sambil garuk-garuk aspal, pengen ke tempat yang tadi aku pamerkan. Yeah <em>*nyengir setan*</em>. Jahat? Biarin! Emang enak, gatel blusukan sendiri?</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu-dulu nih, kalo ada orang lihat aku ngedit foto candi, kemudian lutut baret-baret karena kegores batu, kulit gosong sampe belang belonteng, aku dikomentari &#8220;Kamu ini perempuan kok hobinya aneh, ke mall gitu kek, lha ini kok ke candi2, museum. Aneh!&#8221;. Eh, di Bol Brutu, yang tipe2 ajaib sepertiku ini adalah yang mereka bilang normal! Bahagiaaa, deh!</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu, kalo ke Jakarta, nginep dirumah orang yang baik hati dan dermawan. Biasanya, kita ditawari mobil gratisan komplet dengan sopir. Dan malamnya, si orang baik ini akan menanyakan jadwal / rencanaku untuk keesokan hari. Nih orang sampe hafal, &#8220;Dewi kalo hari pertama ke museum, kan? Jam 8 mulai jalan ya? Biar sopir stand by disini jam 7 pagi, OK?&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa dipastikan tak lama kemudian akan terdengar &#8216;gerutuan&#8217; beberapa orang yang mengetahui jadwalku, &#8220;Lu itu ya! Aneh lo, apanya yang dilihat, batu-batu gitu&#8221;. Dan pujianku terhadap batu2 itu dijamin akan membuat wajah orang-orang itu berlipat-lipat penuh krenyitan. Kasian kan mereka2 kalo wajahnya jadi pada mengalami penuaan dini karena mendengar pujian2ku terhadap batu? Padahal mereka-mereka itu bela2in ikut perawatan wajah yang harganya juta-jutaan loh, haha. Jadi, biasanya aku diem aja sambil cengar-cengir.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, di Bol Brutu, aku bebas memuji batu2 candi, seperti wanita-wanita sosialista memuji tas Hermes atau bodi badan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Taylor_Lautner">Taylor Lautner</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">Mamiku sendiri, Mamiku yang cantik dan super penyabar plus maha pengertian, mau loh diajakin mblusuk (lebih tepatnya: mengantar!). Sesampainya ditempat, biasanya si Mami ambil koran atau majalah, duduk dibawah rimbunan pohon, ngeliatin anaknya petakilan, meraba-raba batu, ngoceh dengan penjaga candi, foto-foto sampe kamera loyo. Tapi walau begitu, aku tahu kok, didalam hatinya dia mbatin (setelah cape berulang kali ngoceh), &#8220;Anakku ini aneh, batu gitu apanya yang dilihat! Sudah pernah dilihat kok ya didatangi lagi, wong batunya ituloh ga pindah&#8221;. Tapi namanya sayang anak, ya gimana lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, saat kumpul Bol Brutu, Mamiku jadi merasa bahwa anaknya waras (setelah dia melihat ternyata yang &#8216;seaneh&#8217; anaknya tuh ternyata banyak, haha!). Lega deh, dia. Apalagi setelah melihat anggotanya Bol Brutu lucu-lucu, hahaha.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan setelah Googling mengenai beberapa nama orang-orang anggota Bol Brutu, waduh, ternyata super bervariasi, yah! Ada yang artis, pembawa acara, dosen, seniman, pegawai, ibu rumah tangga, dosen, mahasiswi, peneliti, bahkan anak-anak dan banyak lagi! Saat di Bol Brutu, mereka seakan-akan melepas semua jabatan, ketenaran, pangkat, agama, suku, ras. Mereka, mau yang kulit hitam, coklat, kuning, putih, merah, belang (abis blusukan.. haha!), adalah satu jenis.</p>
<p style="text-align: justify;">Jenis pecinta blusukan, pecinta budaya, pecinta batu, pecinta makam tua, pecinta museum, juga pecinta makan (jangan heran kalo diskusi tentang arca, ujung-ujungnya bisa bahas cooking class <em>*nyindir Erson.. haha*</em>, lemang, duren, duh.. serba makanan deh pokoknya) haha!</p>
<p style="text-align: justify;">Senang, saat semua perbedaan itu bisa disatukan karena penyakit &#8220;kecanduan mblusuk&#8221;. Senang rasanya, saat perbedaan dinilai sebagai sesuatu yang plus. Jadinya, kita bisa duduk bersama, berjabat tangan, blusukan, keringetan, narsis-narsisan, ejek-ejekan, kritik-kritikan, diskusi dan (selalu) dibarengi tawa, bahkan bisa jadi diakhiri dengan pelukan. Senang, saat budaya yang berbeda dihargai, bahkan ikut mereka nikmati.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12233" title="Haduh, malu ngeliat foto ini, haizzzh.. (_ _!!)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/art-19.jpg" alt="" width="518" height="352" /></p>
<p style="text-align: justify;">Oalah, Bol Brutu, senang rasanya menjadi bagianmu.</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align: justify;">“Bahaya” Budaya Visual: Refleksi atas Setahun BOL BRUTU</h2>
<p style="text-align: justify;">Semalam berdiskusi dengan sahabat dari negeri matahari terbit mengenai “berbahaya”-nya <em>Visual Culture</em> apalagi dengan pemutakhiran ruang <em>social networking</em> macam <em>Facebook, Twitter, Blogspot</em> dan lainnya yang mungkin dulu belum sempat dianalisa mendalam oleh Roland Barthes atau Susan Sontag. Saya belajar banyak karena sahabat tersebut sangat mumpuni untuk menjelaskan soal<em>Visual Culture, Privacy</em>, Regulasi ataupun <em>Hidden Impact</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejujurnya ini merupakan diskusi lama yang selalu hadir sejak saya mencuri dengar dari PM Laksono di kelas ETNOFOTOGRAFI. ”Melalui kamera, sepersekian detik sesungguhnya telah terjadi pembunuhan atas subyek menjadi sebingkai potret. Di kelas itu pula diskusi soal <em>the Author is Dead</em> hadir melalui wacana “<em>out of frame</em>” bahwa foto tertentu dapat memancing diskusi yang lebih luas dan tak terkontrol. Mendiskusikan soal tersebut kemudian dianggap lebih berfaedah daripada sekedar diskusi soal <em>ISO, Speed</em> atau <em>Diafragma</em> meski tanpa pengetahuan teknis memadai, proses <em>Camera Obscura</em> dan <em>Camera Lucida</em> bisa jadi gagal.</p>
<p style="text-align: justify;">Meyakini “ke-berbahaya-an” <em>Visual Culture</em> dan melihat Kamera sebagai “alat kuasa”, kawan-kawan seperti KAMPUNG HALAMAN atau ETNOREFLIKA kemudian bahkan “memberikan” kesempatan menjadi “penguasa visual” kepada “orang biasa”. Menampilkan sesuatu dalam bingkai visual tak lagi menjadi dominasi otoritas tertentu, semua pihak berhak mem-visual-kan otobiografinya sendiri. Antropolog yang baik tak hanya bekerja dengan <em>Liyan</em> tapi juga mestinya bekerja untuk <em>Liyan</em>.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Gerombolan Pemburu Batu (BOL BRUTU)</strong>, setahun terakhir secara <em>sporadis </em>mendatangi berbagai tempat bersejarah maupun tempat dengan kisah tersembunyi serta kemudian secara bertubi-tubi pula mengabarkan hasilnya, salah satunya melalui <em>Facebook</em>. Respon cukup variatif akan kenarsisan kami dari aktifitas yang sudah nyandu ini: <strong>Nyandi itu Nyandu!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa perlu diingatkan sesungguhnya kami merasa gelisah, terutama mengenai <em>Privat-Publik</em> maupun Respek terhadap kepercayaan setempat. Kami akan menutup lensa kamera di lokasi-lokasi yang memang dilarang untuk dipotret, dan kami juga akan berusaha tak <em>mengaplot</em> hal yang sifatnya sangat pribadi. Sesekali kami terpeleset, sesekali kami juga nekat karena alasan tertentu.</p>
<p style="text-align: justify;">Museum memiliki regulasi tiket dan di beberapa museum dilarang untuk memotret. Situs-situs yang pernah di datangi BOL BRUTU ada yang seperti museum, ada yang tidak. Pertanyaan lanjutannya, bagaimana jika tak semua orang baik-baik yang mengakses Ziarah Visual dari BOL BRUTU tetapi juga para ”maling benda heritage”? Apakah itu kemudian menjadi tanggung jawab BOL BRUTU? Menurut saya, memang cukup naif jika menganggap kami menjadi sumber informasi utama, mengingat paman Google menyediakan informasi yang lebih luas (termasuk untuk kami).</p>
<p style="text-align: justify;">Boleh tidaknya kami mem-publik-kan koleksi museum atau situs-situs insitu memang akan menjadi debat panjang. Pada titik tertentu isu soal ”kelas” bisa saja muncul, tak semua orang bisa dengan mudah mengakses Museum atau Situs Insitu, regulasi dari “rezim intelektual menengah atas” membatasinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Putu Sutawijaya ke Paris beberapa waktu lalu, saya (yang tak pernah punya paspor ini) berharap dapat ikut menyaksikan koleksi museum atau situs disana melalui mata kamera beliau. Ironis juga bahwa untuk mengetahui sejarah negeri kita sendiri, kita harus ke Leiden.</p>
<p style="text-align: justify;">Contoh yang lain: arkeolog Indonesia bahkan tak sempat meneliti Candi Cebongan dan prasasti-nya selain melalui studi pustaka. Sebaliknya, tanpa kita mem-publik-kan ziarah visual BOL BRUTU, pencurian dan perusakan di museum dan situs-situs telah terjadi sejak jaman sepur lempung. Jadi mestinya ke-(peng)-tahu-an ini bisa aksesibel untuk semua: Inklusif!</p>
<p style="text-align: justify;">Maksud baik kami adalah sepenuhnya untuk mempermudah akses informasi untuk para sahabat kami, <em>sokur-sokur</em> pihak yang berwenang kemudian memperbaiki fasilitas maupun keamanan di lokasi-lokasi yang terlihat rawan di foto-foto kami. Gola Gong di Balada Si Roy, kira-kira mengatakan: ”orang jahat akan selalu mengintai”, tapi ia juga mengatakan bahwa ”Orang baik ada dimana-mana”.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya terbiasa mengatur ”Hanya Teman” untuk semua album foto di facebook, memilih hanya 100 orang dari 1000 teman yang bisa melihat sama artinya dengan saya meyakini 900 teman yang lain berpotensi jadi ”maling”.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, bolehkah soal maling dan sekuritas itu tak menjadi beban BOL BRUTU? Jika Maksud Baik dan Prasangka Baik tak lagi cukup, apakah kami harus Berhenti? Saya masih ingat juga quotes dari Pak Laksono ”Mengingat untuk Melupakan”.</p>
<p style="text-align: justify;">Di usia yang setahun ini, kami sangat terbuka dengan segala kemungkinan dan masukan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>(BOL BRUTU merupakan akronim dari </em><strong><em>Gerombolan Pemburu Batu</em></strong><em>, sekelompok manusia yang bertemu di Facebook dan memiliki hobi untuk mendatangi situs-situs bersejarah, terutama situs-situs marjinal yang lama terlupakan. Beberapa orang tergabung untuk jalan bersama yang dilakukan secara rutin hampir setiap bulan di seputaran DIY &#8211; Jateng, beberapa yang lain mengapresiasi melalui foto-foto dan catatan yang ditampilkan di Facebook).</em></p>
<p style="text-align: justify;">Cuk-Jogjakarta, 7 Oktober 2010 (3 hari menjelang milad BOL BRUTU).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">RRI Jogya juga menuliskan deskripsinya mengenai Bol Brutu:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://rrijogja.co.id/berita/nasional/berita-budaya/995"><strong>RRI-Jogja News</strong></a>, Bol Brutu sendiri sebagai komunitas yang menggemari aktivitas <em>blusukan</em><strong> </strong>atau menelusuri situs-situs purbakala, candi-candi, makam-makam kuno, masjid-masjid tua, bangunan-bangunan kolonial, mengabadikannya untuk kemudian ditampilkan melalui jejaring social <em>facebook</em>, dilanjutkan dengan obrolan, diskusi sehingga muncul ide untuk menampilkan karya-karya mereka dalam suatu pameran.</p>
<p style="text-align: justify;">Komunitas Bol Brutu kini memiliki 250 anggota tersebar di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Magelang, Solo, Semarang, Kudus, Mojokerto, Malang, Surabaya, Lumajang, Blitar, Denpasar, Sumatera hingga ke beberapa negara seperti Jepang, Jerman dan Amerika (<a href="http://rrijogja.co.id/berita/nasional/berita-budaya/995"><em>taken from here</em></a>).</p>
</blockquote>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Flaurentiadewi.com%2Fbol-brutu-gerombolan-pemburu-batu&amp;t=Bol%20Brutu%20%28Gerombolan%20Pemburu%20Batu%29%20Bagi%20Laurentia%20Dewi" id="facebook_share_button_12198" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; display: -moz-inline-block; display:inline-block; padding:1px 20px 0 5px; margin: 5px 0; height:15px; border:1px solid #d8dfea; color: #3B5998; background: #fff url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top right;">Share</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_12198') || document.getElementById('facebook_share_icon_12198') || document.getElementById('facebook_share_both_12198') || document.getElementById('facebook_share_button_12198');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_12198') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	<div class="tweetthis" style="text-align:left;"><p> <a class="tt" href="http://twitter.com/intent/tweet?text=Bol+Brutu+%28Gerombolan+Pemburu+Batu%29+Bagi+Laurentia+Dewi+http%3A%2F%2Flaurentiadewi.com%2F%3Fp%3D12198+%28via+%40laurentiadewi%29" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://laurentiadewi.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/en/twitter/tt-twitter-micro3.png" alt="Post to Twitter" /></a></p></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laurentiadewi.com/bol-brutu-gerombolan-pemburu-batu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Putu Sutawijaya; Lah? Pelukis Terkenal, To? Haha!</title>
		<link>http://laurentiadewi.com/putu-sutawijaya-lah-pelukis-terkenal-to-haha</link>
		<comments>http://laurentiadewi.com/putu-sutawijaya-lah-pelukis-terkenal-to-haha#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 11:46:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>laurentiadewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALL]]></category>
		<category><![CDATA[INTERESTING THING]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laurentiadewi.com/?p=12182</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa judulnya begitu? Karena ada ceritanya! Gini.. hehe. Pas akhirnya nyampe di Sangkring Art Space dengan susah payah *lebay*, dihalaman depan, aku bertemu dengan Pak Cuk Riomanda, sesepuh Bol Brutu, tersenyum dengan kostum kebesarannya! Merah booo, dari kepala sampe kaki. Byuh! &#8230; <a href="http://laurentiadewi.com/putu-sutawijaya-lah-pelukis-terkenal-to-haha">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;">
<p>Kenapa judulnya begitu? Karena ada ceritanya!</p>
<p>Gini.. hehe. Pas akhirnya nyampe di <a href="http://laurentiadewi.com/sangkring-art-space-yogyakarta-galeri-seni-yang-keren">Sangkring Art Space</a> dengan susah payah <em>*lebay*</em>, dihalaman depan, aku bertemu dengan Pak Cuk Riomanda, sesepuh <a href="http://laurentiadewi.com/bol-brutu-gerombolan-pemburu-batu">Bol Brutu</a>, tersenyum dengan kostum kebesarannya! Merah booo, dari kepala sampe kaki. Byuh! Tapi yang pasti, aku ga pernah merasa selega itu, bertemu Pak Cuk, hahahaha!!! Oleh-oleh se-kresek <del>gede</del> pun segera dioper. Lalu aku jalan, mengikuti Pak Cuk yang &#8216;menuntun&#8217; kita masuk.</p>
<p>Tapi Pak Cuk ini kayanya punya ilmu ringan tubuh, deh? Lha bodinya seperti ga injak tanah! Jalannya enteng banget, trus cepet. Jadi aku yang masih sempet lirik2 bentar ke tembok sepanjang jalan masuk Sangkring Art Space (yang penuh foto!), jelas ketinggal jauh, jauh dan makin jauh. Sampai akhirnya tinggallah aku dan rombongan, tolah toleh seperti anak ayam kehilangan bapak, haha (padahal Bapaknya ituloh gede dan mencolok!).</p>
<p>Pas lagi bego2nya, tolah toleh ga jelas diantara kerumunan orang yang wajahnya antara aku kenal dan tidak (lha wong foto di FB dan kenyataan, bedanya langit dan bumi semua, haha!), tiba-tiba ada orang, laki-laki, kulitnya agak gelap, berkaos hitam pake logo Bol Brutu, keluar dari kegelapan (pula) dan teriak, &#8220;Loorensiaaaa!!!!&#8221;.<span id="more-12182"></span></p>
<p>Uhuk uhuk???</p>
<p>Otak langsung dipaksa mikir, mengenali sosoknya. Gagal. Mata refleks menyipit, berharap retina fokus di wajah dan ada bagian dari wajah itu, yang dikenali otak.  Tapi telat. Orang itu udah sangat dekat jaraknya dan langsung ngajak salaman, padahal otak belum berhasil mengenali. Tangannya gede tapi salamannya ga <em>mrekes *laik dhis, yo!*</em> dan yang pasti, HANGAT! Yeah, ikke kan baru kena ujan dan AC mobil, haha!</p>
<p>Abis tanganku &#8216;shake&#8217; beberapa kali dan aku masih blo&#8217;on, sosok ini bilang, &#8220;Saya Putu! Terima kasih ya sudah datang, bla bla, yang lainnya diatas semua tuh, ayo sini, kamu ikut saya, bla bla bla&#8221;.</p>
<p>Wah, aku kacantol deh. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, aku ikutin dia naik ke lantai 2 sambil didalam hati ngomel ke Pak Cuk, &#8220;Pak&#8217;e ini dimana to? Kok ditinggal bla bla&#8221;. Dan eh, si merah ternyata sudah duduk selonjoran diatas, hahaha (jangan-jangan dugaanku bener, Pak Cuk punya ilmu ringan tubuh!). Dan Pak Putu, kembali bersuara &#8220;Kamu tiba kapan? Tempatnya sudah siap kok tidak dipakai, bla bla&#8221;.</p>
<p>Setelah Pak Putu sibuk dengan yang lain dan saya ngobrol dengan Pak <a href="http://haisa.wordpress.com/about/">Hairus Salim</a>, saya senggol-senggol Pak Hairus, cari bocoran <em>*nyengir*</em>. Saya bilang, &#8220;Pak, Pak Putu itu siapa? Namanya kok familiar, saya tahu dia pelukis, yang punya Sangkring Art Space, tapi.. wow, Sangkring keren gini, Pak Putu ini pelukis apa yang bagaimana???&#8221;, haha. Sorry Pak Putu, Pak Hairus, (tinggi badan) saya kan masih anak-anak, jadi ya agak polos gitu <em>*halah*</em> (bahasa lainnya: ceplas ceplos ga mikir).</p>
<p>Lalu Pak Hairus, memberi pencerahan sedikit, yang harus aku puaskan melalui Mas Google. Dan setelah ngublek Google agak lama (yeah, Pak Putu ini terlalu low profile! Pelukis hebat kok profile-nya ga banyak diumbar, wekekek..), akhirnya ada 1 artikel mengenai Pak Putu:</p>
</div>
<blockquote>
<div style="text-align: justify;">
<h2></h2>
<h2>Putu Sutawijaya</h2>
<p>February 25, 2010 by <a href="rustikaherlambang.wordpress.com/2010/02/25/putu-sutawijaya/">Rustika Herlambang</a></p>
</div>
<h2 style="text-align: justify;"><a href="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2010/02/06.jpg"><img title="Putu Sutawijaya by Wahyu Tantra" src="http://rustikaherlambang.files.wordpress.com/2010/02/06.jpg?w=300&amp;h=237" alt="Putu Sutawijaya by Wahyu Tantra" width="300" height="237" /></a></h2>
<h2 style="text-align: justify;"></h2>
<h2 style="text-align: justify;">Membaca Teks yang Tersamar</h2>
<p style="text-align: justify;">Untuk mengenal ia secara dekat, lihatlah karya-karyanya, lalu terjemahkan kode-kode yang disiratkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Putu Sutawijaya benar-benar sedang mencari “sayap” ketika karya Looking for Wings (2002) tercipta. Namun “sayap” baru ditemukan lima tahun kemudian, tatkala sebuah ketukan palu menandai terjualnya karya tersebut di balai lelang Sotheby’s dengan harga fantastis. Para pengamat seni rupa mengatakan bahwa peristiwa yang sering disebut sebagai Insiden Mei 2007 ini telah menjadi pemicu ledakan seni rupa kontemporer Indonesia di Asia Tenggara. Indonesia pada akhirnya diperhitungkan sebagai surga baru perburuan seni kontemporer, bersaing dengan Cina dan India.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak itulah namanya bertengger di jajaran seniman kelas atas Indonesia. Karya-karyanya terus diburu, membuat hari-harinya semakin padat belakangan ini. Ditemui pada sebuah pagi di sebuah lounge hotel di Semarang pertengahan Januari lalu, ia berkisah tentang perjalanan hidupnya. Segelas kopi hitam, rokok, topi Pandora, dan suasana lengang, sepertinya membuat ia nyaman. Ia memulai cerita dengan kesimpulan yang dibuatnya sendiri: “Kupikir keberhasilan ini bukan karena faktor untung-untungan (luck). Tapi efek dari kerja keras baik secara fisik dan emosional. Ada usaha dan energi yang dibangun lama.Tidak seketika ada di sini.”</p>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan itu dimulai sejak lebih dari 30 tahun lalu di Tabanan, Bali. “Terus terang, aku jatuh cinta pada seni pada awalnya karena cemburu. Cemburu pada teman-teman sekolah yang selalu dikirim ke mana-mana untuk ikut lomba gambar. Mereka seperti selalu menjadi pusat perhatian,” katanya – seolah membaca dirinya sendiri dari teropong masa depannya kini. Kala itu ia beranggapan bahwa bila dirinya memiliki kemampuan menggambar yang merupakan bagian dari tradisi Bali pasti akan sangat membanggakan. Sayangnya, ia tidak dilahirkan dalam keluarga seniman. Ayahnya pegawai dan juga seorang petani. Ibunya pedagang, pemilik toko kelontong. Ia anak sulung dari empat bersaudara.</p>
<p style="text-align: justify;">Perasaan cemburu itulah yang memicunya belajar menggambar habis-habisan. Untungnya, ia datang dari keluarga berkecukupan sehingga kebutuhan kertas dan cat air dengan mudah didapatkan. “Apa yang dilakukan teman-temanku itu kuikuti terus,” ujarnya. Mungkin karena berbakat, dalam waktu singkat ia sudah bisa menyamai kepandaian teman-temannya tersebut. “Aku seperti disadarkan bahwa kebisaan menggambar itu terjadi karena dibiasakan,” katanya. Lalu dengan jujur berkata, “Sebenarnya, aku sangat lemah di mata pelajaran lain. Terutama Matematika. Pelajaran seni-lah satu-satunya yang menyelamatkanku. Ini menyangkut masalah harga diri.”</p>
<p style="text-align: justify;">Keputusan ini memang tidak mudah. Di tengah eforia jurusan-jurusan yang dianggap bermasa depan cerah seperti teknologi atau akutansi, pilihan menjadi seniman seperti menyudutkannya bak manusia asing (alien) di komunitas keluarga besarnya. Di satu sisi ia merasa beruntung memiliki sosok nyata seniman (full time artist) sukses, seperti Nyoman Gunarsa, Made Budhiana, serta Made Djirna yang bisa menjadi panutan profesinya. “Untunglah ayahku mendukung, kendati dia curiga, apakah kelak anaknya ini mampu menghidupi dirinya sendiri,” katanya tergelak.</p>
<p style="text-align: justify;">Keyakinan ini memang sudah dibuktikan sebelumnya. Ketika masih duduk di bangku sekolah menengah, ia sudah menjual karya-karya ilustrasi wajah-wajah Indo dan oriental sebagai sampul novel ke penerbit local. Lalu ketika sudah mendapat pendidikan seni di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), ia menjual karya lukis khas Bali tradisional ke Pasar Seni Sukawati. Ia bahkan sanggup meningkatkan daya jualnya dari harga Rp.3500 hingga Rp.10 ribu rupiah di akhir tahun 80-an. “Pengalaman ini sangat penting karena semakin meyakinkan aku bahwa profesi seniman bisa menghidupi aku.” Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah ini merupakan pijakan yang harus ditempuh demi meninggalkan citra sebagai tukang gambar menuju eksistensi seorang seniman. Pengalaman estetiknya dimulai ketika ia membawa-bawa gulungan karya untuk diperlihatkan pada galeri-galeri kecil sebagai langkah awal memperkenalkan karya. “Berat sekali perasaan kita ketika menunggu satu gulungan lukisan dibuka oleh calon pembeli,”ia menghayati setiap pengalamannya. Pengalaman inilah yang pada akhirnya mewarnai perkembangan estetiknya kemudian: antara ide kreativitas dan kemauan pasar.</p>
<p style="text-align: justify;">Perjuangan untuk mendapat apresiasi juga menjadi romantika tersendiri. Ia selalu punya banyak siasat untuk “menjual” hasil karyanya. Salah satunya adalah dengan modus provokasi. “Kubilang pada pemilik galeri bahwa karya yang dipajang kurang bagus. Andai mereka mau memasang karyaku, pasti luar biasa,” katanya ketika itu dengan gaya penuh percaya diri – padahal ia sebenarnya sangat tidak percaya diri! Dia memang aktor yang hebat untuk urusan yang satu ini. Tak jarang ia rela menunggu berjam-jam di galeri menunggu pemilik menemuinya. “Sudah tebal muka ini. Syukur-syukur bisa mereka bisa membeli karya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Pernah suatu kali, ia “memaksa” pemilik galeri karena ia sudah terjepit. “Pinjami aku Rp.300 ribu, karya kutinggal. Bila karyaku tak laku, aku kembalikan uangnya,” ia menirukan gayanya ketika itu. Sukses, dan ia bisa mendapatkan uang untuk melukis dan sedikit bersenang-senang. Seminggu kemudian, pemilik galeri datang. “Aku sudah mau kabur sudah ketahuan. Terpaksa pura-pura melukis,” ia tertawa lagi. “Ternyata dia bilang bahwa lukisan sudah laku, dan dia mau meminta karya-karyaku yang lain. Sebenarnya aku ingin berteriak, tapi aku pura-pura santai. ‘nah, apa kubilang’. Ha ha ha,” ia menceritakan bagaimana akhirnya ia berhasil mendapatkan rumah baru untuk karya-karya selanjutnya di sebuah galeri di Ubud.</p>
<p style="text-align: justify;">Hidup hanya berkutat pada seni, mau tidak mau ia harus membuat karyanya diapresiasi oleh masyarakat luas. Ia pun terus membuat karya-karya baru yang berbeda dengan sudut pandang mainstream masa itu. Lagi-lagi alasannya karena rasa tidak percaya diri. ”Semua orang mampu melukis bagus dengan standar teknis. Kadang aku merasa lukisan mereka jauh lebih bagus dan aku tak mampu untuk membuatnya. Ini yang membuat aku harus bisa membuat orang melihat bahwa dengan kemampuanku yang dianggap lemah, namun orang tetap mengakui karyaku bagus,” ujarnya sambil menunjukkan eksplorasi ide yang dilakukannya. Salah satunya adalah penggunaan figur lelaki dalam karyanya – yang membuat banyak orang mempertanyakan orientasi seksualnya. “Kubilang pada mereka, aku normal dan sehat,” ia tertawa lagi. Kekhasan-nya yang lain: ia mengenakan tinta cina, yang menurutnya sudah terbukti kekuatannya sejak ribuan tahun lalu. “Tinta cina itu yang memberikan roh di dalam kanvasku.”</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu alasan itu tak ada hubungannya dengan perempuan yang dinikahinya: Vi Mee Yei, gadis Cina Malaysia teman sekampus yang  dikenalnya di sebuah bis menuju ke Bali. Soal ini, ia mengaku karena gelap mata. “Waktu itu Jenni menantangku,” ia menyebut nama panggilan kekasihnya itu,” katanya, ‘Liong, apakah kamu mau mengawiniku sekarang? Kalau tidak, saya akan sekolah ke Amerika’’. Putu- yang juga dipanggil akrab dengan nama Liong- agak gelagapan. Selama ini mereka masih menyembunyikan hubungan mereka. Sementara Jenni adalah sosok istimewa untuknya: lulusan Sastra Jepang dari Nara University, Jepang dan meneruskan pendidikannya di jurusan tekstil ISI Yogyakarta ini berwajah eksotik dengan gaya yang tegas dan berani yang membuat Putu mati kutu. Meski ia tak percaya cinta- akunya- tapi ia benar jauh cinta.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mencari perempuan untuk dinikahi seorang seniman tidak mudah. Jaminan pekerjaan sebagai seniman masih belum diyakini masyarakat umum, termasuk keluarga Jenni,” ungkap Putu yang merasa menjawab tak punya pekerjaan ketika ditanya pihak keluarga perempuan. “Tapi Jenni mengatakan dengan tegas, ‘yang penting pulang tak menangis’. Itu yang membuat aku sangat respek pada Jenni,” ujar Putu yang ketika itu harus hidup dalam bingkai waktu yang tidak jelas sebagai seorang seniman. “Hal itu membuat aku belajar bertanggung jawab sebagai laki-laki.” Bersama Jenni, mereka membuat sebuah pemahaman baru seniman sebagai sebuah profesi. Salah satunya mengingatkan akan komitmen. “Sebelum jam 12 malam, aku nggak boleh masuk kamar. Harus kerja dulu.Tegas memang, tapi ini komitmen kami,” kata bapak dua anak dari Putu Lontar Zhengkang Vijaya dan Luh Made Zhenxin Vijaya</p>
<p style="text-align: justify;">Masuknya Jenni dalam kehidupan Putu ternyata memberikan banyak pengaruh dalam kariernya. Salah satunya adalah karya Looking for Wings. Proses kreatif tersebut terjadi pada suatu malam ketika Jenni menegur kebiasaannya, “Kamu sudah punya anak. Jangan main bilyar saja. Jangan keluar malam-malam. Tunjukkan kalau kamu bertanggung jawab.” Pikiran Putu yang waktu itu baru saja menyelesaikan novel Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata langsung berkelebat silih berganti. “Aku seperti diteror judul buku itu. Angin, anak bajang, ini seperti berbicara tentang sayap. Pada saat melukis, aku tak percaya diri. Sebenernya kita punya kekuatan, tapi maaf, kadang harus dibantu dengan alcohol. Maka metaforku kutampilkan wajah orang bersayap memegang botol wine,”ia mengutarakan proses kreatifnya di tahun 2002.</p>
<p style="text-align: justify;">Karya ini pernah dipamerkan di Galeri Nasional setahun setelahnya. Karena tak ada tanggapan, karya itu dikirim kembali ke Yogya yang membuat Putu sangat kecewa. Tahun 2006, Jenni menemukan karya itu terserak di gudang yang baru dibuka setelah gempa melanda Yogyakarta. Karena dianggap Jenni sebagai salah satu karya terbaik Putu, ia membersihkannya, dan memasangnya. Kelak lukisan inilah yang dibeli oleh seorang kolektor dan menjadi bahan pembicaraan. “Itulah yang saya sebut sebagai misteri kehidupan. Setelah lima tahun, lukisan itu baru diapresiasi.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku akui depress adalah satu hal yang menginspirasi aku dalam berkarya. Depress, bukan depresi,”katanya menegaskan. “Depress itu melingkupi kebutuhan berekspresi, kebutuhan publik karena kita sudah dikenal publik,” dalam hal ini ia tak sekadar bicara hobi melainkan tanggung jawab yang diembannya sebagai seorang seniman. (Lalu dia menambahkan, “perempuan yang membuat aku tertarik pun adalah perempuan yang mampu mem-depress aku. Dia bisa tegas”). Meski demikian ia tidak mengemasnya secara klise. Karya Bukan Pohon Terakhir,misalnya. Ia menggambarkan orang-orang duduk menanti, berharap mendapat kerindangan, dari sebuah pohon yang sudah tak berdaun di tengah lansekap kosong. Di sini ia tidak berkoar mengenai pemanasan global secara klise. “Dengan begini orang akan membayangkan bahwa pohon tanpa daun akan terasa sangat panas.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dia memang bisa dibilang tidak pernah mengungkapkan makna dengan bentuk vulgar. Apa yang disampaikan seperti meneruskan semacam ekspresionisme simbolik Bali (satu hal yang sering dipertanyakan keBali-annya oleh banyak orang) melalui semangat spiritualitas yang bisa dibaca melalui kode-kode di dalam karyanya. Seperti adanya unsur-unsur tarian Bali, teks, dan energi manusia.  “Menurutku, tarian memberikan gerakan kode tertentu yang bisa divisualkan. Tari bisa menyampaikan pesan melalui pengendapan yang lama. Tidak vulgar dan ada estetika,” kata Putu yang sejak kecil sudah belajar menari karena senang. “Sementara teks yang tertulis itu kan seperti gumaman, seperti dzikir bagi masyarakat Jawa, meskipun itu merupakan bagian dari aku meluapkan keluh kesahku secara tersamar, seperti juga terlihat pada wajah-wajah yang tak pernah menatap tegas,” tambah Putu yang selalu meletakkan tanda-tangannya pada sisi samping kanvas dan dibuat vertical ke atas sebagai harapan agar kreativitas terus naik.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengalaman hidupnya sebagai orang yang diremehkan –katanya- menjadikan ia bukanlah tipikal lelaki yang berani bersikap tegas. Namun kebutuhan untuk terus menegakkan eksistensi membuat ia selalu akan terus terbang Mencari Sayap, agar karya-karyanya Bukan menjadi Karya Terakhir. (<strong>Rustika Herlambang)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Fotografer: Wahyu Tantra. Lokasi Sangkring ArtSpace 2 Yogyakarta.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">(<em><a href="rustikaherlambang.wordpress.com/2010/02/25/putu-sutawijaya/">Taken from here</a></em>)</p>
<p style="text-align: justify;">Orangnya ramah sekali. Hangat sekali. Dan low profile sekali.</p>
<p>Oalah, Pak Putu, kalo saya tau sejak shake hand, Pak Putu ternyata termasyur begini, mungkin saya kreseki tangan saya supaya ga kena air, beberapa hari. Siapa tahu, dengan demikian, ilmu orat-oretnya nular dikit. Supaya kalo saya gambar naga, jadinya bukan ulat bulu.. hahahaha!</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Flaurentiadewi.com%2Fputu-sutawijaya-lah-pelukis-terkenal-to-haha&amp;t=Putu%20Sutawijaya%3B%20Lah%3F%20Pelukis%20Terkenal%2C%20To%3F%20Haha%21" id="facebook_share_button_12182" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; display: -moz-inline-block; display:inline-block; padding:1px 20px 0 5px; margin: 5px 0; height:15px; border:1px solid #d8dfea; color: #3B5998; background: #fff url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top right;">Share</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_12182') || document.getElementById('facebook_share_icon_12182') || document.getElementById('facebook_share_both_12182') || document.getElementById('facebook_share_button_12182');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_12182') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	<div class="tweetthis" style="text-align:left;"><p> <a class="tt" href="http://twitter.com/intent/tweet?text=Putu+Sutawijaya%3B+Lah%3F+Pelukis+Terkenal%2C+To%3F+Haha%21+http%3A%2F%2Flaurentiadewi.com%2F%3Fp%3D12182+%28via+%40laurentiadewi%29" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://laurentiadewi.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/en/twitter/tt-twitter-micro3.png" alt="Post to Twitter" /></a></p></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laurentiadewi.com/putu-sutawijaya-lah-pelukis-terkenal-to-haha/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sangkring Art Space (Yogyakarta); Galeri Seni yang Keren!</title>
		<link>http://laurentiadewi.com/sangkring-art-space-yogyakarta-galeri-seni-yang-keren</link>
		<comments>http://laurentiadewi.com/sangkring-art-space-yogyakarta-galeri-seni-yang-keren#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 08:13:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>laurentiadewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALL]]></category>
		<category><![CDATA[PLACES TO GO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laurentiadewi.com/?p=12170</guid>
		<description><![CDATA[Nah, setelah selesai makan malam kilat di warung Bakmi Jawa Pak Rakiman, kita kudu buru-buru menuju ke Sangkring Art Space, sebuah galeri seni di Jalan Nitiprayan Rt.01/20 no 88 Ngestiraharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta 55182. Ditempat itulah, beberapa foto hasil kamera &#8230; <a href="http://laurentiadewi.com/sangkring-art-space-yogyakarta-galeri-seni-yang-keren">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Nah, setelah selesai makan malam kilat di warung <a href="http://laurentiadewi.com/bakmi-jawa-pak-rakiman-yogyakarta-ayamnya-seksi">Bakmi Jawa Pak Rakiman</a>, kita kudu buru-buru menuju ke <strong>Sangkring Art Space</strong>, sebuah galeri seni di <strong>Jalan Nitiprayan Rt.01/20 no 88 Ngestiraharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta 55182</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Ditempat itulah, beberapa foto hasil kamera butut-ku dipajang, dalam pameran yang diadakan oleh komunitas penggila batu2an candi, <a href="http://laurentiadewi.com/bol-brutu-gerombolan-pemburu-batu">Bol Brutu</a>, bekerja sama dengan Sangkring Art Space.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan, ehm.. maaf duluan yah. Jujur saja, saat pertama kali mendengar kata &#8220;galeri&#8221;, di Yogyakarta pula, yang terbayang adalah rumah biasa yang dibikin los, dinding-dindingnya ditempel aneka lukisan atau foto, lalu ditengah ruangan ada beberapa benda seni. That&#8217;s it. Soalnya, beberapa kali masuk galeri seni di Yogyakarta, ya begitu itulah keadaannya. Eh, sekali lagi, maaf loh.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, supaya tidak kecewa dan siap mental, aku browsing dahulu (sekali lagi, hidup Google!!!) dengan keyword &#8220;Sangkring&#8221;. Kemudian, jrenggg.. <a href="http://www.sangkringartspace.net/">munculah website-nya</a>! Edian, ternyata punya website segala <em>*kukur2 kepala*</em>, to? Dan, wuih? Aku melongo lamaaa sekali, melihat bentuk galeri Sangkring Art Space. Jauh dari imajinasiku!<span id="more-12170"></span></p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-12173 aligncenter" title="Sangkring Art Space (Yogyakarta)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/a153.jpg" alt="" width="518" height="242" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Sangkring Art Space berdiri pada tanggal 31 Mei 2007.</p>
<p style="text-align: justify;">Nama Sangkring diambil dari nama leluhur <a href="http://laurentiadewi.com/putu-sutawijaya-lah-orang-terkenal-to-haha">Putu Sutawijaya</a>, perupa dan pendiri Sangkring Art Space, dengan pertimbangan bahwa nama ini dapat menjadi spirit untuk mempertautkan diri dengan masa lalu dan motivasi untuk melangkah dalam proses kreatif di dunia seni rupa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan pertimbangan itu, Sangkring Art Space membuka diri untuk berbagi dengan yang tua dan yang muda, yang lama dan yang baru, dalam sebuah ruang kreativitas.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan begitu, Sangkring Art Space menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi solidarias berkesenian, tanpa memperdulikan asal usul budaya dan ideologi. Dalam perkataan lain, Sangkring Art space berkecenderungan menjadi ruang eksperimen bagi semua kalangan dan pelaku seni.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sini, di Sangkring Art Space, yang tua dihormati, yang muda dihargai, yang pinggiran dibela, yang alternative diberi kesempatan, untuk sama-sama berkarya. Sebab, Sangkring Art Space menyadari sepenuhnya bahwa ruang seni sebagai ruang berbagi dan solidaritas masih sangat dibutuhkan di negeri ini.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12174" title="Sangkring Art Space (Yogyakarta)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/a323.jpg" alt="" width="518" height="174" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong>Visi </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Merangkul, menggandeng, dan merengkuh puspa ragam seni dalam sebuah ruang seni.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Misi </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Mempergelarkan dan mempertunjukan aneka rupa praktik seni, di mana perbedaan dan eksperimen kreativitas dihargai sama tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mekanisme Pengelolaan Ruang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setiap kegiatan di Sangkring Art Space dikelola secara swadaya, tapi tidak menutup kemungkinan dan peluang untuk bekerja sama dengan pihak atau instansi seni lain.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bentuk Kegiatan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bentuk kegiatan di Sangkring Art Space bersifat <em>open-ended management</em>. Artinya, dalam suatu kegiatan tertentu, Sangkring Art Space merancang dan mengelolanya secara internal. Disisi lain, Sangkring Art Space menerima tawaran-tawaran kegiatan dari pihak luar secara terbuka (<a href="http://www.sangkringartspace.net/"><em>taken from here</em></a>).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12175" title="Sangkring Art Space (Yogyakarta)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/a225.jpg" alt="" width="518" height="218" /></p>
<p style="text-align: justify;">See? Keren, kan? Keren, kan??? Ikutan speechless? Sempat menahan nafas? Ga percaya ini di Yogyakarta? Gapapa, gapapa, reaksi begitu itu, normal kok. Sungguh. Aku sendiri kan sudah mengalami. Demikian juga seorang kawan yang aku kasih link galeri ini. Dia langsung kirim BBM kilat, &#8220;Disitu pamerannya? Itu Yogya? Beneran?&#8221;, hahaha!!!</p>
<p style="text-align: justify;">Aah, Pak Putu Sutawijaya, galeri Bapak saja sudah demikian memukau, apalagi karya &#8216;orat-oretnya&#8217;..</p>
<p style="text-align: justify;">Sukses, Sangkring Art Space!</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Flaurentiadewi.com%2Fsangkring-art-space-yogyakarta-galeri-seni-yang-keren&amp;t=Sangkring%20Art%20Space%20%28Yogyakarta%29%3B%20Galeri%20Seni%20yang%20Keren%21" id="facebook_share_button_12170" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; display: -moz-inline-block; display:inline-block; padding:1px 20px 0 5px; margin: 5px 0; height:15px; border:1px solid #d8dfea; color: #3B5998; background: #fff url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top right;">Share</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_12170') || document.getElementById('facebook_share_icon_12170') || document.getElementById('facebook_share_both_12170') || document.getElementById('facebook_share_button_12170');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_12170') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	<div class="tweetthis" style="text-align:left;"><p> <a class="tt" href="http://twitter.com/intent/tweet?text=Sangkring+Art+Space+%28Yogyakarta%29%3B+Galeri+Seni+yang+Keren%21+http%3A%2F%2Flaurentiadewi.com%2F%3Fp%3D12170+%28via+%40laurentiadewi%29" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://laurentiadewi.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/en/twitter/tt-twitter-micro3.png" alt="Post to Twitter" /></a></p></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laurentiadewi.com/sangkring-art-space-yogyakarta-galeri-seni-yang-keren/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bakmi Jawa Pak Rakiman (Yogyakarta); Ayamnya Seksi!</title>
		<link>http://laurentiadewi.com/bakmi-jawa-pak-rakiman-yogyakarta-ayamnya-seksi</link>
		<comments>http://laurentiadewi.com/bakmi-jawa-pak-rakiman-yogyakarta-ayamnya-seksi#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 14:33:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>laurentiadewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALL]]></category>
		<category><![CDATA[FOOD DICTIONARY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laurentiadewi.com/?p=12146</guid>
		<description><![CDATA[Di Yogyakarta, kita memang sengaja cari makanan-makanan yang khas. Dan kita menyadari, bahwa beberapa makanan khas Yogyakarta, dijual diemperan. Karenanya, sejak sebelum berangkat, mental kita sudah dipersiapkan untuk itu *lebay*, haha! Jadi, kita akhirnya beneran makan emperan di Bakmi Jawa &#8230; <a href="http://laurentiadewi.com/bakmi-jawa-pak-rakiman-yogyakarta-ayamnya-seksi">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Di Yogyakarta, kita memang sengaja cari makanan-makanan yang khas. Dan kita menyadari, bahwa beberapa makanan khas Yogyakarta, dijual diemperan. Karenanya, sejak sebelum berangkat, mental kita sudah dipersiapkan untuk itu <em>*lebay*</em>, haha! Jadi, kita akhirnya beneran makan emperan di <strong style="text-align: justify;">Bakmi Jawa Pak Rakiman, Jalan Kyai Haji Achmad Dahlan, Yogyakarta</strong>, kita fine-fine saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau menurut penerawangan Mbah Google, Pak Rakiman ini sepertinya kurang banyak direkomendasikan. Namun apa daya, kita memang mencari penjual bakmi Jawa terdekat dari <a href="http://laurentiadewi.com/nitiprayan-home-stay-yogyakarta-nyaman-cakep-bersih">guest house</a> kita, karena setelah ikut kudu buru-buru menuju Sangkring Art Space untuk menghadiri pembukaan pameran Bol Brutu (will talk more about this, di blog berikutnya!). Dan lokasi jualan Pak Rakiman ini, hanya 10 menitan dari guest house.<span id="more-12146"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Agak susah mencari tempat jualan Pak Rakiman. Kita sampai 2x melewati Jalan KH. Achmad Dahlan, sebelum akhirnya menemukan sebuah warung PKL yang berdiri didekat traffic light. Saat itu, hujan deras pula! Dengan payung dan celana yang digulung, kita turun dari mobil, kemudian menyelinap kedalam warung dan langsung melihat 3 ayam montok lagi telanjang, hahahaha:</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-12147 aligncenter" title="Bakmi Jawa Pak Rakiman (Yogyakarta)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1020434.jpg" alt="" width="518" height="393" /></p>
<p style="text-align: justify;">Menu jualannya sih tidak banyak pilihan. Hanya ada bakmi goreng Jawa, mie telur Magelangan (khas Magelang, maksudnya), nasi goreng dan cap cay. Kita pesan semuanya, kecuali cap cay (yang ini kan engga khas Yogyakarta, yah.. haha!). Semuanya, dihargai 10ribu rupiah, per piring.</p>
<p style="text-align: justify;">Segera setelah kita memesan, kesibukan terjadi. Ada 2 ibu, yang masak. Yang satunya berhadapan dengan wajan masak yang diletakkan diatas tungku arang. Ibu satunya lagi, sibuk memotong ayam, sayur dan mie:</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-12153" title="Bakmi Jawa Pak Rakiman (Yogyakarta)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/a152.jpg" alt="" width="518" height="154" /></p>
<p style="text-align: justify;">Dan 15an menit kemudian, pesanan kitapun mulai bermunculan:</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12148" title="Bakmi Jawa Pak Rakiman (Yogyakarta); Mie Goreng Jawa" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1020444.jpg" alt="" width="518" height="393" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12149" title="Bakmi Jawa Pak Rakiman (Yogyakarta); Mie Magelangan" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1020442.jpg" alt="" width="518" height="393" /><img class="aligncenter size-full wp-image-12150" title="Bakmi Jawa Pak Rakiman (Yogyakarta); Nasi Goreng Jawa" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1020445.jpg" alt="" width="518" height="393" /></p>
<p>Rasanya? Hambar! @__@, whoaaa..</p>
<p style="text-align: justify;">Kita terpaksa meracik ulang dengan harapan bisa &#8216;memperbaiki&#8217; rasanya dengan menambahkan kecap manis, kecap asin dan sebagainya (namun gagal T__T). Wah, gimana ini. Udah ga ada waktu untuk cari tempat makan lain, apalagi didepan warung sempat terjadi tabrakan dan hujan makin deras. Jadi, terpaksa dinikmati sebisanya dan berjanji didalam  hati, segera setelah bubar pameran, akan keliling cari makanan lain. Hmm..</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Flaurentiadewi.com%2Fbakmi-jawa-pak-rakiman-yogyakarta-ayamnya-seksi&amp;t=Bakmi%20Jawa%20Pak%20Rakiman%20%28Yogyakarta%29%3B%20Ayamnya%20Seksi%21" id="facebook_share_button_12146" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; display: -moz-inline-block; display:inline-block; padding:1px 20px 0 5px; margin: 5px 0; height:15px; border:1px solid #d8dfea; color: #3B5998; background: #fff url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top right;">Share</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_12146') || document.getElementById('facebook_share_icon_12146') || document.getElementById('facebook_share_both_12146') || document.getElementById('facebook_share_button_12146');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_12146') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	<div class="tweetthis" style="text-align:left;"><p> <a class="tt" href="http://twitter.com/intent/tweet?text=Bakmi+Jawa+Pak+Rakiman+%28Yogyakarta%29%3B+Ayamnya+Seksi%21+http%3A%2F%2Flaurentiadewi.com%2F%3Fp%3D12146+%28via+%40laurentiadewi%29" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://laurentiadewi.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/en/twitter/tt-twitter-micro3.png" alt="Post to Twitter" /></a></p></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laurentiadewi.com/bakmi-jawa-pak-rakiman-yogyakarta-ayamnya-seksi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gudeg Yu Djum (Yogyakarta); Enak!!!</title>
		<link>http://laurentiadewi.com/gudeg-yu-djum-yogyakarta-enak</link>
		<comments>http://laurentiadewi.com/gudeg-yu-djum-yogyakarta-enak#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 13:42:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>laurentiadewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALL]]></category>
		<category><![CDATA[FOOD DICTIONARY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laurentiadewi.com/?p=12137</guid>
		<description><![CDATA[Tentu, kalau sudah sampai ke Yogyakarta, alangkah tidak sah-nya kunjungan tersebut kalau tidak pakai acara makan gudeg. Dan waktu yang tepat untuk menyantap Gudeg ya siang-siang, setelah kita ngos-ngosan dan basah kemringet karena petakilan ga karu-karuan di kompleks Taman Sari, &#8230; <a href="http://laurentiadewi.com/gudeg-yu-djum-yogyakarta-enak">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tentu, kalau sudah sampai ke Yogyakarta, alangkah tidak sah-nya kunjungan tersebut kalau tidak pakai acara makan gudeg. Dan waktu yang tepat untuk menyantap Gudeg ya siang-siang, setelah kita ngos-ngosan dan basah kemringet karena petakilan ga karu-karuan di kompleks Taman Sari, hehe (ga cocok jadi putri keraton, deh!).</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelumnya, kita sudah banyak tanya kepada orang-orang &amp; browsing mengenai tempat makan gudeg di Yogyakarta, namun akhirnya kita &#8216;ga peduli&#8217; lagi dengan segala informasi yang sudah dalam genggaman. Kita maunya gudeg yang terdekat dengan lokasi Taman Sari (karena sudah sangat amat kelaparan), titik. Haha!</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, kita memutuskan untuk makan <strong>Gudeg Yu Djum, </strong>di<strong> Jalan Wijilan 31, Yogyakarta </strong>(buka dari jam 6 pagi hingga 10 malam). Hal ini sesuai dengan petunjuk dan nasehat dari tour guide kita di Taman Sari itu. Karena orangnya santun dan baik, wah.. kita percaya deh dengan rekomendasinya. Rekomendasi yang ternyata tidak salah!<span id="more-12137"></span></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12138" title="Gudeg Yu Djum (Yogyakarta)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1020423.jpg" alt="" width="518" height="685" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12139" title="Gudeg Yu Djum (Yogyakarta)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1020422.jpg" alt="" width="518" height="393" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tempat jualannya tuh kecil saja tapi astaganaga.. pantat orang yang antri, meluber sampai ke jalan. Trotoarnya saja, tidak muat menampung orang-orang itu. Belum lagi yang didalam dan sedang makan, aih.. @__@. Tampaknya, Gudeg ini sungguh terkenal!</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Gudeg Yu Djum dimulai pada tahun 1950-an, diawali dengan usaha Yu Djum berjualan rumput yang hasilnya ditabung dan kemudian dibelikan peralatan untuk berjualan gudeg. Gudeg kering menjadi pilihan karena bisa tahan sampai 24 jam. Berbagai wadah disediakan untuk tempat gudeg ini: kardus, besek, maupun kendil, yang selalu dialasi daun pisang, bukan kertas minyak atau alumunium foil tahan panas.</p>
<p style="text-align: justify;">Proses pembuatannya diawali dengan mengolah nangka muda (gori), diberi bumbu-bumbu “standar” seperti pembuat gudeg lainnya. Hanya saja, proses memasaknya menggunakan kayu bakar. Gula yang digunakan adalah gula merah murni dari Wates atau Purworejo dan garamnya adalah garam kristal. Menurut Haryani, gudeg memang baru enak setelah melalui proses pembakaran selama 18 jam.</p>
<p style="text-align: justify;">Penyajian gudeg dilengkapi dengan sambel krecek, tahu-tempe bacem, dan cabe rawit rebus. Uniknya, meskipun bumbu tahu-tempe bacem ini sama dengan tahu-tempe bacem umumnya; tetapi rasanya berbeda ketika tahu tempe itu dihidangkan bersama gudeg.Gudeg Yu Djum mampu menghabiskan antara 50 sampai 150 ekor ayam dan 2.000 sampai 4.000 butir telur seharinya. Sedangkan pada hari libur, konsumsi bisa mencapai dua kali lipat.</p>
<p style="text-align: justify;">Gudeg dengan bungkus daun, dengan menu telur separo plus tahu dan daging ayam sesuwir biasa dijual dengan kisaran harga dari 1.500—4.000 rupiah; paket kardus –umumnya memakai nasi beserta lauknya– dengan harga 4.000—17.500 rupiah; paket lauk dengan bungkus besek dijual dari harga 10.000—90.000 rupiah; gudeg kendil dari 30.000—90.000 rupiah. “Kami menyediakan gudeg kering yang manis legit” jelas Haryani.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain berjualan di Wijilan, Yu Djum juga melayani pembeli di Karangasem. Dibukanya rumah Yu Djum di Karangasem sebagai tempat usaha penjualan gudeg ini karena pada awalnya gudeg Yu Djum Wijilan (ketika itu masih menyewa) hanya buka dari pukul 06.00—12.00. Untuk tidak mengecewakan pelanggan, maka setelah di atas pukul 12.00, pelanggan tetap bisa mendapatkan gudeg Yu Djum di rumah Karangasem. Cara ini lama-kelamaan menjadikan gudeg Yu Djum Karangasem pun mulai dikenal orang (<a href="http://id-id.facebook.com/pages/Gudeg-Yu-Djum/19852479970#!/pages/Gudeg-Yu-Djum/19852479970?sk=info"><em>taken from here</em></a>).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Wah, OK deh! Kalo gitu, perut saya harus ekstra sabar karena tentunya kita2 kudu berjuang dulu, antri panjang, untuk mendapatkan sepiring gudeg Yu Djum. Sebuah proses yang menguji kesabaran, soalnya kita2 sudah memanggil pelayannya berkali-kali, eh.. boro-boro didatangi, mereka bahkan tidak melirik sedikitpun ke kita <em>*sabar Wi, sabarrrr!*</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi akhirnya, nyanyian perut kosong orang tertindas <em>*halah!*</em> ini didengar pelayannya. Piring-piring bambu dengan alas daun pisang (hidup daun pisang!!!) kemudian datang menghampiri. Selera makan yang sudah hampir punah karena sebel menunggu, mulai bangkit kembali. Bagaimana tidak? Penampakannya saja sudah begitu menggoda! Apalagi aromanya, duh..</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12140" title="Gudeg Yu Djum (Yogyakarta)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1020425.jpg" alt="" width="518" height="393" /><img class="aligncenter size-full wp-image-12141" title="Gudeg Yu Djum (Yogyakarta)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1020424.jpg" alt="" width="518" height="393" /></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">
<p>Tentu, langsung disantap! Lha wong sudah kelaparan dari tadi, hahaha..</p>
<p>Nasinya hangat, menjadi alas empuk bagi lauk ayam, telur kecap (sebutir utuh!), tahu &#8211; tempe bacem, krecek dan sayur nangka. Ayamnya duh, engga pake berontak, saat dilepaskan dari tulang. Dan tentu, untuk itu semua, 4 jempol terangkat diudara untuk Yu Djum!!</p>
<p>Hilang deh sebelnya, karena dicuekin. Kawan yang alergi makanan manis (lha di Yogyakarta, kuah kare ayam saja manisnya seperti kolak!), jadi senyum-senyum karena gudegnya Yu Djum ini normal! Engga maniiiis, gitu. Aduh, pokoknya jempolan deh!</p>
<p>Ga heran, sampai kita2nya sudah selesai makan dan bayar, eh.. didepan sono, antrian pembeli masih bejubel:</p>
</div>
<div style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12142" title="Gudeg Yu Djum (Yogyakarta)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1020421.jpg" alt="" width="518" height="685" /></div>
<p>Nah, yang di Wijilan, ternyata adalah pusatnya. Tapi kalau kebetulan jauh untuk menuju Wijilan, monggo datang ke alamat cabangnya di:</p>
<ul>
<li style="text-align: justify;"><strong>Jalan Kaliurang Km 4,5 CT III/22, Karang Asem, Yogyakarta</strong>. Telp (0274) 515968.</li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><strong>Jalan Seturan Raya 99B, Yogyakarta</strong></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><strong>Ring Road Maguwoharjo Kav. 27, Yogyakarta</strong></li>
</ul>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Flaurentiadewi.com%2Fgudeg-yu-djum-yogyakarta-enak&amp;t=Gudeg%20Yu%20Djum%20%28Yogyakarta%29%3B%20Enak%21%21%21" id="facebook_share_button_12137" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; display: -moz-inline-block; display:inline-block; padding:1px 20px 0 5px; margin: 5px 0; height:15px; border:1px solid #d8dfea; color: #3B5998; background: #fff url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top right;">Share</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_12137') || document.getElementById('facebook_share_icon_12137') || document.getElementById('facebook_share_both_12137') || document.getElementById('facebook_share_button_12137');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_12137') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	<div class="tweetthis" style="text-align:left;"><p> <a class="tt" href="http://twitter.com/intent/tweet?text=Gudeg+Yu+Djum+%28Yogyakarta%29%3B+Enak%21%21%21+http%3A%2F%2Flaurentiadewi.com%2F%3Fp%3D12137+%28via+%40laurentiadewi%29" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://laurentiadewi.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/en/twitter/tt-twitter-micro3.png" alt="Post to Twitter" /></a></p></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laurentiadewi.com/gudeg-yu-djum-yogyakarta-enak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ringin Kurung Alun-Alun Utara/ Lor (Yogyakarta); Setia Menemani Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat</title>
		<link>http://laurentiadewi.com/ringin-kurung-alun-alun-utara-lor-yogyakarta-setia-menemani-keraton-ngayogyakarta-hadiningrat</link>
		<comments>http://laurentiadewi.com/ringin-kurung-alun-alun-utara-lor-yogyakarta-setia-menemani-keraton-ngayogyakarta-hadiningrat#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 04:45:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>laurentiadewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALL]]></category>
		<category><![CDATA[INTERESTING THING]]></category>
		<category><![CDATA[PLACES TO GO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laurentiadewi.com/?p=12113</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang menarik dihalaman belakang, seberang Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang biasa disebut dengan: Alun-Alun Utara / Lor. Alun-alun Lor adalah sebuah lapangan berumput di bagian utara Keraton Yogyakarta. Dahulu tanah lapang yang berbentuk persegi ini dikelilingi oleh dinding pagar yang &#8230; <a href="http://laurentiadewi.com/ringin-kurung-alun-alun-utara-lor-yogyakarta-setia-menemani-keraton-ngayogyakarta-hadiningrat">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ada yang menarik dihalaman belakang, seberang Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang biasa disebut dengan: <strong>Alun-Alun Utara / Lor</strong>.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Alun-alun Lor adalah sebuah lapangan berumput di bagian utara Keraton Yogyakarta. Dahulu tanah lapang yang berbentuk persegi ini dikelilingi oleh dinding pagar yang cukup tinggi. Sekarang dinding ini tidak terlihat lagi kecuali di sisi timur bagian selatan. Saat ini alun-alun dipersempit dan hanya bagian tengahnya saja yang tampak. Di bagian pinggir sudah dibuat jalan beraspal yang dibuka untuk umum. Di pinggir Alun-alun ditanami deretan pohon Beringin (<em>Ficus benjamina</em>; famili <em>Moraceae</em>) dan di tengah-tengahnya terdapat sepasang pohon beringin yang diberi pagar yang disebut dengan <strong>Waringin Sengkeran/Ringin Kurung</strong> (beringin yang dipagari). Kedua pohon ini diberi nama <strong>Kyai Dewadaru</strong> dan <strong>Kyai Janadaru</strong><sup id="cite_ref-22"><a href="#cite_note-22">[23]</a></sup>. Pada zamannya selain Sultan hanyalah <em>Pepatih Dalem</em> <sup id="cite_ref-23"><a href="#cite_note-23">[24]</a></sup> yang boleh melewati/berjalan di antara kedua pohon beringin yang dipagari ini (<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keraton_Ngayogyakarta_Hadiningrat"><em>taken from here</em></a>).<span id="more-12113"></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12114" title="Ringin Kurung Alun-Alun Utara (Yogyakarta)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1020419.jpg" alt="" width="518" height="268" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Tempat ini pula yang dijadikan arena rakyat duduk untuk melakukan &#8220;Tapa Pepe&#8221;<sup id="cite_ref-24"><a href="#cite_note-24">[25]</a></sup> saat Pisowanan Ageng<sup id="cite_ref-25"><a href="#cite_note-25">[26]</a></sup> sebagai bentuk keberatan atas kebijakan pemerintah<sup id="cite_ref-26"><a href="#cite_note-26">[27]</a></sup>. Pegawai /abdi-Dalem Kori akan menemui mereka untuk mendengarkan segala keluh kesah kemudian disampaikan kepada Sultan yang sedang duduk di Siti Hinggil.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sela-sela pohon beringin di pinggir sisi utara, timur, dan barat terdapat pendopo kecil yang disebut dengan <strong>Pekapalan</strong>, tempat transit dan menginap para Bupati dari daerah Mancanegara Kesultanan<sup id="cite_ref-27"><a href="#cite_note-27">[28]</a></sup>. Bangunan ini sekarang sudah banyak yang berubah fungsi dan sebagian sudah lenyap. Dahulu dibagian selatan terdapat bangunan yang sekarang menjadi kompleks yang terpisah, Pagelaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada zaman dahulu Alun-alun Lor digunakan sebagai tempat penyelenggaraan acara dan upacara kerajaan yang melibatkan rakyat banyak. Di antaranya adalah upacara garebeg serta sekaten, acara watangan serta rampogan macan, pisowanan ageng, dan sebagainya. Sekarang tempat ini sering digunakan untuk berbagai acara yang juga melibatkan masyarakat seperti konser-konser musik, kampanye, rapat akbar, tempat penyelenggaraan ibadah hari raya Islam sampai juga digunakan untuk sepak bola warga sekitar dan tempat parkir kendaraan (<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keraton_Ngayogyakarta_Hadiningrat"><em>taken from here</em></a>).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Nah, katanya.. kalau kita memiliki hati bersih, dengan kondisi mata tertutup, kita akan berhasil melintasi jalan diantara Ringin Kurung. Kalau hatinya kurang bersih, yeah.. siap2 saja untuk muter-muter ga jelas dan menjauh dari Ringin Kurung, hehe. D</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Di mata KHT Ruspudio Dipuro, spiritualis asal Kotagede, wajar jika ada sisi misterius di kawasan keraton. “Untuk membangun keraton dulu, orang pakai ilmu kalang. Tidak asal-asalan. Apa yang harus dipakai sebagai senjata, atau apa yang harus ditanam, pakai perhitungan” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di alun-alun Selatan itu banyak jin. Maka dipercaya, siapa yang gagal masangin, pertanda ia ‘tidak bersih’. Tapi jika ‘dituntun’ jin penunggu beringin itu, dengan mata tertutup ia&#8230;blung masuk di antara dua pohon.</p>
<p style="text-align: justify;">Alun-alun selatan, dulunya tempat latihan baris prajurit keraton, sehari sebelum upacara grebeg. Tempat itu juga sebagai ajang sowan abdi dalem wedana prajurit berserta anak buahnya, di malam bulan Puasa tanggal 23, 25, 27 dan 29. Namun sejak Sri Sultan HB VIII bertahta, pisowanan ini dihentikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di era Sri Sultan HB VII, tiap Senin Kamis digelar lomba panahan dari jam 10.00-13.00. Target bidik ada di utara ringin kurung. Pernah pula untuk adu harimau lawan kerbau.</p>
<p style="text-align: justify;">“Orang melihat kawasan Alun-alun Selatan hanya bangunan biasa. Tapi kalau dilihat dari kacamata batin, ada kehidupan dunia lain. Wajar jika tempat tersebut sering terjadi keanehan,” ungkapnya<em> (<a href="http://www.indospiritual.com/artikel_masangin-antara-dua-ringin-kurung-itu-ada-jin-penjaga.html">taken from here</a>)</em>.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Dan ini adalah foto Ringin Kurung yang cantik sekali. Menurutku, difoto ini pula, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tampak begitu asri dan berwibawa:</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12115" title="Ringin Kurung Alun-Alun Utara (Yogyakarta), taken from tembi.org" src="http://laurentiadewi.com/uploads/ringin.jpg" alt="" width="518" height="241" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ringin Kurung yang anda lihat dalam foto ini adalah pada tahun 1920. Ini artinya, usia Ringin Kurung sudah tua, karena Ringin Kurung itu ada jauh sebelum pada tahun itu. Setidaknya, pada awal dibangunnya Kraton Yogyakarta pada tahun 1775 keberadaan Ringin Kurung bisa dilacak.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk masyarakat Yogyakarta, keberadaan Ringin Kurung seolah menjadi hal biasa meskipun sekaligus legendaris. Karena meskipun pernah tumbang, tepatnya patah salah satu bagian batangnya, namun kemudian tumbuh lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, Ringin Kurung yang letaknya persis di tengah dan menghadap pagelaran Kraton, bisa dikatakan tidak bisa lenyap sebagaimana Kraton Yogyakarta juga tegak berdiri <em>(<a href="http://www.tembi.org/dulu/alun2_utara_1920/index.htm">taken from here</a>)</em>.</p>
</blockquote>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Flaurentiadewi.com%2Fringin-kurung-alun-alun-utara-lor-yogyakarta-setia-menemani-keraton-ngayogyakarta-hadiningrat&amp;t=Ringin%20Kurung%20Alun-Alun%20Utara%2F%20Lor%20%28Yogyakarta%29%3B%20Setia%20Menemani%20Keraton%20Ngayogyakarta%20Hadiningrat" id="facebook_share_button_12113" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; display: -moz-inline-block; display:inline-block; padding:1px 20px 0 5px; margin: 5px 0; height:15px; border:1px solid #d8dfea; color: #3B5998; background: #fff url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top right;">Share</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_12113') || document.getElementById('facebook_share_icon_12113') || document.getElementById('facebook_share_both_12113') || document.getElementById('facebook_share_button_12113');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_12113') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	<div class="tweetthis" style="text-align:left;"><p> <a class="tt" href="http://twitter.com/intent/tweet?text=Ringin+Kurung+Alun-Alun+Utara%2F+Lor+%28Yogyakarta%29%3B+Setia+Menemani+Keraton+Ngayogyakarta+Hadiningrat+http%3A%2F%2Flaurentiadewi.com%2F%3Fp%3D12113+%28via+%40laurentiadewi%29" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://laurentiadewi.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/en/twitter/tt-twitter-micro3.png" alt="Post to Twitter" /></a></p></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laurentiadewi.com/ringin-kurung-alun-alun-utara-lor-yogyakarta-setia-menemani-keraton-ngayogyakarta-hadiningrat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Praja Cihna; Lambang Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat</title>
		<link>http://laurentiadewi.com/praja-cihna-lambang-keraton-ngayogyakarta-hadiningrat</link>
		<comments>http://laurentiadewi.com/praja-cihna-lambang-keraton-ngayogyakarta-hadiningrat#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 06:51:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>laurentiadewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALL]]></category>
		<category><![CDATA[INTERESTING THING]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laurentiadewi.com/?p=12073</guid>
		<description><![CDATA[Praja Cihna, ternyata adalah nama dari lambang Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat! Aku sendiri baru tahu *jedok-jedokin kepala ke bantal*, padahal di Yogyakarta kemarin, aku dan temanku berfoto dengan lambang ini, bahkan kita sempat berusaha menggapainya (Kalo temanku sih masuk akal yah, &#8230; <a href="http://laurentiadewi.com/praja-cihna-lambang-keraton-ngayogyakarta-hadiningrat">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12075" title="Praja Cihna (Yogyakarta); Lambang Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat" src="http://laurentiadewi.com/uploads/a151.jpg" alt="" width="518" height="393" /></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.kratonpedia.com/article-detail/2011/9/15/159/Praja.Cihna,.Lambang.Kebesaran.Kraton.Yogyakarta.html"><strong>Praja Cihna</strong></a>, ternyata adalah nama dari lambang Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat! Aku sendiri baru tahu <em>*jedok-jedokin kepala ke bantal*</em>, padahal di Yogyakarta kemarin, aku dan temanku berfoto dengan lambang ini, bahkan kita sempat berusaha menggapainya (Kalo temanku sih masuk akal yah, pengen coba pegang. Dia kan tinggi. Lha aku? Hahahaha!)<span id="more-12073"></span></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12076" title="Praja Cihna (Yogyakarta); Lambang Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat" src="http://laurentiadewi.com/uploads/b43.jpg" alt="" width="518" height="226" /></p>
<p style="text-align: justify;">Nama tersebut diambil dari bahasa sansekerta.  &#8220;Praja&#8221; yang berarti &#8220;abdi negara&#8221; dan &#8220;cihna&#8221; yang berarti &#8220;sifat sejati&#8221;. Secara harafiah, Praja Cihna bisa diartikan Sifat Sejati Abdi Negara <a href="http://engineear.net/2010/01/06/praja-cihna-lambang-kebesaran-kesultanan-jogja/"><em>(read here)</em></a>. Dan secara lengkap, arti lambang keraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>LAR utawa swiwine peksi garuda kang megar, minangka gegambaran agung lan wibawane praja sarta sang nata. Swiwi garuda megar, sanggite keagungan sarta kawibawane karaton –dalem sarta salira –dalem. Kanthi madhep, manteb, teteg, sawiji, greged, sengguh ora mingkuh anggone ngasata pusering nagari-dalem, cihnane panentrem, pangayem, pangayom</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayap burung Garuda yang mengepak lebar menggambarkan keagungan dan kewibawaan keraton (sebagai lembaga eksekutif) yang tegas, mantap, kuat, total, dinamis, optimis dan pantang menyerah, dalam membawa / mendatangkan kemakmuran/ kesejahteraan bagi Negara/ rakyat, yang merupakan sebuah kewajiban bagi seorang pemimpin dan penentram, juga pelindung.<strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Aksara jawa (Ha-Ba) mengku werdi hangadeg jejeg kanthi adeg-adeg kabudayan asli jati diri kapribaden bangsa sarta nagari pribadi. Tembung &#8220;Ha-Ba&#8221; minangka cekakan asma-dalem Hamengku Buwana, kang werdine lenggah jumeneng-dalem kuwi pindhane priyagung kang mangku, mengku, lan mengkoni jagad saisine.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Aksara Jawa yang tertulis tegak menjadi simbol kebudayaan asli bangsa juga jati diri kepribadian bangsa dan Negara. Kata &#8220;Ha – Ba&#8221; merupakan singkatan dari nama Hamengku Buwono, yang bertahta dengan agung memangku, memimpin dan memelihara dunia (negara) beserta isinya (sumber daya alam dan manusia).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong><em>Angka Jawa, mratelakake urute lenggah jumeneng-dalem Ngarsa Dalem ingkang sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana ing kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Miturut jaman kalakone kanthi hangadeg jejeg alelambaran jati-diri.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Angka Jawa, menjelaskan urutan  Sultan Hamengku Buwono yang sedang atau pernah bertahta di Yogyakarta.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kembang padma utawa kembang Terate kang awujud wit sarta gagang lan kembange urip rumambat kemambang ana sadhuwure banyu. Lire pinter nglenggahake laras karo papan sarta wektu jumenenge .</em></p>
<p style="text-align: justify;">Bungan Padma ( Teratai ) berwujud tumbuhan dengan tangkai dan bunganya, hidup merambat, mengapung di atas air. Mempunyai arti memiliki kecerdasan/kebijakan dalam memposisikan diri pada tempat dan waktu dengan benar</p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong><em>Sulur sanggite tetuwuhan kang uripe mrambat. Kang werdine kuncara lan adiluhunge kabudayan bangsa nusantara kang tansah lestari maju lan ngrembaka migunani tumrap bangsa lan manungsane kang arupa-rupa.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Tumbuhan sulur yang hidup merambat, melambangkan kejayaan dan kemuliaan kebudayaan bangsa nusantara yang lestari  berkembang dan bermanfaat bagi bangsa dan rakyat yang beraneka ragam.</p>
<p style="text-align: justify;">Menarik, berfilosofi dalam dan sudah berusia ratusan tahun! Ah, keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memang mengagumkan. Lihat saja postingan setelah ini mengenai area publik keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan koleksi bernilai sejarah dan seni tinggi, yang sempat membuatku, orang yang polos ini <em>*hoek!!*</em>, hahaha, sempat berpikir untuk nyongkel ini itu, huahhhh..</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Flaurentiadewi.com%2Fpraja-cihna-lambang-keraton-ngayogyakarta-hadiningrat&amp;t=Praja%20Cihna%3B%20Lambang%20Keraton%20Ngayogyakarta%20Hadiningrat" id="facebook_share_button_12073" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; display: -moz-inline-block; display:inline-block; padding:1px 20px 0 5px; margin: 5px 0; height:15px; border:1px solid #d8dfea; color: #3B5998; background: #fff url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top right;">Share</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_12073') || document.getElementById('facebook_share_icon_12073') || document.getElementById('facebook_share_both_12073') || document.getElementById('facebook_share_button_12073');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_12073') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	<div class="tweetthis" style="text-align:left;"><p> <a class="tt" href="http://twitter.com/intent/tweet?text=Praja+Cihna%3B+Lambang+Keraton+Ngayogyakarta+Hadiningrat+http%3A%2F%2Flaurentiadewi.com%2F%3Fp%3D12073+%28via+%40laurentiadewi%29" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://laurentiadewi.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/en/twitter/tt-twitter-micro3.png" alt="Post to Twitter" /></a></p></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laurentiadewi.com/praja-cihna-lambang-keraton-ngayogyakarta-hadiningrat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sop Ayam Pak Min Klaten (Yogyakarta); Sarapan Pertama Kita!</title>
		<link>http://laurentiadewi.com/sop-ayam-pak-min-klaten-yogyakarta-sarapan-pertama-kita</link>
		<comments>http://laurentiadewi.com/sop-ayam-pak-min-klaten-yogyakarta-sarapan-pertama-kita#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 18:13:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>laurentiadewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALL]]></category>
		<category><![CDATA[FOOD DICTIONARY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laurentiadewi.com/?p=12079</guid>
		<description><![CDATA[Dengan otak yang masih kopyak (read: kopyor) karena kecapean dijalan dan kurang tidur, kita sudah harus segera bangun (tidur 3 jam saja loh) dan memanfaatkan waktu yang pendek untuk mengunjungi banyak tempat menarik. Jadi, kita ga bisa mikir dengan benar, &#8230; <a href="http://laurentiadewi.com/sop-ayam-pak-min-klaten-yogyakarta-sarapan-pertama-kita">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dengan otak yang masih kopyak (read: kopyor) karena kecapean dijalan dan kurang tidur, kita sudah harus segera bangun (tidur 3 jam saja loh) dan memanfaatkan waktu yang pendek untuk mengunjungi banyak tempat menarik. Jadi, kita ga bisa mikir dengan benar, mau sarapan apa dan dimana.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangan sih Googling melulu tapi otak ga bisa nentuin mau makan apa dan ga mudeng tempat-tempatnya *<em>aseli o&#8217;on</em>*. Sopir jalankan mobil ga tentu arah dan tau2 nyampe di Malioboro. Kawan menyarankan makan pecel dideket Pasar Beringharjo. Ancer-ancernya adalah gedung Mirota yang disebelah kanan jalan. Dasar otak masih bego, aku suruh sopir berhenti di Mirota yang disebelah kiri jalan. Jauh tuh, dari Beringharjo! Haha! Dan tolah toleh lamaaa, cariin pecel tapi kok nemunya kaos Dagadu palsu, haha <em>*tolol*</em>.<span id="more-12079"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, mobil jalan lagi, tak tentu arah. Nah, ga lama kemudian aku liat ada tempat makan kok raaaame sekali! Pembelinya penuh, mobil dan motor antri bejubel. Aih, dengan penuh harap akan mendapat sarapan yang hangat dan enak, kita mendekat deh. Nama tempatnya adalah <strong>Sop Ayam Pak Min Klaten</strong>. Wah, sepertinya berkuah gitu. Cocok, deh!</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12081" title="Sop Ayam Klaten Pak Min (Yogykakarta)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1270653.jpg" alt="" width="518" height="685" /></p>
<p style="text-align: justify;">Dan pria-pria difoto atas, bukanlah Pak Min, haha. Mereka adalah para pegawainya Pak Min yang bertugas didapur, mencatat pesanan dan meracik puluhan mangkok makanan dengan cepat, kemudian mengantarkannya kepada meja-kursi yang diduduki oleh manusia2 kelaparan seperti kita-kita. Masih muda semua dan ceria! Aku yang ngantuk saja, dibikin mereka tertawa-tawa, hehe, baguslah..</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12082" title="Sop Ayam Klaten Pak Min (Yogykakarta)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1270654.jpg" alt="" width="518" height="408" /></p>
<p style="text-align: justify;">Aku teringat <a href="http://laurentiadewi.com/sop-jono-tulungagung-the-best-chicken-soup-ever-trust-me">Sop Ayam Jono</a> di Tulungagung walau nampaknya sop ayam yang ini berbeda. Lucunya, ternyata pengalaman kita di Medan yang lalu, terulang. Kita sempat kesulitan memesan makanan karena kendala bahasa, loh (_ _!!). Percayalah, bahwa Bahasa Indonesia ini ternyata masih memungkinkan timbulnya perbedaan persepsi (padahal Yogyakarta masih satu pulau dengan Surabaya yah, haha).</p>
<p style="text-align: justify;">Misalnya, &#8220;leher ayam&#8221; yang kita maksud, ternyata beda dengan yang mereka maksud. &#8220;Rongkong&#8221; yang dibayangan kita, beda dengan yang mereka sebut &#8220;rongkong&#8221;. Ah, ribet! Akhirnya, pesan yang mudah saja: daging paha dan telur muda. Temanku pesan sop ayam dengan aneka jerohan. Deal!</p>
<p style="text-align: justify;">Kita memilih meja dan duduk manis menunggu pesanan. Ga pake lama, pesanan kita yang heboh datang. Dari kejauhan, nampak asap mengepul dari mangkok berisi kuah dan daging. Oho, mantab! Dan nasinya, disajikan terpisah di mangkok lain. Nah, cara makan makanan berkuah yang begini ini yang aku doyan (supaya bisa sesuka hati ngatur mau nasi seberapa, kuah seberapa):</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12083" title="Sop Ayam Klaten Pak Min (Yogykakarta)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1270671.jpg" alt="" width="518" height="393" /><img class="aligncenter size-full wp-image-12084" title="Sop Ayam Klaten Pak Min (Yogykakarta)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1270670.jpg" alt="" width="518" height="393" /><img class="aligncenter size-full wp-image-12085" title="Sop Ayam Klaten Pak Min (Yogykakarta)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1270668.jpg" alt="" width="518" height="393" /></p>
<p style="text-align: justify;">Cukup? Ah, Pak Min adalah seorang dermawan rupanya! Kuatir pelanggannya tidak puas, maka semangkok bawang goreng dan rajangan daun seledri segar, dikirimkan ke meja:</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-12089 aligncenter" title="Sop Ayam Pak Min Klaten (Yogyakarta)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1270669.jpg" alt="" width="518" height="393" /></p>
<p style="text-align: justify;">Kecap, sambal, irisan jeruk nipis dan sepiring gorengan, tersedia di setiap meja untuk membuat sop ayam pesanan kita jadi makin mantab, sesuai dengan selera pemesan:</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12090" title="Sop Ayam Pak Min Klaten (Yogyakarta)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1270673.jpg" alt="" width="518" height="393" /></p>
<p style="text-align: justify;">Untukku pribadi, kuah sop ayamnya Pak Min ini agak hambar, maka aku sempat meminta sedikit garam / kecap asin, kemudian menambahkan sedikit kecap manis (hanya karena kebiasaan kalo lagi makan sop ayam dan soto, pake kecap manis juga <em>*haizh!*</em>), plus setetes sambal <em>*halah*</em>. Hmm, perfect! makannya, pake perkedel dan minumnya teh manis hangat (masih jinak karena masih pagi, hihi..).</p>
<p style="text-align: justify;">Sampe saat kita bayar dan hampir meninggalkan tempat, yang makan masih banyak dan terus berdatangan, padahal sudah mulai siang (apa orang2 ini ga kerja yah?). Wow banget, deh!</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12091" title="Sop Ayam Pak Min Klaten (Yogyakarta)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1270659.jpg" alt="" width="518" height="393" /></p>
<p style="text-align: justify;">Sementara aku masih kagum2 dengan meja kursi yang penuh dari ujung keujung, eh.. temanku lagi kagum dengan bill yang dia bayar. Makan berempat dengan tambahan daging ini itu, jerohan, telur muda, gorengan aneka rupa, minum dan sebagainya, engga nyampe 8o ribu loh! Wah, Pak Min, kamsia yah.. wekekekek. Monggo, kalo ada yang mau lihat menu dan daftar harganya:</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="size-full wp-image-12092" title="Sop Ayam Pak Min Klaten (Yogyakarta)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1270662.jpg" alt="" width="518" height="815" />Lokasinya ada di:</p>
<ul>
<li style="text-align: justify;"><strong>Dalam Pasar, Belakang Matahari Klaten, Klaten</strong></li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Jalan Mayor Kusmato, depan Kantor Inspektorat/ Kantor PPP, Klaten</strong></li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Ruko Samping Jembatan Layang Janti (Jalan Raya Jogja &#8211; Solo, dekat pertigaan Janti), Yogyakarta</strong></li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Jalan Kaliurang KM 16, Pakem, Sleman, Yogyakarta</strong></li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Sebelah selatan perempatan PLN Gedong Kuning, Yogyakarta</strong></li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Jalan Raya Jogja &#8211; Solo depan Candi Prambanan, Sleman</strong></li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Jalan A. Yani Km 9 Gembongan Kartosuro, Surakarta</strong></li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Jalan Brigjen Sudiarto 17, Surakarta</strong></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Walau alamatnya cuman &#8216;begitu&#8217; saja, tanpa nomor dan kode pos yang jelas <em>*lebay*</em>, tapi jangan khawatir. Kalian pasti dengan mudah bisa menemukan tempat jualan sop ini. Cirinya mencolok banget: serba hijau! Dan tulisan &#8220;Pak Min&#8221;-nya gedeee banget. Yang lagi ngantuk aja, pasti bisa nemuin deh. Wekekekek..</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Flaurentiadewi.com%2Fsop-ayam-pak-min-klaten-yogyakarta-sarapan-pertama-kita&amp;t=Sop%20Ayam%20Pak%20Min%20Klaten%20%28Yogyakarta%29%3B%20Sarapan%20Pertama%20Kita%21" id="facebook_share_button_12079" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; display: -moz-inline-block; display:inline-block; padding:1px 20px 0 5px; margin: 5px 0; height:15px; border:1px solid #d8dfea; color: #3B5998; background: #fff url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top right;">Share</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_12079') || document.getElementById('facebook_share_icon_12079') || document.getElementById('facebook_share_both_12079') || document.getElementById('facebook_share_button_12079');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_12079') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	<div class="tweetthis" style="text-align:left;"><p> <a class="tt" href="http://twitter.com/intent/tweet?text=Sop+Ayam+Pak+Min+Klaten+%28Yogyakarta%29%3B+Sarapan+Pertama+Kita%21+http%3A%2F%2Flaurentiadewi.com%2F%3Fp%3D12079+%28via+%40laurentiadewi%29" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://laurentiadewi.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/en/twitter/tt-twitter-micro3.png" alt="Post to Twitter" /></a></p></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laurentiadewi.com/sop-ayam-pak-min-klaten-yogyakarta-sarapan-pertama-kita/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nitiprayan Home Stay (Yogyakarta); Nyaman, Cakep, Bersih..</title>
		<link>http://laurentiadewi.com/nitiprayan-home-stay-yogyakarta-nyaman-cakep-bersih</link>
		<comments>http://laurentiadewi.com/nitiprayan-home-stay-yogyakarta-nyaman-cakep-bersih#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 17:26:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>laurentiadewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[ALL]]></category>
		<category><![CDATA[PLACES TO GO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laurentiadewi.com/?p=12042</guid>
		<description><![CDATA[Selama menjadi tamu Sultan *gubrag* di Yogyakarta, aku menginap disebuah home stay di daerah Nitiprayan, namanya adalah Nitiprayan Home Stay, di Jalan Nitiprayan 76, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Telp: (0274) 380016. Well, tempat ini.. sama sekali ga masuk hitungan saat kita &#8230; <a href="http://laurentiadewi.com/nitiprayan-home-stay-yogyakarta-nyaman-cakep-bersih">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Selama menjadi tamu Sultan <em>*gubrag*</em> di Yogyakarta, aku menginap disebuah home stay di daerah Nitiprayan, namanya adalah <strong>Nitiprayan Home Stay, </strong>di<strong> Jalan Nitiprayan 76, Kasihan, Bantul, Yogyakarta</strong>. Telp: (0274) 380016.</p>
<p style="text-align: justify;">Well, tempat ini.. sama sekali ga masuk hitungan saat kita pergi dari rumah dan menuju ke Yogyakarta. Lebih tepatnya, kita itu berangkat ke Yogyakarta TANPA memiliki tempat untuk menginap (hebaaat, Dewi <em>*tepuk tangan*</em>).</p>
<p style="text-align: justify;">Ini karena aku terlalu menyepelekan hal ini. Aku merasa sekarang ini kan bukan musim liburan, alias &#8216;low season&#8217; (_ _!!). Aku lupa, bahwa bagaimanapun Yogyakarta adalah kota wisata yang terkenal dan favorit, sehingga saat akhir minggu, penginapan model apapun pastinya laris manis.<span id="more-12042"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah tegang sepanjang jalan, telpon sana sini, akhirnya dapet deh tempat di Nitiprayan Home Stay ini, bahkan ada kamar untuk sopir kita dengan harga manusiawi: IDR 50ribu/ hari! Wah, langsung OK deh, tanpa ngerti dimana tuh Nitiprayan (boro-boro tahu, denger namanya aja baru sekali ini..). Bagooos, Dewi (nekadnya kok ga abis2, haha)! Tapi minimal nih, aku udah tenang. Kebayang kita2 ga perlu bermalam di mobil, hehe (melas yah).</p>
<p style="text-align: justify;">Rencana tiba di Yogyakarta sekitar jam 00.00, gagal total karena kita mampir makan 2x (Dewi, gituloooh..) dan cuaca yang ga bersahabat sepanjang jalan bikin mobil engga bisa <del>terbang</del> ngebut, apalagi rutenya kan pake nembus hutan angker segala *<em>halah, alasan doang nih!</em>*.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, kita baru nyame Yogyakarta jam 2.30 subuh, sodara-sodara <em>*tepuk tangan!*</em> dan marketing home stay yang sebelumnya menawarkan diri untuk bertemu dengan kita di Malioboro untuk kemudian mengantarkan kita ke Nitiprayan sudah &#8216;tewas&#8217; terbuai mimpi, tidak bisa dibangunkan dengan panggilan telepon yang (mungkin) sampe 2oan kali itu. Sigh.. *<em>maklum sih tapi juga bikin bingung</em>*.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan hellllo, none of us ngerti Nitiprayan itu disebelah mananya Ngayogyakarta. Apanya Keraton? Mananya Gunung Merapi? Oh nooo! Trus, subuh gitu, mau tanya ke siapa kalo engga ke demit??? Sebijipun manusia pun ga nampak, buat ditanyai! Situasi makin keruh karena ternyata GPS andalan kita tiba-tiba mati, ga bisa deteksi satelit. Baguuuus *<em>eh, kok jadi curhat dan ngomel, haha!*</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi tengkiu muah muah deh ke Blackberry (okaiii, Blackberry bukan hape maha canggih dan super smart, I know). Yup, kali ini Blackberry telah menyelamatkanku!!! Aku iseng pake fasilitas Map yang ada di Blackberry. Iseng scroll sana sini, lah kok nemu &#8220;Nitiprayan&#8221;! Dan aku ikuti garis mbulet yang ada di Blackberry. Manual (_ _!!).</p>
<p style="text-align: justify;">Lucunya, cuma liat &#8220;Nitiprayan&#8221; satu kali aja loh, abis itu aku ga bisa nemuin lagi. Jadi, setelahnya aku ikutin jalur seadanya dan sempet nyasar. Aku bahkan sempat heboh suruh sopir untuk berhenti dan balik arah, karena didepan mobil nih, menurut layar Blackberryku, semuanya biru: kita menghadap laut, booo!!! Edaaannn!! Hahahahaha!</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, kita bisa balik ke jalur yang bener dan saat itu sudah jam 4.30 subuh. Pengen nangis rasanya (gak kok, aslinya lebih pengen mandi + bobo, haha). Masa ayam sudah bangun dan kita belom bobo? Sedangkan kanan kiri kita sawah dan jalannya seperti di perkampungan gitu, duh.. <em>*ngenes*</em>, rasanya seperti masuk ke pedalaman dan nyasar (padahal bener!).</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi aku mikir, kalo udah subuh gini, pasti akan segera ada manusia bersliweran. Mungkin ke Masjid / berangkat kerja. Beneran! Aku nemu orang naik sepeda pancal yang mau berbaik hati berhenti (gile.. aku kalo dicegat orang jam 4.30 pagi, belom tentu mau berhenti!) dan menunjukkan jalan. 3 menit kemudian, puji Tuhan, kita nemu home stay-nya<em> *pengen cium pagernya, loh*</em>!!!</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelnya, walau tuh bangunan sudah didepan mata, kita ga bisa masuk. Pagarnya tertutup rapat. Kalo klakson, bisa dilemparin telor busuk deh. Daerahnya padat gitu: llakson kita bisa bangunin orang 2 desa. Tapi masa kita tetap bobo di mobil, setelah menemukan home stay-nya dengan susah payah (sampe jempolku bengkok scroll layar Blackberry <em>*lebay*</em>). Syukur, ternyata dengan sedikit usaha keras <em>*halah*</em>, pagar bisa dibuka tanpa menggunakan kekerasan <em>*yeah*</em>. Tapi.. eh, satpam kok ga ada! Lah?</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-12056 aligncenter" title="Nitiprayan Homestay (Yogyakarta)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1270643.jpg" alt="" width="518" height="393" /></p>
<p style="text-align: justify;">Untung, ada yang akhirnya terbangun dan ngasih kita kunci kamar!!! Serah terima kuncinya mengharukan loh *<em>maha lebay neh</em>*. Aku khawatir ga dapat kamar karena kena tipu oleh si marketing (plus sempat marah2 karena aku kira orang yang nyerahin kunci itu adalah marketing guest house yang ga mau angkat telepon kita, aku bahkan sempat suruh2 dia angkutin koper, padahal ternyata dia itu ownernya guest house, booo!!! Lha dandanannya sederhana banget, sopir kita aja jauh lebih keren bajunya :p).</p>
<p style="text-align: justify;">Kita cuma sanggup cuci kaki dan langsung bobo, tepat saat matahari bersinar.. Zzzz..</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12049" title="Nitiprayan Homestay (Yogyakarya); Kamar dan kamar mandi dalam" src="http://laurentiadewi.com/uploads/a150.jpg" alt="" width="518" height="133" /></p>
<p style="text-align: justify;">Kamarnya nyaman dengan AC yang bener-bener nyejukin ruangan, ranjang spring bed dengan queen size (180cm x 180cm), kamar mandi dalam dengan shower tapi tanpa air panas. Sabun, shampoo dan 2 handuk bersih disediakan (sayangnya.. juga ada 2 handuk kotor di kamar mandi tapi kita udah terlalu lelah untuk complain). Seprainya cukup bersih, bantal cukup OK. Kita langsung tertidur karena kudu bangun jam 7am untuk menuju Keraton (jadi kita cuma tidur 3 jam-an saja!).</p>
<p style="text-align: justify;">Saat pagi, kita mendapat sarapan. Boleh pilih, mau mie goreng, mie kuah (yang dugaanku adalah mie instan, haha. Karena resolusiku tahun ini adalah tidak memakan mie instan, maka aku menolak keduanya dan memilih alternatif ke tiga: nasi goreng!</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12045" title="Nitiprayan Homestay (Yogyakarya); Sarapan" src="http://laurentiadewi.com/uploads/c15.jpg" alt="" width="518" height="133" /></p>
<p style="text-align: justify;">Nasinya hanya nasi dikasih kecap manis saja + satu telur mata sapi. Segelas teh / kopi (boleh pilih) menyertai sarapan kita. Well, better than nothing.</p>
<p style="text-align: justify;">Barulah setelah sarapan, kita melihat sekeliling. Eh, Nitiprayan Homestay ini sebenernya OK loh. Bersih! Cukup asri dan sangat tenang dengan nuansa Jawa, lingkungan sekitarnya lumayan asri dan suara ayam selalu terdengar dipagi hari:</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-12051" title="Nitiprayan Homestay (Yogyakarya)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/b40.jpg" alt="" width="518" height="199" /><img class="aligncenter size-full wp-image-12052" title="Nitiprayan Homestay (Yogyakarya); Living &amp; dining room in the morning" src="http://laurentiadewi.com/uploads/e11.jpg" alt="" width="518" height="133" /><img class="aligncenter size-full wp-image-12053" title="Nitiprayan Homestay (Yogyakarya)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1270991.jpg" alt="" width="518" height="393" /></p>
<p style="text-align: justify;">Suasana saat malam, temaram dengan dominiasi penggunaan lampu kuning:</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-12054 aligncenter" title="Nitiprayan Homestay (Yogyakarya)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/d13.jpg" alt="" width="518" height="133" /><img class="size-full wp-image-12055 aligncenter" title="Nitiprayan Homestay (Yogyakarya)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/f6.jpg" alt="" width="518" height="250" /></p>
<p style="text-align: justify;">Aku, pesan kamar tipe Arjuna (yang paling biasa, paling murah) dengan fasilitas cukup baik: kamar mandi didalam kamar dengan shower tanpa air panas, spring bed queen size, TV 14&#8243;, lamari pakaian, AC, plus sarapan.</p>
<p style="text-align: justify;">Detail lainnya adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">Rome rate (harga kamar):<br />
1. Arjuna (Premier Room) =  IDR 150rb/ hari, 500rb/ minggu, 1,3juta/ bulan<br />
2. Bima (Deluxe Room) = IDR 250rb/ hari, 750rb/ minggu, 2juta/ bulan<br />
3. Nakula (Suite Room) = IDR 300rb/ hari, 800rb/ minggu, 2,5juta/ bulan<br />
4. Sadewa (Family Room) = IDR 500.000/ hari</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-12057 aligncenter" title="Nitiprayan Homestay (Yogyakarta)" src="http://laurentiadewi.com/uploads/P1270997.jpg" alt="" width="518" height="393" /></p>
<p>Fasilitas :</p>
<ul>
<li>AC <em>*dikamar*</em></li>
<li>TV 14&#8243; <em>*dikamar*</em></li>
<li>Kitchen (termasuk peralatan memasak dan gas)</li>
<li>Garasi (muat untuk 2 mobil dan 2 sepeda motor)</li>
<li>Living room yang juga jadi dining room</li>
<li>Fasilitas olah raga (sepeda statis di living / dining room)</li>
<li>WiFi (hanya untuk di living / dining room)</li>
<li>Mesin cuci (tersedia dibelakang garasi)</li>
<li style="text-align: justify;">Sarapan pagi (boleh dimakan di living / dining room, bisa juga diantar    ke kamar dengan menu: teh / kopi tawar / manis + nasi goreng / mie goreng / mie kuah)</li>
<li style="text-align: justify;">Kamar mandi <em>*dikamar*</em> dengan shower air dingin, 2 handuk, 1 botol kecil sabun san shampoo</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Untuk reservasi:<br />
Telp. (0274) 380016 &#8212;&gt; JANGAN NOMOR YANG LAIN!</p>
<p style="text-align: justify;">Dan tenang, sodara-sodara, tempat ini ternyata ga nyampe 600m dari Keraton. Pokoknya, dari homestay ke Keraton tuh cuma 10 menitan saja (yaoloooh.. aku ngapain aja muter2 hampir 2 jam sampe hampir nyebur laut yah), wew..</p>
<p style="text-align: justify;">Trus, kalo bawa sopir, beri tahu saja pengelolanya agar mereka bisa menyiapkan tempat tidur untuk sopir (ini ngaruh banget loh, karena sebelumnya kita2 belain cari guest house murah agar biaya tidur si sopir ga berati&#8217;n kita). Kamar tidur sopirnya manusiawi sekali! Kasurnya juga spring bed, dilengkapi kipas angin dan bersih. Kamar mandinya sih diluar kamar, tapi juga bersih sekali. Harganya, IDR 50rb/ malam.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, aku (dan rombonganku) cocok dengan tempat ini! Apalagi ada wifi, dapur dan mesin cuci yang boleh dipakai. Yeah, kita memang ga (sempat) pake fasilitas2 itu sih, tapi berasa komplet fasilitasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk itu aku kudu berterima kasih buanyaaak kepada teman baikku di negeri Sultan, namanya sama-sama Dewi, yang sudah mblusuk kanan kiri mencarikanku tempat untuk menginap dan merekomendasi tempat ini, hahaha (Mama Bonnie &#8211; Silla, kalo soal nyasar berjam-jam sampe ngomel2 ga jelas itu salah kita kok, ini di FB-ku orang2 pada heran, aku kemana aja sampe nyasar 2 jam padahal dari Keraton harusnya 10 menitan aja, hoaaa!!!).</p>
<p style="text-align: justify;">Muach muah <em>*hugs*</em>, Mama Bonnie &#8211; Silla. I love you more and more, pokoknya. Jangan kapok yah! Terima kasih banyak, bantuannya berharga banget. Rekomendasinya jempolan, deh (abaikan saja si &#8220;H&#8221; itu, haha!). Dan kunjungan balasan ke Surabaya-nya ditunggu, loooh!!! Hehe..</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Flaurentiadewi.com%2Fnitiprayan-home-stay-yogyakarta-nyaman-cakep-bersih&amp;t=Nitiprayan%20Home%20Stay%20%28Yogyakarta%29%3B%20Nyaman%2C%20Cakep%2C%20Bersih.." id="facebook_share_button_12042" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; display: -moz-inline-block; display:inline-block; padding:1px 20px 0 5px; margin: 5px 0; height:15px; border:1px solid #d8dfea; color: #3B5998; background: #fff url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top right;">Share</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_12042') || document.getElementById('facebook_share_icon_12042') || document.getElementById('facebook_share_both_12042') || document.getElementById('facebook_share_button_12042');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_12042') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	<div class="tweetthis" style="text-align:left;"><p> <a class="tt" href="http://twitter.com/intent/tweet?text=Nitiprayan+Home+Stay+%28Yogyakarta%29%3B+Nyaman%2C+Cakep%2C+Bersih..+http%3A%2F%2Flaurentiadewi.com%2F%3Fp%3D12042+%28via+%40laurentiadewi%29" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://laurentiadewi.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/en/twitter/tt-twitter-micro3.png" alt="Post to Twitter" /></a></p></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laurentiadewi.com/nitiprayan-home-stay-yogyakarta-nyaman-cakep-bersih/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

